Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Ada orang yang menjadikan setiap ruang pertemuan sebagai arena pertarungan. Ia merasa perlu selalu menyanggah, membantah, mengoreksi, bahkan mempermalukan orang lain di hadapan banyak orang. Kritik baginya bukan semata-mata jalan menemukan kebenaran, tetapi panggung untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih tahu, lebih tajam, dan lebih unggul. Ia sulit menerima perbedaan, apalagi ketika pendapat orang lain tidak sejalan dengan pikirannya.
Inilah salah satu wajah belligerent attitude: kecenderungan bersikap agresif, konfrontatif, gemar menyerang, dan selalu ingin keluar sebagai pemenang. Masalahnya bukan pada keberanian mengkritik. Kritik justru penting dalam kehidupan intelektual dan sosial. Yang menjadi persoalan adalah ketika kritik kehilangan niat memperbaiki dan berubah menjadi alat untuk merendahkan; ketika ketajaman berpikir tidak lagi disertai kedewasaan bersikap.
Orang dengan kebiasaan seperti ini sering tidak sadar bahwa ia sedang mengubah forum menjadi panggung dirinya sendiri. Setiap pembicaraan diarahkan agar dirinya tampil, setiap kesalahan orang lain menjadi kesempatan untuk menunjukkan keunggulan, dan setiap perbedaan diperlakukan seperti ancaman terhadap harga dirinya. Ia bukan lagi mencari kebenaran, tetapi mencari kemenangan.
Di sinilah letak persoalan filosofisnya: apa arti kemenangan jika seseorang harus merendahkan orang lain untuk mendapatkannya? Apa arti kecerdasan jika ia tidak mampu membuat orang lain merasa aman untuk berbicara? Dan apa arti keberanian menyampaikan kritik jika kritik itu justru mematikan keberanian orang lain untuk belajar dan memperbaiki diri?
Ada perbedaan besar antara mengoreksi kesalahan dan mempermalukan orang yang salah. Kesalahan dapat diperbaiki tanpa harus menghancurkan martabat pelakunya. Bahkan, orang yang benar-benar matang biasanya mampu menyampaikan hal yang keras dengan cara yang tetap menjaga kehormatan manusia. Sebaliknya, mempermalukan orang lain di depan publik sering kali lebih banyak berbicara tentang karakter penyerangnya daripada kesalahan orang yang diserang.
Kebiasaan menyerang juga dapat menjadi candu psikologis. Seseorang memperoleh kepuasan ketika lawan bicara terdiam, ketika ruangan tertawa karena sindirannya, atau ketika orang lain terlihat kalah dalam argumentasi. Lama-kelamaan, ia membutuhkan konflik untuk merasa berharga. Ia merasa hidup ketika ada yang dapat disalahkan, dibantah, atau dijatuhkan. Kritik tidak lagi menjadi instrumen perbaikan, tetapi menjadi identitas diri.
Yang lebih berbahaya, lingkungan kadang justru memberi penghargaan kepada perilaku semacam ini. Orang yang paling keras dianggap paling berani. Orang yang paling banyak menyanggah dianggap paling kritis. Orang yang mampu membuat lawannya terdiam dianggap paling pintar. Padahal diamnya seseorang tidak selalu berarti kalah, bisa jadi ia sedang memilih menjaga martabat, menghentikan konflik, atau menyadari bahwa tidak semua perdebatan layak dimenangkan.
Masyarakat yang sehat membutuhkan keberanian berbicara, tetapi juga membutuhkan kebijaksanaan untuk mendengar. Kita membutuhkan orang kritis, tetapi bukan manusia yang menjadikan kritik sebagai senjata. Kita membutuhkan perdebatan, tetapi bukan permusuhan. Kita membutuhkan ketegasan, tetapi bukan penghinaan.
Karena itu, ukuran kedewasaan seseorang bukan hanya seberapa tajam ia menemukan kesalahan orang lain, tetapi seberapa bijak ia menyampaikan kebenaran. Bukan seberapa sering ia memenangkan diskusi, tetapi seberapa banyak orang menjadi lebih baik setelah berdiskusi dengannya. Bukan seberapa hebat ia mempermalukan orang lain, tetapi seberapa mampu ia menjaga martabat orang lain bahkan ketika harus mengoreksinya.
Pada akhirnya, tidak semua pertarungan harus dimenangkan. Ada kalanya kemenangan terbesar justru terletak pada kemampuan menahan diri, memberi ruang kepada orang lain, mengakui bahwa kita mungkin keliru, dan memilih memperbaiki daripada mempermalukan.
Sebab manusia yang benar-benar kuat tidak membutuhkan orang lain terlihat kecil agar dirinya tampak besar. Ia tidak perlu menjadikan kelemahan orang lain sebagai panggung untuk menunjukkan kehebatannya. Ia memahami bahwa ketinggian pribadi tidak dibangun dengan merendahkan orang lain, tetapi dengan kemampuan mengendalikan ego, menghormati perbedaan, dan menghadirkan manfaat.
Jika kritik membuat seseorang semakin rendah hati, ia sedang tumbuh. Tetapi jika kritik membuatnya semakin gemar menyerang, mempermalukan, dan merasa selalu paling benar, mungkin yang sedang berkembang bukanlah kecerdasannya, melainkan egonya.
Maka, sebelum sibuk mencari kesalahan orang lain, barangkali kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah saya sedang mencari kebenaran, atau sekadar ingin menang? Apakah saya sedang memperbaiki keadaan, atau sedang mencari panggung? Apakah kata-kata saya sedang membangun manusia, atau justru sedang menghancurkan martabatnya?
Di situlah belligerent attitude perlu dihentikan: bukan dengan membungkam kritik, tetapi dengan mendewasakan cara mengkritik, bukan dengan menghilangkan perbedaan, tetapi dengan mengajarkan bagaimana berbeda tanpa saling merendahkan.
Sebab pada akhirnya, kecerdasan tanpa kedewasaan dapat berubah menjadi kesombongan, kritik tanpa empati dapat berubah menjadi penghinaan, dan kemenangan tanpa kehormatan sesungguhnya hanyalah kekalahan yang disamarkan.






