Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Ada saatnya kita begitu mencintai seseorang, memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh, menyebut namanya dalam setiap doa, tetapi akhirnya harus menerima kenyataan: dia bukan bagian dari takdir yang Allah pilihkan untuk kita.
Sakit? Tentu…..Sebab kita sering mengira, jika cinta sudah tulus, perjuangan sudah maksimal, dan doa sudah dipanjatkan setiap malam, maka akhir cerita harus sesuai dengan keinginan kita.
Padahal mencintai adalah perasaan kita, memiliki adalah kehendak Allah. Kita hanya melihat apa yang kita inginkan. Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Bisa jadi kita meminta seseorang karena mengira dia adalah kebahagiaan, sementara Allah tahu ada sesuatu di baliknya yang belum sanggup kita pahami.
Maka ketika Allah tidak memberikan apa yang kita minta, jangan buru-buru mengira doa kita sia-sia. Boleh jadi jawaban Allah bukan berupa seseorang yang kita dapatkan, melainkan hati yang diselamatkan dari sesuatu yang belum kita ketahui.
Perjuangkanlah jika memang layak diperjuangkan. Doakanlah jika memang ingin dipertahankan. Tetapi setelah ikhtiar dilakukan, belajarlah melepaskan hasilnya kepada Allah.
Sebab cinta tidak selalu berarti memiliki. Kadang cinta justru mengajarkan kita cara merelakan tanpa membenci, kehilangan tanpa menyalahkan, dan pergi tanpa membawa dendam.
Jika memang dia baik untukmu dan Allah menetapkannya untukmu, tidak ada jalan yang terlalu jauh bagi kehendak-Nya. Tetapi jika bukan, jangan memaksa pintu yang Allah tutup hanya karena hatimu belum siap menerima alasannya.
Mungkin hari ini kita menangisi apa yang tidak kita dapatkan. Namun suatu hari nanti, kita bisa saja bersyukur atas sesuatu yang dahulu kita anggap sebagai kehilangan.
Karena itu, cintailah dengan tulus, perjuangkan dengan cara yang baik, berdoalah dengan penuh harap, lalu bertawakallah.
Jangan memaksa Allah memberikan apa yang kita inginkan. Percayalah, Allah tidak pernah keliru memilihkan apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Kadang yang kita sebut kehilangan sebenarnya adalah cara Allah menyelamatkan kita dari sesuatu yang belum mampu kita lihat.
Jangan sampai karena terlalu sibuk mempertahankan seseorang, kita justru kehilangan diri sendiri, harga diri, ketenangan, bahkan kedekatan dengan Allah.
Cinta yang sehat tidak membuat kita memaksa, merendahkan diri, atau menggantungkan seluruh kebahagiaan kepada manusia. Jika pintu itu terbuka, masuklah dengan cara yang baik, jika pintu itu tertutup, jangan dobrak, mundurlah dengan tenang, ambil hikmahnya, dan teruskan hidup.
Sebab tidak semua yang kita perjuangkan harus menjadi milik kita, sebagian hanya datang untuk mengajarkan kita bahwa melepaskan dengan ikhlas jauh lebih mulia daripada memiliki dengan terpaksa.






