Syukur: Jalan Menuju Ketenangan Hati, Keberkahan Hidup dan Kebahagiaan Dunia Akhirat

Oleh: Habib Aboe Bakar  Alhabsyi, Anggota DPR RI/ F-PKS / Kalimantan Selatan I

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. Dialah yang menciptakan langit dan bumi, mengatur rezeki seluruh makhluk-Nya, serta melimpahkan nikmat yang tidak mungkin mampu dihitung oleh manusia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Bacaan Lainnya

Allah SWT telah memberikan kepada manusia nikmat yang tidak terhingga. Nikmat iman, Islam, kesehatan, keluarga, udara yang kita hirup, air yang kita minum, makanan yang kita makan, hingga kesempatan untuk bertobat. Namun ironisnya, manusia sering kali lebih sibuk menghitung apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang sudah Allah anugerahkan.

Padahal, sumber kegelisahan terbesar bukanlah sedikitnya harta, melainkan kurangnya rasa syukur.

Banyak orang memiliki rumah mewah tetapi tidak tenang. Ada yang bergelimang kekayaan namun selalu merasa kurang. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi wajahnya penuh senyum, hatinya damai, dan keluarganya dipenuhi keberkahan.

Perbedaannya bukan terletak pada jumlah harta, melainkan pada hadir atau tidaknya rasa syukur.

Syukur dalam Pandangan Islam

Syukur berasal dari kata syakara, yaitu mengakui nikmat Allah, memuji-Nya, serta menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada-Nya.

Para ulama menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga unsur utama:

Syukur dengan hati, yaitu menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah semata.

Syukur dengan lisan, yaitu memperbanyak ucapan Alhamdulillah, memuji Allah, dan menceritakan nikmat-Nya tanpa kesombongan.

Syukur dengan amal, yaitu menggunakan nikmat untuk ibadah dan kemaslahatan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa syukur adalah setengah dari iman. Setengah lainnya adalah sabar. Seorang mukmin akan selalu berada di antara sabar ketika mendapat ujian dan syukur ketika mendapat nikmat.

Janji Allah Bagi Orang yang Bersyukur

Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini bukan sekadar janji bertambahnya harta. Nikmat yang Allah tambahkan bisa berupa:

1. kesehatan,

2. ilmu,

3. ketenangan hati,

4. keluarga yang harmonis,

5. rezeki yang berkah,

6. sahabat yang baik,

7. anak-anak yang saleh,

8. hingga kemudahan dalam beribadah.

Bahkan sering kali seseorang tidak menjadi lebih kaya, tetapi Allah membuat hartanya terasa cukup. Itulah keberkahan.

Rasa Cukup (Qanaah) Adalah Kekayaan Sejati

Rasulullah ﷺ bersabda: “Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah hati yang merasa cukup.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengubah cara pandang manusia. Banyak orang mengira kaya berarti memiliki miliaran rupiah.

Padahal menurut Nabi ﷺ, orang terkaya adalah orang yang hatinya merasa cukup. Qanaah bukan berarti malas bekerja.

Qanaah adalah tetap bekerja keras, tetapi tidak diperbudak oleh ambisi dunia. Ia mencari rezeki dengan halal, lalu ridha terhadap hasil yang Allah tetapkan.

Melihat ke Bawah Agar Mudah Bersyukur

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Sebab yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim)

Hari ini media sosial sering membuat manusia lupa bersyukur. Melihat rumah orang lain.

Melihat kendaraan orang lain. Melihat liburan orang lain. Melihat kesuksesan orang lain.

Akhirnya hati dipenuhi iri, padahal nikmat yang Allah berikan kepadanya sangat banyak.

Karena itu Nabi ﷺ mengajarkan agar sesekali melihat mereka yang sedang diuji dengan kemiskinan, penyakit, kehilangan keluarga, atau musibah. Bukan untuk merendahkan mereka, melainkan agar kita menyadari betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan.

Kisah Nabi Ayyub ‘Alaihissalam

Nabi Ayyub AS adalah teladan luar biasa dalam bersyukur.

Beliau pernah menjadi orang yang sangat kaya. Memiliki ternak yang banyak.

Memiliki keluarga besar.Tubuh yang sehat. Namun Allah mengujinya.

Hartanya habis. Anak-anaknya wafat. Tubuhnya ditimpa penyakit bertahun-tahun.

Meski demikian, lisannya tidak pernah mengeluh kepada manusia.

Beliau berdoa: “Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit, sedangkan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83)

Karena kesabaran dan rasa syukurnya, Allah mengangkat penyakitnya dan mengembalikan kesehatan, keluarga, serta melipatgandakan nikmatnya.

Inilah bukti bahwa syukur tidak hanya ketika mendapat nikmat, tetapi juga ketika sedang diuji.

Kisah Nabi Sulaiman AS

Nabi Sulaiman AS adalah seorang raja yang memiliki kerajaan sangat besar.

Beliau mampu berbicara dengan hewan. Memimpin manusia dan jin.

Memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki siapa pun. Namun beliau tidak sombong.

Allah mengabadikan doa beliau:

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya.” (QS. An-Naml: 40)

Semakin besar nikmat, semakin besar pula kewajiban untuk bersyukur.

Kisah Umar bin Khattab RA

Suatu malam Khalifah Umar bin Khattab berkeliling kota Madinah.

Beliau menemukan seorang ibu sedang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan.

Umar menangis. Beliau segera memikul sendiri gandum dari Baitul Mal.

Para pembantunya menawarkan bantuan. Namun Umar berkata bahwa mereka tidak akan memikul dosanya di hari kiamat.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin yang bersyukur akan melahirkan kepedulian kepada rakyatnya. Syukur melahirkan empati.

Kisah Abdurrahman bin Auf RA

Abdurrahman bin Auf adalah sahabat Nabi yang sangat kaya. Namun kekayaannya tidak membuatnya cinta dunia.

Beliau banyak bersedekah. Membebaskan budak. Membantu jihad.

Selain itu, memberi makan fakir miskin. Beliau memahami bahwa harta hanyalah titipan Allah.

Orang yang bersyukur tidak menjadikan harta sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana menuju ridha Allah.

Mengapa Orang Tidak Pernah Merasa Cukup?

Karena hati dipenuhi tiga penyakit: tamak, iri dan lupa bersyukur.

Setiap kali mendapatkan sesuatu, ia segera menginginkan yang lebih besar. Padahal kebutuhan manusia terbatas, tetapi hawa nafsunya tidak pernah memiliki batas.

Cara Menumbuhkan Syukur

Memperbanyak mengucapkan Alhamdulillah dengan penuh kesadaran. Mengingat nikmat Allah setiap hari.

Membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya. Memperbanyak sedekah.

Menjauhi sifat iri dan dengki. Melihat orang yang lebih berat ujiannya.

Menggunakan nikmat untuk ibadah. Bergaul dengan orang-orang saleh.

Menulis nikmat yang Allah berikan setiap hari. Memohon kepada Allah agar diberi hati yang bersyukur.

Buah Syukur

Orang yang bersyukur akan memperoleh:

1. hati yang tenang,

2. hidup penuh keberkahan,

3. rezeki yang terasa cukup,

4. keluarga yang harmonis,

5. dijauhkan dari sifat tamak,

6. dicintai Allah,

7. memperoleh tambahan nikmat,

8. menjadi pribadi yang bahagia di dunia dan akhirat.

Allah SWT berfirman:

“…Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri…” (QS. Luqman: 12)

Syukur bukan untuk kepentingan Allah. Allah Maha Kaya.

Justru manusialah yang memperoleh manfaat terbesar dari rasa syukur.

Penutup

Saudaraku sekalian…

Boleh jadi kita belum memiliki rumah mewah, tetapi masih memiliki keluarga yang menyayangi.

Boleh jadi kendaraan kita sederhana, tetapi masih diberi kesehatan untuk mengendarainya.

Boleh jadi penghasilan belum besar, tetapi masih ada makanan yang bisa dinikmati bersama keluarga.

Jangan sampai kita sibuk mengejar nikmat yang belum Allah berikan hingga lupa mensyukuri nikmat yang sudah berada di genggaman.

Ingatlah, orang yang paling bahagia bukanlah yang memiliki segalanya, tetapi orang yang mampu mensyukuri apa yang dimilikinya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur (asy-syakirin), memiliki hati yang qanaah, diberi keberkahan dalam rezeki, kesehatan, keluarga, umur, dan amal saleh hingga akhir hayat.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ

“Ya Tuhanku, ilhamkanlah kepadaku agar aku senantiasa mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, serta agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai.”

(QS. An-Naml: 19)

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *