HUT RI ke-81, Charles Kossay: Papua Maju, Indonesia Kuat dari Timur

PAPUA – BELA RAKYAT – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat membangun Indonesia dari seluruh penjuru negeri, termasuk Tanah Papua. Kemajuan Papua dinilai tidak hanya penting bagi masyarakat di Bumi Cenderawasih, tetapi juga menjadi bagian strategis dari kekuatan Indonesia di masa depan.

Tokoh Aktivis Papua, Charles Kossay, mengatakan Papua memiliki posisi penting dalam perjalanan Indonesia. Karena itu, pembangunan di Tanah Papua harus diarahkan untuk menghadirkan kesejahteraan, memperkuat sumber daya manusia, membuka lapangan kerja, dan memberikan ruang yang lebih luas bagi Orang Asli Papua (OAP) untuk menjadi pelaku utama pembangunan.

Bacaan Lainnya

“Papua maju, Indonesia kuat dari timur. Ini bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi semangat bersama bahwa kemajuan Indonesia tidak boleh meninggalkan Papua. Sebaliknya, Papua harus menjadi salah satu kekuatan utama dalam membangun Indonesia,” kata Charles dalam refleksi HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Menurut Charles, pembangunan Papua dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan perubahan yang signifikan, terutama melalui pembangunan infrastruktur, konektivitas, pendidikan, kesehatan, dan berbagai program strategis pemerintah. Perkembangan tersebut, kata dia, harus terus dilanjutkan dengan memastikan manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.

“Yang kita harapkan bukan hanya pembangunan yang terlihat secara fisik, tetapi pembangunan yang mengubah kehidupan masyarakat. Jalan boleh semakin baik, konektivitas semakin terbuka, investasi semakin besar, tetapi yang paling penting adalah apakah rakyat Papua semakin sejahtera,” ujarnya.

Charles menilai momentum 81 tahun Indonesia merdeka harus menjadi kesempatan untuk memperkuat kualitas pembangunan Papua. Menurutnya, percepatan pembangunan harus berjalan seiring dengan penguatan kapasitas masyarakat lokal.

Ia menekankan, Orang Asli Papua harus memperoleh ruang yang lebih besar dalam berbagai sektor strategis, mulai dari pendidikan, dunia kerja, kewirausahaan, hingga keterlibatan dalam kegiatan ekonomi yang tumbuh akibat investasi dan pembangunan.

“Orang Asli Papua kita harapkan dapat menjadi pelaku pembangunan, menjadi profesional, pengusaha, tenaga ahli, birokrat, akademisi, dan pemimpin yang ikut menentukan arah masa depan Papua,” katanya.

Salah satu kunci utama, menurut Charles, adalah investasi besar-besaran pada sumber daya manusia Papua. Program afirmasi pendidikan harus terus diperkuat agar semakin banyak putra-putri Papua mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan berkualitas di dalam maupun luar negeri.

“Kalau kita ingin melihat Papua maju dalam 10, 20, bahkan 30 tahun ke depan, maka hari ini kita harus membangun manusianya. Pendidikan adalah investasi paling penting. Anak-anak Papua harus dipersiapkan agar mampu bersaing di tingkat nasional bahkan global,” tegasnya.

Namun, Charles mengingatkan afirmasi pendidikan tidak boleh berhenti pada pemberian akses. Pemerintah juga perlu memastikan keberlanjutan pendidikan, peningkatan kompetensi, pendampingan, hingga tersedianya ruang kerja bagi lulusan Papua.

“Jangan hanya mengirim anak Papua sekolah, kemudian setelah lulus mereka bingung mencari ruang untuk mengabdi. Harus ada ekosistem yang menghubungkan pendidikan dengan dunia kerja, dunia usaha, pemerintahan, dan kebutuhan pembangunan di Papua,” katanya.

Selain pendidikan, penciptaan lapangan kerja menjadi agenda penting. Charles berharap berbagai program strategis nasional yang berjalan di Tanah Papua dapat memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat lokal.

“Kalau investasi masuk ke Papua, maka masyarakat Papua harus mendapatkan peluang yang nyata. Ada pelatihan, ada transfer teknologi, ada kesempatan kerja, ada kemitraan usaha, dan ada ruang bagi pengusaha lokal. Dengan begitu, investasi benar-benar menjadi instrumen pemberdayaan,” ujarnya.

Charles juga menegaskan pembangunan Papua harus tetap memperhatikan karakter sosial, budaya, dan lingkungan masyarakat setempat. Kemajuan ekonomi, menurutnya, tidak boleh menghilangkan identitas dan ruang hidup masyarakat adat.

“Papua memiliki kekayaan alam dan kebudayaan yang luar biasa. Karena itu, pembangunan harus tetap menghormati masyarakat adat dan lingkungan. Kita ingin Papua maju, tetapi tetap memiliki jati dirinya,” tuturnya.

Ia berharap pembangunan Papua ke depan semakin dibangun di atas fondasi kesejahteraan, keadilan, kesempatan yang setara, serta rasa saling percaya.

Menurut Charles, masyarakat Papua harus melihat pembangunan sebagai kesempatan untuk membangun masa depan, sementara pemerintah juga harus memastikan setiap kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Pemerintah harus terus hadir, masyarakat harus ikut mengawal, dan semua pihak harus bekerja bersama. Kita tidak ingin Papua hanya menjadi objek pembangunan. Papua harus menjadi bagian penting dari subjek pembangunan nasional,” katanya.

Charles optimistis Papua memiliki masa depan yang besar dan dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru Indonesia. Dengan sumber daya manusia yang kuat, infrastruktur yang semakin baik, serta kebijakan pembangunan yang berpihak kepada masyarakat lokal, Papua diyakini dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi kemajuan bangsa.

“Papua punya potensi besar. Kita jangan melihat Papua hanya dari persoalan dan tantangannya. Mari melihat Papua dari peluang dan masa depannya. Jika Papua maju, maka Indonesia akan semakin kuat dari timur,” ujar Charles.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai momentum memperkuat optimisme dan persatuan.

“Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Mari kita bangun Papua dengan semangat persatuan, keberpihakan kepada rakyat, penguatan sumber daya manusia, dan pembangunan yang berkelanjutan. Papua maju, Indonesia kuat dari timur,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *