Menghadirkan KH HASYIM ASY’ARI di Muktamar NU ke-35!

Oleh: Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Mari membayangkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari tersenyum di alam sana melihat organisasi yang didirkannya satu abad lalu tetap hidup, besar dan dicintai jutaan orang, serta menjadi penyangga penting Republik Indonesia.

Bacaan Lainnya

Dan mari juga membayangkan senyum pendiri NU itu berubah menjadi kesedihan saat menyaksikan cucu-cucu ideologisnya berebut kursi tanpa etika, moral dan adab.

Lalu, mari membayangkan juga saat almarhum Mbah Hashim bertanya dari alam kelanggengan: “Kenapa NU menjadi seperti ini. Padahal, dulu NU didirikan dengan tirakat para kiai, doa para santri, keikhlasan dan kesederhanaan.

Untuk itulah, semoga tidak berlebihan, jika tulisan ini mencoba mengingatkan kepada seluruh warga Nahdiyyin dimana pun berada, khususnya yang sedang hadir di Muktamar NU ke 35 di Jombang, yang dimulai 27 Agustus ini, buatlah almarhum KH Hasyim Asy’ari benar-benar tersenyum senang di alam sana.

Dan jangan sebaliknya: membuat KH Hasyim Asy’ari seakan murka dan menangis karena rumah besar yang dahulu ia bangun dengan keikhlasan, ilmu, adab dan persaudaraan justru dikotori oleh pertarungan kepentingan, politik transaksional, apalagi politik uang.

Muktamar harus menjadi pesta gagasan dan khidmah, bukan pesta transaksi. Ia harus menjadi perjumpaan para pewaris ulama, bukan arena yang meniru sisi paling buruk dari politik kekuasaan.

Dalam penjelasan resmi panitia, Muktamar adalah forum musyawarah tertinggi organisasi, tempat utusan NU dari berbagai penjuru bertemu, menentukan keputusan strategis, memperkuat ukhuwah, dan merumuskan arah perjuangan NU untuk lima tahun mendatang.

Karena itulah, Muktamar tidak boleh direduksi menjadi sekadar pertanyaan: siapa yang akan menjadi Rais Aam dan siapa yang akan menjadi Ketua Umum PBNU?

Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: NU seperti apa yang hendak diwariskan kepada generasi berikutnya? Dan lebih dalam lagi: masihkah NU yang bermuktamar hari ini berjalan di atas jalan yang dahulu digariskan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari?

NU bukan organisasi yang lahir dari ambisi merebut jabatan. NU didirikan para kiai untuk menjaga agama, umat, tradisi keilmuan pesantren, sekaligus memperkuat persatuan.

Seperti diketahui, KH Hasyim Asy’ari bersama KH Abdul Wahab Chasbullah dan para ulama lainnya mendirikan Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.

Dalam Muqaddimah Qanun Asasi, KH Hasyim Asy’ari meletakkan salah satu fondasi terpenting NU. Yaitu, soal pentingnya persatuan dan organisasi sebagai kekuatan umat.

Bahkan, intisari Qanun Asasi menekankan pentingnya para ulama untuk berkumpul, saling mengenal, bersatu, rukun dan saling mengasihi dalam satu jam’iyah.

Maka sangat jelas: DNA asli NU adalah persatuan, bukan permusuhan. Ukhuwah, bukan saling menjatuhkan. Khidmah, bukan perebutan kekuasaan.
Itulah roh yang seharusnya hadir di Tambakberas, Jombang.

Para muktamirin tentu boleh memiliki penilaian berbeda tentang siapa yang paling layak memimpin NU.Tetapi perbedaan pilihan tidak boleh berubah menjadi permusuhan.

Kompetisi tidak boleh berubah menjadi fitnah. Lobi tidak boleh berubah menjadi transaksi. Dan dukungan tidak boleh diperjualbelikan.
Meskipun, pada 17 Agustus 2026, PWNU dan PCNU se-Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk politik uang dalam proses Muktamar.

Tentu peringatan tersebut tidak boleh serta-merta dibaca sebagai bukti bahwa politik uang pasti terjadi. Namun justru karena belum terjadi atau belum terbukti, alarm itu harus dibunyikan sekarang.

Mencegah jauh lebih mulia daripada menyesali. Sebab bila suara dalam organisasi para ulama sudah dapat dibeli, apa lagi yang hendak diajarkan kepada umat tentang amanah?

Jika NU lantang mengingatkan bangsa tentang bahaya politik uang dalam Pemilu dan Pilkada, maka rumah NU sendiri tentu harus menjadi teladan pertama. Jangan sampai kita mengharamkan politik uang di luar pagar NU, tetapi membiarkannya masuk melalui pintu belakang Muktamar.

Karena itu, yang perlu “dihadirkan” dalam setiap ruang sidang Muktamar bukan hanya foto KH Hasyim Asy’ari.
Yang jauh lebih penting adalah akhlaknya.

Di antara karya penting Hadratussyekh adalah Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim. Kajian akademik terhadap kitab tersebut menemukan sejumlah nilai utama: meluruskan niat, ikhlas, wara’, qana’ah, tawadhu, sabar, istiqamah, kasih sayang, menjaga hubungan baik dan membangun kerja sama.

Seusai Muktamar, semua harus kembali duduk satu meja, mencium tangan kiai yang sama, membaca tahlil yang sama, bershalawat kepada Nabi yang sama, dan menghadap kiblat yang sama.

Itulah NU yang seharusnya. Dan itulah NU yang dicita-citakan pendirinya. NU boleh menjadi modern, tetapi jangan kehilangan ruh pesantren. NU boleh menjadi besar, tetapi jangan kehilangan kesederhanaan.

NU boleh dekat dengan kekuasaan, tetapi jangan menjadi milik kekuasaan. NU boleh berbeda pilihan, tetapi jangan kehilangan ukhuwah. Dan NU boleh melakukan kontestasi, tetapi jangan kehilangan adab.

Karena itulah, pentingnya “menghadirkan” KH Hasyim Asy’ari di Muktamar Nu ke-35 ini. Bukan hanya fotonya yang hadir, tapi spiritnya juga harus hadir.

Caranya? Jika seseorang hendak menyebarkan fitnah, bayangkan Mbah Hasyim sedang duduk disampingnya. Jika seseorang hendak membeli suara, bayangkan Mbah Hasyim sedang memandangnya.
Dan jika seseorang hendak menerima uang untuk mengubah pilihan, bayangkan Hadratussyekh berada di belakangnya.

Itulah makna sesungguhnya menghadirkan KH Hasyim Asy’ari di Muktamar ke-35 NU. Bukan sekadar memasang gambarnya. Tetapi menghadirkan rasa malu kepada pendiri NU.

Muktamar bukan semata-mata mencari siapa yang menang. Ada kemenangan yang jauh lebih besar. Ketika pemilihan berlangsung jujur, NU yang menang. Ketika politik uang ditolak, marwah ulama yang menang.

Ketika kelompok yang berbeda dapat kembali berpelukan setelah pemilihan, ukhuwah yang menang.
Ketika calon yang kalah dengan lapang dada mengucapkan selamat kepada yang menang, adab pesantren yang menang.

Dan ketika orang yang terpilih tidak merasa menjadi penguasa NU, melainkan menjadi pelayan Nahdliyin, ajaran Hasyim Asy’ari yang menang.

Selamat bermuktamar. Jagalah NU. Jagalah adab. Jagalah amanah para muassis.

Jakarta, Agustus 2026

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *