CIANJUR | MEDIA BELA RAKYAT — Sejarah tak selalu tertulis di halaman buku. Kadang ia berdiam dalam batu, teras-teras sunyi, dan jejak peradaban yang menunggu untuk dibaca. Jumat (25/9/2026), sebanyak 90 siswa SMKN 1 Pacet, Kabupaten Cianjur, datang ke Situs Cagar Budaya Gunung Padang dalam study tour sejarah dan pariwisata.
Di bawah langit Cianjur, perjalanan itu menjelma ruang belajar yang hidup. Para siswa tak hanya mengenal sejarah, tetapi juga menyerap kearifan lokal, norma, estetika, etika, serta adab, dimana sebuah pelajaran bahwa mengenal masa lalu berarti belajar menghormati kehidupan hari ini.
Guru SMKN 1 Pacet, Pak Bapo, mengatakan pengalaman langsung di situs sejarah memberi warna berbeda bagi pendidikan. “Kami berharap anak-anak bukan hanya memahami sejarah, tetapi juga mengenal budaya dan kearifan lokal, memahami norma serta estetika, dan belajar sopan santun. Pengetahuan akan lebih bermakna ketika dapat dilihat, dirasakan, dan dihayati,” ujarnya, Jum’at (25/9/2026).

Di antara jejak batu dan lanskap perbukitan, para siswa mendapat edukasi dari Nanang Sukmana, salah satu juru kunci atau kuncen sekaligus Polsus Cagar Budaya Gunung Padang. Sejarah situs, tata ruang, nilai budaya, hingga etika berada di kawasan cagar budaya disampaikan sebagai jembatan antara pengetahuan di ruang kelas dan kenyataan di lapangan.
Nanang mengingatkan, “Gunung Padang bukan sekadar tempat untuk singgah, berfoto, lalu pergi. Di balik susunan batunya terdapat jejak kebudayaan yang patut dipelajari dengan kepala tegak dan hati yang hormat. Generasi muda perlu mengenal dan memahami warisan budaya agar tumbuh kesadaran untuk ikut menjaganya, menjadi pesan yang mengalir dari ruang edukasi tersebut,” tutur pria ramah yang akrab disapa Kang Nanang.
“Semangat pelestarian itu sejalan dengan UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang menempatkan cagar budaya sebagai kekayaan budaya bangsa yang penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan. Maka, kunjungan pelajar ke Gunung Padang bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan perjumpaan antara generasi hari ini dengan jejak peradaban yang diwariskan masa silam,” ungkapnya.

“Dari Gunung Padang, 90 siswa pulang membawa lebih dari sekadar foto dan cerita perjalanan. Mereka membawa pesan bahwa masa lalu adalah cermin untuk menatap masa depan; bahwa sejarah mesti dikenali, budaya harus dihormati, kearifan lokal dirawat, dan adab dijunjung tinggi. Sebab sebuah bangsa tidak hanya diwarisi oleh batu-batu sejarah, tetapi oleh generasi yang mampu membaca maknanya, menjaga jejaknya, dan meneruskan cahayanya.” Pungkas Kang Nanang Sukmana.
(CP/red)






