Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F–PKS / Kalimantan Selatan I
Di dunia, kita takut menjadi miskin. Kita takut bangkrut, takut kehilangan rumah, usaha, dan tabungan. Kita kerja siang-malam agar rekening tidak kosong.
Tapi ada kebangkrutan yang jauh lebih mengerikan, yang tidak terlihat di dunia, tapi baru terasa penyesalannya di Akhirat. Rasulullah SAW menyebutnya dengan istilah AL-MUFLIS.
Siapa Dia?1. Definisi Muflis yang Sesungguhnya
Muflis secara bahasa artinya orang yang bangkrut, tidak punya dirham dan harta.
Namun dalam pandangan syariat, Muflis adalah orang yang datang di hari kiamat dengan gunungan pahala, tapi semua pahala itu habis untuk membayar hutang kezalimannya kepada manusia.
Ini dijelaskan langsung oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang sangat masyhur:
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”
Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta.”
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencaci si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si ini. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si ini, dan si ini. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan / dosa yang dimiliki oleh orang-orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepada dirinya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.”
(HR. Muslim No. 2581)
Hadits ini menampar kita. Ternyata shalat kita yang rajin, puasa sunnah kita, tahajud kita di sepertiga malam, sedekah kita, bisa ludes seketika. Bukan karena tidak diterima Allah, tapi karena kita transfer paksa kepada orang lain akibat lisan dan perbuatan kita.
2. Dalil Al-Qur’an Tentang Bahaya Kezaliman
Allah Ta’ala sangat keras memperingatkan tentang kezaliman, terutama kezaliman terhadap hak sesama manusia (Haqqul Adami).
a. Orang Zalim Tidak Akan Beruntung
“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak mendapat keberuntungan.” (QS. Al-An’am: 21)
Sehebat apapun strategi hidupnya di dunia, jika ia zalim, ia tidak akan beruntung di akhirat.
b. Laknat Allah Bagi Orang Zalim
“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 18)
Laknat artinya dijauhkan dari rahmat Allah.
c. Semua Tercatat, Bahkan Satu Kata
Inilah mekanisme pengawasannya:
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)
Di zaman ini, bukan hanya ucapan. Termasuk ketikan jari, komentar, status, story, dan share.
d. Jangan Merasa Aman Jika Zalim
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)
3. Mekanisme Pengadilan Akhirat: Transfer Pahala
Inilah keadilan Allah yang paling presisi. Di dunia, hutang bisa dibayar dengan uang. Di akhirat, mata uangnya adalah PAHALA dan DOSA.
Alur pengadilan orang Muflis:
1. Didatangkan Pelaku dan Korban
Allah hadirkan orang yang rajin ibadah, tapi juga hadirkan orang-orang yang pernah ia sakiti.
2. Tahap Qishas Pahala
Pahala shalat, puasa, haji pelaku diambil dan diberikan kepada korban sesuai kadar kezalimannya. Bayangkan, pahala tahajud 10 tahun bisa hilang hanya karena satu fitnah.
3. Jika Pahala Habis
Jika korban masih banyak dan pahala pelaku sudah habis, maka dosa-dosa korban diambil dan ditimpakan kepada pelaku.
4. Akhir Tragis.
Pelaku yang awalnya ahli ibadah, dilemparkan ke Neraka karena menanggung dosa orang lain. Audzubillahiminzalik.
Ini beda dengan dosa kepada Allah (Haqqullah). Jika kita tinggalkan shalat, kita bisa taubat, istighfar, Allah Maha Pengampun. Tapi jika kita hutang kepada manusia, Allah tidak akan memaafkan sebelum orang tersebut memaafkan kita.
4. Kisah Sejarah: Cerminan Muflis di Zaman Dahulu
a. Kisah di Zaman Rasulullah SAW:
Ada seorang wanita yang terkenal rajin shalat malam, puasa sunnah, dan banyak sedekah. Para sahabat memujinya di hadapan Rasulullah.
Tapi Rasulullah bertanya, “Bagaimana hubungannya dengan tetangganya?” Sahabat menjawab, “Ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Dia di Neraka.” (HR. Ahmad).
Sebaliknya, ada wanita yang shalatnya hanya yang wajib, puasanya hanya Ramadhan, sedekahnya hanya sedikit, tapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda, “Dia di Surga.”
Pelajaran: Ibadah sosial menentukan nasib ibadah ritual
b. Kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz:
Beliau adalah khalifah yang sangat takut menjadi Muflis. Ketika ada yang meng-ghibahinya, beliau justru memberi hadiah kurma kepada orang tersebut dan berkata, “Kau telah menghadiahkan pahalamu kepadaku, maka ini sebagai balasannya.” Beliau paham, ghibah adalah transfer pahala gratis.
c. Kisah Imam Syafi’i:
Imam Syafi’i pernah berkata, “Jika engkau ingin membalas orang yang menyakitimu, cukup renungkan bahwa Allah akan mengambilkan hakmu. Jika kau tidak membalas dengan kezaliman lagi, maka di akhirat kau akan menjadi orang yang untung, mengambil pahala orang yang menzalimimu.”
5. Konteks Kekinian: Muflis di Era Jempol dan Layar
Dulu, kezaliman lisan butuh tatap muka. Sekarang, kezaliman bisa dilakukan sambil rebahan.
Inilah wajah-wajah Muflis modern yang sering tidak kita sadari:
1. Muflis Karena Jari: Netizen Budiman yang Budinya Hilang
Kita rajin shalat 5 waktu, tapi di kolom komentar kita adalah algojo. Mencaci artis, menghina ulama, memfitnah pejabat, menuduh orang tanpa tabayyun. Mengetik “Sok alim lu!” “Dasar penipu!” Komentar itu tidak hilang. Malaikat Raqib mencatat, dan di akhirat pemilik akun akan menagih pahala kita.
Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi)
2. Muflis Karena Ghibah Online (Share & Story)
Dulu ghibah di warung kopi. Sekarang ghibah di grup WhatsApp keluarga, grup kantor, second account Instagram. Screenshot aib orang, menyebar video perselingkuhan, membuka aib rumah tangga orang di Facebook. Kita merasa hanya “memberi informasi”, padahal kita sedang mentransfer pahala kita.
3. Muflis Karena Memakan Harta Orang Lain Secara Halus
Bukan hanya merampok. Tapi juga: tidak membayar hutang padahal mampu, menahan gaji karyawan, korupsi waktu kerja, mengurangi takaran jualan online, tidak amanah dalam arisan, pinjol yang tidak dibayar sengaja, dan memakan harta warisan saudara.
Di dunia mungkin lolos hukum, di akhirat harus bayar dengan pahala.
4. Muflis Karena Merasa Paling Benar (Tuduh Menuduh)
Fenomena tabdi’, takfiri, dan cancel culture. Mudah menuduh orang “munafik”, “kafir”, “sesat”, “penjilat” hanya karena beda pilihan politik atau beda manhaj. Padahal tuduhan itu akan kembali kepada penuduh jika tidak terbukti.
5. Muflis di Rumah Tangga
Seorang suami yang rajin ke masjid tapi lisannya kasar kepada istri, suka memukul. Seorang istri yang rajin pengajian tapi suka menghina suami dan membuka aib suami di depan teman-temannya. Pahala pengajiannya bisa bangkrut di hadapan suaminya/istrinya.
6. Bagaimana Agar Tidak Menjadi Muflis?
Maka sebelum lisan berbicara, sebelum jari-jari menulis, dan sebelum kaki melangkah, tahanlah diri.
1. Tahan Lisan dan Jari
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim). Jika tidak bisa berkata baik, lebih baik diam, tidak usah komentar.
2. Segera Minta Maaf dan Halalkan (Istihlal).
Jika pernah menzalimi, datangi orangnya sekarang, selagi masih di dunia. Minta maaf. Rasulullah bersabda, “Siapa yang pernah berbuat zalim kepada saudaranya, hendaklah segera meminta dihalalkan, sebelum datang hari di mana tidak ada dinar dan dirham.” (HR. Bukhari).
3. Perbanyak Istighfar untuk Orang yang Kita Zalimi
Jika orangnya sudah jauh, sudah meninggal, atau malu untuk meminta maaf, doakan kebaikan untuknya, sebut kebaikannya di tempat kita pernah meng-ghibahinya.
4. Jaga Shalat Malam Sebagai Muhasabah
Di sepertiga malam, saat Qiyamul Lail, bukan hanya minta rezeki. Tapi muhasabah: “Ya Allah, siapa yang hari ini aku sakiti dengan lisanku?”
Penutup:
Jangan sampai kita menjadi orang yang lelah beribadah 60 tahun, tapi di akhirat kita menjadi orang yang paling miskin. Kita datang dengan pahala sebesar gunung Uhud, tapi habis untuk membayar caci maki, ghibah, dan kezaliman yang kita anggap sepele di dunia.
Semoga Allah jaga lisan kita, jaga jari kita, dan jaga hati kita dari kezaliman terhadap sesama.
Wallahu A’lam Bisshawab.






