Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS/ Kalimantan Selatan I
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. Dialah yang menciptakan langit dan bumi, menghidupkan dan mematikan, memberi nikmat yang tidak terhitung jumlahnya, serta membuka pintu taubat bagi setiap hamba yang kembali kepada-Nya.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah hingga hari kiamat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan manusia sekadar untuk makan, minum, bekerja, mengejar harta, atau menikmati dunia. Tujuan hidup manusia jauh lebih mulia daripada itu.
Allah berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Setiap detik kehidupan adalah kesempatan untuk mengumpulkan amal saleh. Setiap tarikan napas adalah modal menuju kampung akhirat. Namun, tidak semua amal yang dilakukan akan diterima. Ada amal yang besar di mata manusia tetapi ringan di sisi Allah. Ada pula amal yang tampak sederhana, namun sangat dicintai Allah karena dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lebih mengkhawatirkan lagi, terdapat berbagai penyakit hati yang dapat menghapus pahala, mengurangi keberkahan amal, bahkan menjadikan seseorang bangkrut pada hari kiamat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa orang yang bangkrut bukanlah orang yang kehilangan harta, tetapi orang yang datang pada hari kiamat membawa banyak shalat, puasa, dan zakat, namun pahalanya habis karena menzalimi orang lain.
Karena itu, menjaga amal jauh lebih sulit daripada melakukan amal. Untuk, itu kita harus kerja keras agar amal yang sudah ada tidak rusak dengan hal-hal perusak itu.
Para ulama salaf bahkan mengatakan bahwa mereka lebih khawatir amal mereka tidak diterima daripada banyaknya amal yang mereka kerjakan.
Dalam sejarah para salaf, diriwayatkan bahwa sebagian sahabat seperti Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sering menangis dan berkata, “Seandainya ada yang mengumumkan bahwa seluruh manusia masuk surga kecuali satu orang, aku takut orang itu adalah aku.” Ini menunjukkan betapa besar rasa takut mereka terhadap tidak diterimanya amal, meskipun mereka adalah generasi terbaik.
Berikut enam penyakit yang wajib kita waspadai.
1. Sibuk Mengurus Aib Orang Lain
Penyakit pertama adalah terlalu sibuk melihat kesalahan orang lain sehingga lupa memperbaiki diri sendiri.
Mata menjadi sangat tajam melihat dosa saudara, tetapi menjadi buta terhadap dosa pribadi.
Lidah begitu ringan mengomentari kehidupan orang lain, namun berat mengucapkan istighfar atas kesalahan sendiri.
Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…” (QS. Al-Hujurat: 12).
Di zaman media sosial, penyakit ini semakin mudah menyebar. Sangat gampang melakumannya, hanya mengetik kita bisa melakukan dosa itu.
Hanya dengan satu unggahan, seseorang bisa mencela, menghina, mempermalukan, bahkan menyebarkan fitnah kepada orang lain.
Padahal, belum tentu dirinya lebih baik di hadapan Allah. Dan, kita perlu fokus lebih baik dihadapan Allah SWT.
Dalam sejarah Islam, diceritakan bahwa Imam Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah berkata, “Kami mendapati orang-orang yang lebih sibuk dengan aib diri mereka sendiri sehingga mereka tidak sempat mencari aib orang lain.” Ini menjadi pelajaran bahwa para ulama salaf sangat menjaga lisan dan pandangan mereka.
Seorang mukmin yang sejati lebih sibuk memperbaiki kekurangan dirinya daripada mencari kekurangan orang lain.
Jika setiap hari kita bercermin untuk melihat wajah, maka seharusnya setiap hari pula kita bercermin kepada Al-Qur’an untuk melihat keadaan hati.
2. Hati yang Keras
Hati adalah pusat kehidupan seorang mukmin. Jika hati baik, maka baiklah seluruh amal.
Jika hati rusak, maka rusak pula seluruh kehidupan. Hati yang keras sulit menerima nasihat.
Ketika Al-Qur’an dibacakan, ia tidak tersentuh. Ketika kematian disebutkan, ia tidak menangis.
Ketika melihat orang miskin, ia tidak tergerak. Ketika berbuat dosa, ia tidak merasa bersalah.
Allah berfirman: “…Dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, ‘Mereka ditipu oleh agamanya.'” (QS. Al-Anfal: 49).
Hati menjadi keras karena terlalu banyak maksiat, terlalu banyak tertawa, terlalu sedikit berdzikir, dan terlalu jauh dari Al-Qur’an.
Dalam sejarah Bani Israil, Allah mengisahkan bagaimana hati mereka menjadi keras hingga tidak lagi menerima kebenaran, meskipun telah datang banyak peringatan dan mukjizat. Ini menjadi pelajaran bahwa kerasnya hati adalah awal dari kehancuran spiritual seseorang.
Obat hati yang keras adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an, mengingat kematian, menghadiri majelis ilmu, memperbanyak istighfar, dan berdoa kepada Allah agar diberi hati yang lembut.
3. Cinta Dunia Berlebihan
Islam tidak melarang menjadi kaya. Islam tidak melarang memiliki rumah yang bagus, kendaraan yang baik, ataupun usaha yang berkembang.
Yang dilarang adalah ketika dunia masuk ke dalam hati. Ketika seluruh hidup hanya berputar pada jabatan, kekayaan, popularitas, dan pujian manusia.
Allah berfirman:
“Barang siapa menghendaki keuntungan akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barang siapa menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya, tetapi di akhirat dia tidak memperoleh bagian.” (QS. Asy-Syura: 20).
Dunia hanyalah tempat singgah. Seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, lalu melanjutkan perjalanan.
Dalam sejarah, diceritakan kisah Nabi Sulaiman ‘alaihis salam yang memiliki kerajaan besar, namun tetap berkata bahwa semua itu adalah ujian dari Allah. Beliau tidak tertipu oleh kekuasaan, justru semakin tunduk kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa harta dan kekuasaan tidak boleh menguasai hati seorang mukmin.
Berapa banyak orang yang bekerja siang malam demi dunia, tetapi lupa menyiapkan bekal menuju kubur.
Padahal, ketika kematian datang, tidak ada jabatan yang menemani. Tidak ada rekening yang ikut masuk ke liang lahat. Yang menemani hanyalah amal.
4. Hilangnya Rasa Malu
Rasa malu adalah mahkota seorang mukmin. Rasa malu kepada Allah membuat seseorang meninggalkan dosa meski tidak ada manusia yang melihat.
Rasa malu kepada sesama membuat seseorang menjaga akhlaknya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah).
Dalam sejarah, para sahabat sangat menjaga rasa malu mereka. Diriwayatkan bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu adalah sosok yang sangat pemalu bahkan malaikat pun malu kepadanya. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan rasa malu dalam Islam.
Ketika rasa malu hilang, manusia akan berbuat apa saja. Maksiat dipamerkan. Kebohongan dianggap biasa.
Sementara, korupsi dianggap pintar. Fitnah dianggap hiburan. Aib menjadi tontonan. Padahal Allah Maha Melihat setiap langkah kita.
5. Panjang Angan-Angan
Banyak manusia berkata:
“Nanti saja saya berhijrah.”
“Nanti kalau sudah tua saya rajin shalat.”
“Nanti kalau sudah kaya saya bersedekah.”
“Nanti kalau pensiun saya mengaji.”
Padahal tidak ada seorang pun yang tahu apakah ia masih hidup esok hari.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Anak Adam menjadi tua, tetapi dua perkara tetap muda padanya: rakus terhadap dunia dan panjang angan-angan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam sejarah, diceritakan bahwa seorang ulama salaf pernah menasihati muridnya, “Jangan menunda amal hari ini untuk esok, karena engkau tidak memiliki jaminan esok akan datang.” Nasihat ini lahir dari pengalaman mereka yang selalu mengingat kematian.
Setan selalu membisikkan kata “nanti”. Setan tak pernah menyemangati.
Sementara malaikat maut tidak pernah memberi kabar kapan akan datang.
Karena itu, orang yang cerdas adalah yang segera bertaubat ketika melakukan dosa.
Jangan menunggu waktu yang belum tentu kita miliki.
6. Terus-Menerus Berbuat Zalim
Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Allah tidak menyukai orang yang zalim.
Zalim bukan hanya memukul atau mengambil hak orang lain.
Menghina, memfitnah, menggunjing, menipu, mengurangi timbangan, mengkhianati amanah, menyebarkan berita bohong, bahkan menyakiti hati sesama juga termasuk bentuk kezaliman.
Dalam sejarah Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan dalam khutbahnya di Haji Wada’ bahwa darah, harta, dan kehormatan sesama Muslim adalah suci. Ini menunjukkan betapa besar dosa kezaliman terhadap manusia.
Hak Allah mungkin diampuni dengan taubat. Namun hak manusia harus diselesaikan.
Jika belum meminta maaf atau mengembalikan haknya, maka pada hari kiamat pembayaran dilakukan dengan pahala.
Jika pahala habis, dosa orang yang dizalimi akan dipindahkan kepadanya.
Betapa mengerikan keadaan itu. Menjaga Amal Lebih Sulit daripada Mengumpulkannya
Para ulama terdahulu menangis bukan karena sedikitnya amal. Mereka menangis karena khawatir amal mereka tidak diterima.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27).
Karena itu, setiap selesai beramal hendaknya kita memohon kepada Allah agar amal tersebut diterima.
Jangan merasa paling baik. Jangan merasa paling suci. Jangan merasa paling banyak ibadah.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Ini inti dari hidup, takut berbuat dosa dihadapan Allah.
Bekal Agar Amal Tetap Terjaga
Ada beberapa amalan yang dapat membantu menjaga keikhlasan dan istiqamah. Berikut ini amalan yang perlu kita jaga:
1. Memperbanyak membaca Al-Qur’an setiap hari. Menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya.
2. Memperbanyak istighfar dan taubat. Berdzikir pagi dan petang.
3. Bersedekah secara rutin meskipun sedikit.
4. Memilih teman yang saleh.
5. Menghadiri majelis ilmu.
6. Menjaga lisan dari ghibah dan fitnah.
7. Mengingat kematian setiap hari.
8. Berdoa agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Penutup
Wahai saudaraku… Kita tidak tahu berapa lama lagi umur yang tersisa.
Boleh jadi hari ini adalah kesempatan terakhir untuk memperbaiki diri. Kuburan tidak mengenal usia.
Ada yang wafat ketika bayi. Ada yang wafat saat remaja. Ada yang wafat ketika sedang bekerja. Ada yang wafat ketika sedang tidur.
Maka jangan pernah menunda taubat. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mendekat kepada Allah.
Datanglah kepada-Nya dengan segala kekurangan, karena Allah mencintai hamba yang kembali kepada-Nya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga hati kita dari penyakit-penyakit yang merusak amal, menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas, menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan kubur kita, memudahkan hisab kita, dan mengumpulkan kita bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga Firdaus.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lam bish-shawab.






