Bekasi Ambyar Mengguncang Kota, Dangdut Koplo di FUN JAVA Festival Jadi Wisata Hiburan Warga

BEKASI | MEDIA BELA RAKYAT — Ada musik yang sekadar terdengar, ada pula musik yang mampu membuat manusia sejenak melupakan riuh kehidupan. Dangdut koplo berada di antara keduanya: dentuman kendang, lengkingan vokal, dan irama yang menyatukan orang-orang dalam tawa, joget, silaturahmi, serta kebahagiaan sederhana. Di tengah kepenatan masyarakat urban yang setiap hari bergulat dengan rutinitas pekerjaan, ruang hiburan semacam ini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan sosial.

Semangat itu terasa dalam Bekasi Ambyar, komunitas pecinta musik dangdut koplo yang menghadirkan hiburan di FUN JAVA Festival, kawasan Lapangan Parkir Stasiun Bekasi Timur, Durenjaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Rabu malam, 19 Agustus 2026. Sejumlah penyanyi seperti Veil Sitara, VLO Andra, Johans Bibir, Citra Billa, Tari Asmara, Lusi Gemoyy, Rial Syahrama, Agung Algozali dan Nino Elbash turut meramaikan panggung, bersama guest star Adist D’Koplo Indosiar dan musik dari New Gakra Nada.
Bagi masyarakat Bekasi, khususnya Kota Bekasi yang hidup dalam denyut kawasan metropolitan, kegiatan semacam ini layak dilihat sebagai alternatif wisata berbasis hiburan dan ekonomi kreatif. Wisata tidak selalu harus berarti perjalanan jauh, panorama alam, atau bangunan bersejarah. Terkadang, wisata adalah tentang menemukan ruang untuk bernapas di tengah kota sendiri, datang bersama keluarga atau sahabat, menikmati musik, bertemu komunitas, dan pulang membawa cerita. Karena itu, geliat seperti Bekasi Ambyar semestinya mendapat perhatian dan dukungan lebih serius dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan daerah hingga Kementerian Pariwisata, sepanjang penyelenggaraannya memenuhi ketentuan hukum, keamanan, ketertiban, dan kepentingan publik.

Puput, atau yang akrab disapa Masbro, selaku owner Bekasi Ambyar, menilai musik dangdut koplo memiliki kekuatan sosial yang jauh melampaui panggung hiburan, “Buat kami, Bekasi Ambyar bukan sekadar tempat orang datang untuk joget atau menikmati musik. Ini ruang silaturahmi. Orang boleh datang membawa masalah masing-masing, tetapi ketika musik mulai berbunyi, kita berdiri sebagai saudara. Ambyar boleh hatinya, jangan persaudaraannya,” ujarnya kepada awak Media BelaRakyat.com, Rabu (19/8/2026).

Ia berharap komunitas musik juga dapat membuka ruang bagi penyanyi, musisi, kreator, event organizer, dokumentator, pedagang, dan pelaku UMKM untuk tumbuh bersama dalam ekosistem ekonomi kreatif. Namun kegembiraan tetap membutuhkan tanggung jawab. Musik, pertunjukan, dan karya seni memiliki dimensi hukum yang harus dihormati, termasuk ketentuan UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta serta PP Nomor 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik. Setiap pertunjukan idealnya berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap hak pencipta dan pemilik hak terkait, sekaligus memperhatikan keamanan, ketertiban, keselamatan penonton, lingkungan, lalu lintas, dan ketentuan administratif lainnya. Sebab, hiburan yang baik bukan hanya meriah ketika berlangsung, tetapi juga bertanggung jawab ketika selesai. Ujar Masbro.

Bekasi adalah kota yang bergerak cepat: kendaraan tak pernah benar-benar berhenti, kawasan industri terus bekerja, dan masyarakat berkejaran dengan waktu. Di antara beton, kemacetan, target pekerjaan dan rutinitas itulah manusia membutuhkan ruang untuk tertawa dan menjadi dirinya sendiri. Satu lagu dapat menghidupkan kenangan, satu kendang dapat menyatukan ribuan langkah, dan satu panggung dapat mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Jika dikelola secara profesional, geliat musik rakyat seperti Bekasi Ambyar bukan hanya hiburan, melainkan dapat menjadi destinasi wisata urban, ruang kebudayaan, penggerak ekonomi lokal, sekaligus panggung bagi kreativitas masyarakat. Tuturnya.

Masbro menegaskan, semangat tersebut harus berujung pada kebahagiaan yang sehat dan bertanggung jawab, “Kami ingin orang pulang membawa kebahagiaan, bukan membawa persoalan. Silakan ambyar di lagu, silakan joget menikmati musik, tetapi tetap saling menghormati, menjaga keamanan, menjaga lingkungan dan menghargai karya seniman. Kalau komunitas bisa seperti itu, berarti musik bukan hanya menghibur, tetapi juga mendidik,” katanya.

“Harapan inilah yang patut menjadi perhatian pemangku kebijakan: bagaimana ruang-ruang hiburan lokal tidak sekadar dibiarkan tumbuh, tetapi dibina agar mampu menjadi bagian dari wajah pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Bekasi.” Pungkasnya.

Pada akhirnya, Bekasi Ambyar bukan sekadar cerita tentang dangdut koplo. Ia adalah cerita tentang manusia kota yang membutuhkan jeda, tentang anak muda yang membutuhkan ruang berekspresi, tentang pelaku usaha yang membutuhkan keramaian, dan tentang sebuah kota yang sedang mencari identitas wisatanya sendiri. Maka biarkan kendang memukul malam dan musik menghidupkan sudut-sudut kota. Boleh ambyar hatinya, jangan ambyar tanggung jawabnya. Sebab wisata yang paling dekat terkadang bukan yang mengajak kita pergi jauh, melainkan yang membuat kita menemukan kembali kebahagiaan di kota tempat kita hidup. Dan jika itu dirawat bersama oleh komunitas, pemerintah daerah hingga pemerintah pusat, Bekasi bukan hanya menjadi kota tempat orang bekerja, tetapi juga kota tempat orang menikmati hidup.
(CP/red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *