Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, F-PKS, Kalimantan Selatan I
Dunia hari ini mengajarkan kita untuk berlomba mengumpulkan warisan. Orang tua bekerja siang malam agar anaknya mewarisi rumah mewah, deposito, dan perusahaan. Tidak salah. Tapi ada warisan yang jauh lebih kekal, yang tidak bisa dirampok, tidak termakan inflasi, tidak habis dibagi, dan pahalanya terus mengalir bahkan setelah kita terkubur di liang lahat.
Itulah warisan para Nabi.
Jika Qarun mewariskan harta yang menenggelamkannya, jika Fir’aun mewariskan kekuasaan yang melaknatnya, maka Rasulullah Muhammad ﷺ mewariskan ilmu yang menyelamatkan umatnya hingga hari kiamat.
NASH HADITS LENGKAP DENGAN SANAD DAN TERJEMAH
Hadits ini diriwayatkan dari sahabat mulia Abu Darda’ Uwaimir bin Malik Al-Anshari Al-Khazraji, seorang hakim di Damaskus dan ahli ibadah yang zuhud.
Teks Arab Lengkap:
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.
Terjemah Lengkap:
Abu Darda’ berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sungguh, para malaikat merendahkan sayapnya sebagai bentuk keridhaan kepada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya orang yang berilmu akan dimohonkan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, hingga ikan yang ada di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama pada malam bulan purnama dibanding seluruh bintang. Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat banyak dan beruntung.”
Takhrij dan Derajat Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud no. 3641, Imam Tirmidzi no. 2682, Imam Ibnu Majah no. 223, Imam Ahmad dalam Musnad 5/196, dan Imam Darimi. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 70, Shahih Al-Jami’ no. 6297, dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan hasan.
Sumber pengambilan tulisan ini adalah Kitab “Al-Arba’una Haditsan fi Raf’i Darajat wa Takfiris Sayyi-at” karya Syaikh Sa’ad bin Muhammad at-Thukhis, yang mengumpulkan 40 hadits tentang pengangkat derajat dan penghapus dosa.
DALIL-DALIL PENGUAT DARI AL-QUR’AN DAN SUNNAH
Hadits ini bukan berdiri sendiri, ia dikuatkan oleh banyak dalil:
1. QS. Al-Mujadilah: 11 – Allah meninggikan derajat ahli ilmu.
2. QS. Fathir: 28 – Hanya ulama yang benar-benar takut kepada Allah.
3. QS. Az-Zumar: 9 – Hal yastawilladzina ya’lamuna walladzina la ya’lamun – Apakah sama orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui?
4. Hadits Mu’awiyah: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan pahamkan ia dalam urusan agama.” [HR. Bukhari Muslim]
Ini menunjukkan, tanda Allah sayang kepada kita bukan diberi jabatan, tapi diberi kemudahan untuk duduk di majelis ilmu.
KISAH SEJARAH YANG MENGGETARKAN DI BALIK HADITS INI
Kisah 1: Perjalanan Qais bin Katsir – Sebulan Perjalanan untuk Satu Hadits
Imam Tirmidzi meriwayatkan kisah aslinya. Ada seorang tabi’in bernama Qais bin Katsir. Ia tinggal di Madinah. Ia mendengar bahwa sahabat Abu Darda’ di Damaskus – Suriah memiliki sebuah hadits yang belum ia dengar.
Tanpa pikir panjang, ia menyiapkan bekal dan menempuh perjalanan lebih dari 1.300 KM melewati padang pasir yang ganas, hanya untuk satu hadits.
Sesampainya di Masjid Damaskus, Abu Darda’ menyambutnya. Abu Darda’ menguji keikhlasannya:
“Wahai saudaraku, apakah engkau datang karena ada keperluan dagang?”
“Tidak.”
“Apakah ada keperluan lain?”
“Tidak. Aku datang hanya untuk mencari hadits yang kudengar engkau meriwayatkannya dari Rasulullah ﷺ.”
Maka Abu Darda’ pun tersentuh dan membacakan hadits ini. Lihatlah adab mereka. Ilmu tidak diberikan kepada pemburu dunia, tapi kepada pemburu akhirat.
Kisah 2: Rihlah Thalabul Ilmi Para Ulama
Inilah tradisi para ulama salaf:
• Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu menempuh perjalanan satu bulan dari Madinah ke Mesir hanya untuk menemui Abdullah bin Unais demi satu hadits.
• Imam Ahmad bin Hanbal berjalan kaki dari Baghdad ke Shan’a, Yaman, untuk menemui Abdurrazzaq Ash-Shan’ani. Bekalnya habis di tengah jalan, ia menjadi kuli angkut barang demi bisa terus belajar.
• Imam Bukhari – Sejak umur 10 tahun sudah menghafal. Ia berkeliling dari Bukhara, ke Baghdad, ke Mekkah, ke Madinah, ke Mesir, mengumpulkan 600.000 hadits, ia shalat istikharah untuk setiap hadits yang ia tulis di kitab Shahih-nya. 16 tahun ia menyusunnya.
• Imam Syafi’i – Karena miskin tidak punya kertas, ia menulis ilmunya di atas tulang, pelepah kurma, dan tembikar.
Bandingkan dengan kita. Kajian ada di depan mata, live di HP, gratis di Youtube, masjid dekat rumah, tapi kaki terasa berat melangkah. Padahal mereka dulu harus menjual baju untuk membeli tinta.
SYARAH RINCI 8 FAEDAH BESAR DALAM HADITS INI
Faedah 1: Man Salaka Thariqan – Siapa yang Menempuh Jalan
Kata thariqan dalam bentuk nakirah, artinya jalan apa saja. Imam Ibnul Qayyim berkata: Mencakup jalan hissi (nyata) seperti berjalan kaki ke masjid, naik motor ke pesantren, naik pesawat ke Mekkah untuk belajar, dan jalan maknawi seperti membuka kitab, membuka laptop untuk kajian online, membeli kuota untuk streaming kajian. Semua dihitung.
Faedah 2: Salakallahu bihi Thariqan minal Jannah – Allah Mudahkan Jalan ke Surga
Balasan sesuai perbuatan. Engkau mudahkan jalan menuntut ilmu, Allah mudahkan jalanmu ke surga. Maksudnya dua: 1) Allah beri taufik untuk beramal shalih yang mengantar ke surga. 2) Di akhirat, jalanmu di shirath akan dimudahkan karena ilmu.
Faedah 3: Malaikat Meletakkan Sayapnya
Ada tiga tafsiran ulama:
a) Malaikat benar-benar meletakkan sayapnya karena tawadhu dan hormat.
b) Malaikat berhenti terbang dan ikut mendengarkan majelis ilmu.
c) Malaikat membantu dan memudahkan urusan penuntut ilmu.
Sungguh pemandangan yang indah. Jika raja disambut karpet merah, penuntut ilmu disambut hamparan sayap malaikat.
Faedah 4: Seluruh Makhluk Memintakan Ampun
Bahkan ikan paus di samudra, semut di lubangnya. Kenapa? Karena ilmu membawa rahmat bagi alam. Orang berilmu tidak akan merusak hutan, tidak mengebom ikan, tidak mencemari air. Ia tahu semua makhluk bertasbih. Maka mereka berterima kasih dengan mendoakannya. Betapa luasnya ampunan bagi penuntut ilmu.
Faedah 5: Keutamaan Alim atas Abid seperti Bulan atas Bintang
Ahli ibadah tanpa ilmu seperti bintang, cahayanya kecil dan hanya untuk dirinya. Seorang alim seperti bulan purnama, cahayanya besar dan menerangi seluruh bumi yang gelap. Umat butuh ulama lebih dari butuh ahli ibadah yang menyendiri.
Faedah 6: Al-Ulama Waratsatul Anbiya – Puncak Kemuliaan
Ini gelar tertinggi. Menjadi pewaris Nabi. Nabi tidak mewariskan istana megah. Jika Nabi mewariskan harta, tentu Abu Bakar dan Umar yang paling kaya. Tapi mereka diwarisi ilmu. Pewaris Nabi bukan hanya menghafal, tapi mewarisi tiga hal: Akidah, Akhlak, dan Dakwah Nabi.
Faedah 7: Lam Yuwarritsu Dinar wa Dirham
Para Nabi sengaja tidak mewariskan harta agar tidak ada yang menuduh dakwah mereka karena mencari dunia. Dan agar jelas, bahwa nilai ilmu jauh lebih mahal dari dinar. Dinar habis jika dibagi. Ilmu bertambah jika dibagi.
Faedah 8: Faman Akhadzahu Akhadza bi Hadzhin Wafir – Keberuntungan Besar
Siapa yang mengambil warisan ilmu, ia telah mengambil keberuntungan yang sangat besar. Di dunia ia mulia, di akhirat ia selamat. Harta Qarun menenggelamkannya. Ilmu Salman Al-Farisi mengangkatnya dari seorang budak Persia menjadi ahli surga.
KONTEKS KEKINIAN: KETIKA WARISAN DINAR LEBIH DICARI DARI WARISAN ILMU
Hadits ini sangat relevan untuk penyakit zaman now.
1. Krisis Influencer vs Ulama
Hari ini anak muda lebih kenal nama selebgram dan artis daripada nama Imam Nawawi dan 10 sahabat yang dijamin surga. Kita hafal lirik lagu, tapi tidak hafal 3 hadits pendek. Algoritma mengajarkan kita mengejar viral, bukan mengejar ilmu yang berkah.
2. Ilmu Dijadikan Konten, Bukan Amal
Banyak orang belajar agama untuk mendebat, bukan untuk beramal. Hafal dalil untuk menyerang kelompok lain, bukan untuk memperbaiki shalatnya sendiri. Padahal ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, berbahaya.
3. Orang Tua Salah Mewariskan
Kita khawatir jika anak tidak dapat warisan rumah, tapi tidak khawatir jika anak tidak bisa membaca Al-Fatihah dengan benar. Kita kursuskan anak bahasa Inggris, matematika, coding dengan biaya mahal, tapi pelit untuk mengkursuskan anak mengaji dan akidah. Padahal yang akan ditanya di kubur bukan TOEFL, tapi Man Rabbuka?
4. Fenomena Flexing Harta
Budaya pamer harta, pamer tas, pamer mobil. Padahal Nabi ﷺ tidak pernah flexing dinar. Beliau flexing ilmu. Beliau bangga jika sahabatnya paham agama.
Maka di era digital ini, menjadi penuntut ilmu justru lebih mudah. Cukup niat, buka Kitab, datang ke masjid, atau bahkan kajian online yang shahih. Yang mahal bukan aksesnya, tapi keikhlasannya.
ADAB PENUNTUT ILMU AGAR MENDAPAT WARISAN NABI
Agar ilmu kita berkah dan menjadi warisan Nabi, perhatikan adab ini:
1. Ikhlas karena Allah. Bukan karena ingin disebut ustadz, pintar, atau dapat amplop.
2. Tawadhu. Semakin berilmu, semakin merasa bodoh di hadapan Allah.
3. Mengamalkan. Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah.
4. Memuliakan Guru. Jangan pernah menyakiti hati guru. Doakan mereka selalu. Imam Ahmad selalu mendoakan gurunya Imam Syafi’i dalam shalat malamnya.
5. Dakwahkan. Ajarkan walau satu ayat. Jadikan status WA, IG, dan obrolan kita sebagai ladang dakwah ilmu, bukan ghibah dan dosa jariyah.
PENUTUP DAN DOA
Wahai saudaraku, mari kita memilih. Apakah kita ingin menjadi pewaris Qarun yang hartanya habis dan dilaknat, atau pewaris Nabi Muhammad ﷺ yang ilmunya kekal dan menyelamatkan?
Dinar dan dirham akan tertinggal di dunia. Ia akan jadi rebutan ahli waris dan bisa jadi sumber pertengkaran.
Tapi ilmu, ia akan ikut ke alam kubur, menjadi cahaya, menjadi teman, dan menjadi hujjah yang membela kita di hadapan Allah.
Semoga Allah menjadikan kita, anak-anak kita, dan keluarga kita sebagai pewaris ilmu para Nabi, bukan sekedar pengumpul dinar dan dirham.
Semoga lelah kita melangkah ke majelis ilmu hari ini, membuka kitab hari ini, mendengarkan kajian hari ini, dibalas oleh Allah dengan hamparan sayap malaikat dan jalan yang mudah menuju Surga Firdaus.
Allahumma faqqihna fiddin, wa ‘allimnat ta’wil.
Wallahu A’lam Bish-Shawab.
Silahkan disebarkan, semoga menjadi ilmu jariyah.
🌹صباح الخير – Selamat Pagi, Selamat Menjemput Warisan Nabi🌹






