MERAUKE – BELA RAKYAT – Peneliti Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Fathan Putra Mardela, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan mengajar di PKBM Kanajeraf Kum Niyenggeuw Kyerku Wasur, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh anak-anak yang berasal dari kawasan yang terdampak proyek pembangunan berskala besar di wilayah Merauke, sehingga membutuhkan perhatian serius terhadap pemenuhan hak atas pendidikan sebagai bagian dari pembangunan yang berkeadilan.
Dalam kesempatan itu, Fathan memberikan materi tentang motivasi belajar, wawasan kebangsaan, serta pentingnya pendidikan sebagai bekal menghadapi perubahan sosial dan ekonomi yang tengah berlangsung di wilayah mereka.
“Pembangunan infrastruktur dan investasi merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, kata Fathan dalam keterangan kepada wartawan, Sabtu (25/7/2026).
Namun, menurutnya pembangunan hanya akan benar-benar bermakna apabila berjalan beriringan dengan investasi pada kualitas sumber daya manusia, terutama bagi anak-anak yang hidup di kawasan yang mengalami transformasi akibat proyek-proyek berskala besar.
“Anak-anak yang berada di wilayah terdampak pembangunan tidak boleh menjadi penonton di tanahnya sendiri. Mereka harus dipersiapkan menjadi pelaku utama pembangunan melalui pendidikan yang berkualitas, karakter yang kuat, dan keterampilan yang memadai. Inilah makna pembangunan yang inklusif dan berkeadilan,” ujar Fathan.
Ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan instrumen paling efektif untuk memastikan masyarakat lokal mampu beradaptasi terhadap perubahan yang dibawa oleh pembangunan.
“Tanpa penguatan pendidikan, masyarakat berpotensi tertinggal dalam kompetisi ekonomi yang semakin terbuka. Apalagi daerah yang sedang mengalami transformasi pembangunan berskala besar”, katanya.
Menurutnya, anak-anak di Wasur memiliki potensi besar untuk menjadi generasi penerus yang mampu memimpin daerahnya di masa depan. Karena itu, mereka membutuhkan ruang belajar yang layak, motivasi yang kuat, serta pendampingan yang berkelanjutan agar memiliki kepercayaan diri untuk meraih cita-cita.
“Pendidikan bukan sekadar mengejar nilai atau memperoleh ijazah. Pendidikan membentuk cara berpikir, karakter, kepemimpinan, dan kemampuan menghadapi tantangan kehidupan. Ketika anak-anak memiliki pendidikan yang baik, mereka akan memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati manfaat pembangunan,” katanya.
Fathan juga mengajak para peserta didik untuk terus menumbuhkan semangat kebangsaan. Menurutnya, mencintai Indonesia dapat diwujudkan melalui kesungguhan belajar, menghargai keberagaman, menjaga persatuan, dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ia menambahkan bahwa perhatian terhadap pendidikan masyarakat adat dan anak-anak di wilayah terdampak pembangunan merupakan bagian dari amanat konstitusi.
“Pasal 31 UUD 1945 menegaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan, sementara negara berkewajiban menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, akhlak mulia, dan kecerdasan bangsa”, jelasnya.
Selain itu, menurutnya UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan harus menjamin pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi.
“Termasuk masyarakat yang berada di wilayah terpencil maupun kawasan yang sedang mengalami percepatan pembangunan”, tegasnya.
Fathan berharap kehadiran PKBM Kanajeraf Kum Niyenggeuw Kyerku Wasur dapat terus menjadi pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, pelaku usaha, dan organisasi masyarakat sipil perlu diperkuat agar pembangunan fisik selalu diikuti dengan pembangunan manusia.
“Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari jalan, pelabuhan, atau kawasan industri yang dibangun. Ukuran yang paling penting adalah apakah anak-anak di sekitar wilayah pembangunan memperoleh pendidikan yang lebih baik, memiliki harapan yang lebih besar, dan mampu menjadi bagian dari kemajuan daerahnya”, tuturnya.
Lanjutnya, jika pendidikan diperkuat, maka pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melahirkan keadilan sosial dan masa depan yang lebih baik bagi generasi Papua.
“Kita harus mempedomani bahwasanya pembangunan dimanapun dilakukan, harus terlebih dahulu memperkuat pendidikan masyarakatnya, sehingga akan melahirkan keadilan sosial dan masa depan yang lebih baik bagi generasi Papua”, pungkasnya.






