Hari Pariwisata Dunia, Ketum Pemuda LIRA: Belajar dari Turki, Pariwisata RI Harus Jadi Jalan Kesejahteraan Rakyat

JAKARTA – BELA RAKYAT –  Hari Pariwisata Dunia diperingati setiap 27 September harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk melihat pariwisata bukan semata-mata sebagai urusan jalan-jalan dan mendatangkan wisatawan, tetapi sebagai salah satu instrumen penting untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP Pemuda LIRA, Habibie Mahabbah, SIP, MM. Habibie mengatakan Indonesia memiliki modal pariwisata yang jauh lebih beragam karena memiliki kekayaan alam, budaya, sejarah, kuliner, tradisi, desa dan kehidupan masyarakat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Bacaan Lainnya

Namun, menurutnya, kekayaan tersebut harus dikelola dalam sebuah ekosistem pariwisata yang terintegrasi sehingga manfaat ekonominya tidak berhenti di pintu masuk destinasi, hotel atau perusahaan besar, tetapi mengalir sampai kepada masyarakat lokal.

“Pariwisata jangan hanya membuat wisatawan datang, berfoto, lalu pulang. Ukuran keberhasilannya harus sampai kepada rakyat: berapa UMKM yang hidup, berapa anak muda mendapatkan pekerjaan, berapa desa tumbuh, dan berapa besar ekonomi lokal bergerak karena wisata,” kata Habibie kepada wartawan, Jakarta, Ahad (27/9/2026).

“Indonesia jangan hanya menghitung berapa wisatawan yang datang. Kita harus menghitung berapa rakyat yang mendapatkan manfaat dari kedatangan wisatawan. Petani bisa menjual produknya kepada sektor wisata. Anak muda bisa menjadi pemandu, kreator konten dan pelaku ekonomi kreatif. UMKM bisa masuk ke rantai pasok hotel dan restoran. Desa bisa hidup karena wisata. Itulah pariwisata yang harus kita bangun,” sambung Habibie.

Belajar dari Turki: Destinasi Tidak Berdiri Sendiri

Habibie mengatakan salah satu hal yang menarik untuk dipelajari Indonesia adalah pengembangan pariwisata di Turki.
Saat berkunjung ke Turki, ia melihat bagaimana pengalaman wisata dapat dibangun melalui rangkaian destinasi yang saling terhubung. Wisatawan tidak hanya diarahkan untuk melihat satu objek, tetapi dapat menikmati perjalanan yang menggabungkan sejarah, budaya, arsitektur, kuliner, alam, religi dan kehidupan masyarakat.

Model seperti itu kini juga terlihat dalam strategi promosi resmi Türkiye melalui berbagai cultural routes dan thematic routes. GoTürkiye menampilkan perjalanan yang menghubungkan berbagai situs dan kota dalam satu pengalaman wisata, termasuk rute Istanbul–Troy–Pergamon–Ephesus–Aphrodisias–Hierapolis–Letoon–Antalya serta rute Ankara–Hattusa–Cappadocia.

“Yang menarik bukan sekadar banyaknya tempat wisata. Yang penting adalah bagaimana tempat-tempat itu dibuat menjadi sebuah pengalaman perjalanan. Orang datang ke satu kota, kemudian punya alasan untuk melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya,” ujar Habibie.

Dari Istanbul, Cappadocia hingga Pamukkale

Pengalaman wisata di Turki memperlihatkan, sebuah negara dapat menawarkan banyak karakter wisata dalam satu perjalanan.

Istanbul menawarkan sejarah, arsitektur, budaya dan kehidupan kota. Cappadocia menghadirkan lanskap alam dan pengalaman wisata yang berbeda.

Pamukkale menggabungkan bentang alam dengan situs sejarah Hierapolis. Kawasan Ephesus menghadirkan peninggalan peradaban kuno. Sementara kawasan Antalya menawarkan perpaduan wisata pantai, sejarah dan alam.

Bahkan, pemerintah pariwisata Türkiye secara resmi mengembangkan berbagai rute tematik, termasuk rute budaya, spiritual, alam, kuliner dan berbagai perjalanan berbasis pengalaman. GoTürkiye juga menampilkan sejumlah perjalanan dengan durasi beberapa hari yang menghubungkan beberapa destinasi sekaligus. Bagi Habibie, pendekatan seperti ini memberikan pelajaran penting bagi Indonesia.

“Indonesia jangan menjual Bali saja, jangan menjual satu destinasi saja. Kita harus menjual perjalanan Indonesia. Orang datang ke satu daerah, kemudian diarahkan mengenal destinasi lain di sekitarnya. Dari wisata alam masuk ke kuliner, dari kuliner masuk ke budaya, dari budaya masuk ke sejarah, lalu ke ekonomi kreatif masyarakat,” katanya.

“Saya pernah berada di Istanbul, Ankara dan Cappadocia. Yang saya rasakan, pariwisata bukan sekadar membawa orang melihat tempat indah. Ada sejarah, budaya, transportasi, kuliner, ekonomi kreatif dan masyarakat yang menjadi bagian dari pengalaman wisata. Indonesia punya kekayaan yang jauh lebih beragam. Tinggal bagaimana kita mengintegrasikannya sehingga wisatawan tinggal lebih lama dan uang yang mereka bawa semakin banyak berputar di tengah rakyat,” jelas Habibie.

Indonesia Harus Membuat “Rute Wisata Nusantara”

Habibie mendorong pemerintah mengembangkan konsep Rute Wisata Nusantara yang menghubungkan destinasi dalam satu kawasan.

Misalnya, wisatawan yang datang ke Yogyakarta tidak hanya berhenti di satu atau dua destinasi. Perjalanan dapat dikembangkan menjadi rangkaian wisata sejarah, budaya, desa wisata, kuliner, kerajinan dan ekonomi kreatif yang terhubung dengan destinasi di wilayah sekitarnya.

Begitu pula di Sulawesi Selatan, Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua.

“Jangan berpikir bahwa wisata itu hanya objek. Yang kita jual adalah ekosistem dan pengalaman. Jalan menuju destinasi, transportasi, penginapan, kuliner, produk UMKM, kerajinan, pemandu wisata, pertunjukan budaya, sampai konten digital semuanya harus menjadi bagian dari ekosistem itu,” ujar Habibie.

Pariwisata Harus Membuat Rakyat Ikut Sejahtera

Lebih lanjut, Habibie menjelsskan, prinsip paling penting adalah masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama ekonomi pariwisata, bukan sekadar penonton.
Ia menilai desa wisata, UMKM, pedagang lokal, petani, nelayan, pelaku kuliner, pengrajin, pengemudi transportasi dan anak muda harus mendapatkan ruang yang lebih besar dalam rantai ekonomi pariwisata.

Hal tersebut juga sejalan dengan kerangka hukum Indonesia. UU Kepariwisataan menempatkan pembangunan pariwisata sebagai bagian dari pembangunan nasional untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat serta mendorong pemerataan kesempatan berusaha. UU tersebut juga mengatur pemberdayaan UMKM di dalam dan sekitar destinasi serta peningkatan kompetensi pekerja pariwisata.

Bahkan, perubahan terbaru melalui UU Nomor 18 Tahun 2025 memperkuat sejumlah aspek seperti pariwisata berbasis masyarakat lokal, promosi berbasis budaya, peningkatan kualitas SDM pariwisata, pendidikan pariwisata dan partisipasi masyarakat.

“Jadi secara prinsip kita sudah punya landasan. Tantangannya adalah bagaimana kebijakan tersebut benar-benar terasa di lapangan,” kata Habibie.

Anak Muda Jangan Hanya Jadi Wisatawan

Habibie juga menekankan peran generasi muda. Ia menerangkan, anak muda Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen pariwisata. Mereka harus menjadi kreator, pengusaha, pemandu, promotor dan inovator pariwisata.
Media sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan desa, pantai, gunung, kuliner, seni tradisional, sejarah lokal dan destinasi yang selama ini belum dikenal luas.

“Anak muda punya kamera di tangan, punya media sosial, punya kreativitas. Jangan hanya digunakan untuk membuat konten hiburan. Jadikan itu mesin promosi wisata Indonesia,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemerintah membuka lebih banyak akses pembiayaan, pelatihan digital, pendidikan hospitality, bahasa asing, manajemen bisnis dan pemasaran bagi anak muda yang ingin masuk ke sektor pariwisata.

Jangan Hanya Mengejar Jumlah Wisatawan

Habibie mengingatkan agar keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang. Ia menjelaskan, indikator yang lebih penting adalah berapa lama wisatawan tinggal, berapa banyak uang yang dibelanjakan di daerah, berapa banyak UMKM yang memperoleh manfaat, serta apakah masyarakat sekitar mendapatkan pekerjaan dan peluang usaha.

Turki sendiri melaporkan 56,7 juta pengunjung internasional dan pendapatan pariwisata US$54,3 miliar pada 2023. Pemerintah Türkiye juga menyampaikan bahwa pada Januari–September 2025 negara tersebut menerima sekitar 50 juta pengunjung dan mencatat pendapatan pariwisata sekitar US$50 miliar. Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya skala ekonomi yang dapat dibangun dari sektor pariwisata, meskipun struktur ekonomi dan kondisi Indonesia tentu berbeda dengan Turki.

Karena itu, Habibie menilai Indonesia perlu lebih serius membangun nilai ekonomi per perjalanan, bukan sekadar mengejar angka kunjungan.

Dari Destinasi Menjadi Ekosistem

Menurut Habibie, Indonesia memiliki keunggulan yang tidak kalah besar.

“Turki punya sejarah peradaban yang luar biasa. Indonesia juga punya peradaban, kerajaan, situs sejarah, masjid, pesantren, tradisi, suku, bahasa, laut, gunung, hutan, kuliner dan ribuan cerita lokal. Persoalannya bukan apakah kita punya destinasi. Kita punya. Persoalannya bagaimana semuanya dikemas dan dihubungkan,” ujarnya.

Ia mendorong pemerintah pusat dan daerah duduk bersama menyusun peta jalan pariwisata yang menghubungkan destinasi, infrastruktur, transportasi, desa wisata, UMKM, ekonomi kreatif, budaya dan promosi digital.

“Kalau orang datang ke Indonesia hanya mengunjungi satu tempat lalu pulang, nilai ekonominya tentu berbeda dengan wisatawan yang tinggal lebih lama dan bergerak dari satu destinasi ke destinasi lain,” katanya.

Pemuda LIRA: Pariwisata Harus Berpihak pada Rakyat

Sebagai organisasi kepemudaan, Habibie mengatakan Pemuda LIRA siap mendorong perspektif pariwisata yang lebih dekat dengan masyarakat.

Pemuda LIRA, menurutnya, dapat mengambil peran dalam promosi destinasi lokal, penguatan desa wisata, literasi digital, kampanye kebersihan lingkungan, pengembangan UMKM dan pengenalan potensi daerah kepada generasi muda.

“Pemuda harus hadir bukan hanya ketika ada seremoni Hari Pariwisata Dunia. Kita harus ikut mengawal agar pariwisata menjadi ruang tumbuh bagi rakyat,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pariwisata tidak boleh berkembang dengan mengorbankan lingkungan dan budaya lokal.

“Destinasi boleh semakin ramai, tetapi alam harus tetap terjaga. Investasi boleh masuk, tetapi masyarakat lokal jangan tersingkir. Wisatawan boleh semakin banyak, tetapi budaya jangan kehilangan jati dirinya,” ujar Habibie.

“Indonesia Jangan Sekadar Menjual Keindahan”

Menutup pernyataannya dalam momentum Hari Pariwisata Dunia, Habibie mengajak pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan generasi muda mengubah cara pandang terhadap pariwisata.

“Indonesia jangan hanya menjual keindahan. Indonesia harus menjual pengalaman, budaya, keramahan dan cerita. Dan yang paling penting, uang yang datang bersama wisatawan harus sebanyak mungkin berputar di tengah rakyat.”

“Kalau pariwisata tumbuh tetapi rakyat di sekitar destinasi tetap miskin, berarti ada mata rantai yang harus kita benahi. Pariwisata yang kita perjuangkan adalah pariwisata yang membuat desa hidup, UMKM tumbuh, anak muda bekerja dan masyarakat semakin sejahtera.”

Habibie menilai momentum Hari Pariwisata Dunia harus menjadi pengingat bahwa kekayaan wisata Indonesia pada akhirnya harus kembali kepada tujuan pembangunan nasional: membuka kesempatan, memperkuat ekonomi masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Dari Turki kita belajar tentang bagaimana destinasi diintegrasikan menjadi sebuah perjalanan. Dari Indonesia kita harus membangun model sendiri yang berbasis kekayaan Nusantara. Karena Indonesia bukan kekurangan destinasi. Kita membutuhkan keberanian untuk mengintegrasikannya menjadi kekuatan ekonomi rakyat,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *