BEKASI | MEDIA BELA RAKYAT — Demokrasi desa tidak selalu lahir dari gedung megah dengan lampu yang gemerlap. Kadang ia justru tumbuh sederhana: dari sebuah ruangan, sebuah kotak undian, selembar kertas, lalu sebuah angka yang jatuh ke tangan manusia yang sedang menjemput amanah. Rabu, 9 September 2026, Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, membuka lembar baru perjalanan Pilkades melalui pengundian nomor urut calon kepala desa.
Lima nama hasil pengundian menurut nomor yang berdiri di garis perjuangan: 1. Damin, 2. Parta bin Ipung, 3. H. Ruslani, 4. Dalu, serta nomor 5. Mahdi. Angka pun berbicara, tetapi sejarah belum berkata siapa pemenangnya. Sebab dalam panggung demokrasi, nomor urut hanyalah pintu masuk menuju pertarungan gagasan. Dan kali ini, si bontot justru membawa ambisi menuju peringkat teratas (menuju kursi Kepala Desa Sukadanau).
Pengundian berlangsung dengan dihadiri Plt. Kepala Desa Sukadanau Rovi Hidayatullah, Lajim Marzuki, Ketua BPD Sukadanau, perwakilan Polsek Cikarang Barat, perwakilan Koramil/014 Cikarang Barat, Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Cikarang Barat Ika Sartika Sari, S.H., serta kelima calon kepala desa Sukadanau. Di tengah tahapan demokrasi tersebut, Ketua Panitia Pilkades Sukadanau Albert Nicolas Nelwan turut mengawal proses agar perjalanan pesta demokrasi desa berjalan tertib dan sesuai ketentuan. Sebab Pilkades bukan sekadar memilih siapa yang duduk di kursi kepala desa, melainkan memilih siapa yang kelak harus sanggup duduk bersama rakyat ketika jalan berlubang, pelayanan tersendat, pembangunan dipertanyakan, dan harapan warga mengetuk pintu pemerintahan.

Ada yang mendapat nomor satu, nomor dua, nomor tiga, empat, dan ada pula yang memperoleh nomor lima: angka terakhir dalam deretan kandidat. Tetapi jangan buru-buru menganggap nomor terakhir berarti langkah terakhir. Sebab dalam demokrasi, yang berada paling depan ketika pengundian belum tentu berada paling depan ketika suara rakyat dihitung. Nomor urut bukan mahkota kemenangan, bukan pula kitab ramalan politik. Ia hanya tanda pengenal dalam perjalanan panjang menuju bilik suara. Yang kelak menentukan adalah masyarakat desa: siapa yang dipercaya, siapa yang dianggap mampu, dan siapa yang dinilai sanggup mengubah janji menjadi kerja nyata. Di sinilah kisah “si bontot menuju peringkat teratas” menemukan panggungnya.
Mahdi alias Madink mendapatkan nomor urut 5. Nomor paling belakang, tetapi justru dari sanalah ia menyalakan keberanian untuk berjalan paling depan. Lima bukan angka yang ingin ia sembunyikan; lima justru hendak ia jadikan doa. Jika orang lain melihat angka sebagai posisi, Madink melihatnya sebagai pesan. Jika sebagian orang menganggap nomor terakhir sebagai kerugian, ia memilih menjadikannya tantangan.
Nomor lima hari ini, nomor satu yang ia kejar pada 20 September 2026 mendatang. Si bontot tidak hendak sekadar ikut berbaris; ia ingin terabas menuju peringkat teratas (Sukadanau 1). Sebab bagi Madink, politik desa bukan soal siapa paling cepat mengambil start, melainkan siapa yang mampu mengetuk hati rakyat dengan gagasan, ketulusan, dan keberanian mengabdi.
Kepada awak media, Mahdi (Madink-red) menyampaikan rasa syukur atas berlangsungnya proses pengundian secara lancar. Ia pun mengungkapkan makna angka lima yang diperolehnya, “Alhamdulillah kegiatan pengundian nomor berjalan dengan lancar. Ini merupakan salah satu tahapan dalam Pilkades dan saya mendapatkan nomor 5 seperti yang dicita-citakan bersama. Angka 5 itu merupakan simbolik ketauhidan terhadap Sang Pencipta, ALLAH TA’ALA memperintahkan Ummat Muslim sholat 5 waktu dalam sehari, Rukun Islam pun ada 5, dan semoga saya diijabah oleh Allah SWT untuk menjadi Sukadanau 1 (Kepala Desa-red).

“Bagi dirinya, angka bukan sekadar identitas di atas surat suara, tetapi do’a yang ingin dibawa menuju pengabdian. Kalimat itu seperti mengetuk pintu sebuah perjalanan panjang. Sebab menjadi kepala desa bukan sekadar mengejar kursi, melainkan bersiap memikul beban yang kadang tidak terlihat di atas panggung. Ada suara ibu-ibu yang berharap pelayanan mudah, ada pemuda yang menunggu ruang untuk berkarya dan bekerja, ada petani, pedagang, buruh, dan warga kecil yang ingin desanya tumbuh tanpa harus kehilangan wajah kampungnya. Di sanalah mandat rakyat menjadi berat: karena satu suara dapat mengantarkan seseorang ke kursi kekuasaan, tetapi ribuan suara pula yang kelak menagih pertanggungjawaban,” tutur Mahdi kepada awak media, Rabu (9/9/2026).
“Maka biarlah nomor urut menjadi angka yang sederhana. Lima calon, lima jalan, satu tujuan: Sukadanau yang lebih baik. Jangan sampai pesta demokrasi berubah menjadi pertarungan kebencian; jangan sampai perbedaan pilihan menjelma menjadi permusuhan. Pilkades adalah pesta rakyat, bukan medan perang saudara. Dan setiap kandidat mempunyai hak yang sama untuk berjuang, menyampaikan visi, menawarkan gagasan, serta memperoleh perlakuan yang setara,” jelas Mahdi.
“Tanggal 20 September 2026 perlahan mendekat, waktu akan membawa semua janji menuju satu tempat bernama bilik suara. Di sana, baliho akan diam, mikrofon akan berhenti, sorak-sorai akan reda. Yang tersisa hanyalah rakyat bersama nuraninya. Madink nomor 5 boleh berada di ujung deretan, tetapi ia telah memasang tekad untuk terabas menuju nomor 1,” tegas Mahdi.
“Dalam demokrasi, yang paling penting bukan siapa yang paling dulu berdiri di depan, tetapi siapa yang akhirnya dipercaya rakyat untuk berdiri bersama mereka. Dan jika kelak angka lima berubah menjadi sejarah nomor satu, kemenangan itu bukan milik angka, bukan milik baliho, bukan milik panggung, melainkan milik mandat rakyat Sukadanau. Saatnya masyarakat Desa Sukadanau beramai-ramai menentukan pilihan pada 20 September nanti, buktikan bahwa calon yang paling muda, cerdas, dan mumpuni memimpin Desa Sukadanau. Si ‘Bontot’ menuju Sukadanau 1.” pungkas Mahdi.
Lima di kertas belum tentu lima dalam perolehan suara. Sebab bilik suara tidak mengenal siapa yang paling awal berdiri di barisan. Ia hanya mengenal satu bahasa: suara rakyat. Dan jika takdir demokrasi menghendaki, dari nomor terakhir bisa saja lahir nama yang berdiri paling atas. Si Bontot menuju peringkat teratas, dari nomor 5 menuju Sukadanau 1 (Kepala Desa-red).
(CP/red)






