Jangan Tertipu Kenikmatan Dunia, Hakikat Kehidupan Sejati Ada di Akhirat

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, F-PKS, Kalimantan Selatan I

1. Dunia yang Menipu

Bacaan Lainnya

Manusia diciptakan dengan fitrah mencintai keindahan. Kita mencintai harta, keluarga, jabatan, dan pujian. Itu wajar. Namun kesalahan terbesar manusia adalah ketika ia menjadikan yang sementara sebagai tujuan, dan melupakan yang kekal sebagai tempat kembali.

Allah tidak melarang kita menikmati dunia, tapi Allah melarang kita tertipu oleh dunia.

Hidup di dunia ibarat seorang musafir yang berteduh di bawah pohon. Ia beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan panjangnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Apa urusanku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang beristirahat di bawah pohon, lalu ia pergi dan meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377, hadits hasan shahih)

2. Hakikat Dunia dalam Al-Qur’an – Dalil yang Tegas

Al-Qur’an berulang kali menegaskan rendahnya nilai dunia jika dibandingkan akhirat.

a. Dunia adalah kesenangan yang menipu:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185)

Kata mata’ul ghurur berarti perhiasan palsu yang membuat pembeli tertipu karena kilaunya, padahal tidak bernilai.

b. Dunia adalah permainan dan senda gurau:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…” (QS. Al-Hadid: 20)

c. Cinta dunia adalah fitrah yang harus dikelola:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Islam tidak menyuruh kita membenci dunia, tapi menjadikan dunia di tangan, bukan di hati.

d. Dalil dari Hadis:

Rasulullah SAW bersabda tentang betapa hinanya dunia di sisi Allah: “Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai dengan satu sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk air pun.” (HR. Tirmidzi no. 2320, Shahih)

Dan tentang dua nikmat yang paling sering dilalaikan: “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412)

3. Kisah dan Sejarah: Pelajaran dari Mereka yang Tertipu dan yang Selamat

Kisah 1: Qarun – Simbol Orang yang Tenggelam oleh Harta

Qarun adalah orang kaya raya di zaman Nabi Musa AS. Kunci gudang hartanya saja harus dipikul oleh banyak orang kuat. Ketika dinasihati untuk bersyukur, ia berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qash: 78).

Akhirnya Allah benamkan ia beserta seluruh hartanya ke dalam bumi. Hingga hari ini, kisahnya menjadi abadi sebagai peringatan. Hartanya ada, tapi ia tiada.

Kisah 2: Nabi Sulaiman AS – Simbol Orang yang Menguasai Dunia tapi Hatinya di Akhirat

Di sisi lain, ada hamba yang Allah beri kekuasaan tidak pernah diberikan kepada siapapun: bisa memerintah jin, hewan, dan angin. Itulah Nabi Sulaiman AS. Namun beliau tidak pernah tertipu.

Doanya terkenal: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku.” (QS. Shad: 35)

Namun setelah itu beliau berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS. An-Naml: 40)

Bedanya Qarun dan Sulaiman bukan pada banyaknya harta, tapi di mana mereka meletakkan dunia.

Kisah 3: Abdurrahman bin Auf RA – Sahabat Miliarder yang Menangis

Abdurrahman bin Auf adalah sahabat terkaya. Ketika datang hidangan makanan yang lezat, beliau menangis. Sahabat lain bertanya mengapa. Beliau menjawab, “Mus’ab bin Umair syahid, ia tidak memiliki kain kafan kecuali sehelai burdah. Hamzah syahid dengan kondisi lebih memprihatinkan. Sedangkan kita diberi kelapangan dunia yang begitu luas. Aku khawatir kebaikan-kebaikanku disegerakan (dibalas) di dunia ini saja.” Kekayaan tidak membuat beliau bangga, justru takut.

4. Konteks Kekinian: Bentuk Tipuan Dunia di Zaman Now

Jika dulu tipuan dunia berbentuk emas, kuda, dan ladang, maka hari ini bentuknya bermetamorfosis:

a. Penyakit Flexing dan Validasi Sosial. Media sosial menjadikan dunia panggung sandiwara. Orang berlomba memamerkan mobil, jam tangan, liburan mewah, bahkan ibadah pun dipamerkan demi likes. Padahal Rasulullah bersabda, cinta dunia dan takut mati (Wahn) adalah penyebab kehinaan umat di akhir zaman.

b. FOMO (Fear of Missing Out) dan Utang Gaya Hidup.

Takut ketinggalan tren membuat banyak anak muda terjerat paylater, pinjaman online, demi terlihat kaya. Mereka membeli barang yang tidak mereka butuhkan, dengan uang yang tidak mereka miliki, untuk mengesankan orang yang bahkan tidak peduli.

c. Sibuk Mengejar yang Tidak Dibawa Mati

Kita bisa menghabiskan 8-10 jam sehari mengejar target kerja, tapi 5 menit untuk shalat terasa berat. Kita hafal tren saham dan crypto, tapi lupa berapa juz Al-Qur’an yang sudah dihafal. Kita cek kesehatan fisik lewat smartwatch setiap jam, tapi tidak pernah cek kesehatan hati.

Imam Al-Ghazali berkata, “Cinta dunia adalah induk dari segala kesalahan.”

5. Kenikmatan Surga: Pembanding yang Tidak Sebanding

Jika dunia ini menipu, maka akhirat adalah kepastian yang memuaskan. Allah berfirman:
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Di dalam Hadis Qudsi, Allah berfirman:
“Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di surga tidak ada sakit, tidak ada cemas akan cicilan, tidak ada takut dipecat, tidak ada air mata perpisahan. Semua kekal.

6. Penutup: Bagaimana Agar Tidak Tertipu?

Islam tidak mengajarkan kita menjadi miskin. Islam mengajarkan kita menjadi zuhud.

Zuhud bukan berarti tidak punya dunia, tapi dunia tidak memiliki hatimu. Imam Ahmad berkata, “Zuhud itu adalah tidak panjang angan-angan.”

Langkah praktisnya:

1. Jadikan Dunia Sebagai Alat, Bukan Tujuan. Harta untuk sedekah, jabatan untuk menolong, ilmu untuk mengajar, media sosial untuk dakwah.

2. Perbanyak Mengingat Pemutus Kenikmatan.

Rasulullah bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi). Ziarah kubur, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, akan melembutkan hati.

3. Kelilingi Diri dengan Lingkungan Akhirat

Berkawan dengan orang yang jika melihatnya mengingatkan kita kepada Allah. Ikuti kajian, bukan hanya nongkrong yang melalaikan.

4. Buat Target Akhirat Harian

Jangan hanya punya to-do list dunia. Punya juga target akhirat: shalat tepat waktu, sedekah subuh, baca Al-Qur’an 1 halaman, istighfar 100x.

Saudaraku, pada akhirnya kita semua akan ditanya: dari mana hartamu kau peroleh dan ke mana kau belanjakan? Umurmu kau habiskan untuk apa?

Jangan sampai kita menjadi orang yang menyesal di akhirat seperti yang Allah gambarkan:

“Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.” (QS. Al-Haqqah: 27-29)

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang cerdas. Yaitu hamba yang tidak tertipu oleh fatamorgana dunia, dan menjadikan dunia sebagai jembatan untuk meraih surga-Nya.

Wallahu a’lam bishawab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *