Tragedi di Durian Tinggalang, Warga Bawan Desak Rambu dan Lampu Jalan Dibenahi: Jangan Tunggu Korban Berikutnya!

Anak korban kecelakaan dirawat di rumah sakit (foto: naumi)

AGAM, SUMATERA BARAT – BELA RAKYAT – Malam itu seharusnya menjadi waktu bagi sebuah keluarga untuk beristirahat dan berkumpul dengan tenang di rumah. Namun, Jumat malam, 7 Agustus 2026, suasana di Durian Tinggalang, Jorong Lubuk Aluang, Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, justru berubah menjadi kepanikan.

Suara benturan kendaraan dan jeritan warga memecah malam. Situasi kacau.

Yarni Yunita, warga Durian Tinggalang, bersama tiga orang anaknya menjadi korban kecelakaan lalu lintas yang kembali terjadi di kawasan tersebut. Peristiwa itu menyisakan luka fisik sekaligus kepedihan yang kembali mengingatkan masyarakat akan persoalan keselamatan di jalur lintas Padang-Pasaman.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, Yarni bersama anak-anaknya mengalami kecelakaan ketika hendak memasuki area pekarangan rumahnya. Mereka ditabrak sepeda motor lain yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Akibat kejadian tersebut, Yarni mengalami patah tulang pada bagian kaki, luka lebam di tubuh serta luka pada bagian mulut. Salah seorang anaknya mengalami patah tulang, sementara dua anak lainnya mengalami luka pada bagian kaki dan tangan.

Yarni dan anak-anaknya kemudian dirujuk untuk mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Kartika, Kota Padang.

Di balik peristiwa tersebut, ada satu pertanyaan yang terus menghantui masyarakat Bawan:

Sampai kapan warga harus menjadi korban sebelum keselamatan benar-benar menjadi perhatian?

Bagi masyarakat Durian Tinggalang, kecelakaan ini bukan sekadar angka dalam catatan peristiwa lalu lintas. Ini adalah tentang seorang ibu yang harus menanggung sakit, tentang anak-anak yang harus merasakan luka, dan tentang sebuah keluarga yang malam itu harus berhadapan dengan situasi yang sama sekali tidak mereka inginkan.

Lebih menyedihkan lagi, masyarakat menyebut kecelakaan lalu lintas di kawasan tersebut bukanlah peristiwa yang baru terjadi sekali.

Jalan Nasional, tetapi Keselamatan Warga Masih Dipertaruhkan

Jalur lintas Padang-Pasaman yang melewati kawasan tersebut merupakan jalur penting yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat. Kendaraan melintas setiap hari, dengan aktivitas lalu lintas yang cukup padat.

Namun, masyarakat menilai kondisi sarana keselamatan lalu lintas di sejumlah titik masih membutuhkan perhatian serius.

Minimnya rambu-rambu lalu lintas dan penerangan jalan menjadi salah satu keresahan warga, khususnya pada malam hari.

Ketika malam turun dan jalan menjadi gelap, pengguna jalan harus mengandalkan kewaspadaan masing-masing. Di sisi lain, aktivitas warga yang tinggal di sepanjang jalan nasional tersebut tetap berlangsung.

Rumah-rumah warga berada tidak jauh dari badan jalan. Anak-anak, orang tua, pedagang, pekerja, hingga masyarakat yang hendak masuk dan keluar dari pekarangan rumah harus berhadapan langsung dengan arus kendaraan yang melintas.

Kondisi inilah yang membuat masyarakat meminta pemerintah tidak menunggu sampai terjadi korban berikutnya.

Wani Yurisa: Jangan Tunggu Ada Korban Lagi

Generasi muda Nagari Bawan, Wani Yurisa, menyampaikan aspirasi masyarakat agar persoalan keselamatan lalu lintas di kawasan tersebut segera mendapatkan perhatian pemerintah.

Ia meminta pemerintah daerah maupun pemerintah pusat melengkapi fasilitas keselamatan lalu lintas, terutama rambu-rambu, penerangan jalan, serta penanda kawasan sekolah.

“Kami memohon kepada Pemda Agam dan pemerintah pusat agar melengkapi sarana dan prasarana keselamatan lalu lintas, mulai dari rambu lalu lintas, penerangan jalan, hingga penanda zona area sekolah,” ujar Wani kepada kontributor Bela Rakyat di Agam, Sumatera Barat, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Wani, perhatian tersebut sangat penting mengingat jalur yang dilalui masyarakat memiliki aktivitas permukiman dan fasilitas publik.

Masyarakat juga mengusulkan adanya penanda zona sekolah sepanjang kurang lebih tiga kilometer, terutama pada jalur Durian Tinggalang hingga Puskesmas Bawan.

Harapan Wani sama demgan warga lainnya smagat sederhana: pengendara mengetahui bahwa mereka sedang memasuki kawasan yang banyak digunakan masyarakat, sehingga kecepatan kendaraan dapat dikendalikan dan risiko kecelakaan bisa ditekan.

Tiga Kilometer yang Mempertaruhkan Keselamatan

Permintaan masyarakat sebenarnya bukan sesuatu yang berlebihan. Mereka tidak meminta jalan yang mewah. Tidak pula meminta fasilitas yang berlebihan.

Mereka hanya ingin jalan yang mereka lewati setiap hari memiliki tanda yang jelas. Ada rambu ketika pengendara harus memperlambat kendaraan.

Ada lampu ketika malam tiba. Ada penanda ketika memasuki kawasan sekolah. Ada peringatan ketika mendekati permukiman.

Dan yang paling penting, ada rasa aman bagi warga yang rumahnya berada di sepanjang jalur tersebut.

Sebab bagi masyarakat yang tinggal di tepi jalan nasional, jalan bukan hanya tempat kendaraan berlalu-lalang. Jalan adalah bagian dari kehidupan mereka.

Di jalan itu anak-anak berangkat sekolah. Di jalan itu orang tua pergi bekerja. Di jalan itu warga membawa keluarga berobat. Di jalan itu pula masyarakat keluar masuk rumah setiap hari.

Karena itu, keselamatan di jalan bukan sekadar urusan pengendara. Ini adalah persoalan keselamatan masyarakat.

Jangan Sampai Kecelakaan Menjadi Hal Biasa

Kecelakaan seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Setiap kecelakaan meninggalkan cerita.

Ada keluarga yang menunggu kepulangan orang tercinta. Ada anak yang kehilangan rasa aman.

Ada orang tua yang harus mengeluarkan biaya pengobatan. Ada aktivitas pekerjaan yang terganggu.

Dan ada trauma yang terkadang jauh lebih panjang daripada luka fisik. Karena itu, ketika masyarakat mengatakan bahwa kecelakaan di kawasan tersebut telah berulang kali terjadi, keluhan itu semestinya tidak dianggap sebagai persoalan biasa.

Justru sebaliknya, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Apakah penerangan sudah memadai? Apakah rambu-rambu sudah cukup? Apakah batas kecepatan dan marka jalan terlihat jelas?

Pertanyaan selanjutnya, apakah kawasan permukiman dan sekolah sudah memiliki penanda keselamatan? Apakah titik-titik rawan kecelakaan sudah dipetakan dan mendapatkan perlakuan khusus?

Pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan jawaban dan tindakan nyata.

Dari Agam, Warga Mengirim Pesan Sederhana

Masyarakat Nagari Bawan tidak sedang mencari siapa yang harus disalahkan. Mereka sedang meminta agar pemerintah hadir sebelum ada korban berikutnya.

Pemerintah Kabupaten Agam, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, kementerian terkait, serta instansi yang memiliki kewenangan terhadap jalan nasional diharapkan dapat duduk bersama melihat langsung kondisi kawasan Durian Tinggalang hingga Puskesmas Bawan.

Permintaan warga juga menyasar pemasangan rambu lalu lintas, penerangan jalan, marka dan penanda kawasan rawan kecelakaan, termasuk zona sekolah.

Langkah tersebut diharapkan bukan hanya menjadi respons sesaat setelah kecelakaan terjadi, tetapi menjadi bagian dari upaya pencegahan jangka panjang.

Sebab prinsip keselamatan lalu lintas seharusnya bukan menunggu kecelakaan, kemudian bertindak. Tetapi mencegah kecelakaan sebelum terjadi.

Yarni dan Anak-anaknya Harus Menjadi Pengingat

Kini Yarni Yunita dan anak-anaknya sedang menjalani perawatan. Luka mereka mungkin akan sembuh.

Patah tulang mungkin dapat dipulihkan. Lebam akan menghilang.

Luka pada tubuh pada suatu hari nanti mungkin tinggal menjadi kenangan.

Tetapi bagi masyarakat Durian Tinggalang, peristiwa Jumat malam itu seharusnya tidak berhenti sebagai sebuah berita kecelakaan.

Peristiwa tersebut harus menjadi pengingat. Pengingat bahwa keselamatan masyarakat tidak boleh menunggu korban berikutnya.

Pengingat bahwa sebuah lampu penerangan bisa membantu seorang pengendara melihat jalan. Sebuah rambu dapat membuat pengendara mengurangi kecepatan.

Sebuah penanda zona sekolah dapat menyelamatkan seorang anak. Dan satu tindakan pencegahan yang dilakukan hari ini bisa jadi menyelamatkan satu keluarga dari tragedi esok hari.

Masyarakat Nagari Bawan berharap pemerintah mendengar suara mereka.Bukan karena mereka ingin meminta sesuatu yang istimewa.

Mereka hanya ingin satu hal yang sangat sederhana: ketika malam datang, ketika kendaraan melintas, dan ketika anak-anak mereka pulang ke rumah, mereka ingin semuanya bisa sampai dengan selamat.

Karena di balik setiap rumah di pinggir jalan, ada keluarga yang sedang menunggu.

Dan setiap keluarga berhak menunggu orang-orang yang mereka cintai pulang dengan selamat.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *