Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِي الدَّرْدَاءِ فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ…
Artinya: Dari Katsir bin Qais, “Aku duduk bersama Abu Darda di Masjid Damaskus, lalu datang seorang laki-laki dan berkata: Wahai Abu Darda, aku datang dari Madinah kota Rasulullah SAW kepadamu karena sebuah hadits yang sampai kepadaku bahwa engkau meriwayatkannya dari Rasulullah. Aku datang bukan untuk keperluan lain.”
Perhatikan, ini bukan jarak dekat. Damaskus – Madinah di zaman itu sebulan perjalanan dengan unta. Dia datang HANYA untuk SATU hadits. Itu namanya rihlah thalabul hadits, tradisi ulama salaf.
Lalu Abu Darda menyebutkan hadits itu:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang alim dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi hingga ikan di dalam air. Keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” [HR. Abu Daud no. 3641, Tirmidzi no. 2682, Ibnu Majah no. 223. Hadits Hasan Shahih]
Para ulama hadits mengatakan: Ini adalah inti dari kemuliaan ulama.
Dalil Qur’annya: Ciri Utama Pewaris Nabi Adalah Khasy-yah
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” [QS. Fatir: 28]
Imam Ibnu Katsir menjelaskan: Maknanya, tidak ada yang benar-benar takut kepada Allah dengan takut yang hakiki kecuali ulama yang mengenal Allah. Karena semakin seseorang mengenal Allah, Asma-Nya, Sifat-Nya, dan keadilan-Nya, maka semakin besar rasa takutnya.
Jadi, pewaris Nabi bukan diukur dari sorbannya paling besar, jamaahnya paling banyak, atau viralnya paling tinggi.
Ukurannya satu: Khasy-yatullah. Takut kepada Allah yang membuatnya tidak berani menjual ayat, tidak berani memutar dalil demi penguasa, dan tidak berani diam saat kebenaran diinjak.
Lalu, Apa Ciri Khas Ulama Pewaris Nabi Itu?
Kalau kita kumpulkan dari Qur’an, Sunnah, dan sejarah, minimal ada 5 ciri:
a. Mewarisi Ilmu, Bukan Harta dan Jabatan
Nabi tidak mewariskan istana. Beliau wafat sementara baju besinya tergadai pada seorang Yahudi. Yang diwariskan adalah ilmu. Maka ulama pewaris Nabi sibuk mewariskan ilmu, bukan mewariskan kafe, bisnis, atau politik dinasti. Jika ada orang alim tapi orientasinya menumpuk dinar, dirham, dan mencari muka penguasa, itu bukan pewaris Nabi.
b. Khasy-yah dan Tawadhu’, Bukan Sombong dengan Ilmunya
Imam Malik, imamnya kota Madinah, ketika ditanya 40 masalah, beliau menjawab 32 masalah dengan “Laa adri” – saya tidak tahu. Padahal beliau adalah ulama terbesar saat itu. Pewaris Nabi tidak gengsi berkata “Allahu A’lam”.
c. Zuhud Terhadap Dunia
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal. Khalifah Al-Mu’tashim menyiksanya, mencambuknya, memenjarakannya karena menolak paham Mu’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an itu makhluk. Darahnya mengalir, tapi beliau tidak mau menjual akidah. Ketika akhirnya menang dan disanjung, Khalifah menawarkan harta yang sangat banyak. Imam Ahmad menolak dan memilih hidup miskin. Itulah pewaris Nabi.
d. Berani dalam Haq, Lembut kepada Umat
Ulama pewaris Nabi adalah seperti Abdullah bin Mas’ud, Umar bin Abdul Aziz. Tegas kepada kebatilan, tapi menangis di malam hari mendoakan umatnya. Mereka bukan yang memaki umat, tapi merangkul umat.
Imam Syafi’i berkata: “Jika kalian melihat seorang ulama mencintai dunia dan akrab dengan penguasa, curigailah agamanya.”
e. Sanad dan Rihlah yang Jelas
Ulama pewaris Nabi ilmunya bersambung. Ada gurunya, ada sanadnya, ada adabnya. Bukan muncul tiba-tiba dari Google dan YouTube lalu merasa paling benar.
4. Konteks Kekinian: Ujian Ulama di Zaman Viral
Dan, di zaman kita ini, definisi “ulama” jadi kabur.
Dulu orang menempuh perjalanan sebulan untuk satu hadits. Sekarang orang cukup potong video 30 detik, kasih backsound sedih, lalu jadi “ulama”.
Maka kita harus kritis membedakan 3 jenis:
1. Ulama Pewaris Nabi: Ciri khasnya seperti di atas. Hidupnya sederhana, takut Allah, ilmunya mendalam, tidak haus panggung. Dia mungkin tidak viral, pengikutnya tidak jutaan, tapi fatwanya menenangkan dan menguatkan agama.
2. Ulama Su’ (Ulama Buruk): Rasulullah sudah peringatkan. Mereka menjadikan ilmu sebagai alat cari dunia. Lidahnya fasih membahas agama, tapi hatinya terikat pada amplop, jabatan, dan rating. Allah berfirman tentang Bal’am bin Ba’ura di QS Al-A’raf 175-176, seorang alim yang menjual ilmunya demi dunia.
3. Ruwaibidhah yang Berbaju Ulama: Orang bodoh yang berbicara masalah umat. Rasulullah bersabda akan datang zaman dimana ruwaibidhah berbicara. Ketika ditanya siapa ruwaibidhah itu, beliau menjawab: “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan orang banyak.” [HR. Ibnu Majah]. Di zaman medsos, ini yang paling banyak.
Tugas kita sebagai penuntut ilmu hari ini:
• Jangan cari ulama yang paling enak didengar, carilah yang paling membuatmu takut kepada Allah.
• Jangan cari ilmu yang membenarkan hawa nafsumu, carilah ilmu yang meluruskanmu.
• Doakan ulama-ulama lurus kita. Di Indonesia, kita bersyukur masih banyak kyai-kyai kampung, ulama pesantren yang istiqomah mengajarkan Qur’an siang malam tanpa kamera. Mereka itulah pewaris Nabi yang sesungguhnya.
Penutup
Menjadi pewaris Nabi bukan gelar yang bisa diklaim. Itu adalah amanah yang sangat berat. Karena pewaris Nabi memikul apa yang dipikul Nabi: cacian ketika menyampaikan kebenaran, kesabaran ketika diuji, dan kasih sayang tanpa batas kepada umat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang mencintai ulama pewaris Nabi, duduk bersama mereka, dan kelak dikumpulkan bersama mereka dan bersama Rasulullah SAW di surga.
فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Siapa yang mengambil warisan ilmu itu, maka ia telah mengambil bagian yang sangat sempurna.”
Wallahu A’lam Bisshawab.






