Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kaliman Selatan I
PERNIKAHAN BUKAN SEKADAR TENTANG CINTA
Pernikahan adalah salah satu fase besar dalam kehidupan manusia.
Ia bukan sekadar pertemuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Pernikahan adalah pertemuan dua keluarga, dua latar belakang, dua kebiasaan, dua karakter, dua perjalanan hidup, dan dua hati yang kemudian berusaha berjalan menuju satu tujuan.
Dalam perspektif hukum positif Indonesia, perkawinan dipahami sebagai ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Namun bagi seorang Muslim, makna pernikahan jauh lebih dalam. Pernikahan bukan hanya status.
Bukan hanya pesta. Bukan hanya buku nikah. Bukan hanya foto prewedding. Bukan hanya pakaian pengantin.
Bukan hanya undangan yang tersebar kepada keluarga dan sahabat. Dan bukan pula sekadar tentang siapa yang datang ke pelaminan lebih dahulu.
Pernikahan adalah amanah. Pernikahan adalah ibadah. Pernikahan adalah komitmen. Pernikahan adalah tanggung jawab.
Pernikahan adalah proses panjang untuk belajar mencintai, memahami, memaafkan, mengalah, menjaga, melindungi, dan bertumbuh bersama. Karena itu, menikah bukan sekadar mencari seseorang yang kita cintai.
Tetapi mencari seseorang yang bersedia bersama-sama belajar mencintai Allah, mencintai kebaikan, menjaga amanah, dan menghadapi kehidupan dengan kesabaran.
PERNIKAHAN ADALAH TANDA KEKUASAAN ALLAH
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat indah mengenai tujuan pernikahan. Allah tidak mengatakan bahwa pernikahan hanya untuk mendapatkan kesenangan.
Allah menyebutkan litaskunu ilaiha agar kamu memperoleh ketenteraman kepadanya. Kemudian Allah menyebut mawaddah dan rahmah, cinta dan kasih sayang.
Artinya, rumah tangga yang baik bukan hanya rumah tangga yang dipenuhi tawa.
Ada saatnya menangis. Ada saatnya berbeda pendapat. Ada saatnya menghadapi kesulitan ekonomi.
Ada saatnya sakit. Ada saatnya kehilangan. Ada saatnya menghadapi ujian keluarga.
Tetapi ketika ada sakinah, mawaddah, dan rahmah, pasangan tidak mudah meninggalkan satu sama lain hanya karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Cinta membuat seseorang ingin bersama. Tetapi komitmen membuat seseorang bertahan ketika keadaan tidak mudah.
MENIKAH ADALAH IBADAH
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak menjadikan persoalan duniawi sebagai satu-satunya ukuran dalam pernikahan.
Memang ekonomi penting. Pekerjaan penting. Tempat tinggal penting. Kesiapan finansial penting.
Tetapi jangan sampai manusia merasa harus menunggu menjadi sempurna terlebih dahulu baru berani menikah.
Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Yang diperlukan adalah kesiapan untuk bertanggung jawab dan kemauan untuk terus belajar.
PERNIKAHAN BUKAN PERLOMBAAN
Salah satu persoalan yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah munculnya anggapan bahwa menikah harus cepat.
Teman menikah. Tetangga menikah. Adik menikah. Sepupu menikah. Teman sekolah menikah. Teman kerja menikah.
Kemudian muncul pertanyaan: “Kapan kamu menikah?” “Kapan menyusul?” “Kok belum menikah?” “Sudah umur segini masih sendiri?” “Jangan terlalu pilih-pilih.” “Nanti keburu tua.”
Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana bagi yang bertanya. Namun bagi seseorang yang sedang menjalani proses hidupnya, pertanyaan tersebut kadang menjadi beban.
Padahal jodoh bukan kompetisi. Pernikahan bukan perlombaan. Tidak ada medali untuk orang yang menikah paling cepat.
Tidak ada piala untuk orang yang paling dahulu naik pelaminan. Dan tidak ada kehormatan otomatis hanya karena seseorang menikah lebih muda.
Yang jauh lebih penting adalah: Apakah pernikahan itu membawa seseorang semakin dekat kepada Allah? Apakah rumah tangganya menjadi tempat tumbuhnya ketenangan? Apakah suami dan istri mampu menjaga amanah? Apakah mereka mampu bertahan ketika menghadapi ujian? Apakah mereka saling membantu dalam kebaikan?
Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting.
JANGAN MENJADIKAN UMUR SEBAGAI SUMBER KECEMASAN
Setiap manusia memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang menikah muda. Ada yang menikah setelah menyelesaikan pendidikan.
Ada yang menikah setelah mendapatkan pekerjaan. Ada yang menikah setelah melalui berbagai proses kehidupan.
Ada pula yang sampai usia tertentu masih menunggu pasangan yang tepat. Jangan kemudian merasa bahwa hidupnya gagal.
Karena nilai seseorang di hadapan Allah bukan ditentukan oleh cepat atau lambatnya ia menikah.
Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Karena itu, jangan mengukur keberhasilan hidup hanya berdasarkan status pernikahan. Menikah adalah salah satu bagian kehidupan. Bukan satu-satunya ukuran keberhasilan manusia.
UNTUK PARA ORANG TUA: JANGAN TERLALU GELISAH
Ada orang tua yang setiap hari memikirkan kapan anaknya menikah. Melihat anak tetangga menikah, hati mulai gelisah.
Melihat teman seusia anak sudah memiliki keluarga, mulai bertanya-tanya. Ketika keluarga besar berkumpul, pertanyaan tentang jodoh semakin sering terdengar.
Akhirnya orang tua sendiri yang stres. Padahal tugas orang tua bukan memaksa anak menikah hanya karena takut terhadap perkataan manusia.
Tugas orang tua adalah memberikan pendidikan agama, membimbing, memberikan nasihat, membantu anak mempersiapkan diri, dan mendoakan agar Allah memberikan pasangan terbaik.
Orang tua boleh mengingatkan. Orang tua boleh memberikan nasihat. Orang tua boleh membantu mencarikan pasangan. Namun jangan menjadikan pernikahan sebagai tekanan.
Karena menikah bukan seperti membeli pakaian. Jika tidak cocok, tinggal dilepas. Pernikahan adalah amanah seumur hidup.
Maka memilih pasangan membutuhkan kebijaksanaan, bukan sekadar kepanikan.
JODOH ADALAH BAGIAN DARI TAKDIR, TETAPI IKHTIAR TETAP WAJIB
Kita percaya kepada takdir Allah. Namun percaya kepada takdir bukan berarti manusia boleh pasif.
Islam mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar. Jika ingin menikah, maka seseorang harus memperbaiki diri.
Belajar agama. Memperbaiki akhlak. Menjaga pergaulan. Membangun kemampuan komunikasi. Belajar mengelola emosi.
Mempersiapkan pekerjaan dan finansial sesuai kemampuan. Belajar menjadi pasangan yang bertanggung jawab. Dan tentu saja berdoa kepada Allah.
Karena kita tidak hanya meminta: “Ya Allah, berikan aku pasangan yang baik.”
Tetapi juga harus berdoa: “Ya Allah, jadikan aku pasangan yang baik bagi seseorang yang Engkau takdirkan untukku.”
Ini penting. Karena terkadang kita sibuk mencari orang baik, tetapi lupa mempersiapkan diri untuk menjadi orang baik.
MENIKAH BUKAN MENCARI MANUSIA SEMPURNA
Tidak ada suami sempurna. Tidak ada istri sempurna. Tidak ada keluarga sempurna.
Setiap manusia mempunyai kekurangan. Maka jangan mencari pasangan hanya berdasarkan standar yang terlalu tinggi sampai akhirnya tidak ada satu pun manusia yang dianggap cukup.
Yang perlu dicari adalah seseorang yang memiliki agama, akhlak, tanggung jawab, kejujuran, dan kemauan untuk bertumbuh.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Perempuan dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan pelajaran penting bahwa faktor duniawi boleh menjadi pertimbangan, tetapi agama harus mendapatkan tempat utama.
Karena kecantikan bisa berubah. Kekayaan bisa berkurang. Kedudukan bisa hilang.
Tetapi agama dan akhlak menjadi fondasi dalam menghadapi perubahan kehidupan.
PERNIKAHAN MEMBUTUHKAN KESIAPAN MENTAL
Sebelum menikah, seseorang harus bertanya kepada dirinya sendiri: “Apakah saya siap bertanggung jawab?”
Bukan hanya: ” Apakah saya sudah punya calon?”
Harus bertanya: “Apakah saya siap menerima kekurangan pasangan?”
“Apakah saya siap menghadapi perbedaan?” “Apakah saya siap meminta maaf ketika salah?” “Apakah saya siap memaafkan ketika pasangan melakukan kesalahan?” “Apakah saya siap menjaga rahasia rumah tangga?” “Apakah saya siap menghadapi masa sulit?” “Apakah saya siap mengutamakan keluarga ketika diperlukan?”
Karena pernikahan bukan hanya tentang mendapatkan pasangan. Pernikahan juga berarti mendapatkan amanah.
JANGAN MENIKAH HANYA KARENA TAKUT SENDIRIAN
Kesepian bukan alasan yang cukup untuk menikah. Tekanan keluarga bukan alasan yang cukup untuk menikah.
Takut tertinggal dari teman bukan alasan yang cukup untuk menikah. Takut disebut tidak laku bukan alasan yang cukup untuk menikah. Takut usia bertambah bukan alasan yang cukup untuk menikah.
Menikahlah karena memang sudah siap membangun kehidupan bersama seseorang dengan cara yang halal dan bertanggung jawab.
Karena menikah dengan orang yang salah hanya demi menghindari kesendirian dapat menghasilkan kesepian yang jauh lebih berat di dalam rumah tangga.
Ada orang yang tinggal serumah tetapi hatinya jauh. Ada orang yang memiliki pasangan tetapi merasa sendirian.
Karena itu, yang dicari bukan sekadar status “sudah menikah”, melainkan rumah tangga yang menghadirkan ketenteraman.
PERNIKAHAN ADALAH TEMPAT BELAJAR
Rumah tangga adalah sekolah kehidupan. Di sana seseorang belajar sabar.
Belajar ikhlas. Belajar bertanggung jawab. Belajar mengendalikan ego. Belajar mendengarkan. Belajar berbagi. Belajar mengalah. Belajar memaafkan.
Tak habya itu, menikah tentang belajar menjaga kehormatan pasangan. Belajar menjadi orang tua. Belajar memahami bahwa cinta bukan hanya kata-kata.
Cinta terkadang berbentuk secangkir teh. Cinta bisa berupa menunggu pasangan pulang. Cinta bisa berupa menjaga ketika sakit. Cinta bisa berupa bekerja keras untuk keluarga. Cinta bisa berupa memaafkan. Cinta bisa berupa menahan perkataan yang menyakitkan. Cinta bisa berupa mengingatkan pasangan untuk shalat. Cinta bisa berupa saling mendoakan dalam diam.
Itulah cinta yang tumbuh menjadi ibadah. Apapun dilakukan di dalamnya mendapatkan ganjaran pahala di dalamnya
SUAMI DAN ISTRI ADALAH PAKAIAN BAGI SATU SAMA LAIN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ
“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.”
(QS. Al-Baqarah: 187)
Betapa indah perumpamaan ini. Pakaian menutupi kekurangan. Pakaian melindungi tubuh. Pakaian memberikan rasa nyaman. Pakaian menjadi sesuatu yang dekat dengan manusia.
Begitulah seharusnya pasangan. Jangan membuka aib pasangan kepada orang lain. Jangan menjadikan kelemahan pasangan sebagai bahan ejekan. Jangan menyebarkan rahasia rumah tangga ke media sosial. Jangan mempermalukan pasangan di depan keluarga.
Jadilah pakaian bagi pasangan. Tutup kekurangannya. Lindungi kehormatannya. Jaga namanya. Dan bantu dia menjadi manusia yang lebih baik.
KETIKA MASALAH DATANG, JANGAN LANGSUNG BERPIKIR TENTANG PERPISAHAN
Setiap rumah tangga pasti memiliki masalah. Bahkan rumah tangga orang yang terlihat paling bahagia di media sosial pun memiliki ujian.
Jangan menjadikan media sosial sebagai ukuran kebahagiaan. Foto pasangan tersenyum bukan berarti hidup mereka tanpa masalah.
Video romantis bukan berarti tidak pernah bertengkar. Kehidupan rumah tangga memiliki ruang yang tidak selalu terlihat oleh publik.
Karena itu, jangan membandingkan rumah tangga sendiri dengan potongan kehidupan orang lain di media sosial. Belajarlah menyelesaikan masalah dengan komunikasi. Jika emosi sedang tinggi, tenangkan diri.
Jika terjadi kesalahpahaman, klarifikasi. Jika salah, minta maaf. Jika pasangan salah, nasihati dengan cara yang baik. Jika masalah terlalu berat, jangan malu meminta bantuan orang yang amanah dan bijaksana.
RUMAH TANGGA YANG BAIK DIMULAI DARI TAKWA
Rumah yang besar belum tentu bahagia. Mobil yang bagus belum tentu membuat keluarga harmonis.
Pendapatan besar belum tentu membuat hati tenteram. Kemewahan tidak menjamin ketenangan.
Tetapi rumah yang di dalamnya ada iman, shalat, Al-Qur’an, doa, kasih sayang, komunikasi dan saling menghormati akan memiliki fondasi yang kuat.
Allah berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Maka jangan hanya mempersiapkan pesta pernikahan. Persiapkan juga kehidupan setelah pesta.
Karena pesta mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi rumah tangga dapat berlangsung puluhan tahun.
JANGAN HANYA MEMIKIRKAN HARI AKAD, PIKIRKAN PULA HARI-HARI SETELAHNYA
Banyak orang sibuk memikirkan gedung. Memikirkan katering. Memikirkan dekorasi. Memikirkan pakaian. Memikirkan undangan. Memikirkan dokumentasi. Memikirkan siapa yang hadir.
Semua itu boleh. Tetapi jangan lupa memikirkan hal yang jauh lebih penting:
Bagaimana setelah akad? Bagaimana menjalankan kewajiban sebagai suami? Bagaimana menjalankan kewajiban sebagai istri? Bagaimana mengelola keuangan? Bagaimana mendidik anak? Bagaimana menghadapi keluarga besar? Bagaimana menyelesaikan konflik? Bagaimana menjaga ibadah?
Kemudian, bagaimana membangun komunikasi? Bagaimana menjaga rumah tangga dari perselingkuhan? Bagaimana menjaga diri dari godaan dunia digital? Bagaimana menjadi orang tua yang baik?
Inilah persiapan yang sering terlupakan. Padahal, semua itu esensi dari kehidupan pernikahan.
PERNIKAHAN JUGA TENTANG MENDIDIK GENERASI
Salah satu tujuan besar pernikahan adalah lahirnya generasi. Anak bukan sekadar pelengkap keluarga. Anak adalah amanah.
Mereka akan belajar dari orang tua. Jika rumah penuh kasih sayang, anak belajar mencintai.
Jika rumah penuh penghinaan, anak belajar merendahkan. Jika orang tua rajin beribadah, anak melihat contoh. Jika orang tua saling menghormati, anak belajar menghormati.
Karena itu, mendidik anak bukan hanya dengan nasihat. Anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Maka sebelum meminta anak menjadi baik, orang tua harus berusaha menjadi teladan. Contoh di dalam dan di luar rumah.
PERNIKAHAN DAN DOA UNTUK KETURUNAN
Allah mengabadikan doa hamba-Nya:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Betapa indah jika pasangan tidak hanya berdoa agar mendapatkan rumah besar. Tetapi berdoa agar rumahnya menjadi tempat lahirnya generasi yang menyejukkan hati.
Bukan hanya ingin anak sukses secara dunia. Tetapi juga ingin anak mengenal Allah.
Menjaga shalat. Berakhlak baik. Menghormati orang tua. Bermanfaat bagi masyarakat. Dan kelak menjadi manusia yang membawa kebaikan bagi umat.
UNTUK ANAK-ANAK YANG BELUM MENIKAH
Jangan merasa rendah diri hanya karena belum menikah. Jangan menganggap diri gagal. Jangan membandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain.
Allah memiliki waktu yang berbeda untuk setiap manusia. Gunakan masa sebelum menikah untuk memperbaiki diri.
Perkuat hubungan dengan Allah. Belajar menjadi pribadi yang matang. Perbaiki akhlak.
Bangun kemampuan. Jaga kehormatan. Jaga pergaulan. Dan terus berdoa.
Jika jodoh belum datang, bukan berarti Allah melupakanmu. Bisa jadi Allah sedang mempersiapkanmu.
Bisa jadi Allah sedang mempersiapkan orang yang akan menjadi pasanganmu. Bisa jadi Allah sedang menghindarkanmu dari seseorang yang belum baik untukmu. Bisa jadi Allah sedang mengajarkanmu kesabaran.
Dan bisa jadi ada hikmah yang belum mampu kita pahami hari ini. Tugas kita adalah tetap percaya kepada Allah.
UNTUK PARA ORANG TUA YANG ANAKNYA BELUM MENIKAH
Jangan malu. Jangan merasa gagal. Jangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
Dan jangan pula memaksa anak hanya karena takut terhadap omongan tetangga.
Doakan mereka. Bimbing mereka. Berikan kesempatan untuk tumbuh.
Jika ada calon yang baik, bantu dengan cara yang bijaksana. Jika belum ada, bersabarlah.
Allah tidak pernah salah menentukan waktu. Manusia sering terburu-buru karena melihat kalender.
Sedangkan Allah mengetahui seluruh perjalanan kehidupan. Kita hanya mengetahui hari ini.
Allah mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan kita. Dan terus melangkah ke depan.
TIDAK ADA MANUSIA YANG BOLEH MERASA PALING TAHU TENTANG JODOH ORANG LAIN
Kita harus berhati-hati memberikan komentar tentang kehidupan orang lain. Kita tidak tahu perjuangannya. Kita tidak tahu doanya. Kita tidak tahu luka yang pernah dialaminya. Kita tidak tahu apa yang sedang dipersiapkan Allah untuknya.
Karena itu, daripada bertanya: “Kapan menikah?”
Lebih baik berkata: “Semoga Allah memberikan pasangan terbaik dan memudahkan jalanmu menuju pernikahan yang penuh keberkahan.”
Daripada mengejek: “Kok masih sendiri?”
Lebih baik berkata: “Semoga Allah menjaga hatimu sampai dipertemukan dengan orang yang tepat.”
Kata-kata sederhana bisa menjadi doa. Tetapi kata-kata yang salah juga bisa menjadi luka.
MENIKAHLAH KETIKA SUDAH SIAP, BUKAN KETIKA SUDAH PANIK
Ada perbedaan antara siap dan panik. Siap berarti memahami tanggung jawab. Panik berarti takut tertinggal.
Siap berarti berusaha mempersiapkan diri. Panik berarti mengambil keputusan karena tekanan. Siap berarti berpikir matang.
Panik berarti terburu-buru. Maka jangan menikah hanya karena semua teman sudah menikah. Jangan menikah karena takut menjadi bahan pembicaraan. Jangan menikah karena ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Menikahlah dengan niat beribadah kepada Allah dan membangun kehidupan bersama dengan penuh tanggung jawab.
SETELAH MENIKAH, JANGAN BERHENTI BERDOA
Sebelum menikah, kita berdoa: “Ya Allah, berikan aku pasangan yang baik.”
Setelah menikah, jangan berhenti. Berdoalah: “Ya Allah, jadikan rumah tangga kami rumah tangga yang Engkau berkahi.”
“Ya Allah, lembutkan hati kami.” “Ya Allah, jauhkan kami dari perselingkuhan dan pengkhianatan.” “Ya Allah, jauhkan rumah tangga kami dari fitnah.” “Ya Allah, jadikan pasangan kami sahabat terbaik dalam ketaatan.”
“Ya Allah, karuniakan kepada kami keturunan yang saleh dan salehah.”
“Ya Allah, jadikan keluarga kami keluarga yang saling mencintai karena-Mu.”
Karena rumah tangga tidak hanya membutuhkan cinta. Rumah tangga membutuhkan pertolongan Allah.
TUJUAN AKHIRNYA BUKAN SEKADAR BERSAMA DI DUNIA
Seorang Muslim seharusnya tidak hanya berharap bisa bersama pasangan di dunia. Tetapi juga berharap bisa dikumpulkan kembali di akhirat.
Karena dunia ini sementara. Usia manusia terbatas.
Kecantikan akan berubah. Kekuatan akan berkurang. Harta akan ditinggalkan. Rumah akan ditinggalkan. Jabatan akan ditinggalkan.
Yang kita bawa hanyalah amal. Maka rumah tangga terbaik adalah rumah tangga yang membantu setiap anggotanya menuju surga.
Suami membantu istri menjadi lebih dekat kepada Allah. Istri membantu suami menjadi lebih dekat kepada Allah. Orang tua membantu anak mengenal Allah.
Anak menjadi sumber doa dan amal jariyah bagi orang tua. Inilah keluarga yang sesungguhnya.
PERNIKAHAN ADALAH JANJI UNTUK SALING MENJAGA
Pada akhirnya, pernikahan adalah sebuah janji. Janji untuk saling menjaga. Menjaga hati. Menjaga kehormatan. Menjaga kepercayaan. Menjaga komunikasi. Menjaga rahasia. Menjaga keluarga. Menjaga agama.
Dan menjaga cinta agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah. Karena cinta yang tidak dirawat akan melemah.
Kepercayaan yang tidak dijaga akan rusak. Komunikasi yang tidak dibangun akan melahirkan kesalahpahaman.
Dan rumah tangga yang tidak dibimbing dengan agama akan mudah kehilangan arah.
PENUTUP: PERCAYALAH PADA WAKTU ALLAH
Maka bagi siapa pun yang saat ini sedang menunggu jodoh, jangan putus asa. Bagi orang tua yang sedang menunggu anaknya menikah, jangan terlalu gelisah.
Bagi mereka yang sudah menikah, jangan berhenti merawat rumah tangganya. Dan bagi mereka yang sedang mempersiapkan pernikahan, jangan hanya mempersiapkan acara akad dan resepsi.
Persiapkan hati. Persiapkan ilmu. Persiapkan mental. Persiapkan tanggung jawab. Persiapkan kesabaran.
Persiapkan kemampuan untuk memaafkan. Persiapkan kemampuan untuk bekerja sama.
Dan yang paling utama, persiapkan hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab menikah bukan tentang siapa yang paling cepat.
Menikah adalah tentang siapa yang siap menjalankan amanah. Bukan tentang siapa yang lebih dahulu memakai pakaian pengantin.
Tetapi tentang siapa yang mampu menjaga pasangannya ketika pakaian pengantin itu sudah dilepas.
Bukan tentang pesta satu hari. Tetapi tentang perjalanan puluhan tahun.
Bukan hanya tentang berkata: “Aku mencintaimu.”
Tetapi juga tentang berkata: “Aku akan berusaha menjaga amanah ini karena Allah.”
Dan bukan hanya ingin hidup bersama ketika sehat dan senang. Tetapi juga bersedia saling menggenggam ketika sakit, susah, sedih, kehilangan, dan menghadapi ujian kehidupan.
Karena itulah hakikat pernikahan. Pernikahan bukan perlombaan. Pernikahan bukan soal cepat atau lambat. Pernikahan adalah tentang kesiapan, ketepatan, tanggung jawab, kesetiaan, dan keberkahan.
Jika waktunya telah tiba, semoga Allah mempertemukan setiap anak kita dengan pasangan terbaik menurut-Nya.
Semoga Allah memberikan pasangan yang baik agamanya, baik akhlaknya, lembut hatinya, bertanggung jawab, setia, dan mampu menjadi teman perjalanan menuju ridha Allah.
Semoga mereka menjadi pasangan sakinah, mawaddah, warahmah.
Semoga rumah mereka menjadi rumah yang dipenuhi lantunan Al-Qur’an, doa, shalat, kasih sayang, rezeki yang halal, dan keberkahan.
Semoga Allah menganugerahkan keturunan yang saleh dan salehah.
Semoga anak-anak kita menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya.
Dan semoga kelak keluarga-keluarga kita tidak hanya dipertemukan di dunia, tetapi juga dikumpulkan kembali oleh Allah di dalam Jannatul Firdaus.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
DOA
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا مُبَارَكَةً، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَارْزُقْنَا الْمَوَدَّةَ وَالرَّحْمَةَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّقْوَى وَالصَّلَاحِ، وَاجْمَعْنَا مَعَ أَحِبَّتِنَا فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ.
“Ya Allah, berkahilah pasangan dan keturunan kami. Jadikan rumah-rumah kami rumah yang penuh keberkahan. Satukan hati kami dalam kebaikan. Karuniakan kepada kami cinta dan kasih sayang. Jadikan kami keluarga yang bertakwa dan saleh. Dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang kami cintai di dalam surga-Mu.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Semoga bermanfaat.
🌹 صَبَاحُ الْخَيْرِ 🌷
Selamat pagi.
Semoga pagi ini Allah menenangkan hati kita, memudahkan urusan kita, menjaga keluarga kita, memberikan jodoh terbaik bagi yang masih menunggu, menguatkan rumah tangga bagi yang sudah menikah, serta menjadikan setiap keluarga kita sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
والله أعلم بالصواب.






