Kata Al Qur’an soal Sisa Umur Manusia

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I

Waktu tidak pernah menunggu. Ia terus berjalan, detik demi detik menggerus jatah usia kita di dunia.

Bacaan Lainnya

Tak terasa, dari bayi yang digendong, kita menjadi anak yang berlari, pemuda yang mengejar cita-cita, dan kini menjadi manusia dewasa yang mulai menghitung sisa. Rambut memutih bukan sekadar perubahan warna, tapi surat panggilan lembut dari langit. Gigi yang tanggal, mata yang kabur, lutut yang mudah ngilu, semua adalah bahasa cinta Allah agar kita pulang sebelum dipulangkan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa fakirmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al-Hakim, no. 7846, dishahihkan Al-Albani)

Dan dalam hadits lain, beliau mengingatkan: “Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi no. 3550, hasan)

Artinya, jika hari ini usia kita sudah 40, 50 tahun, maka sejatinya kita sedang berada di sisa babak terakhir. Allah SWT berfirman:

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan. Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak pula melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan sudah ditetapkan dalam Kitab Lauh Mahfuzh. Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (QS. Fathir: 11)

Maka mari kita tadabburi 7 fase penuaan sebagai pesan cinta dari Al-Qur’an.

1. Semakin Bertambah Usia, Semakin Lemah Tangan Menggenggam Dunia

Dulu kita genggam dunia begitu erat. Ingin rumah paling besar, jabatan paling tinggi, harta paling banyak. Kini, tangan mulai gemetar, tidak kuat lagi menggenggam.

Ini bukan kebetulan. Allah sedang mendidik kita untuk melepaskan cinta dunia.

Allah berfirman: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

Dan Allah gambarkan hakikat dunia: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Kisah Sejarah: Lihatlah Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhu, sahabat terkaya. Di usia senjanya, ia menangis bukan karena hartanya berkurang, tapi takut hisabnya yang panjang. Ia melepas 700 unta beserta barang dagangannya di jalan Allah. Tangannya yang dulu menggenggam dagang, di masa tua ia buka untuk sedekah.

Kekinian: Hari ini banyak orang di usia 50-an masih stres mengejar portfolio, crypto, jabatan direktur. Padahal tangan sudah tidak sekuat dulu menggenggam. Pelajarannya: Ubah genggaman dari menggenggam dunia menjadi menggenggam sedekah jariyah. Bangun masjid, beasiswakan anak yatim, wakafkan Al-Qur’an. Itu genggaman yang akan tetap kuat hingga di akhirat.

2. Semakin Bertambah Usia, Semakin Kabur Mata Kita

Dulu mata kita jeli melihat peluang bisnis, melihat aib orang lain di media sosial. Kini untuk membaca Al-Qur’an pun harus memakai kacamata.

Allah sedang mencerahkan mata hati untuk melihat akhirat.

“Barang siapa yang buta hatinya di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar.” (QS. Al-Isra: 72)

Ibnu Katsir menafsirkan: buta di dunia adalah buta dari kebenaran, dari ayat-ayat Allah. Maka ketika mata fisik mulai kabur, itu isyarat agar mata batin lebih awas.

Allah juga berfirman tentang proses penciptaan yang berbalik: “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian asalnya. Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (QS. Yasin: 68)

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Rum: 54)

Kisah Sejarah: Abdullah bin Abbas, di akhir hayatnya matanya buta. Murid-muridnya menangis. Ia berkata, “Jika Allah mengambil cahaya mataku, masih ada cahaya di lisan dan hatiku.” Ia tetap menjadi lautan ilmu, meriwayatkan ribuan hadits meski tidak melihat.

Kekinian: Di era TikTok, mata kita lelah melihat layar 8 jam sehari. Rabun bukan hanya karena usia, tapi karena dosa mata. Di sisa umur, kurangi melihat yang haram dan sia-sia. Perbanyak melihat mushaf, wajah orang tua, wajah anak yatim dengan kasih.

3. Semakin Bertambah Usia, Semakin Sensitif Perasaan Kita

Mudah tersinggung, mudah menangis, mudah kecewa. Dulu kita merasa kuat, sekarang hati begitu rapuh.

Allah sedang mengajarkan bahwa pautan hati dengan makhluk senantiasa menghampakan, namun hati yang berpaut kepada Allah tidak pernah mengecewakan.

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman: 22)

Rasulullah bersabda: “Cintailah orang yang engkau cintai sekedarnya, karena bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang engkau benci.” (HR. Tirmidzi)

Kisah Sejarah: Nabi Ya’qub Alaihissalam. Semakin tua, semakin sensitif hatinya karena kehilangan Yusuf. Ia menangis hingga matanya putih buta. Tapi ia tidak mengadu kepada manusia, ia berkata: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86). Dan Allah kembalikan Yusuf kepadanya.

Kekinian: Banyak orang tua merasa sepi, anak-anak sibuk dengan gadget, merasa tidak dihargai di grup WhatsApp. Itu wajar. Jangan cari validasi manusia. Di sisa usia, jadikan tahajud sebagai tempat curhat paling aman. Allah tidak pernah meninggalkan chat kita.

4. Semakin Bertambah Usia, Semakin Gugur Gigi-Gigi Kita

Satu persatu gigi tanggal. Makanan kesukaan yang dulu bisa dikunyah, kini tidak lagi.

Allah mengingatkan bahwa suatu hari kita akan gugur ke dalam tanah selamanya.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

Dan: “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (QS. Ali Imran: 145)

Gigi yang gugur adalah miniatur kematian. Akarnya yang kuat di gusi, seperti ruh kita yang kuat menempel di jasad, suatu saat dicabut.

Kisah Sejarah: Umar bin Abdul Aziz, Khalifah yang zuhud. Di usia 39 tahun, giginya sudah banyak tanggal karena sakit. Ia berkaca dan berkata kepada istrinya Fatimah, “Wahai Fatimah, aku takut menjadi jembatan umat ini ke surga, tapi aku sendiri terjatuh ke neraka.” Ia wafat di usia 40 tahun, tapi dikenang sebagai Khulafaur Rasyidin kelima.

Kekinian: Kita rajin ke dokter gigi untuk pasang implan jutaan rupiah agar terlihat awet muda. Tidak salah. Tapi sudahkah kita menyiapkan “implan amal” agar jasad kita tetap wangi di dalam tanah? Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak sholeh yang mendoakan.

5. Semakin Bertambah Usia, Semakin Ditarik Nikmat Kekuatan Tulang dan Sendi

Dulu kuat mengangkat beban, berlari, naik gunung. Kini bangun dari sujud saja lutut berbunyi, pinggang sakit.

Allah mengingatkan bahwa tak lama lagi nyawa akan diambil, dan tidak ada tempat bersembunyi dari kematian.

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa: 78)

Tulang dan sendi adalah penyangga. Ketika penyangga dunia dicabut, Allah ingin kita mencari penyangga akhirat: sholat.

Kisah Sejarah: Imam Al-Ghazali. Di masa tuanya, ia menderita sakit perut dan tulang yang sangat. Namun ia tetap menulis Ihya Ulumuddin dengan berbaring. Ia berkata, “Sakit ini adalah utusan Allah agar aku tidak lupa untuk pulang.”

Kekinian: Fenomena “sandwich generation” usia 40-55 tahun, tulang punggung keluarga, menghidupi orang tua dan anak. Lelah fisik dan mental. Sujud yang lama di qiyamul lail adalah terapi terbaik. Rasulullah jika ada masalah, beliau langsung sholat. Karena sholat mengembalikan kekuatan yang tidak bisa diberikan oleh suplemen.

6. Semakin Bertambah Usia, Semakin Putih Rambut Kita

Uban adalah surat resmi dari Malaikat Maut. Ia adalah kain kafan yang tumbuh di kepala.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu…” (QS. Ali Imran: 185) diulang lagi oleh Allah agar kita tidak lupa.

Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang beruban dalam Islam melainkan ubannya itu akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi – Hasan Shahih)

Uban adalah cahaya. Ia adalah kehormatan. Allah malu menyiksa hamba yang sudah beruban dalam keislaman.

“Sesungguhnya Allah malu terhadap hamba-Nya yang telah beruban dalam Islam untuk menyiksanya.” (HR. Al-Hakim)

Kisah Sejarah: Nabi Ibrahim Alaihissalam adalah manusia pertama yang beruban. Ia melihat ubannya dan bertanya, “Ya Allah, apakah ini?” Allah menjawab, “Ini adalah kewibawaan, wahai Ibrahim.” Ibrahim berkata, “Ya Allah, tambahkanlah kewibawaan kepadaku.”

Kekinian: Hari ini uban ditutupi dengan semir hitam. Padahal Rasulullah membolehkan semir selain hitam, seperti warna kecoklatan atau kemerahan. Biarlah uban terlihat. Itu adalah mahkota keimanan. Lebih baik memutihkan hati yang hitam, daripada menghitamkan rambut yang putih.

7. Semakin Bertambah Usia, Semakin Sepi dan Ingin Bersendirian

Keramaian tidak lagi menarik. Pesta, konser, mall, sudah tidak dirindukan. Hati ingin menyendiri, ingin tenang di pojok masjid, di rumah.

Karena Allah sedang mendidik kita untuk melepaskan cinta manusia dan dunia, untuk belajar khalwat bersama-Nya.

“Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan dan mengetahui apa yang kamu usahakan.” (QS. Al-An’am: 3)

Dan Allah puji orang yang beruzlah untuk ibadah:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman surga dan mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka.” (QS. Adz-Dzariyat: 15-16) – tafsirnya, mereka di dunia sedikit tidurnya di waktu malam, dan di akhir malam memohon ampun.

Kisah Sejarah: Hasan Al-Bashri, di usia tuanya ia lebih banyak diam di rumah. Muridnya bertanya mengapa. Ia menjawab, “Aku telah terlalu banyak berbicara dengan manusia, sekarang aku ingin banyak berbicara dengan Allah.” Ia menghabiskan sisa umurnya untuk menangis di mihrab.

Kekinian: Fenomena “lonely old man” atau “empty nest syndrome” ketika anak sudah menikah semua. Kesepian itu adalah anugerah jika diisi dengan Allah. Jadikan sepi sebagai momentum untuk i’tikaf, untuk puasa Daud, untuk menghafal Qur’an. Banyak huffadz 30 juz justru lahir di usia 50 tahun ke atas, setelah pensiun dari dunia.

PENUTUP: Sisa Umur Adalah Peluang Emas Khusnul Khotimah

Saudaraku, kematian adalah batas terputusnya segala amal, kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan. (HR. Muslim)

Maka pertanyaan besarnya bukan “berapa lama kita hidup”, tapi “bagaimana kita menutup hidup”.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari)

Kita tidak bisa memilih lahir sebagai apa, tapi kita bisa berikhtiar mati sebagai apa. Ada yang mati dalam sujud, ada yang mati di meja judi. Semua tergantung kebiasaan di sisa umur.

Allah berfirman sebagai penutup muhasabah: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13) – Ayat ini diulang 31 kali agar kita malu jika masih mendustakan kasih sayang Allah yang telah memberi peringatan lewat uban, lewat keriput, lewat lemah.

Doa di Sisa Umur: Ya Allah, jadikanlah sisa umur kami adalah umur terbaik.

Jadikanlah hari-hari terakhir kami adalah hari terbaik.

Jadikanlah kematian kami adalah istirahat terbaik dari segala fitnah dunia.

Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan sujud, dalam keadaan bertaubat, dalam keadaan husnul khotimah.

Aamiin Allahumma Aamiin.

Wallahu A’lam Bishawab. Semoga bermanfaat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *