Nasihat untuk Istri: Jadi Penyejuk Hati, Penjaga Rumah Tangga dan Jalan Menuju Surga

Habib Aboe Bersama istri Fitrita Hasan Basri

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia berpasang-pasangan agar saling mencintai, menyayangi, dan menenangkan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam membangun rumah tangga yang penuh kasih sayang.

Bacaan Lainnya

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan pernikahan bukan sekadar memenuhi kebutuhan biologis, tetapi menghadirkan sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang).

Rumah tangga yang bahagia bukan dibangun oleh harta yang melimpah, rumah yang mewah, atau kendaraan yang mahal. Banyak keluarga yang kaya justru dipenuhi pertengkaran. Sebaliknya, tidak sedikit keluarga sederhana yang hidup damai karena dibangun di atas iman dan akhlak.

Di balik laki-laki yang kuat sering kali ada seorang istri yang salehah. Sebaliknya, banyak laki-laki kehilangan semangat hidup ketika rumahnya tidak lagi menjadi tempat pulang yang menenangkan.

1. Sambutlah Suamimu dengan Senyuman

Saat suami pulang bekerja, mungkin ia telah menghadapi kemacetan, tekanan pekerjaan, masalah ekonomi, dan berbagai beban kehidupan.

Bukankah indah apabila pintu rumah dibuka oleh seorang istri dengan wajah yang berseri?

Rasulullah ﷺ bersabda: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

Jika kepada orang lain saja senyum bernilai sedekah, maka terlebih lagi kepada pasangan hidup.

Sering kali kebahagiaan rumah tangga bukan berasal dari hadiah mahal, tetapi dari sambutan sederhana:

“Assalamu’alaikum, Abi… bagaimana harimu?”

Kalimat yang singkat, tetapi mampu menghapus kelelahan.

2. Berhiaslah untuk Suamimu

Islam tidak melarang wanita berhias. Justru berhias untuk suami termasuk bentuk ibadah apabila diniatkan mencari ridha Allah.

Allah berfirman:

“Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya?” (QS. Al-A’raf: 32)

Diriwayatkan bahwa para sahabat pun menganjurkan seorang istri berhias untuk suaminya sebagaimana suami juga diperintahkan menjaga penampilan untuk istrinya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku senang berhias untuk istriku sebagaimana aku senang istriku berhias untukku.”

Ini menunjukkan bahwa hubungan suami istri adalah hubungan timbal balik.

Maka gunakan pakaian terbaik di rumah, wewangian yang halal, menjaga kebersihan tubuh, serta wajah yang ceria.

Jangan sampai penampilan terbaik hanya diberikan kepada media sosial, sedangkan di depan suami justru tampil seadanya.

3. Jagalah Lisan

Allah berfirman:

“Maka janganlah kamu melembutkan suara sehingga berkeinginanlah orang yang di dalam hatinya ada penyakit.” (QS. Al-Ahzab: 32)

Ayat ini mengajarkan adab berbicara dengan laki-laki yang bukan mahram. Sebaliknya, kepada suami hendaknya berbicara dengan penuh kelembutan.

Berapa banyak rumah tangga hancur bukan karena ekonomi, tetapi karena ucapan yang menyakitkan.

Satu kalimat kasar terkadang membekas bertahun-tahun.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau diam.”

4. Jadilah Penenang, Bukan Penambah Beban

Allah menciptakan istri sebagai pakaian bagi suami.

Allah berfirman:

“Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Pakaian berfungsi menutup aib, melindungi, menghangatkan, dan memperindah. Begitulah seharusnya hubungan suami istri.

Saat suami gagal dalam usaha, jangan langsung menyalahkan. Saat ekonomi sulit, jangan membandingkan dengan keluarga lain.

Ucapkan: “Insya Allah kita hadapi bersama.” Kalimat itu mampu menguatkan hati seorang suami.

5. Hormati Suami Selama Tidak Mengajak Maksiat

Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.” (HR. Ahmad)

Ketaatan kepada suami bukan berarti menghalalkan kezaliman. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.

Jika suami memerintahkan maksiat, maka kewajiban seorang istri adalah menolaknya dengan cara yang baik.

6. Didik Anak dengan Tauhid

Rumah adalah madrasah pertama. Seorang ibu adalah guru pertama.

Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah.” (QS. Luqman: 13)

Ajarkan anak: membaca Al-Qur’an, shalat, adab kepada orang tua, jujur, amanah, mencintai ilmu, menghormati tetangga, dan mencintai Rasulullah ﷺ.

7. Hidupkan Rumah dengan Zikir

Rumah yang dipenuhi Al-Qur’an akan dipenuhi keberkahan.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim)

Biasakan: membaca Al-Qur’an setiap hari, dzikir pagi dan petang, shalat berjamaah, doa sebelum tidur, doa masuk dan keluar rumah.

8. Bangunkan Suami untuk Tahajud

Allah memuji orang-orang yang saling membantu dalam ibadah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun malam lalu shalat dan membangunkan istrinya… dan semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun malam lalu shalat dan membangunkan suaminya.” (HR. Abu Dawud)

Rumah tangga yang dibangunkan dengan tahajud akan lebih kuat menghadapi ujian kehidupan.

9. Perbanyak Doa

Allah berfirman:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

Doakan: suami diberi rezeki halal, anak menjadi saleh, keluarga dijauhkan dari fitnah, diberi husnul khatimah, dipertemukan kembali di surga.

10. Bersihkan Rumah dari Kemaksiatan

Rumah seorang Muslim hendaknya menjadi tempat yang mendekatkan kepada Allah.

Jagalah dari: tontonan yang merusak akhlak, ghibah, perjudian, minuman keras, pornografi, serta hiburan yang melalaikan kewajiban kepada Allah.

Yang lebih penting daripada sekadar membersihkan rumah secara fisik adalah membersihkan hati dari iri, dengki, dendam, dan kebencian.

Kisah Teladan Khadijah radhiyallahu ‘anha

Ketika Rasulullah ﷺ menerima wahyu pertama di Gua Hira, beliau pulang dalam keadaan gemetar sambil berkata: “Selimuti aku…”

Apa yang dilakukan Khadijah? Beliau tidak mencela. Tidak meremehkan. Tidak mengatakan bahwa suaminya berhalusinasi.

Beliau justru menguatkan: “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahmi, membantu orang miskin, memuliakan tamu, dan menolong orang yang tertimpa musibah.”

Kalimat itu menjadi penguat hati Nabi ﷺ di awal masa kenabian. Inilah contoh istri yang menjadi peneduh bagi suaminya.

Kisah Fatimah az-Zahra

Putri Rasulullah ﷺ hidup sederhana bersama Ali bin Abi Thalib.Beliau menggiling gandum hingga tangannya melepuh.

Meski hidup dalam keterbatasan, beliau tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk meninggalkan kesabaran dan penghormatan kepada suami. Kesederhanaan mereka menjadi teladan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemewahan.

Kisah Asma’ binti Abu Bakar

Asma’ membantu pekerjaan rumah dan membantu suaminya, Az-Zubair bin Al-Awwam, dalam berbagai urusan. Kesungguhannya menunjukkan bahwa kerja sama dalam rumah tangga adalah bagian dari akhlak mulia, bukan tanda rendahnya kedudukan seorang istri.

Konteks Kekinian

Di era digital, tantangan rumah tangga semakin besar.

Media sosial menghadirkan banyak godaan: membandingkan pasangan dengan pasangan orang lain, terlalu sibuk dengan gawai hingga mengabaikan keluarga, membuka aib rumah tangga demi konten, komunikasi yang dingin karena masing-masing tenggelam dalam layar.

Islam mengajarkan agar menjaga kehormatan rumah tangga. Tidak semua masalah perlu diumbar kepada publik. Suami dan istri hendaknya menjadi tempat saling percaya, saling mendengar, dan saling menguatkan.

Di sisi lain, suami juga memiliki kewajiban besar. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Karena itu, nasihat untuk istri tidak boleh dipahami sebagai pembebanan sepihak. Suami pun wajib berlaku lembut, memberikan nafkah yang halal sesuai kemampuan, menghormati istrinya, membantu pekerjaan rumah ketika mampu, mendidik keluarga dengan ilmu agama, dan bermusyawarah dalam mengambil keputusan.

Tambahan Amalan Sehari-hari bagi Seorang Istri

1. Memulai hari dengan shalat Subuh tepat waktu.

2. Membaca Al-Qur’an walau beberapa ayat setiap hari.

3. Menjaga shalat sunnah rawatib.

4. Memperbanyak istighfar minimal 100 kali sehari.

5. Bersedekah meski sedikit.

6. Menjaga rahasia rumah tangga.

7. Menghindari gibah dan namimah.

8. Menghormati keluarga suami dan menjaga silaturahmi.

9. Mengelola keuangan keluarga dengan amanah.

10. Menjadi teladan akhlak bagi anak-anak.

Penutup

Rumah tangga yang diridhai Allah bukanlah rumah yang bebas dari ujian, melainkan rumah yang setiap penghuninya berusaha kembali kepada Allah ketika diuji.

Bagi para istri, jadilah penyejuk hati, sahabat terbaik, dan pendamping yang setia. Bagi para suami, jadilah pemimpin yang adil, penuh kasih, dan bertanggung jawab. Ketika keduanya sama-sama bertakwa, rumah akan menjadi taman yang dipenuhi rahmat Allah.

Marilah kita berdoa sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Qur’an:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (qurrata a’yun), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Semoga Allah menjadikan setiap rumah kaum Muslimin dipenuhi iman, kasih sayang, keberkahan, serta mengumpulkan seluruh keluarga yang beriman kembali di surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *