Oleh Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Saudaraku yang dirahmati Allah…
Dalam perjalanan hidup, tidak semua hari berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada saatnya seseorang diuji dengan penyakit. Ada yang diuji dengan kesulitan ekonomi.
Ada juga yang sedang menghadapi masalah rumah tangga. Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada yang terlilit utang. Ada yang sedang menghadapi persoalan keluarga. Ada yang sedang berjuang keluar dari kesedihan.
Bahkan ada Ada pula yang secara lahiriah terlihat baik-baik saja, tetapi di dalam hatinya sedang terjadi peperangan yang tidak diketahui oleh siapa pun.
Kadang-kadang kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi masalah belum juga selesai. Sudah bekerja keras, tetapi rezeki terasa sempit.
Sudah meminta maaf, tetapi hubungan belum membaik. Sudah berobat, tetapi kesembuhan belum datang. Sudah berdoa, tetapi jawaban yang kita tunggu belum terlihat.
Pada saat seperti itulah seorang mukmin harus kembali mengingat satu hal: Manusia mempunyai batas kemampuan, tetapi pertolongan Allah tidak mempunyai batas.
Ketika seluruh pintu manusia terasa tertutup, pintu Allah selalu terbuka. Ketika manusia tidak mampu memberikan jalan keluar, Allah mampu membuka jalan yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.
Ketika kita tidak tahu harus mengadu kepada siapa, Allah mendengar bahkan sebelum air mata kita jatuh.
Dan salah satu doa yang sangat agung untuk direnungkan ketika menghadapi kesulitan adalah doa Nabi Yunus AS.
🌿 DOA NABI YUNUS AS
Allah SWT mengabadikan doa Nabi Yunus AS dalam Al-Qur’an:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin.”
Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Doa tersebut terdapat dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 87. Doa ini bukan sekadar rangkaian kalimat.
Di dalamnya terdapat tauhid. Di dalamnya terdapat tasbih. Di dalamnya terdapat pengakuan atas kelemahan diri.
Di dalamnya terdapat taubat. Dan di dalamnya terdapat penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.
Karena itu, doa Nabi Yunus AS menjadi salah satu doa yang sangat dalam maknanya ketika seorang hamba sedang berada dalam kesulitan.
🐋 KISAH NABI YUNUS AS: KETIKA SEMUA JALAN TERASA TERTUTUP
Untuk memahami dahsyatnya doa Nabi Yunus AS, kita perlu memahami kisah di balik doa tersebut. Nabi Yunus AS adalah salah seorang nabi Allah.
Beliau diutus untuk menyeru kaumnya agar beriman kepada Allah SWT. Namun ketika menghadapi penolakan dan pembangkangan kaumnya, Nabi Yunus AS pergi meninggalkan mereka sebelum datang ketetapan Allah yang baru.
Beliau kemudian menaiki sebuah kapal. Di tengah perjalanan, kapal tersebut menghadapi kondisi yang sangat berat.
Dalam kisah yang disebutkan Al-Qur’an, Nabi Yunus AS kemudian berada dalam keadaan yang sangat sulit.
Beliau ditelan oleh ikan besar. Bayangkan keadaan tersebut. Bukan hanya berada di tengah lautan. Bukan hanya berada di dalam perut ikan.
Tetapi Al-Qur’an menggambarkan keadaan Nabi Yunus AS sebagai kegelapan yang bertumpuk.
Allah SWT berfirman:
فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Maka dia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’” (QS. Al-Anbiya’: 87)
Perhatikan kalimat Al-Qur’an:
فِي الظُّلُمَاتِ
“Dalam kegelapan-kegelapan.”
Para ulama menjelaskan bahwa keadaan Nabi Yunus AS berada dalam kegelapan malam, kegelapan laut, dan kegelapan perut ikan.
Namun ketika semua keadaan tampak gelap, Nabi Yunus AS menemukan satu cahaya: Tauhid.
Beliau tidak berkata: “Wahai ikan, keluarkan aku.”
Beliau tidak berkata: “Wahai laut, selamatkan aku.”
Beliau tidak menggantungkan harapan kepada makhluk. Beliau menghadap kepada Allah:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ
“Tidak ada Tuhan selain Engkau.”
TIGA PESAN BESAR DALAM DOA NABI YUNUS
Jika kita renungkan secara mendalam, doa Nabi Yunus AS mengandung setidaknya tiga unsur yang sangat penting.
1. MENGUATKAN TAUHID
Laa ilaaha illaa anta. “Tidak ada Tuhan selain Engkau.”
Ini adalah pengakuan bahwa hanya Allah tempat bergantung. Manusia boleh membantu kita. Keluarga boleh mendukung kita. Dokter boleh mengobati kita. Teman boleh menolong kita.
Atasan boleh memberikan pekerjaan. Pemerintah dapat memberikan kebijakan. Namun semua sebab tersebut tetap berada di bawah kehendak Allah SWT.
Allah yang mengatur hasil akhirnya. Karena itu, seorang mukmin boleh meminta bantuan manusia, tetapi hatinya tetap bergantung kepada Allah.
2. MENSUCIKAN ALLAH
Subhaanaka. “Mahasuci Engkau.”
Kalimat ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah tidak pernah zalim. Jika hidup kita sedang sulit, jangan sampai kesulitan itu membuat kita buruk sangka kepada Allah.
Jangan berkata: “Allah tidak adil.” “Allah tidak sayang kepada saya.” “Kenapa doa saya tidak pernah dikabulkan?”
Kita boleh menangis. Kita boleh mengeluh kepada Allah. Kita boleh mengakui bahwa kita sedang lemah.
Tetapi jangan sampai hati kita berburuk sangka kepada Allah.
Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”
Karena itu, tetaplah berprasangka baik kepada Allah. Boleh jadi sesuatu yang kita anggap musibah ternyata sedang menjadi jalan keselamatan.
Boleh jadi sesuatu yang kita anggap kehilangan ternyata sedang menjadi jalan menuju sesuatu yang lebih baik. Boleh jadi doa yang belum dikabulkan sedang disimpan sebagai pahala.
Dan boleh jadi Allah sedang mendidik hati kita agar lebih dekat kepada-Nya.
3. MENGAKUI KELEMAHAN DIRI
Innii kuntu minazh-zhaalimiin. “Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Inilah kerendahan hati Nabi Yunus AS. Beliau tidak menyalahkan keadaan. Beliau tidak menyalahkan kaumnya. Beliau tidak menyalahkan takdir.
Bahkan beliau justru mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah. Inilah salah satu rahasia besar doa.
Semakin seseorang merasa dirinya membutuhkan Allah, semakin ia memahami hakikat kehambaannya. Manusia sebenarnya sangat lemah.
Kita tidak mampu menjamin satu detik kehidupan kita sendiri. Kita tidak mampu memastikan apakah esok kita masih sehat. Kita tidak tahu dari mana pertolongan Allah akan datang.
Karena itu, jangan pernah merasa tidak membutuhkan Allah.
ALLAH MENYELAMATKAN NABI YUNUS AS
Setelah Nabi Yunus AS berdoa, Allah SWT memberikan pertolongan.
Allah berfirman:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ
“Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 88)
Ayat ini sangat luar biasa. Allah bukan hanya menceritakan keselamatan Nabi Yunus AS. Allah menutup ayat tersebut dengan kalimat:
“Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”
Ini menjadi kabar penguat bagi orang-orang beriman. Artinya, kisah Nabi Yunus AS bukan sekadar cerita masa lalu.
Ada pelajaran yang hidup untuk kita hari ini. Ketika seorang mukmin berada dalam kesulitan dan benar-benar kembali kepada Allah, ia tidak pernah benar-benar sendirian.
JANGAN HANYA MENGUCAPKAN DOA, PAHAMI MAKNANYA
Banyak orang membaca doa berkali-kali tetapi tidak memahami maknanya. Padahal kekuatan doa bukan sekadar jumlah pengulangan.
Yang lebih penting adalah: ketundukan hati, keikhlasan, keyakinan, taubat, dan tawakal kepada Allah.
Ketika mengucapkan: Laa ilaaha illaa anta
tanamkan dalam hati: “Ya Allah, hanya Engkau tempatku bergantung.”
Ketika mengucapkan: Subhaanaka
tanamkan: “Ya Allah, Engkau Mahasuci dan tidak pernah menzalimi hamba-Mu.”
Ketika mengucapkan: Innii kuntu minazh-zhaalimiin
tanamkan: “Ya Allah, aku mengakui kelemahanku. Aku mengakui kesalahanku. Aku membutuhkan ampunan-Mu.”
Maka doa tersebut bukan hanya menjadi ucapan lisan. Ia menjadi percakapan hati seorang hamba dengan Rabb-nya.
JANJI ALLAH: SESUDAH KESULITAN ADA KEMUDAHAN
Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6)
Perhatikan: Allah tidak mengatakan bahwa setelah kesulitan pasti baru ada kemudahan.
Allah mengatakan: “bersama kesulitan ada kemudahan.”
Artinya, bahkan ketika kita sedang menghadapi masalah, sebenarnya pertolongan Allah bisa saja sedang berjalan menuju kita. Kita hanya belum melihatnya.
KETIKA HIDUP SEDANG BERAT, JANGAN MENJAUH DARI ALLAH
Salah satu kesalahan manusia ketika menghadapi masalah adalah justru menjauh dari Allah.
Ketika sedih, meninggalkan shalat. Ketika kecewa, berhenti berdoa. Ketika rezeki sempit, mulai mencari jalan yang haram.
Dan ketika mendapat musibah, marah kepada takdir. Padahal justru saat itulah kita harus semakin dekat kepada Allah.
Shalatlah. Berdoalah. Bacalah Al-Qur’an. Perbanyak istighfar. Bersedekahlah sesuai kemampuan. Perbaiki hubungan dengan orang tua. Minta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti.
Tinggalkan dosa yang masih kita lakukan. Dan jangan berhenti berharap kepada Allah.
🕋 SHALAT DAN SABAR ADALAH SENJATA ORANG BERIMAN
Allah SWT berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45)
Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita. Jika sedang menghadapi masalah: Jangan hanya berpikir. Berdoalah. Jangan hanya menangis. Sujudlah. Jangan hanya mencari manusia. Carilah pertolongan Allah.
Karena terkadang Allah tidak langsung mengubah keadaan kita. Allah terlebih dahulu mengubah hati kita agar kuat menghadapi keadaan tersebut.
PERBANYAK ISTIGHFAR
Selain doa Nabi Yunus AS, seorang muslim juga dianjurkan memperbanyak istighfar.
Allah SWT berfirman melalui perkataan Nabi Nuh AS kepada kaumnya:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu…” (QS. Nuh: 10–12)
Istighfar bukan sekadar meminta ampun. Istighfar adalah cara seorang hamba membersihkan hati dan kembali kepada Allah.
BOLEHKAH MEMBACA DOA NABI YUNUS 40 KALI?
Membaca doa Nabi Yunus AS sebanyak 40 kali sebagai bentuk dzikir pribadi pada dasarnya dapat dilakukan selama seseorang tidak meyakini bahwa angka tersebut merupakan kewajiban syariat atau memiliki keutamaan pasti yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW tanpa dalil yang sahih.
Ada riwayat yang sering disebut berkaitan dengan doa Nabi Yunus AS sebanyak 40 kali, tetapi riwayat tersebut perlu disikapi dengan hati-hati karena kualitas dan penilaian terhadap sanadnya tidak dapat disamakan dengan hadis-hadis sahih yang kuat.
Karena itu, lebih aman mengatakan: Silakan memperbanyak doa Nabi Yunus AS sebanyak yang mampu, dengan penuh keyakinan kepada Allah, tanpa meyakini angka tertentu sebagai kewajiban atau jaminan pasti terkabul.
Yang terpenting bukan sekadar menghitung berapa kali kita membaca. Tapi seberapa sering dan yakin dengan janji Allah SWT.
Yang lebih penting adalah: seberapa dalam kita memahami, menghayati, dan mengamalkan kandungannya.
MEMBACA SETELAH SUBUH
Sebagian ulama dan ahli ibadah menganjurkan memperbanyak doa dan dzikir pada waktu-waktu yang penuh keberkahan, termasuk setelah shalat Subuh.
Namun perlu dibedakan antara: anjuran umum untuk berdzikir setelah shalat. Dan penetapan amalan tertentu dengan jumlah tertentu sebagai sunnah Nabi.
Jika seseorang membaca doa Nabi Yunus setelah Subuh sebanyak 40 kali sebagai wirid pribadi, hal itu dapat dilakukan sebagai bentuk doa dan dzikir.
Tetapi jangan mengatakan: “Ini pasti sunnah Nabi dan pasti mendapatkan hasil tertentu.” Kecuali memang terdapat dalil yang sahih dan jelas.
Sikap seperti ini penting agar kita tetap semangat beribadah sekaligus menjaga ketelitian dalam menyampaikan ajaran agama.
DOA TIDAK SELALU DIKABULKAN DALAM BENTUK YANG KITA INGINKAN
Ini adalah bagian yang sangat penting. Kadang seseorang berkata: “Saya sudah berdoa, mengapa belum dikabulkan?”
Ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui. Bisa jadi Allah memberikan apa yang kita minta. Bisa jadi Allah menghindarkan kita dari keburukan yang sebanding. Bisa jadi Allah menyimpan pahala doa tersebut untuk kehidupan akhirat.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa doa seorang muslim tidak sia-sia selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutus silaturahmi dan tidak tergesa-gesa menganggap doanya tidak dikabulkan.
Maka jangan pernah berhenti berdoa hanya karena jawaban Allah belum terlihat.
JANGAN BERDOA HANYA KETIKA SUSAH
Ada orang yang ketika hidupnya susah sangat rajin berdoa. Tetapi ketika hidupnya lapang, ia lupa kepada Allah. Padahal seorang mukmin seharusnya mengenal Allah ketika lapang maupun ketika sempit.
Rasulullah SAW bersabda kepada Ibnu Abbas RA: “Kenalilah Allah ketika lapang, niscaya Dia mengenalimu ketika susah.” (HR. Tirmidzi)
Maka jangan tunggu sakit untuk mengingat Allah. Jangan tunggu bangkrut untuk bersedekah. Jangan tunggu kehilangan untuk menghargai keluarga. Jangan tunggu kematian untuk bertaubat. Jangan tunggu musibah untuk memperbaiki shalat.
TAUBAT NASUHA: KUNCI MEMBUKA PINTU PERTOBATAN
Jika sedang mengalami kesulitan, jangan lupa melakukan introspeksi. Tanyakan kepada diri sendiri: Apakah ada dosa yang belum saya tinggalkan?
Apakah ada hak orang lain yang belum saya kembalikan? Apakah ada orang tua yang belum saya bahagiakan? Apakah ada saudara yang pernah saya sakiti? Apakah ada janji yang belum saya tunaikan? Apakah ada rezeki yang saya dapatkan dengan cara yang tidak halal?
Taubat bukan berarti kita menganggap semua musibah terjadi karena dosa. Tidak.
Para nabi dan orang saleh juga mendapatkan ujian. Namun introspeksi membuat hati kita lebih rendah di hadapan Allah.
JANGAN LUPA SEDEKAH
Sedekah juga merupakan salah satu bentuk amal yang sangat dianjurkan. Ketika seseorang sedang kesulitan, jangan berpikir: “Kalau saya sedang kekurangan, bagaimana mungkin saya bersedekah?”
Sedekah tidak harus besar. Berikan sesuai kemampuan. Bahkan senyum, membantu orang lain, memberi makan, membantu orang tua, menolong tetangga, atau mengangkat kesulitan seseorang juga merupakan bentuk kebaikan.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap kebaikan adalah sedekah. Yang penting adalah keikhlasan.
HASBUNALLAH WA NI’MAL WAKIL
Ketika menghadapi keadaan yang berat, seorang mukmin juga dapat mengingat firman Allah:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.”
Kalimat ini mengajarkan tawakal. Bukan berarti kita berhenti berusaha. Tawakal justru berarti: berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Cari pekerjaan, lalu bertawakal. Berobat, lalu bertawakal. Menyelesaikan masalah dengan cara yang benar, lalu bertawakal. Berikhtiar memperbaiki rumah tangga, lalu bertawakal.
Belajar dengan sungguh-sungguh, lalu bertawakal. Karena Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha.
Islam mengajarkan: ikhtiar maksimal, doa maksimal, tawakal maksimal.
KETIKA TIDAK ADA SATU PUN MANUSIA YANG MEMAHAMI
Ada kesedihan yang tidak bisa diceritakan. Ada luka yang terlalu dalam untuk dijelaskan. Ada air mata yang jatuh diam-diam. Ada malam ketika seseorang tersenyum di hadapan banyak orang, tetapi menangis ketika sendirian.
Jika Anda sedang berada di posisi itu, ingatlah: Allah tahu. Allah mengetahui air mata yang tidak dilihat manusia. Allah mengetahui perjuangan yang tidak dihargai manusia.
Tak hanya itu, Allah mengetahui doa yang hanya bisa kita ucapkan dalam hati. Allah mengetahui rasa takut yang kita sembunyikan. Allah mengetahui harapan yang kita simpan.
Maka jangan merasa sendirian. Boleh jadi manusia tidak memahami kita.
Tetapi Allah memahami kita bahkan sebelum kita mampu menjelaskan apa yang kita rasakan.
JANGAN TAKUT DENGAN MASA DEPAN
Kita sering takut terhadap sesuatu yang bahkan belum terjadi. Takut kehilangan pekerjaan. Takut tidak memiliki uang. Takut anak tidak sukses. Takut penyakit datang.
Bahkan takut rumah tangga gagal. Takut masa depan tidak sesuai harapan. Padahal masa depan adalah milik Allah.
Tugas kita adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya. Shalat hari ini. Berbuat baik hari ini. Bekerja hari ini. Bertaubat hari ini. Berdoa hari ini.
Karena kita tidak pernah tahu apakah esok masih menjadi milik kita.
AMALAN PRAKTIS KETIKA SEDANG MENGHADAPI KESULITAN
Jika sedang mengalami masalah, cobalah membangun kebiasaan berikut:
1. Jaga shalat lima waktu
Jangan tinggalkan shalat hanya karena sedang banyak masalah. Justru jadikan shalat sebagai tempat kembali.
2. Perbanyak istighfar
Ucapkan: Astaghfirullah wa atuubu ilaih.
3. Perbanyak doa Nabi Yunus AS
Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin. Bacalah dengan memahami maknanya.
4. Perbanyak shalawat
Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu bentuk ibadah dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
5. Baca Al-Qur’an
Walaupun hanya beberapa ayat, lakukan secara istiqamah.
6. Bersedekah
Tidak harus besar. Yang penting ikhlas dan halal.
7. Perbaiki hubungan dengan manusia
Jika memiliki kesalahan kepada orang lain, beranilah meminta maaf.
8. Tinggalkan maksiat
Jangan berharap pintu keberkahan terbuka sementara kita sengaja mempertahankan dosa.
9. Tetap bekerja dan berusaha
Doa tanpa usaha bukan bentuk tawakal yang sempurna.
10. Jangan berputus asa
Allah SWT melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya.
JIKA MASALAH BELUM SELESAI, TERUSLAH BERDOA
Saudaraku…
Jangan ukur kasih sayang Allah hanya dari cepat atau lambatnya doa kita dikabulkan. Jangan mengira Allah tidak mendengar hanya karena jawaban belum datang.
Seorang anak kecil terkadang meminta sesuatu kepada orang tuanya. Orang tua bisa memberikan. Bisa menunda. Bisa mengganti dengan sesuatu yang lebih baik.
Bisa juga menolak karena mengetahui bahwa sesuatu yang diminta justru berbahaya. Demikian pula kita sebagai hamba.
Kita hanya mengetahui apa yang kita inginkan. Allah mengetahui apa yang kita butuhkan. Karena itu: Percayalah kepada Allah.
KALIMAT UNTUK HATI YANG SEDANG LELAH
Jika hari ini hidup terasa berat, katakan kepada diri sendiri: Aku tidak sendirian. Allah bersamaku.
Jika hari ini rezeki terasa sempit: Aku akan tetap berusaha dan percaya bahwa rezeki Allah luas.
Jika hari ini hatiku terluka: Aku akan meminta kepada Allah agar diberikan ketenangan.
Jika hari ini doaku belum terkabul: Aku akan tetap berdoa karena Allah Maha Mengetahui waktu terbaik.
Jika hari ini aku jatuh: Aku akan bangkit kembali dengan pertolongan Allah.
Jika hari ini aku melakukan kesalahan: Aku akan bertaubat dan tidak menyerah kepada dosa.
DOA PENUTUP
Ya Allah… Jika ada di antara kami yang sedang menghadapi kesulitan, mudahkanlah.
Jika ada yang sedang terlilit utang, berikanlah jalan keluar. Jika ada yang sedang sakit, berikanlah kesembuhan.
Jika ada yang sedang kehilangan pekerjaan, bukakanlah pintu rezeki yang halal dan berkah.
Jika ada yang sedang menghadapi masalah keluarga, lembutkanlah hati mereka dan satukanlah kembali dalam kebaikan. Jika ada yang sedang bersedih, gantilah kesedihannya dengan ketenangan. Jika ada yang sedang kehilangan harapan, tumbuhkan kembali harapannya kepada-Mu.
Jika ada yang sedang jauh dari-Mu, kembalikanlah hatinya kepada-Mu.
Ya Allah…
Ajarkan kami untuk tidak hanya mengingat-Mu ketika susah. Ajarkan kami untuk bersyukur ketika lapang dan bersabar ketika sempit. Ajarkan kami untuk berusaha tanpa sombong.
Ajarkan kami untuk menerima takdir tanpa menyerah. Ajarkan kami untuk berdoa tanpa pernah berputus asa.
Ya Allah…
Sebagaimana Engkau menyelamatkan Nabi Yunus AS dari kegelapan dan kesulitan, selamatkan pula kami dari kegelapan dosa, kesempitan hati, kesulitan hidup, dan segala perkara yang tidak mampu kami hadapi tanpa pertolongan-Mu.
Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin. Hasbunallahu wa ni’mal wakil.
Cukuplah Allah bagi kami sebagai penolong dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.
Semoga Allah mengangkat segala kesulitan kita, mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan rezeki kita, menjaga keluarga kita, memberikan kesehatan, ketenangan, keberkahan, serta menutup hidup kita dengan husnul khatimah.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.






