Oleh: Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Meski mungkin hari ini masih sebatas mimpi, saya membayangkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, justru pada saatnya menjadi momentum lahirnya sebuah gerakan besar: Hutan Bambu Indonesia.
Saya membayangkan, beberapa tahun dari sekarang, pada lahan-lahan kritis dan terdegradasi yang secara ekologis memang cocok ditanami bambu, akan berdiri hamparan hutan bambu yang hijau, produktif, dan memberi kehidupan kepada masyarakat di sekitarnya.
Dan jika gagasan besar itu benar-benar diwujudkan secara nasional, Hutan Bambu layak menjadi salah satu legacy hijau Presiden Prabowo Subianto.
Sebuah legacy yang mungkin akan dikenang jauh setelah masa pemerintahannya berakhir.
Lalu, orang akan mengatakan, pada era Prabowo, sebagian tanah yang pernah terluka oleh kebakaran dikembalikan menjadi kawasan hijau yang produktif.
Musibah alam diubah menjadi berkah ekonomi dan ekologi.
Tentu, jalan menuju ke sana tidak sederhana. Tidak setiap lahan bekas kebakaran bisa begitu saja ditanami bambu. Harus ada kajian ilmiah mengenai status dan fungsi kawasan, jenis tanah, ketersediaan air, vegetasi asli, biodiversitas, jenis bambu yang cocok, serta kepentingan masyarakat lokal.
Hutan alam yang masih memiliki kemampuan pulih tentu harus diprioritaskan untuk direstorasi sesuai ekosistem aslinya.
Tetapi untuk lahan kritis, kawasan terdegradasi, sempadan sungai, daerah rawan erosi, kawasan penyangga, atau wilayah tertentu yang berdasarkan kajian memang cocok, bambu dapat menjadi salah satu pilihan luar biasa.
Bambu adalah tanaman ekologis sekaligus tanaman yang memberi efek ekonomi. Dari perspektif lingkungan, dunia semakin melihat bambu sebagai salah satu instrumen restorasi lahan.
International Bamboo and Rattan Organization atau INBAR menyebut bambu memiliki kemampuan tumbuh cepat, sistem akar-rimpang yang dapat mengikat tanah, membantu konservasi air, serta tumbuh pada sejumlah lahan yang telah mengalami degradasi.
Bambu juga tumbuh sangat cepat dan mencapai kematangan hanya sekitar 3–5 tahun, jauh lebih singkat dibanding banyak jenis pohon kayu yang butuh waktu belasan bahkan puluhan tahun.
Setelah dipanen dengan pengelolaan yang benar, bambu dapat tumbuh kembali dari sistem rimpangnya tanpa harus melakukan penanaman ulang.
Di sinilah keistimewaan bambu. Kita tidak hanya menanam untuk menghijaukan bumi, tetapi menanam sesuatu yang dapat terus beregenerasi dan memberikan nilai ekonomi.
Sistem perakaran bambu juga sangat relevan untuk menghadapi persoalan tanah kritis. Ia mempunyai akar panjang, berserat, dan relatif rapat sehingga dikenal sebagai soil binder, pengikat tanah.
Sehingga, bambu dapat membantu konservasi tanah dan air. Termasuk, memperbaiki kualitas lahan serta mengendalikan erosi.
Sejumlah kajian yang dihimpun INBAR menunjukkan bambu dapat membantu mengurangi erosi secara signifikan. Jaringan akar dan rimpangnya membantu mengikat tanah pada lereng maupun tepian sungai.
Bayangkan jika bambu ditanam secara terencana di kawasan-kawasan yang selama ini menjadi langganan erosi, longsor, sedimentasi dan kerusakan daerah aliran sungai. Kita bukan hanya sedang menanam pohon. Kita sedang membangun benteng ekologis hidup.
Namun klaim bahwa bambu selalu menyerap karbon lebih tinggi daripada semua jenis pohon tentu terlalu sederhana. Kemampuannya berbeda menurut jenis bambu, lokasi dan sistem pengelolaannya.
Yang jelas, berbagai studi menunjukkan potensi penyerapan karbon bambu dapat sebanding bahkan pada kondisi tertentu lebih tinggi dibanding beberapa tanaman berkayu yang tumbuh cepat.
Keunggulan lainnya adalah biomassa bambu dapat dipanen berulang dan diolah menjadi produk tahan lama yang tetap menyimpan karbon selama produk tersebut digunakan.
Inilah alasan mengapa saya melihat hutan bambu bukan sekadar proyek penghijauan. Ia berpotensi menjadi bagian dari strategi Indonesia menghadapi perubahan iklim.
Tetapi proyek ini akan jauh lebih menarik apabila tidak berhenti pada urusan ekologis. Karena bambu mempunyai kaki kedua bernama ekonomi.
Selama puluhan tahun kita mungkin terlalu sering memperlakukan bambu sebagai bahan tradisional. Misalnya, untuk pagar, kandang, saung, angklung, keranjang atau berbagai kerajinan rumah tangga. Padahal dunia industri bambu sudah bergerak jauh.
INBAR mencatat bambu memiliki lebih dari 10.000 jenis penggunaan dan produk, mulai bahan konstruksi, furnitur, papan dan lantai, pulp dan kertas, tekstil dan serat, peralatan rumah tangga, makanan, energi biomassa hingga aneka produk pengganti plastik.
Nilai produksi industri bambu secara global diperkirakan mencapai sekitar US$70 miliar. Sementara perdagangan internasional produk bambu telah melampaui US$3 miliar per tahun.
Bahkan sebuah kajian pasar yang dikutip dalam publikasi INBAR memperkirakan keseluruhan pasar produk bambu, dengan cakupan lebih luas daripada statistik perdagangan komoditas, bernilai sekitar US$73,4 miliar pada 2023. Dan diproyeksikan dapat mencapai sekitar US$131,5 miliar pada 2033.
Angka proyeksi komersial itu tentu harus dibaca sebagai estimasi pasar, bukan statistik resmi perdagangan. Tetapi, arahnya memberikan pesan yang sama, yaitu tingginya permintaan terhadap material terbarukan berbasis bambu.
Mengapa? Karena dunia sedang mencari pengganti kayu, plastik dan berbagai material yang jejak karbonnya tinggi.
INBAR menyebut perkembangan teknologi telah memungkinkan bambu digunakan sebagai material untuk konstruksi, furnitur, energi, serat, pulp, bahkan berbagai pengganti plastik.
Jadi, jangan membayangkan industri bambu Indonesia hanya menghasilkan tusuk sate. Kita harus mulai membayangkan engineered bamboo, laminated bamboo, flooring, papan komposit, furnitur premium, bahan bangunan, pulp, tekstil, biochar, biomassa, dan kemasan ramah lingkungan.
Di situlah nilai tambah terbesar berada. Karena itu, apabila Presiden Prabowo ingin menjadikan bambu sebagai salah satu legacy pemerintahannya, proyek ini harus dilakukan dari hulu hingga hilir.
Ini penting agar hutan bambu, selain memberi manfaat ekologi, juga melahirkan ekosistem ekonomi baru. Ada masyarakat yang bekerja sebagai pembibit. Ada yang membudidayakan. Ada koperasi yang mengumpulkan. Ada UMKM yang mengolah dan seterusnya.
Di sinilah momentum emas itu sebaiknya diambil Presiden Prabowo, jika ingin meninggalkan legacy.
Dalam konteks ini, tentu sebuah legacy yang tidak kalah monumental. Yaitu, *legacy ekologis.*
Tidak ada monumen seorang pemimpin yang lebih indah daripada alam yang kembali hijau dan rakyat yang hidup sejahtera di sekitarnya. Karena legacy terbaik bukan hanya bangunan yang berdiri ketika seorang pemimpin berkuasa.
Legacy terbaik adalah manfaat yang tetap hidup ketika pemimpinnya sudah lama meninggalkan kekuasaan.
Jakarta, September 2026





