Diam: Tertindas dan Hina, Bangkit Melawan: Merdeka dan Mulia

Saya alamatkan seruan ini kepada para ulama yang lurus dan saleh di seluruh tanah Nusantara ini, mengingat fungsi mereka sebagai pengasuh umat dan rakyat. Tidakkah mereka merasa bahwa kini mereka tengah ditarget supaya kredibilitas dan akuntabilitas mereka runtuh di hadapan umat.

Saya kira sudah waktunya menanggalkan sikap pasif, diam dan hanya mengamat-amati kebusukan dan kekejian yang merajalela selama ini. Semakin lama Anda bisu, diam dan menahan diri dari kejahatan yang merusak moral dan keadaan masyarakat, semakin merajalela mereka berpesta pora tanpa rasa bersalah sedikit pun. Kekuasaan hanya menjadi alat bagi mereka untuk semakin korup dan bejat tanpa tersentuh oleh hukum keadilan. Sedangkan kita, justru semakin tertindas, terperas, melalui sistem kekuasaan yang mereka kendalikan. Akibatnya, tak ubahnya Anda dan kita yang bungkam tapi tahu bahwa hal itu suatu kejahatan, laksana budak yang empuk untuk mereka manfaatkan dan eksploitasi. Kita semakin lemah dan tidak berdaya di hadapan alat-alat kekuasaan mereka yang terlegitimasi oleh kebodohan kita sendiri yang bungkam dan tidak berani mengepalkan tangan untuk melawan. Bayangkan betapa biadabnya, tiap hari kita disuguhkan oleh tingkah korup mereka yang tiada malu dan sungkan, dan menjalar dengan cepat hingga kalangan ulama pun, sebagai seharusnya pemekik kebenaran dan keadilan, kini tertular dan penyakitan oleh bakteri suap yang mereka kembangbiakkan. Bahkan setiap orang kini nyaris telah tertular cara berpikir korup, dimana setiap orang berpikir mengejar dahulu keuntungan dan mengesampingkan keluhuran moral.

Bacaan Lainnya

Di atas berkembangbiaknya korupsi ini, bertahtalah tanpa tersentuh, sekelompok elit yang menari dan mengangkang di atas nasib rakyat banyak. Mereka memang secara sadar menghendaki supaya rakyat lumpuh dan tak berdaya untuk menyatakan sekedar TIDAK terhadap sistem korup. Mereka menindas dengan sistem korup yang mereka asuh dan jaga dengan rapi dan rapat. Kita semua akhirnya tertindas dan terpojok. Orang yang bersikap lurus dan jujur, secara sistematis terkucil dan terasing. Mereka memang menghendaki itu sampai kita kehilangan keberanian untuk menyatakan Tidak dan Stop.

Tapi kita bukanlah binatang yang dapat digiring dan dijinakkan bagaikan kambing dan sapi. Kita adalah manusia merdeka. Kita biarpun dipaksa untuk gentar melawan sistem penindasan mereka yang ketat, kita tetaplah manusia yang tidak sudi dibenamkan ke dalam lautan kehidupan mereka yang korup. Kita pasti berani melawan, biar pun kita memang tertindas dan dimiskinkan secara sistematis.

Mulai saat ini, mari kita sadari: sistem hidup yang mereka lindungi dan jaga itu, hanyalah sistem rumah laba-laba yang rapuh, manakala kita bersatu melawan penindasan dan pengelabuan mereka. Mari kita lawan penindasan. Kita menyatakan: penindasan dan korupsi yang kalian jejalkan dan pelihara, akan kami hancurkan dan paksa untuk runtuh bersama kekuasaan kalian.

Hidup kaum tertindas!!! Rebut hidup tanpa korupsi dan penindasan!!! Rebut Indonesia dari kaum jahiliyah dan korup!!!

 

Oleh: Syairullah Al Musawy, Penulis

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *