PIALA DUNIA DAN KECANDUAN JUDI: Ketika Hiburan Berubah Menjadi Penyakit Sosial

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar

Sepak bola adalah olahraga, bukan perjudian. Seharusnya, olahraga ini menumbuhkan sportivitas, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan hiburan yang sehat. Namun, di era digital, ajang besar seperti Piala Dunia kerap menjadi pintu masuk bagi normalisasi judi dan taruhan, terutama di kalangan Generasi Z dan milenial.

Bacaan Lainnya

Yang menjadi persoalan bukanlah pertandingannya, melainkan ketika pertandingan dijadikan sarana untuk mengejar keuntungan instan. Kini, praktik judi semakin mudah diakses melalui ponsel, media sosial, aplikasi daring, dan percakapan sehari-hari. Taruhan kecil yang semula dianggap sekadar iseng dapat berkembang menjadi kebiasaan, lalu berujung pada kecanduan.

Lebih memprihatinkan lagi, judi mulai dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan menghibur. Padahal, kebiasaan buruk yang dinormalisasi akan merusak moral generasi. Judi menanamkan pola pikir bahwa hasil dapat diperoleh tanpa proses, keuntungan tanpa kerja keras, dan kesenangan tanpa produktivitas.

Dampaknya tidak berhenti pada pelaku semata. Judi dapat merusak keharmonisan keluarga, memicu konflik, dan menyeret generasi muda ke dalam kebiasaan mengejar keuntungan cepat. Dalam Islam, judi dilarang karena membawa kerusakan moral, sosial, dan spiritual. Allah SWT. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ … فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُون

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, perjudian … Maka tidakkah kamu berhenti?”
(QS. Al-Maidah [5]: 90–91).

Ayat ini menegaskan bahwa judi bukan hanya haram, tetapi juga menimbulkan permusuhan serta menghalangi manusia dari mengingat Allah dan menunaikan salat.

Karena itu, euforia pertandingan seharusnya menjadi momentum muhasabah. Jangan sampai semangat mendukung tim favorit justru disertai taruhan dan melalaikan kewajiban ibadah. Sepak bola boleh menjadi hiburan, tetapi tidak boleh menjadi pintu masuk bagi kerusakan akhlak.

Generasi Z dan milenial merupakan penentu wajah Indonesia di masa depan. Jika mereka dibiasakan mencintai olahraga dengan menjunjung sportivitas, mereka akan tumbuh sehat secara jasmani dan rohani. Namun, jika judi dijadikan tren, yang lahir adalah generasi yang rapuh secara moral.

Mari wariskan budaya kompetisi, bukan taruhan; budaya prestasi, bukan spekulasi; budaya kerja keras, bukan keuntungan instan. Nikmatilah sepak bola dengan sportivitas, bukan dengan perjudian. Itulah kemenangan yang sesungguhnya.

#Wallahu A’lam Bishawab,

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *