Oleh: Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Berdoa itu baik. Istighasah itu baik. Bersalawat itu baik. Berzikir juga sangat baik.Tetapi, ada satu hal yang rasanya tak kalah penting dilakukan bangsa ini sekarang: bertobat.
Bukan sekadar tobat individual di ruang-ruang pribadi, tetapi tobat yang dilakukan bersama-sama sebagai bangsa.
Sebuah Tobat Nasional untuk menunjukkan bahwa betapa pun hebatnya kita, betapa pun tingginya jabatan kita, betapa pun besarnya organisasi kita, sesungguhnya kita tetap kecil di hadapan Tuhan.
Karena itu, di tengah berlangsungnya Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026, saya menyimpan satu harapan besar.
Semoga dari forum tertinggi organisasi Islam terbesar itu lahir seruan moral dan spiritual kepada bangsa Indonesia untuk melakukan Tobat Nasional.
Muktamar ini sendiri mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa”, dan secara resmi menjadi forum untuk menentukan arah khidmah NU lima tahun ke depan.
Menurut saya, justru karena tema besarnya adalah kemaslahatan bangsa, ajakan bertobat menjadi sangat relevan.
Saya sengaja menggunakan kata “berharap”, sebab ketika tulisan ini dibuat Muktamar baru saja dimulai pada Kamis, 27 Agustus 2026. Presiden Prabowo Subianto juga telah membuka secara resmi forum tersebut di Jombang.
Jadi masih ada waktu sampai Muktamar berakhir untuk melihat apakah kegelisahan spiritual seperti ini akan masuk menjadi bagian dari suara moral para kiai.
Saya tentu tidak bermaksud mengajari para kiai besar, para kiai sepuh, para alim ulama dan para masyayikh NU tentang arti tobat. Mereka tentu jauh lebih paham dalil, makna dan kedalaman filosofisnya daripada saya.
Saya hanya ingin menitipkan sebuah kegelisahan sebagai orang awam. Kalau pada saat bangsa sedang menghadapi begitu banyak persoalan, kita belum juga merasa perlu mengajak diri sendiri dan bangsa ini bertobat, lalu peristiwa seperti apa lagi yang sedang kita tunggu?
Lihatlah apa yang terjadi di sekitar kita. Berbagai macam musibah alam terjadi dimana-mana. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.
Ada gempa, banjir, longsor, panas ekstrim, kekeringan, kebakaran hutan, krisis pangan dan lain-lain.
Kalau semua fakta itu belum cukup membuat kita bermuhasabah, pertanyaannya: peringatan seperti apa lagi yang kita tunggu?
Ancaman bangsa dan dunia bukan hanya soal bencana alam. Persoalan pangan pun tidak sederhana. Laporan World Food Programme 2026 memperkirakan sekitar 266 juta manusia di negara-negara yang mengalami krisis pangan menghadapi kelaparan akut.
Memang, tidak setiap bencana dapat begitu saja kita tafsirkan sebagai azab Tuhan. Gempa mempunyai mekanisme tektonik. Banjir mempunyai faktor hidrologis. Kebakaran hutan bisa dipengaruhi cuaca. Dan kekeringan memiliki mekanisme klimatologis.
Tetapi, apakah agama tidak boleh membaca seluruh kejadian amuk alam tersebut? Terutama, dalam konteks perlunya muhasabah alias instrospeksi?
Justru, Al-Qur’an sejak berabad-abad lalu telah memberi peringatan yang sangat kuat. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
(QS Ar-Rum: 41)
Perhatikan ujung ayat itu: la’allahum yarji’un, agar mereka kembali. Kembali ke mana? Kembali kepada jalan yang benar. Kembali kepada keseimbangan. Kembali kepada kesadaran. Dan, dalam bahasa agama, kembali kepada Allah. Itulah salah satu hakikat tobat.
Bangsa ini tentu membutuhkan program. Kita membutuhkan rehabilitasi hutan. Kita membutuhkan teknologi pertanian. Kita membutuhkan ketahanan pangan, mitigasi bencana, energi bersih, penegakan hukum lingkungan, dan anggaran besar.
Tetapi, saya percaya persoalan bangsa tidak akan pernah selesai hanya dengan program, proyek dan angka statistik. Ada dimensi lain yang sering kita tinggalkan: dimensi spiritual, teologis dan teleologis.
Pertanyaannya, bukan hanya berapa hektare hutan yang terbakar? Tetapi juga, mengapa manusia terus merusaknya? Bukan hanya berapa triliun kerugian akibat bencana? Tetapi juga, mengapa keserakahan terus kita pelihara?
Di sinilah agama mempunyai peran. Agama tidak boleh hanya hadir ketika orang menikah, meninggal, berdoa, berzikir atau melakukan seremoni. Agama harus masuk ke jantung persoalan peradaban.
Dan saya kira NU memiliki otoritas moral yang sangat besar untuk menyuarakan itu. Selama ini, kita kadang memahami tobat terlalu sempit. Misalnya, orang mabuk disuruh bertobat. Orang berjudi disuruh bertobat. Orang meninggalkan salat disuruh bertobat.
Tetapi, mengapa bangsa yang hutannya rusak tidak diajak bertobat? Mengapa pejabat yang membiarkan korupsi tumbuh tidak diajak bertobat? Mengapa pelaku usaha yang mengambil kekayaan alam tanpa tanggung jawab ekologis tidak diajak bertobat? Dan seterusnya.
Karena itu, tobat tidak semata-mata urusan privat. Tobat juga harus menjadi bagian dari tindakan sosial dan kebangsaan.
Bahkan, Al-Quran menggambarkan hubungan antara istighfar, perubahan manusia dan terbukanya rahmat Allah. “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu…….” (QS Nuh: 10–12)
Bagi saya, pesan ayat ini sangat indah. Manusia diperintahkan terlebih dahulu mengakui kesalahan dan kelemahannya. Lalu memohon ampun dan memperbaiki diri. Setelah itu, urusan rahmat adalah urusan Allah. Itulah makna tobat.
Sangat disayangkan, jika organisasi keagamaan sebesar NU tidak berbicara mengenai pertobatan ketika bangsa sedang menghadapi krisis moral, ekologis dan kemanusiaan.
Tentu Tobat Nasional yang saya maksud bukan kemudian jutaan orang dikumpulkan di sebuah lapangan, membaca istighfar satu malam, lalu besok pagi semuanya kembali seperti semula. Itu baru seremoni pertobatan.
Tobat Nasional harus mempunyai konsekuensi. Pejabat bertobat dari korupsi. Politikus bertobat dari kebohongan. Pengusaha bertobat dari kerakusan.
Aparat bertobat dari penyalahgunaan kekuasaan.
Tokoh agama bertobat dari menjual agama untuk kepentingan duniawi.
Masyarakat bertobat dari merusak alam. Orang kaya bertobat dari ketidakpedulian sosial. Dan kita semua bertobat dari perasaan bahwa manusia dapat hidup tanpa pertolongan Tuhan.
Tobat adalah berhenti dari kesalahan, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulanginya. Karena itu, Tobat Nasional sesungguhnya adalah agenda perubahan nasional.
Kalau sampai seluruh rangkaian Muktamar selesai dan tidak muncul sedikit pun seruan semacam ini, saya khawatir kita sedang kehilangan sensitivitas spiritual terhadap keadaan bangsa.
Kita fasih berbicara pembangunan. Kita fasih berbicara politik dan ekonomi. Bahkan kita fasih berbicara agama. Tetapi kita semakin sulit untuk mengucapkan satu kalimat sederhana: “Ya Allah, mungkin kami telah banyak salah. Karena itu, ampunilah kami.”
Padahal mengakui kesalahan bukanlah kelemahan.
Justru itulah puncak kerendahan hati. Saya percaya para kiai NU jauh lebih memahami persoalan ini.
Karena itu tulisan ini bukan nasihat kepada para ulama. Ini lebih merupakan titipan kegelisahan dari seorang warga kepada para kiai yang sedang bermusyawarah di Jombang.
Karena itulah, dari Jombang saya berharap lahir bukan hanya ketua umum baru, kepengurusan baru atau program kerja baru. Tetapi, lahir juga sebuah suara yang sederhana tetapi mengguncang nurani bangsa: “Mari kita bertobat.”
Dan dari Jombang juga lahir suara berjamaah: “Ya Allah, kami telah banyak berbuat salah. Ampunilah kami. Bimbinglah bangsa ini kembali ke jalan-Mu.”
Kita percaya, selama pintu tobat belum tertutup, pintu rahmat Tuhan pun selalu terbuka.
Jakarta, Agustus 2026






