Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Jangan Sampai Kita Mengenal Nabi ﷺ, Tetapi Tidak Mengikuti Ajarannya
Ada sebuah gambaran yang sangat menggetarkan hati tentang keadaan manusia pada Hari Kiamat. Hari ketika seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya.
Hari ketika manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar. Hari ketika tidak ada lagi harta yang dapat dibanggakan, jabatan yang dapat menyelamatkan, popularitas yang dapat dibanggakan, maupun keluarga yang dapat memberikan pertolongan kecuali dengan izin Allah.
Pada hari itu, setiap orang sangat membutuhkan rahmat Allah. Dan pada hari itu pula, kita berharap dapat bertemu dengan Rasulullah ﷺ dan mendapatkan pertolongan beliau yang Allah izinkan.
Namun ada sebuah peringatan keras: Tidak semua orang yang secara lahiriah mengaku sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ akan mendapatkan kesempatan mendatangi telaga beliau.
Ada sebagian orang yang justru diusir dari telaga Nabi ﷺ. Mengapa?
Karena setelah Rasulullah ﷺ wafat, mereka mengubah dan menyimpangkan ajaran yang beliau bawa. Peringatan ini bukan untuk membuat kita berputus asa.
Sebaliknya, hadis ini adalah panggilan agar kita semakin mencintai Rasulullah ﷺ, semakin mengenal sunnah beliau, dan semakin sungguh-sungguh mengikuti petunjuk yang beliau wariskan.
TELAGA NABI ﷺ YANG SANGAT DINANTIKAN
Dalam hadis sahih, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ mendatangi kuburan dan mengucapkan salam kepada penghuni kubur.
Beliau bersabda:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ
“Semoga keselamatan atas kalian, wahai negeri kaum mukminin. Sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul kalian.”
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau sangat ingin melihat saudara-saudaranya.
Para sahabat pun bertanya: “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu, wahai Rasulullah?”
Rasulullah ﷺ menjawab bahwa para sahabat adalah orang-orang yang menyertai beliau, sedangkan saudara-saudara beliau adalah umat yang datang setelah mereka.
Para sahabat kemudian bertanya: “Bagaimana engkau dapat mengenali umatmu yang belum pernah engkau lihat?”
Rasulullah ﷺ memberikan sebuah perumpamaan yang sangat indah.
Beliau menggambarkan seseorang yang memiliki kuda dengan tanda putih pada dahi dan kaki-kakinya, berada di tengah sekumpulan kuda berwarna hitam. Pemiliknya tentu akan dapat mengenali kuda miliknya.
Demikian pula umat Nabi Muhammad ﷺ. Mereka akan datang dengan tanda cahaya pada anggota wudhu mereka.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau akan berada di depan mereka menuju telaga. Namun setelah itu datang peringatan yang sangat menggetarkan:
Akan ada sebagian orang yang dihalangi dari telaga beliau. Ketika Rasulullah ﷺ melihat mereka, beliau memanggil mereka.
Tetapi dikatakan kepada beliau:
إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ
“Sesungguhnya mereka telah mengubah ajaran setelahmu.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي
“Menjauhlah, menjauhlah orang-orang yang telah mengubah ajaran setelahku.”
Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dalam beberapa riwayat dengan redaksi yang berdekatan.
BAYANGKAN JIKA KITA DIUSIR DARI TELAGA NABI ﷺ
Coba kita renungkan sejenak. Hari ini kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ.
Kita membaca namanya. Kita bershalawat kepadanya. Kita mengatakan bahwa kita mencintainya. Kita merasa bangga menjadi bagian dari umatnya.
Namun bagaimana keadaan kita kelak? Bagaimana jika suatu hari kita berdiri di Padang Mahsyar dan melihat telaga Rasulullah ﷺ? Bagaimana jika kita berharap mendapatkan minuman dari telaga tersebut? Bagaimana jika kita melihat Rasulullah ﷺ berada di sana?
Kemudian kita mendekat. Namun tiba-tiba kita dihalangi.
Kita berkata:
“Ya Rasulullah, aku umatmu.”
Tetapi jawaban yang datang:
“Kamu telah mengubah ajaran setelahku.” Na’udzubillahi min dzalik.
Tidak ada seorang mukmin pun yang ingin mengalami keadaan seperti itu. Karena itu, hadis ini seharusnya tidak hanya kita baca sebagai kisah.
Hadis ini harus menjadi cermin bagi kehidupan kita.
MENCINTAI NABI ﷺ BUKAN HANYA DENGAN UCAPAN
Mengaku mencintai Nabi ﷺ tentu merupakan sesuatu yang mulia. Tetapi cinta kepada Rasulullah ﷺ memiliki konsekuensi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat jelas. Cinta harus dibuktikan dengan ittiba’.
Kalau kita mencintai Rasulullah ﷺ, maka kita berusaha mengikuti beliau. Kalau kita mencintai Rasulullah ﷺ, kita berusaha menjaga shalat. Kalau kita mencintai Rasulullah ﷺ, kita menjaga kejujuran. Kalau kita mencintai Rasulullah ﷺ, kita meninggalkan dusta. Kalau kita mencintai Rasulullah ﷺ, kita menjaga amanah.
Bahkan, kalau kita mencintai Rasulullah ﷺ, kita berusaha memperbaiki akhlak. Kalau kita mencintai Rasulullah ﷺ, kita menjaga lisan dari ghibah, fitnah dan penghinaan. Kalau kita mencintai Rasulullah ﷺ, kita tidak meremehkan sunnah beliau.
SUNNAH BUKAN SEKADAR SIMBOL
Sunnah Rasulullah ﷺ bukan hanya perkara penampilan. Sunnah bukan hanya berbicara tentang sesuatu yang tampak dari luar.
Sunnah Rasulullah ﷺ juga mencakup akidah, ibadah, akhlak, muamalah, kejujuran, kasih sayang, keadilan, amanah, kesabaran dan seluruh tuntunan hidup yang beliau ajarkan.
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling lembut kepada keluarganya. Beliau adalah pemimpin yang adil. Beliau adalah pedagang yang jujur sebelum diangkat menjadi nabi. Beliau menyayangi anak-anak. Beliau menghormati orang tua. Beliau menyantuni orang miskin. Beliau memperhatikan tetangga. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan ketika memiliki kemampuan untuk memaafkan.
Maka mengikuti Nabi ﷺ bukan hanya memperbanyak ucapan tentang beliau.
Mengikuti Nabi ﷺ berarti berusaha menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan kita.
WUDHU DAN CAHAYA DI HARI KIAMAT
Hadis tersebut juga memberikan gambaran indah tentang orang-orang yang menjaga wudhu.
Rasulullah ﷺ menggambarkan umatnya akan datang dengan tanda cahaya pada anggota wudhu.
Ini menunjukkan betapa besar kedudukan wudhu. Wudhu mungkin terlihat sederhana.
Kita membasuh wajah. Membasuh tangan. Mengusap kepala. Membasuh kaki.
Tetapi bagi seorang mukmin, wudhu bukan sekadar membersihkan tubuh. Wudhu adalah persiapan menghadap Allah.
Setiap kali kita berwudhu, sebenarnya kita sedang mengingat bahwa hidup ini akan berakhir. Kita akan meninggalkan dunia.
Kita akan kembali kepada Allah. Maka jangan pernah meremehkan wudhu.
Jangan hanya berwudhu ketika ada orang yang melihat. Jangan hanya menjaga wudhu ketika berada di masjid.
Jadikan wudhu sebagai bagian dari kehidupan seorang mukmin.
JAGA SHALAT SEBELUM KITA MENYESAL
Salah satu bentuk nyata mengikuti Rasulullah ﷺ adalah menjaga shalat. Shalat bukan sekadar kewajiban.
Shalat adalah hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Rasulullah ﷺ sangat menjaga shalat.
Maka jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi shalat lima waktu masih sering ditinggalkan.
Jangan sampai kita mampu menghabiskan berjam-jam di media sosial, tetapi tidak mampu meluangkan waktu beberapa menit untuk berdiri menghadap Allah.
Jangan sampai kita hafal banyak nama tokoh dunia, tetapi tidak mengenal dengan baik tuntunan Rasulullah ﷺ.
Jangan sampai kita sangat takut kehilangan pekerjaan, kehilangan uang, atau kehilangan jabatan, tetapi tidak takut kehilangan hubungan dengan Allah.
Dunia hanya sementara. Sedangkan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya.
APA MAKNA “MENGUBAH AJARAN”?
Peringatan dalam hadis tentang orang-orang yang “mengubah” ajaran setelah Rasulullah ﷺ tentu harus dipahami dengan ilmu.
Kita tidak boleh sembarangan menunjuk seseorang dan berkata: “Dia pasti termasuk orang yang diusir dari telaga.”
Itu bukan hak kita. Urusan akhirat adalah milik Allah.
Hadis tersebut adalah peringatan untuk kita semua, bukan senjata untuk menghakimi orang lain.
Yang harus kita lakukan adalah bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku sudah mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ?
Apakah ibadahku sesuai tuntunan? Apakah akhlakku sesuai dengan ajaran Islam? Apakah lisanku terjaga? Apakah hartaku halal? Apakah aku menzalimi orang lain?Apakah aku meremehkan dosa? Apakah aku menjadikan hawa nafsu sebagai pedoman? Apakah aku mengikuti kebenaran atau hanya mengikuti apa yang menguntungkan diriku?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang seharusnya membuat hati kita bergetar.
JANGAN MENAMBAH-NAMBAH DALAM AGAMA
Islam adalah agama yang telah disempurnakan oleh Allah.
Allah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Karena itu, seorang muslim harus berhati-hati dalam perkara agama. Tidak semua sesuatu yang dianggap baik oleh manusia otomatis menjadi bagian dari syariat.
Dalam urusan ibadah, kita membutuhkan dalil. Kita membutuhkan ilmu. Kita membutuhkan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.
Karena itu, jangan mudah menyebarkan informasi agama tanpa memeriksa kebenarannya.
Di zaman media sosial, sebuah pesan agama dapat tersebar dalam hitungan detik.
Satu hadis dapat dikirim ke ratusan grup. Satu kutipan dapat dibagikan ribuan orang.
Namun viral bukan berarti benar. Banyak yang beredar di media sosial ternyata memiliki redaksi yang lemah, sumber yang tidak jelas, bahkan terkadang merupakan perkataan manusia yang disandarkan kepada Nabi ﷺ.
Maka tabayyun dalam ilmu agama sangat penting.
DI ERA MEDIA SOSIAL, JADILAH UMAT YANG CERDAS
Hari ini kita hidup pada zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh. Kita dapat membuka Al-Qur’an melalui telepon genggam.
Kita dapat mendengarkan kajian ulama kapan saja. Kita dapat membaca kitab. Kita dapat belajar hadis.
Tetapi pada saat yang sama, kita juga menghadapi banjir informasi yang tidak semuanya benar. Maka seorang muslim harus belajar.
Jangan hanya rajin membagikan konten agama. Rajinlah mempelajari agama. Jangan hanya menjadi orang yang senang mengingatkan orang lain.
Jadilah orang yang juga mau diingatkan. Jangan hanya mencari dalil untuk membenarkan pendapat sendiri.
Carilah kebenaran walaupun terkadang bertentangan dengan keinginan kita.
RASULULLAH ﷺ SANGAT MENCINTAI UMATNYA
Ada satu hal yang sangat menyentuh. Rasulullah ﷺ sangat mencintai umatnya.
Allah menggambarkan kasih sayang beliau:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri; terasa berat olehnya penderitaan yang kalian alami, sangat menginginkan kebaikan bagi kalian, dan terhadap orang-orang mukmin beliau sangat penyantun lagi penyayang.” (QS. At-Taubah: 128)
Bayangkan. Beliau memikirkan umatnya. Beliau menangis untuk umatnya. Beliau berdoa untuk umatnya. Beliau mengajarkan jalan keselamatan kepada umatnya.
Bahkan menjelang wafat, perhatian beliau tetap kepada umat. Maka betapa indah jika kita membalas cinta tersebut dengan mengikuti petunjuk beliau.
TELAGA ITU ADALAH HARAPAN, SEKALIGUS PERINGATAN
Telaga Nabi ﷺ jangan hanya dipandang sebagai kabar gembira. Ia juga menjadi peringatan.
Kita semua ingin mendatangi telaga itu. Kita ingin berada bersama Rasulullah ﷺ.
Kita ingin mendapatkan minuman dari telaga beliau. Kita ingin mendapatkan syafaat beliau dengan izin Allah.
Tetapi pertanyaannya: Apakah kehidupan kita hari ini sudah menunjukkan bahwa kita benar-benar ingin bertemu dengan beliau?
Kalau ingin bertemu Nabi ﷺ, mari perbaiki shalat. Kalau ingin bertemu Nabi ﷺ, mari perbaiki akhlak. Kalau ingin bertemu Nabi ﷺ, mari tinggalkan maksiat.
Kemudian, kalau ingin bertemu Nabi ﷺ, mari jaga lisan. Kalau ingin bertemu Nabi ﷺ, mari perbanyak shalawat. Kalau ingin bertemu Nabi ﷺ, mari belajar sunnah beliau. Kalau ingin bertemu Nabi ﷺ, mari mencintai orang-orang yang beliau cintai.
Dan yang paling penting: Mari taat kepada Allah dan mengikuti Rasulullah ﷺ.
JANGAN MERASA SUDAH AMAN
Salah satu penyakit manusia adalah merasa dirinya sudah baik. Merasa sudah cukup beragama.
Merasa amalnya sudah banyak. Merasa dirinya pasti selamat. Padahal orang beriman tidak boleh merasa aman dari tipu daya dirinya sendiri.
Kita boleh berharap kepada rahmat Allah. Tetapi kita juga harus takut terhadap dosa.
Kita berharap masuk surga. Tetapi kita takut kepada neraka.
Kita berharap mendapatkan syafaat Rasulullah ﷺ. Tetapi kita juga berusaha mengikuti sunnah beliau.
Inilah keseimbangan seorang mukmin: Khauf dan raja’. Takut kepada Allah sekaligus berharap kepada rahmat-Nya.
SEBELUM TERLAMBAT, MARI BERUBAH
Mungkin selama ini kita masih sering lalai. Mungkin shalat kita belum sempurna. Mungkin lisan kita masih suka menyakiti. Mungkin kita masih sering marah. Mungkin kita masih sulit memaafkan. Mungkin kita masih menyimpan iri. Mungkin kita masih terlalu cinta kepada dunia. Mungkin kita masih banyak dosa.
Tetapi jangan berputus asa. Selama nyawa masih berada di dalam tubuh, pintu taubat masih terbuka.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Maka jangan menunggu tua untuk berubah. Jangan menunggu sakit untuk bertaubat. Jangan menunggu ajal untuk memperbaiki shalat. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai keluarga. Jangan menunggu kematian untuk kembali kepada Allah.
Kembalilah kepada Allah sekarang.
HARI INI, TANYAKAN KEPADA DIRI SENDIRI
Sebelum tidur malam ini, cobalah bertanya: Jika malam ini adalah malam terakhir hidupku, apakah aku siap bertemu Allah?
Apakah shalatku sudah baik? Apakah masih ada dosa yang belum ditaubati? Apakah masih ada orang yang aku zalimi? Apakah masih ada utang yang belum aku selesaikan?Apakah masih ada perkataan yang harus aku minta maafkan? Apakah aku sudah benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ?
Dan yang paling penting: Apakah aku sudah berusaha mengikuti ajaran beliau?
Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada memikirkan berapa banyak harta yang akan kita tinggalkan.
JADILAH UMAT YANG DIRINDUKAN NABI ﷺ
Rasulullah ﷺ pernah menyebut umat yang belum pernah beliau lihat sebagai saudara beliau. Alangkah mulianya kedudukan tersebut.
Kita tidak pernah hidup bersama Rasulullah ﷺ. Kita tidak pernah duduk bersama beliau. Kita tidak pernah melihat wajah beliau. Kita tidak pernah mendengar suara beliau secara langsung.
Namun kita beriman kepadanya. Kita membaca namanya. Kita bershalawat kepadanya. Kita berusaha mengikuti ajarannya.
Dan mudah-mudahan kita termasuk umat yang beliau kenali dan sambut di telaga.
Jangan sampai kita menjadi orang yang mengenal nama Nabi ﷺ tetapi meninggalkan ajarannya. Jangan sampai kita banyak bershalawat tetapi tidak mau mengikuti sunnahnya. Jangan sampai kita mengaku cinta kepada Rasulullah ﷺ tetapi akhlak kita jauh dari akhlak beliau.
Cinta kepada Rasulullah ﷺ harus melahirkan ketaatan.
10 LANGKAH AGAR KITA MENJADI UMAT YANG ISTIQAMAH
1️⃣ Perbaiki tauhid
Jaga keikhlasan dan hanya beribadah kepada Allah.
2️⃣ Jaga shalat lima waktu
Jangan menjadikan shalat sebagai aktivitas yang dilakukan ketika sempat.
3️⃣ Pelajari Al-Qur’an
Bukan hanya membaca, tetapi berusaha memahami dan mengamalkannya.
4️⃣ Pelajari hadis yang sahih
Agar kita mengetahui bagaimana Rasulullah ﷺ beribadah dan menjalani kehidupan.
5️⃣ Perbanyak shalawat
Shalawat merupakan salah satu bentuk kecintaan kepada Nabi ﷺ.
6️⃣ Perbaiki akhlak
Jujur, amanah, sabar, rendah hati dan menjaga lisan.
7️⃣ Tinggalkan maksiat
Jangan mempertahankan dosa hanya karena sudah menjadi kebiasaan.
8️⃣ Perbanyak taubat
Jangan malu kembali kepada Allah berkali-kali.
9️⃣ Jangan mudah menghakimi orang lain
Hadis tentang orang yang diusir dari telaga adalah peringatan untuk kita, bukan alasan untuk memastikan nasib seseorang.
🔟 Istiqamah sampai akhir hayat
Yang paling penting bukan hanya memulai dengan baik, tetapi meninggal dalam keadaan beriman dan istiqamah.
PENUTUP: JANGAN SAMPAI KITA DIUSIR
Saudaraku seiman…
Suatu hari nanti kita akan mati. Nama kita mungkin akan disebut. Foto kita mungkin masih tersimpan. Rumah yang kita bangun akan ditempati orang lain. Harta yang kita kumpulkan akan berpindah tangan. Jabatan yang kita banggakan akan berakhir.
Tetapi amal kita akan menemani kita. Pada hari itu kita tidak membutuhkan pujian manusia.
Kita membutuhkan rahmat Allah. Kita membutuhkan ampunan Allah. Kita berharap mendapatkan syafaat Nabi Muhammad ﷺ dengan izin Allah. Kita berharap dapat mendatangi telaga beliau. Kita berharap ketika Rasulullah ﷺ melihat kita, beliau mengenali kita sebagai umatnya.
Maka mulai hari ini: Jangan hanya mengaku mencintai Rasulullah ﷺ.
Ikutilah beliau. Jangan hanya bershalawat dengan lisan. Hidupkan sunnah dalam akhlak dan kehidupan.
Jangan hanya membaca kisah Nabi ﷺ. Teladani perjuangan dan akhlaknya. Jangan hanya mengingat akhirat ketika tertimpa musibah. Persiapkan akhirat setiap hari.
Dan jangan sampai kita menjadi orang yang datang mencari telaga Rasulullah ﷺ, tetapi justru dihalangi karena telah menyimpang dari petunjuk yang beliau bawa.
Semoga Allah menjaga kita dari segala bentuk kesesatan.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah menerima amal ibadah kita.
Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khatimah. Semoga Allah mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang saleh di dalam surga.
Dan semoga ketika kita mendatangi telaga Rasulullah ﷺ kelak, kita bukan termasuk orang yang diusir, tetapi termasuk orang-orang yang diterima dan diberi minum dari telaga beliau.
اللهم إنا نسألك حبك وحب نبيك محمد صلى الله عليه وسلم، واتباع سنته، والثبات على دينك حتى نلقاك.
Ya Allah, karuniakan kepada kami kecintaan kepada-Mu dan kecintaan kepada Nabi-Mu Muhammad ﷺ. Karuniakan kepada kami kekuatan untuk mengikuti sunnahnya, istiqamah di atas agama-Mu, dan wafat dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.
اللهم اسقنا من حوض نبيك محمد صلى الله عليه وسلم شربة هنيئة لا نظمأ بعدها أبداً.
Ya Allah, berilah kami minum dari telaga Nabi-Mu Muhammad ﷺ, dengan minuman yang baik sehingga kami tidak akan haus lagi setelahnya.
اللهم ارزقنا شفاعة نبيك محمد صلى الله عليه وسلم يوم القيامة.
Ya Allah, karuniakan kepada kami syafaat Nabi-Mu Muhammad ﷺ pada Hari Kiamat.
Aamiin Allahumma Aamiin.
والله أعلم بالصواب.






