JAKARTA – BELA RAKYAT – Pengurus DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), AMPG, sekaligus tokoh muda Golkar Aisah Hamim menilai gagasan yang ditawarkan Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda, memiliki relevansi dengan tantangan organisasi kepemudaan menghadapi perubahan lima tahun ke depan.
Menurut Aisah, semangat “Satukan Energi, Berkarya Bersama AMPI” tidak sekadar menjadi slogan dalam kontestasi kepemimpinan AMPI. Namun, dapat menjadi pijakan untuk memperkuat konsolidasi organisasi, meningkatkan kualitas kader, sekaligus mendorong lahirnya karya-karya nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“AMPI memiliki energi besar karena di dalamnya ada kader-kader muda dengan latar belakang, kompetensi, profesi, dan pengalaman yang beragam. Tantangannya adalah bagaimana seluruh energi itu bisa disatukan menjadi kekuatan bersama dan menghasilkan karya,” ujar Aisah Hamim di sela-sela Munas X AMPI di Grand Sahid Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Digitalisasi Kader Jadi Fondasi Organisasi Modern
Aisah mengatakan, salah satu gagasan Zigo yang menurutnya relevan nan penting adalah penguatan digitalisasi kader melalui pembangunan database kader nasional dan talent pool yang terintegrasi.
Menurut dia, pemetaan kader berbasis kompetensi, pengalaman, profesi, dan minat pengabdian akan membantu AMPI mengenali potensi kader secara lebih baik.
“Organisasi modern membutuhkan data. Kita perlu mengetahui siapa kader kita, apa kompetensinya, apa potensinya, dan di mana ruang terbaik bagi mereka untuk berkarya. Ini yang membuat gagasan digitalisasi kader menjadi penting,” kata Aisah.
Dengan sistem tersebut, konsolidasi AMPI tidak hanya bertumpu pada struktur organisasi, tetapi juga mampu menghubungkan potensi kader dari tingkat pusat hingga daerah.
Ekonomi Kekaryaan Dorong Kemandirian Pemuda
Selain konsolidasi organisasi, Aisah menilai perhatian terhadap ekonomi kekaryaan pemuda menjadi salah satu gagasan yang relevan dengan kondisi generasi muda saat ini.
Menurutnya, AMPI perlu menjadi ruang bagi kader untuk mengembangkan kewirausahaan, UMKM, ekonomi kreatif, maupun berbagai aktivitas produktif lainnya.
“Anak muda tidak cukup hanya aktif berorganisasi. Mereka juga harus memiliki ruang untuk bertumbuh secara ekonomi, membangun usaha, memperluas jejaring dan menciptakan lapangan pekerjaan,” ujar Aisah.
Ia menilai pendekatan tersebut dapat membuat kekaryaan menjadi bagian dari proses kaderisasi sekaligus mendorong kemandirian pemuda dan organisasi.
Revitalisasi Perkaderan untuk Menjawab Perubahan
Aisah juga menyoroti gagasan revitalisasi perkaderan yang ditawarkan Zigo Rolanda.
Bagi Aisah, pola kaderisasi perlu disesuaikan dengan tantangan generasi muda yang semakin kompleks. Kader AMPI, kata dia, perlu dibekali kemampuan kepemimpinan, komunikasi, teknologi, kewirausahaan, ekonomi, kebijakan publik, hingga kemampuan membangun kolaborasi.
“Kaderisasi harus mampu melahirkan anak muda yang siap memimpin, bukan hanya siap menjadi pengurus. Mereka harus memiliki kapasitas dan wawasan untuk berkiprah di berbagai sektor,” katanya.
Aisah menilai kaderisasi yang kuat akan menjadi investasi jangka panjang bagi AMPI dan Partai Golkar dalam menyiapkan generasi kepemimpinan berikutnya.
Politik Harus Menjadi Ruang Pengabdian
Sebagai organisasi yang memiliki sejarah panjang dalam pembentukan kader muda, Aisah mengatakan AMPI juga memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran politik generasi muda.
Ia menyebut gagasan penguatan aspirasi politik strategis perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses kaderisasi politik yang berkelanjutan.
“Politik jangan hanya dipahami sebagai soal posisi. Politik juga merupakan ruang untuk memahami persoalan rakyat, memperjuangkan aspirasi, menyusun gagasan, dan ikut memberikan solusi melalui kebijakan publik,” tutur Aisah.
Dengan perspektif tersebut, ia berharap kader AMPI dapat memiliki kemampuan politik sekaligus kepekaan sosial yang kuat.
Kolaborasi Lintas Sektor Harus Diperluas
Tak hanya itu, Aisah juga mengapresiasi gagasan Zigo mengenai penguatan kolaborasi nasional.
Menurut dia, tantangan generasi muda tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu organisasi. AMPI perlu membangun kerja sama dengan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, organisasi kepemudaan, masyarakat sipil, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Kolaborasi menjadi kata kunci. AMPI harus mampu menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai kekuatan untuk menghasilkan program yang konkret bagi anak muda dan masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai kolaborasi tersebut dapat diarahkan pada pengembangan UMKM, pendidikan dan pelatihan kader, ekonomi kreatif, kegiatan sosial, hingga pengembangan kapasitas generasi muda.
AMPI Harus Responsif terhadap Isu Strategis
Lebih lanjut, Aisah mengatakan AMPI harus mampu mengikuti isu-isu strategis yang akan menentukan masa depan generasi muda.
Sejumlah isu seperti ekonomi digital, ketahanan pangan, transisi energi, pembangunan berkelanjutan, teknologi, dan kebijakan publik, menurutnya, perlu menjadi perhatian organisasi kepemudaan.
“Anak muda harus berada di dalam arus perubahan. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton. AMPI harus punya ruang untuk menyampaikan gagasan dan ikut memberikan kontribusi terhadap persoalan bangsa,” katanya.
Karya Menjadi Ukuran Gerakan AMPI
Aisah menegaskan, gagasan besar mengenai masa depan AMPI pada akhirnya harus bermuara pada karya nyata.
Ia melihat lima agenda yang ditawarkan Zigo Rolanda, yakni Digitalisasi Kader AMPI, Revitalisasi Perkaderan, Ekonomi Kekaryaan Pemuda, Kolaborasi Nasional, serta Gerakan Sosial dan Kebijakan Publik, sebagai rangkaian gagasan yang saling berkaitan.
“Kalau energi kader bisa disatukan, struktur bisa dikonsolidasikan, potensi bisa dipetakan, kader bisa dikembangkan dan jejaring diperluas, maka yang kita harapkan adalah lahirnya karya nyata,” ucap Aisah.
Bahkan sesuai pandangan Aisah, AMPI lima tahun ke depan membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul berbagai kekuatan di dalam organisasi dan mengubah perbedaan potensi menjadi energi kolektif.
“Pada akhirnya, organisasi bukan hanya dinilai dari seberapa besar strukturnya, tetapi dari seberapa besar manfaat dan karya yang bisa diberikan. Karena itu, semangat menyatukan energi harus dibuktikan melalui kerja bersama dan karya nyata,” pungkas Aisah Hamim, yang juga merupakan Pengurus PP KPPG dan tokoh muda Golkar ini.





