Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar
Ada perempuan yang tidak menangis ketika hatinya terluka. Ia hanya menjadi lebih diam. Senyumnya masih ada, tetapi tidak lagi sehangat dulu. Ia masih berada di sampingmu, tetapi sebagian dirinya mungkin telah pergi jauh ke tempat yang tidak mampu kaujangkau dengan kata maaf.
Sebab tidak semua luka membutuhkan darah untuk terasa sakit. Ada luka yang lahir dari satu bentakan, tumbuh dari kata-kata yang merendahkan, dan menjadi semakin dalam setiap kali seseorang diperlakukan kasar oleh orang yang paling ia percaya.
Perempuan mungkin kuat menghadapi banyak hal. Ia bisa bertahan dalam kesederhanaan, melewati kesulitan, bahkan memaafkan kekurangan. Tetapi ada satu hal yang perlahan mematikan cinta, yakni ketika tempat yang seharusnya menjadi rumah justru berubah menjadi tempat ia merasa takut.
Marah itu manusiawi. Kecewa itu biasa. Tetapi ketika amarah membuat tangan terangkat, suara berubah menjadi ancaman, dan kata-kata menjadi senjata untuk menghancurkan harga diri, saat itulah cinta telah kehilangan wajahnya.
Lalu tanyakan kepada diri sendiri: untuk apa memenangkan pertengkaran, jika yang akhirnya kalah adalah hati orang yang engkau cintai?. Untuk apa membuktikan bahwa engkau benar, jika caramu membuat seseorang yang mencintaimu merasa tidak berharga?
Jangan pernah mengira seorang perempuan akan selalu bertahan hanya karena ia pernah berjanji untuk mencintai. Kesabaran pun memiliki batas. Air mata pun mengenal lelah. Dan hati yang terlalu sering disakiti pada akhirnya belajar menyelamatkan dirinya sendiri.
Ia tidak pergi karena cintanya telah habis, tetapi karena hatinya telah terlalu lama menanggung luka, setelah terlalu sering bertahan, terlalu banyak memaafkan, dan terlalu dalam menyimpan air mata, akhirnya ia hanya lelah terluka, hingga pergi bukan untuk membenci, melainkan untuk menyelamatkan hati yang masih mencintai, tetapi sudah tak sanggup lagi disakiti.
Mungkin suatu hari ia tidak lagi membalas bentakanmu. Tidak lagi menjelaskan kesedihannya. Tidak lagi bertanya mengapa engkau berubah. Bukan karena ia tidak peduli, tetapi karena ia sudah terlalu lama berbicara kepada seseorang yang tidak lagi mendengar.
Di situlah cinta sering kali berakhir, bukan ketika seseorang berhenti mencintai, tetapi ketika ia berhenti merasa aman untuk mencintai.
Maka jika engkau mencintai seorang perempuan, jangan hanya jaga tubuhnya dari bahaya. Jaga juga hatinya dari kata-katamu, jiwanya dari sikapmu, dan harga dirinya dari amarahmu. Jadilah tempat ia menenangkan diri ketika dunia terasa berat, bukan alasan mengapa ia harus menangis ketika pintu rumah tertutup.
Sebab laki-laki yang kuat bukanlah yang mampu membuat perempuan tunduk karena takut. Laki-laki yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya sendiri ketika kemarahan sedang menguasai pikirannya.
Dan perempuan yang dicintai dengan benar tidak akan terus-menerus bertanya, “Apakah aku masih berharga baginya?” Ia akan merasakannya dari cara ia diperlakukan.
Jangan tunggu sampai ia pergi untuk menyadari bahwa selama ini ia hanya ingin dicintai dengan lembut. Jangan tunggu sampai rumah menjadi sunyi untuk memahami bahwa yang ia butuhkan bukan kesempurnaan, melainkan rasa aman.
Karena pada akhirnya, hati perempuan bukan tempat untuk menguji seberapa jauh ia mampu menanggung luka. Ia adalah amanah yang semestinya dijaga.
Jika engkau tidak mampu membuat hatinya bahagia setiap hari, setidaknya jangan menjadi alasan ia menangis dalam diam. Jika belum mampu menjadi tempat ternyaman baginya, jangan berubah menjadi tempat yang paling ia takuti.
Sebab cinta yang sejati tidak membuat seseorang takut kepada orang yang dicintainya.
Cinta adalah ketika tangan yang kuat memilih untuk melindungi, suara yang keras memilih untuk melembut, dan hati yang marah memilih untuk menahan diri.
Karena terkadang, cara paling dalam untuk mengatakan “Aku mencintaimu” bukan dengan kata-kata, melainkan dengan memastikan bahwa di dekatmu, ia tidak pernah merasa harus takut menjadi dirinya sendiri. 🙏






