JAKARTA – BELA RAKYAT – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia meluncurkan 10 buku yang merangkum perjalanan pemikiran, pengalaman, serta karya-karyanya dalam membangun investasi, hilirisasi sumber daya alam, hingga transformasi sektor energi.
Peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari peringatan ulang tahun Bahlil Lahadalia yang ke-50. Acara tersebut dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto serta sejumlah tokoh nasional.
Kumpulan buku tersebut diberi semangat besar tentang pengabdian dan karya nyata untuk Indonesia. Buku-buku itu merekam berbagai pengalaman Bahlil ketika dipercaya memimpin Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sebelum kemudian dipercaya memimpin Kementerian ESDM.
Bagi Bahlil, buku bukan sekadar dokumentasi perjalanan karier. Buku menjadi ruang untuk menuangkan pengalaman, gagasan, keberhasilan, sekaligus evaluasi dan otokritik terhadap berbagai kebijakan yang telah dijalankan.
Awalnya Hanya Ingin Menerbitkan Delapan Buku
Dalam sambutannya, Bahlil mengungkapkan bahwa pada awalnya ia hanya memiliki rencana menerbitkan delapan buku.
Namun, dalam proses penyusunan dan pengembangan gagasan, jumlah tersebut bertambah menjadi 10 buku.
Sepuluh buku tersebut merupakan rangkuman perjalanan panjang Bahlil dalam mengawal sejumlah agenda strategis pemerintah, terutama investasi dan hilirisasi.
Bahlil tidak menjelaskan seluruh isi dari 10 buku tersebut secara mendetail dalam sambutannya. Namun, ia menguraikan sejumlah buku yang menurutnya memiliki keterkaitan erat dengan pengalaman selama menjalankan tugas pemerintahan.
Salah satunya adalah buku “Hilirisasi Sumber Daya Alam Indonesia: Transformasi dan Mandat Konstitusi.”
Buku tersebut lahir dari pengalaman pemerintah ketika mengambil keputusan menghentikan ekspor bijih nikel pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Bahlil menceritakan bahwa pada periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo, dirinya mendapatkan perintah untuk ikut mengawal penghentian ekspor nikel, meskipun kewenangan teknis terkait kebijakan tersebut berada di Kementerian ESDM.
Keputusan tersebut kemudian menghadirkan berbagai tantangan dan tekanan, termasuk gugatan hingga ke Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO.
Namun, kebijakan tersebut menurut Bahlil menjadi salah satu tonggak penting dalam mendorong hilirisasi sumber daya alam Indonesia.
Kisah di Balik Kawasan Industri Terpadu Batang
Buku kedua berjudul “Batang Magnet Investasi: Kisah di Balik Lahirnya Kawasan Industri Terpadu Batang.”
Bahlil mengisahkan proses pemerintah dalam membangun Kawasan Industri Terpadu Batang.
Menurutnya, gagasan tersebut tidak terlepas dari evaluasi pemerintah terhadap kegagalan Indonesia menarik relokasi industri pada masa perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Ketika sejumlah perusahaan global mencari lokasi baru untuk memindahkan kegiatan industrinya, Indonesia justru harus bersaing ketat dengan negara-negara lain, termasuk Vietnam.
Salah satu persoalannya adalah harga lahan kawasan industri di Indonesia yang dinilai jauh lebih mahal dibandingkan Vietnam.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah mencari terobosan agar Indonesia mampu menjadi tujuan investasi industri global.
Kawasan Industri Terpadu Batang kemudian menjadi salah satu jawaban atas tantangan tersebut.
“Seni Menuntaskan Misi” dan Penguatan Kementerian Investasi
Buku ketiga berjudul “Seni Menuntaskan Misi.”
Buku tersebut menceritakan upaya Bahlil memperkuat peran Kementerian Investasi.
Bahlil mengungkapkan bahwa ketika dirinya mulai menjalankan tugas di bidang investasi, kementerian tersebut dinilainya masih lebih banyak berfungsi sebagai front office bagi investor.
Menurut Bahlil, lembaga investasi tidak cukup hanya menerima dan memfasilitasi investor.
Pemerintah harus mampu memastikan investasi yang masuk benar-benar memberikan manfaat bagi perekonomian nasional, membuka lapangan pekerjaan, mendorong pertumbuhan industri, serta menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Meletakkan Fondasi Ekosistem Kendaraan Listrik
Buku lainnya adalah “Menanam Fondasi Kendaraan Listrik Nasional.”
Dalam buku tersebut, Bahlil mengisahkan proses panjang pemerintah melakukan negosiasi untuk membangun ekosistem industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.
Salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut adalah kerja sama dengan Hyundai.
Menurut Bahlil, membangun industri kendaraan listrik tidak cukup dengan menghadirkan pabrik kendaraan.
Indonesia membutuhkan ekosistem dari hulu hingga hilir, termasuk bahan baku, pengolahan mineral, baterai, kendaraan listrik, hingga industri pendukung.
Karena itu, pembangunan ekosistem kendaraan listrik menjadi bagian dari strategi hilirisasi sumber daya alam Indonesia.
“Tuan di Negeri Sendiri”, Refleksi Sekaligus Otokritik
Salah satu buku yang mendapat perhatian adalah “Tuan di Negeri Sendiri.”
Bahlil menyebut buku tersebut sebagai refleksi sekaligus otokritik terhadap pelaksanaan program hilirisasi nasional.
Menurutnya, hilirisasi bukan sekadar membangun pabrik pengolahan mineral.
Hilirisasi harus mampu menciptakan kedaulatan ekonomi, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, menciptakan lapangan pekerjaan, dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada rakyat Indonesia.
Gagasan tersebut, kata Bahlil, juga berangkat dari arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya membangun kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya alam.
Hilirisasi kemudian ditempatkan sebagai salah satu instrumen utama untuk mewujudkan kedaulatan tersebut.
Namun, Bahlil juga mengakui bahwa proses hilirisasi masih memiliki berbagai persoalan yang harus diperbaiki.
Persoalan lingkungan, keterlibatan pengusaha daerah, hingga keselamatan kerja menjadi bagian dari evaluasi yang harus diperhatikan dalam perjalanan hilirisasi nasional.
Rosan Roeslani: Bahlil Punya Kegigihan dan Kemampuan Silaturahmi
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani memberikan testimoni mengenai perjalanan panjangnya mengenal Bahlil Lahadalia.
Rosan mengaku telah mengenal Bahlil selama lebih dari 20 tahun, bahkan sejak sebelum Bahlil menjadi Ketua HIPMI Papua.
Menurut Rosan, perjalanan Bahlil menunjukkan kegigihan, kecerdikan, serta kemampuan membangun hubungan dan silaturahmi dengan berbagai pihak.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu kekuatan Bahlil dalam membangun pengaruh dan memperjuangkan kepentingan investasi Indonesia.
Rosan juga mengapresiasi fondasi kuat yang telah diletakkan Bahlil di Kementerian Investasi.
Baginya, fondasi tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan kebijakan investasi dan hilirisasi Indonesia.
Luhut: Bahlil Bekerja Seperti Smelter 24 Jam
Testimoni juga datang dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi periode sebelumnya, Luhut Binsar Pandjaitan.
Luhut memberikan apresiasi terhadap etos kerja Bahlil. Ia menggambarkan Bahlil sebagai sosok yang bekerja tanpa mengenal lelah, bahkan dianalogikan seperti smelter yang beroperasi selama 24 jam.
Bagi Luhut, karakter kerja keras tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Bahlil mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya.
Luhut juga menyoroti keberanian Bahlil dalam memperjuangkan agenda hilirisasi.
Salah satu contoh paling penting adalah perjuangan menghentikan ekspor bijih nikel.
Kebijakan tersebut sempat mendapatkan protes keras dan bahkan berujung pada sengketa di WTO.
Namun, menurut Luhut, keberanian mengambil keputusan tersebut kemudian menghasilkan perubahan besar.
Ekspor produk nikel olahan mengalami peningkatan berlipat ganda dan mendorong pertumbuhan ekonomi di sejumlah kawasan, termasuk Morowali dan Halmahera Tengah.
Luhut Apresiasi Kejujuran Bahlil Mengkritik Hilirisasi
Menariknya, Luhut tidak hanya memuji capaian Bahlil. Ia juga mengapresiasi keberanian Bahlil menuliskan berbagai kekurangan dalam proses hilirisasi di dalam bukunya.
Lebih lanjut Luhut menjelaskan, persoalan lingkungan, porsi pengusaha daerah, serta keselamatan kerja harus menjadi perhatian serius.
Karena itu, buku Bahlil tidak hanya berisi keberhasilan, tetapi juga menyimpan catatan evaluasi terhadap kebijakan yang telah berjalan.
Bagi Luhut, sikap tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada angka investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan juga harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat.
Prabowo: Kepemimpinan Dibentuk oleh Kesulitan
Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya memberikan pandangan mengenai perjalanan kepemimpinan Bahlil.
Prabowo menekankan bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir semata-mata karena warisan atau privilese.
Prabowo mengungkapkan, seorang pemimpin dibentuk melalui kesulitan, penderitaan, perjuangan, dan kerja keras.
Dalam konteks tersebut, perjalanan hidup Bahlil menjadi salah satu gambaran bagaimana seseorang dapat tumbuh dari berbagai keterbatasan hingga mencapai posisi strategis di pemerintahan.
Prabowo juga memberikan apresiasi terhadap keberanian, kecerdasan, serta kecerdikan politik Bahlil.
Atas kinerjanya di kabinet, Prabowo memberikan penilaian “memuaskan.”
Prabowo Soroti Kedaulatan dan Kinerja Pemerintahan
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyampaikan sejumlah capaian pemerintah yang berkaitan dengan agenda kedaulatan dan pembangunan nasional.
Ia menyinggung kesiapan serta ketahanan pangan nasional di tengah situasi krisis dunia.
Selain itu, stabilitas subsidi energi dan bahan bakar minyak juga menjadi salah satu perhatian pemerintah.
Prabowo turut menyoroti perkembangan Badan Pengelola Investasi Danantara yang menurutnya menunjukkan peningkatan pendapatan secara signifikan.
Di sektor pembangunan, pemerintah juga terus mendorong pembangunan infrastruktur desa, penanganan ribuan jembatan, serta perbaikan puluhan ribu sekolah dan puskesmas di berbagai daerah.
Berbagai agenda tersebut, menurut Prabowo, merupakan bagian dari upaya membangun Indonesia yang lebih kuat dan mandiri.
“Love Your People”
Di bagian akhir sambutannya, Prabowo menyampaikan pesan kepemimpinan yang sederhana namun mendalam.
Ia mengingatkan kembali ajaran para seniornya: “Love your people.” Cintai rakyat.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa seluruh jabatan publik pada akhirnya merupakan amanah untuk melayani masyarakat.
Prabowo juga mengingatkan pentingnya menggunakan akal sehat dalam mengambil keputusan.
Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan tidak hanya terlihat dari angka makroekonomi, investasi, maupun pertumbuhan industri.
Yang tidak kalah penting adalah memastikan rakyat kecil dapat merasakan manfaat pembangunan.
Pemimpin harus mampu membuat orang kecil tersenyum dan tertawa.
10 Buku yang Diluncurkan Bahlil Lahadalia
Sepuluh buku yang diluncurkan Bahlil Lahadalia dalam momentum ulang tahunnya yang ke-50 tersebut adalah:
1. Hilirisasi SDA Indonesia: Transformasi dan Mandat Konstitusi
2. Batang Magnet Investasi: Kisah di Balik Lahirnya Kawasan Industri Terpadu Batang
3. Investasi Inklusif dan Berkelanjutan: Konsep dan Capaian
4. Koboi dari Timur Jaring Investasi
5. Bertahan, Berjejaring, Bertindak
6. Tuan di Negeri Sendiri
7. Seni Menuntaskan Misi
8. Transformasi Energi Negeri: Resiliensi, Transisi Energi, dan Hilirisasi
9. Seorang yang Terlanjur Disimpulkan
10. Menanam Fondasi Kendaraan Listrik Nasional
Setelah peluncuran, acara dilanjutkan dengan agenda bedah buku.
Bukan Sekadar Buku, tetapi Catatan Perjalanan
Peluncuran 10 buku tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun Bahlil Lahadalia yang ke-50.
Lebih dari itu, buku-buku tersebut menjadi dokumentasi perjalanan seorang tokoh dari Indonesia Timur yang kemudian dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis dalam pemerintahan.
Dari investasi, kawasan industri, hilirisasi, kendaraan listrik, hingga energi, pengalaman Bahlil dituangkan dalam berbagai perspektif.
Ada kisah keberhasilan, perjuangan, negosiasi, keputusan sulit, hingga kritik terhadap kebijakan yang masih harus diperbaiki.
Di tengah agenda besar Indonesia menuju industrialisasi dan kedaulatan ekonomi, kumpulan buku tersebut menjadi catatan mengenai bagaimana kebijakan publik dirumuskan dan dijalankan dari dalam pemerintahan.
Bahlil sendiri menempatkan hilirisasi sebagai salah satu agenda penting masa depan Indonesia.
Sumber daya alam, menurut gagasan yang dituangkan dalam buku-bukunya, tidak seharusnya hanya keluar dari Indonesia dalam bentuk bahan mentah.
Nilai tambah harus diciptakan di dalam negeri. Lapangan kerja harus dibuka di Indonesia. Industri harus tumbuh di Indonesia.
Dan pada akhirnya, rakyat Indonesia harus menjadi pihak yang paling merasakan manfaatnya.
Momentum usia setengah abad Bahlil Lahadalia pun menjadi titik untuk melihat kembali perjalanan tersebut sekaligus membuka ruang evaluasi tentang pekerjaan besar yang masih harus diselesaikan.
Sebab, sebagaimana pesan Presiden Prabowo, jabatan dan kekuasaan pada akhirnya bukan tentang diri sendiri, melainkan tentang bagaimana seorang pemimpin mampu mencintai rakyat dan membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.






