JAKARTA – BELA RAKYAT – Tokoh Suku Besar Sebyar Papua, Malkin Kosepa, menanggapi buku karya Pendeta Socratez Yoman yang mengangkat isu Pemusnahan Etnis Melanesia. Malkin menilai persoalan Papua memang perlu dikritisi, tetapi narasi tentang Papua jangan terus dibangun seolah-olah hanya berisi konflik, kekerasan dan penderitaan.
“Kalau kita cinta Papua, jangan terus gambarkan tanah ini penuh api. Papua memang punya persoalan, tetapi Papua juga punya kehidupan, harapan dan masa depan,” kata Malkin.
Malkin menghormati kebebasan Socratez Yoman menyampaikan pandangan dan kesaksian. Namun, ia mengingatkan kritik harus tetap membuka ruang dialog dan perdamaian.
“Kalau ada kekerasan, ungkap. Kalau ada korban, berikan keadilan. Kalau ada kebijakan yang salah, perbaiki. Tetapi jangan karena ingin membuka luka, seluruh wajah Papua kemudian digambarkan seperti neraka,” ujarnya.
Ia juga menyoroti penggunaan istilah pemusnahan etnis atau genocide. Menurutnya, istilah tersebut sangat serius dan harus didukung data serta kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Genocide bukan istilah biasa. Kalau istilah itu digunakan, harus ada dasar yang kuat. Kita harus membedakan fakta, kesaksian, kritik dan kesimpulan hukum,” kata Malkin.
Malkin menilai Papua tidak hanya tentang konflik. Setiap hari masyarakat tetap bekerja, anak-anak bersekolah, petani berkebun, nelayan melaut dan masyarakat adat menjalankan kehidupannya.
“Jangan hanya lihat api. Lihat juga kehidupan masyarakat yang ingin hidup tenang. Jangan hanya bicara masa lalu, mari bicara bagaimana masa depan Papua,” ujarnya.
Malkin juga mengingatkan bahwa semakin bertambah usia, seseorang semestinya semakin bijak melihat persoalan.
“Semestinya usia yang semakin tidak muda lagi membuat kita semakin bijak mencermati kehidupan. Kritik boleh keras, tetapi jangan sampai kata-kata kita justru membakar emosi dan mewariskan kebencian kepada generasi muda Papua,” katanya.
Menurut Malkin, yang paling dibutuhkan Papua saat ini adalah kedamaian agar masyarakat dapat mempercepat pembangunan.
“Kalau Papua damai, masyarakat bisa bekerja, anak-anak bisa sekolah, ekonomi tumbuh dan pemerintah bisa lebih fokus membangun. Kedamaian adalah modal utama untuk berbenah,” ujarnya.
Ia menegaskan kritik terhadap pemerintah tetap penting. Namun, semua pihak harus objektif: kebijakan yang salah dikoreksi, program yang baik didukung.
“Papua punya persoalan, tetapi Papua bukan persoalan. Papua punya luka, tetapi Papua bukan hanya luka. Kalau kita benar-benar mencintai Papua, mari bicara berdasarkan fakta sekaligus menjaga kedamaian,” tegas Malkin.
“Jangan wariskan api kepada generasi berikutnya. Wariskan kedamaian, persaudaraan dan masa depan. Papua baik-baik saja, tetapi harus terus menjadi lebih baik,” pungkasnya.






