Suara Mengguntur dari Gontor

Di tengah lajunya kecenderungan nyari aman dan menjilat di setiap level di masyarakat di Indonesia dewasa ini, tiba-tiba ada arus dan suara aneh yang mengguntur dari Gontor, Ponorogo Jawa Timur.

Di tempat dan waktu sepenting itu, dengan nilai sorot publik yang demikian ketat karena kehadiran orang nomor satu dan paling berkuasa di Indonesia saat ini, seorang tua, kyai yang bertubuh ringkih, kecil dan sederhana, tapi suaranya bagaikan sebuah tamparan yang mengagetkan. Demikian beraninya dia menggunakan kalimat khas yang diasosiasikan banyak orang kepada Presiden Prabowo. “Sorry, ye,” ucapnya dengan ringan. Di depan Presiden secara langsung, di hadapan tatap mata publik, baik yang hadir langsung yang jumlahnya demikian banyak dan resmi, maupun yang diam-diam mengikuti acara itu lewat televisi maupun kanal-kanal media sosial. Suatu keberanian amat kepalang. Kita tahu, bagi orang rata-rata Indonesia, dalam situasi semacam itu, memelas dan menyemburkan pujian kepada Presiden, yang diundang pula, akan jauh lebih baik dilakukan atau mengasosiasikan kedekatan personal secara historis dengan lembaga yang dikunjungi presiden, lebih menguntungkan daripada memberikan kalimat senekat itu. Ini seperti menabrak arus dan kultur feodal yang akhir-akhir ini makin meningkat saja perkembangannya.

Bacaan Lainnya

Bukan hanya “sorry ye” yang disampaikan Kyai Sahal, tapi juga menyinggung gejala cari muka. Kata dia, “Sekarang banyak orang cari muka. Tul? Orang ndak punya ijazah, cari ijazah. Orang indah punya nama, cari nama. Orang ndak punya uang, cari uang. Orang ndak punya jabatan, cari jabatan. Orang ndak punya muka, cari muka.”

Waah…benar-benar berani. Sindiran ini tentu mengecutkan para pembantu dan bawahan Presiden yang hadir di Gontor itu. Saya lihat Menteri Agama tidak nyaman dari sorot matanya. Saya belum tahu menteri-menteri dan pejabat-pejabat yang lain yang sudah terbiasa bagaimana berlomba mencari perhatian dan muka kepada Presiden seperti selama ini. Ini seperti palu yang menokok kepala. Dan sang kyai yang ringkih itu, mengucapkannya seperti tidak ada beban sama sekali. Padahal, dikalkulasi dari sudut kepentingan strategis dan taktis, bukankah harusnya Gontor membina perasaan yang nyaman dengan Presiden dulu demi mengamankan kepentingan yang lama dan masa depan.

Tapi ternyata di luar dugaan, Presiden Prabowo, meskipun mungkin nervous (kagok) juga dengan pidato Pak Kyai Sahal itu, dia malah terkesan positif dengan auro Gontor yang menurutnya sama dengan nilai-nilai militer, tempat dia diasuh.

Bahkan menurut saya, Prabowo justru di Gontor itu, mendapatkan kembali jati dirinya sebagai seorang berpikir modern dan rasional setelah beberapa tahun mengalami suasana feodal, asal bapak senang, manipulasi, jauh dari sikap terus terang, dan bawahan yang menjilat dan cari muka kepada dirinya.

Terbukti, Prabowo dalam sambutannya mengapresiasi nilai-nilai kepribadian Pondok Modern tersebut.

Sebagaimana yang Anda ketahui, Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor terdiri dari lima nilai dasar yang melandasi seluruh kehidupan, kegiatan, dan pendidikan di pesantren tersebut.

Pertama, Keikhlasan: Beramal dan berjuang tanpa pamrih atau dorongan memperoleh keuntungan materi, menjadi pangkal dari segala gerak pondok.

Kedua, Kesederhanaan: Hidup dengan wajar, secukupnya, dan tidak berlebih-lebihan, mencakup cara berpakaian, makan, hingga bersikap.
Ketiga, Kemandirian (Berdikari): Kesanggupan menolong diri sendiri dan berdiri di atas kaki sendiri, baik dalam belajar maupun mengurus kepentingan sehari-hari.

Keempat, Ukhuwwah Islamiyyah: Suasana persaudaraan yang akrab dan tulus di mana segala suka dan duka dirasakan bersama tanpa sekat pemisah.

Dan kelima, Kebebasan: Bebas dalam berpikir, berbuat, menentukan masa depan, serta memilih jalan hidup yang benar sambil menjaga diri dari pengaruh negatif.
Semua nilai dasar itu, merupakan nilai dasar Islam dan nilai dasar modernisme. Di sinilah Prabowo yang sejak kecil dididik di luar negeri, yang jauh dari feodalisme dan modern, mungkin mendapatkan kembali cita rasa dirinya yang lama tapi terbungkus oleh realita politik Indonesia yang terus menyuburkan sikap feodal itu. Sehingga Prabowo pun menyampaikan atensinya kepada Gontor untuk mengundangnya kembali dalam situasi yang mungkin lebih buka-bukaan diskusinya antara Presiden dan Gontor tanpa soroton wartawan. Dapat dimengerti sikap presiden tersebut. Walhasil, Gontor berhasil menginterupsi budaya feodal yang mulai bersemi akhir-akhir ini.

Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis Buku

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *