TEGAR: Jangan Jadikan Luka sebagai Rumah

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin

Ada manusia yang tampak kuat bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena setiap kali kehidupan meruntuhkannya, ia selalu menemukan alasan untuk bangkit. Ia pernah kecewa, kehilangan, dikhianati, bahkan menangis dalam diam, tetapi tidak membiarkan luka mengubahnya menjadi manusia yang kehilangan iman, akal, dan kasih.

Bacaan Lainnya

Tegar bukan berarti tidak menangis, melainkan mampu menangis tanpa kehilangan arah. Bukan tidak takut, melainkan tetap melangkah meski takut. Bukan tidak pernah lemah, tetapi tahu kepada siapa kelemahan harus disandarkan.

Hidup tidak selalu memberi apa yang kita inginkan. Rumah tangga bisa diuji oleh ekonomi, perbedaan, salah paham, ego, bahkan luka yang datang dari orang yang paling dicintai. Di situlah kedewasaan diuji, kapan bertahan, kapan memperbaiki, kapan mengalah, dan kapan melepaskan, serta tidak kehilangan akhlak dan harga diri.

Sebab sabar bukan berarti membiarkan kezaliman. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Dan mencintai bukan berarti kehilangan martabat.

Jangan selalu bertanya, “Siapa yang salah?” Tanyakan pula, “Apa yang harus aku perbaiki?” Sebab kemenangan terbesar bukan mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan ego, amarah, dendam, dan keputusasaan dalam diri sendiri.

Tegar secara spiritual adalah tetap percaya kepada Allah ketika dunia terasa menutup pintu. Tegar secara emosional adalah tidak menjadikan luka sebagai identitas. Tegar secara intelektual adalah mampu berpikir jernih ketika emosi menguasai diri.

Jangan takut pada badai. Tidak semua badai datang untuk menenggelamkan; sebagian datang untuk mengajarkan kita berdiri lebih kokoh.

Jika hari ini gagal, jangan menyebut hidupmu berakhir. Jika terluka, jangan jadikan luka sebagai rumah. Jika kehilangan, jangan kehilangan harapan. Menangislah bila perlu, beristirahatlah bila lelah, tetapi jangan menyerah.

Sebab engkau mungkin tidak mampu mengendalikan apa yang dilakukan orang lain kepadamu, tetapi engkau masih memiliki satu kekuatan: menentukan siapa dirimu setelah semua itu terjadi.

Jika dunia melukaimu, jangan kehilangan kasih. Jika kegagalan menjatuhkanmu, jangan kehilangan keberanian. Jika manusia mengecewakanmu, jangan kehilangan Allah.

Tegar bukan hati yang tidak pernah patah, tegar adalah hati yang pernah patah, tetapi tetap memilih menjadi baik.

Bukan jiwa yang tidak pernah takut, melainkan jiwa yang takut tetapi tetap melangkah.

Dan bukan manusia yang tidak pernah jatuh, melainkan manusia yang setiap kali jatuh selalu menemukan jalan untuk bangkit kembali.

Sebab hidup bukan tentang seberapa keras badai menghantam, tetapi seberapa teguh kita tetap berdiri dengan iman sebagai cahaya, akal sebagai arah, akhlak sebagai penjaga, dan harapan sebagai alasan untuk terus melangkah.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *