Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Pendahuluan: Nikmat yang Sering Terlupakan
Di antara penyakit hati yang banyak menjangkiti manusia pada zaman modern adalah sulit merasa cukup. Kemajuan teknologi, derasnya arus informasi, dan budaya pamer di media sosial sering membuat seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Akibatnya, banyak orang yang sebenarnya hidup berkecukupan justru merasa kurang, gelisah, iri, bahkan putus asa.
Padahal, Allah SWT telah melimpahkan nikmat yang tak terhitung jumlahnya kepada setiap hamba. Nikmat kesehatan, iman, keluarga, keamanan, ilmu, kesempatan beribadah, hingga udara yang dihirup setiap detik merupakan karunia besar yang sering terlupakan.
Dalam kondisi seperti inilah, Islam menghadirkan satu konsep agung yang menjadi sumber kebahagiaan sejati, yaitu syukur. Bersyukur bukan sekadar mengucapkan “Alhamdulillah”, tetapi merupakan sikap hati, lisan, dan perbuatan yang mengakui seluruh nikmat berasal dari Allah SWT serta menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada-Nya.
Syukur adalah kunci keberkahan hidup. Dengan syukur, hati menjadi tenang, rezeki menjadi berkah, hubungan sosial menjadi harmonis, dan manusia dijauhkan dari sifat serakah yang merusak kehidupan.
Makna Syukur dalam Islam
Secara bahasa, syukur berasal dari kata syakara yang berarti menampakkan nikmat dan mengakuinya.
Secara istilah syariat, syukur adalah:
“Mengakui nikmat Allah dengan hati, memuji-Nya dengan lisan, dan menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada-Nya.”
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga pilar utama:
1. Syukur dengan Hati
Yakni meyakini bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah semata.
Allah berfirman: “Dan segala nikmat yang ada padamu berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Orang yang bersyukur menyadari bahwa keberhasilannya bukan semata karena kecerdasannya, bukan karena kekuatannya, dan bukan karena usahanya saja. Semua itu terjadi karena pertolongan Allah.
2. Syukur dengan Lisan
Yaitu memuji Allah atas nikmat-Nya.
Allah berfirman: “Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya.” (QS. Ad-Dhuha: 11)
Bentuknya adalah memperbanyak ucapan: Alhamdulillah. Subhanallah wa bihamdih. Masya Allah. Tabarakallah dan berbagai pujian lainnya kepada Allah SWT.
3. Syukur dengan Amal
Inilah syukur yang paling sempurna.
Allah berfirman: “Bekerjalah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’: 13)
Nikmat harta digunakan untuk sedekah. Nikmat ilmu digunakan untuk mengajar. Nikmat jabatan digunakan untuk melayani masyarakat. Nikmat kesehatan digunakan untuk beribadah. Inilah hakikat syukur yang sesungguhnya.
Kedudukan Syukur dalam Al-Qur’an
Syukur merupakan tema yang sangat banyak disebut dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Ayat ini menunjukkan bahwa syukur merupakan lawan dari kufur nikmat.
Kufur tidak selalu berarti keluar dari Islam. Ada kufur nikmat, yaitu mengabaikan, melupakan, atau menyalahgunakan nikmat Allah.
Allah juga berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini merupakan salah satu janji Allah yang paling terkenal. Menariknya, Allah tidak menyebut jenis tambahan tersebut secara spesifik.
Karena itu para ulama menjelaskan bahwa tambahan bisa berupa: tambahan harta, tambahan kesehatan, tambahan ketenangan, tambahan ilmu, tambahan keberkahan, tambahan umur yang bermanfaat.
Sebaliknya Allah mengingatkan: “Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Mengapa Syukur Sangat Dicintai Allah?
Allah mencintai hamba yang bersyukur karena syukur menunjukkan pengakuan seorang hamba terhadap kebesaran Rabb-nya.
Ketika seseorang bersyukur, ia sedang berkata dalam hatinya: “Ya Allah, aku sadar semua ini berasal dari-Mu.”
Kesadaran inilah yang membuat manusia rendah hati. Sebaliknya, kesombongan muncul ketika seseorang merasa semua keberhasilan berasal dari dirinya sendiri.
Contohnya adalah Qarun. Ketika dinasihati agar bersyukur, ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)
Qarun menganggap kekayaannya hasil usahanya sendiri. Akibatnya Allah menenggelamkan dirinya beserta hartanya ke dalam bumi.
Rasulullah SAW: Teladan Agung dalam Bersyukur
Rasulullah SAW adalah manusia yang paling bersyukur. Padahal beliau telah dijamin ampunan dosa. Namun beliau tetap melakukan shalat malam hingga kakinya bengkak.
Ketika ditanya oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha mengapa beliau beribadah sedemikian berat, Rasulullah menjawab: “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa syukur bukan hanya ucapan. Syukur diwujudkan dengan ibadah yang sungguh-sungguh.
Semakin besar nikmat yang diterima seseorang, semakin besar pula rasa syukurnya kepada Allah.
Kisah Nabi Sulaiman: Raja yang Bersyukur
Nabi Sulaiman AS adalah salah satu manusia paling kaya dalam sejarah. Beliau memiliki kerajaan yang sangat luas.
Pasukan manusia, jin, dan burung tunduk kepadanya. Namun ketika melihat berbagai karunia tersebut, beliau tidak sombong.
Beliau berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat.” (QS. An-Naml: 40)
Perhatikan kalimat ini. Semakin besar nikmat, semakin besar ujian. Banyak orang mampu bertahan saat miskin.
Namun tidak sedikit yang gagal ketika kaya. Karena itu Nabi Sulaiman memandang kekuasaan sebagai ujian syukur.
Kisah Nabi Ayyub: Bersyukur Saat Diuji
Jika Nabi Sulaiman bersyukur ketika kaya, Nabi Ayyub bersyukur ketika diuji.
Beliau kehilangan: harta, kesehatan, anak-anak, kedudukan sosial.
Namun beliau tetap memuji Allah. Beliau tidak pernah menyalahkan takdir. Beliau tidak pernah berputus asa.
Karena kesabarannya, Allah mengembalikan seluruh nikmatnya dengan berlipat ganda. Kisah Nabi Ayyub mengajarkan bahwa syukur tidak hanya ketika senang.
Syukur juga harus hadir ketika menghadapi kesulitan. Syukur dan Kebahagiaan Menurut Ilmu Modern
Menariknya, berbagai penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa rasa syukur memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental.
Dalam kajian psikologi positif yang dipopulerkan oleh para peneliti seperti Robert Emmons dan Martin Seligman, ditemukan bahwa orang yang membiasakan diri menulis daftar rasa syukur memiliki: tingkat stres lebih rendah, kualitas tidur lebih baik, hubungan sosial lebih sehat, tingkat kebahagiaan lebih tinggi.
Fakta ini sejalan dengan ajaran Islam yang telah diajarkan lebih dari 1400 tahun lalu. Ketika seseorang fokus pada nikmat yang dimiliki, pikirannya menjadi lebih positif.
Sebaliknya, ketika fokus pada apa yang belum dimiliki, ia mudah kecewa.
Penyakit Serakah di Era Modern
Salah satu manfaat terbesar syukur adalah membentengi manusia dari sifat serakah.
Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah emas.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah tabiat manusia jika tidak dikendalikan iman. Keinginan tidak pernah berhenti.
Saat memiliki motor ingin mobil. Saat memiliki rumah ingin rumah lebih besar. Saat memiliki satu usaha ingin lebih banyak lagi.
Tidak ada yang salah dengan berkembang. Yang berbahaya adalah ketika keinginan membuat seseorang lupa bersyukur.
Hari ini budaya konsumtif semakin menguat. Media sosial membuat manusia terus membandingkan kehidupannya.
Orang melihat liburan orang lain. Melihat rumah orang lain. Melihat kendaraan orang lain. Melihat kesuksesan orang lain.
Lalu merasa hidupnya kurang. Padahal bisa jadi dirinya jauh lebih beruntung dibanding jutaan manusia lainnya.
Qanaah: Saudara Dekat Syukur
Syukur melahirkan qanaah. Qanaah adalah merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah sambil tetap berusaha. Qanaah bukan malas. Qanaah bukan menyerah. Qanaah adalah hati yang ridha.
Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qanaah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)
Orang yang qanaah tidak mudah iri. Ia tidak sibuk menghitung nikmat orang lain. Ia sibuk mensyukuri nikmatnya sendiri.
Bahaya Kufur Nikmat
Kebalikan dari syukur adalah kufur nikmat. Tanda-tandanya antara lain:
1. Selalu Mengeluh
Tidak pernah puas. Sedikit kekurangan menutupi banyak kelebihan.
2. Sombong
Merasa sukses karena kemampuan sendiri. Melupakan peran Allah.
3. Menggunakan Nikmat untuk Maksiat
Mata digunakan melihat yang haram. Lisan digunakan untuk fitnah. Harta digunakan untuk kemaksiatan.
4. Meremehkan Nikmat Kecil
Padahal nikmat kecil yang hilang sering baru disadari nilainya setelah lenyap.
Nikmat Sehat yang Sering Dilupakan
Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Kesehatan sering dianggap biasa. Padahal jutaan orang sedang berjuang melawan penyakit.
Saat seseorang mampu: berjalan, melihat, mendengar, berbicara, bernapas normal, sesungguhnya ia sedang menikmati nikmat yang sangat besar. Karena itu para ulama mengatakan:
“Nikmat terbesar setelah iman adalah kesehatan.”
Nikmat Iman Lebih Besar dari Segalanya
Banyak orang memiliki harta tetapi tidak memiliki ketenangan. Banyak orang memiliki jabatan tetapi tidak memiliki kebahagiaan.
Karena itu nikmat terbesar bukanlah kekayaan. Nikmat terbesar adalah iman.
Allah berfirman: “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (QS. Al-Hujurat: 7)
Bisa shalat. Bisa membaca Al-Qur’an. Bisa menghadiri majelis ilmu. Bisa mencintai Rasulullah. Semua itu adalah nikmat yang luar biasa.
Cara Menumbuhkan Rasa Syukur
1. Mengingat Nikmat Setiap Hari
Luangkan waktu beberapa menit untuk mengingat nikmat Allah. Tuliskan: kesehatan, keluarga, pekerjaan, ilmu, sahabat, kesempatan beribadah. Kebiasaan ini akan mengubah cara pandang terhadap hidup.
2. Melihat yang Lebih Sulit
Rasulullah SAW bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian dalam urusan dunia.” (HR. Muslim)
Tujuannya agar kita tidak meremehkan nikmat Allah.
3. Memperbanyak Sedekah
Sedekah melatih hati untuk tidak bergantung pada harta. Orang yang gemar berbagi lebih mudah bersyukur.
4. Memperbanyak Dzikir
Dzikir membuat hati selalu terhubung dengan Allah. Ucapan: Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar, akan menghidupkan kesadaran akan nikmat-Nya.
5. Menggunakan Nikmat untuk Kebaikan
Cara terbaik mensyukuri nikmat adalah memanfaatkannya dalam ketaatan. Syukur dalam Kehidupan Keluarga Keluarga yang dipenuhi syukur akan dipenuhi ketenangan.
Suami bersyukur atas istrinya. Istri bersyukur atas suaminya. Orang tua bersyukur atas anak-anaknya.
Anak bersyukur atas orang tuanya. Banyak konflik rumah tangga muncul karena masing-masing fokus pada kekurangan pasangan. Padahal syukur mengajarkan untuk melihat kebaikan yang masih ada.
Syukur dalam Kehidupan Sosial
Masyarakat yang bersyukur akan menjadi masyarakat yang harmonis. Mereka tidak mudah iri. Tidak mudah dengki. Tidak mudah menjatuhkan orang lain. Sebaliknya mereka senang melihat orang lain memperoleh nikmat.
Inilah salah satu ciri masyarakat yang sehat secara spiritual. Syukur dalam Kehidupan Berbangsa
Bangsa yang bersyukur akan menjaga nikmat persatuan. Indonesia dianugerahi: kekayaan alam, keberagaman budaya, jumlah penduduk besar, posisi strategis dunia. Semua itu adalah nikmat Allah yang harus dijaga.
Bersyukur sebagai bangsa berarti menggunakan seluruh potensi tersebut untuk kemaslahatan rakyat dan kemajuan negeri.
Pandangan Ibnul Qayyim tentang Syukur
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebut syukur sebagai setengah dari iman. Beliau menjelaskan bahwa agama berdiri di atas dua fondasi: Syukur. Sabar.
Saat memperoleh nikmat, seorang mukmin bersyukur. Saat memperoleh ujian, ia bersabar. Dengan dua sayap inilah seorang hamba terbang menuju ridha Allah.
Beliau juga menjelaskan: “Syukur dibangun di atas ketundukan hati, pengakuan terhadap nikmat, pujian kepada pemberi nikmat, dan tidak menggunakan nikmat dalam kemaksiatan.” Inilah hakikat syukur yang sempurna.
Teladan Para Ulama dalam Bersyukur
Para ulama salaf memiliki kebiasaan luar biasa dalam bersyukur. Sebagian mereka menangis ketika bangun pagi.
Saat ditanya alasannya, mereka menjawab: “Aku masih diberi kesempatan oleh Allah untuk beribadah hari ini.”
Mereka memandang satu hari kehidupan sebagai nikmat besar. Berbeda dengan banyak manusia yang bangun pagi justru mengeluh.
Bersyukur Menjelang Akhir Zaman
Di zaman modern, syukur menjadi ibadah yang semakin berat. Karena manusia hidup di tengah budaya perbandingan tanpa batas.
Setiap hari seseorang melihat kehidupan orang lain melalui layar ponsel. Akibatnya, hati mudah tidak puas.
Karena itu menjaga syukur hari ini adalah bentuk jihad melawan hawa nafsu. Orang yang mampu bersyukur di tengah derasnya godaan materialisme adalah orang yang sangat beruntung.
Penutup: Menjadi Hamba yang Bersyukur
Pada akhirnya, kehidupan manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa baik ia mensyukuri apa yang telah Allah berikan.
Orang yang bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk bahagia. Sebaliknya orang yang tidak bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk mengeluh.
Syukur menjadikan hati kaya meski harta sedikit. Syukur menghadirkan ketenangan di tengah kesulitan.
Syukur melahirkan qanaah dan mengusir keserakahan. Syukur mendatangkan tambahan nikmat dan keberkahan hidup.
Karena itu marilah kita menjadikan syukur sebagai karakter utama dalam kehidupan sehari-hari. Ketika bangun tidur, bersyukurlah. Ketika sehat, bersyukurlah. Ketika memperoleh rezeki, bersyukurlah. Bahkan ketika diuji sekalipun, tetaplah bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan untuk mendekat kepada-Nya.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur, sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah SAW:
“Ya Allah, bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.






