Pesan Abu Vulkanik Krakatau

Selama ini, yang memberi pesan ancaman dan harapan, kerap datangnya dari manusia. Tetutama sekali dari para politisi.

“Kalau aku terpilih, aku akan bla bla bla bla bla!” Padahal blas nggak ada juntrungannya. Padahal saat dia berjanji di masa kampanye itu, harapan membuncah hingga ke langit ke tujuh.

Ini tidak tipikal terjadi di Amerika, tapi di seluruh dunia yang menerapkan sistem pemilu untuk mendudukkan kaum politisi di tahta kekuasaan.

Setelah spesies ini mengisi relung-relung kekuasaan dan mengendalikan tali kekang nasib rakyat, maka mereka mulai mengancam-ancam. Kadang mengancam rakyat pemilih yang meluapkan rasa tidak puas atas kinerja mereka, tapi kadang mengancam musuh-musuh mereka yang akibatnya juga mengancam rakyat juga pada akhirnya. Itulah yang terjadi di Amerika Serikat saat ini.

Politisi yang sudah bersalin rupa menjadi Presiden AS, Donald Trump, tiap hari bahkan tiap menit, mengirimkan ancaman ke seluruh dunia. Khususnya ke negara Iran. Mulai dari mengancam menghapus peradaban Islam Iran hingga sekarang mau mengancam membom dengan senjata nuklir taktis. Sejagat raya, makhluk-makhluk Allah jadi terancam dibuatnya. Sialnya, si Kakek Tua yang lupa umur ini, tetap saja dipandang sebagai “guru” bagi banyak politisi di berbagai negara yang menganut pemilihan umum.

Sekarang, alam sudah interupsi. Bumi menggoyang dirinya di NTT. Jadilah runtuh dan hancur gedung-gedung dan rumah. Nyawa banyak melayang. Alam hendak berkata, kalian manusia tidak melulu yang bisa ngancam sana ngancam sini. Kami juga bisa. Bahkan kami jauh lebih perkasa ancamannya.

Sudah dikasi ancaman semacam itu, si makhluk manusia belum juga insyaf. Akhirnya, bumi muak juga. Dia muntah di gunung Krakatau. Muntahannya akhirnya mempapari sentra domisili para politisi dan kaum serakah yang berada di Jabodetabek. Apakah kaum politisi menangkap risalah Pak Abu Vulkanik dengan cara ini? Oh, tidak. Sebelum mereka meregang nyawa, pesan Pak Abu Vulkanik semacam ini, tak pernah terbetik dalam sistem logika mereka. Non sense, bagi alam pikiran mereka. Bagi mereka, makhluk bernyawa dan berkomunikasi, hanya spesies manusia. Dan dipersempit lagi oleh mereka: yang berhak memutuskan ini benar ini salah, ini penting ini nonsense, hanya mereka sendiri.

Jadi, ya, kita saksikan saja perang tanding ancaman antara makhluk bernama bumi dengan makhluk si kepala busuk: kaum serakah dan politisi yang tak mengenal batas pantai nafsu untuk berkuasa dan meraup kesenangan ragawi.

Karena kita hanya berani menyaksikan dan tak nekad mengoreksi kaum serakah dari keblingerannya, rasakan juga percikan muntahan Pak Abu Vulkanik itu yang telah mencemari udara dan air minummu.

Allah menyuruh sampaikan dan tegakkan amar makruf nahi munkar kepada kaum serakah dan keblinger, ini malah berlomba puja-puji dan menjilat kepada kaum politisi. Ya sudah, rasakan sesaknya.

Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis Buku

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *