Gerakan Islam di Iran dan Indonesia: Matang vs Edi Tansil

Salah satu keajaiban Iran ialah bahwa gerakan Islamnya matang dan kemudian sekarang dapat kita saksikan: berhasil. Keberhasilannya tidak saja mampu menangani problem domestiknya yang tentu saja banyak usaha untuk menggagalkan tujuannya, tapi juga dari sisi eksternal, Iran mampu bertahan dan kini menjadi pemain yang disegani.

Sebaliknya di Indonesia, riwayat gerakan Islamnya juga panjang. Periode konsep dan eksprimentasi, bukan tidak pernah diwujudkan, walaupun belum dalam skala revolusi. Tetapi agak aneh hasilnya jika kita coba evaluasi keseluruhan eksprimennya. Dapatlah kita simpulkan bahwa gerakan Islam di Indonesia: ereksi dini tanpa hasil. Bahwa gerakan Islam, sejak zaman Belanda, Jepang, Orde Lama, Orde Baru hingga masa pasca Reformasi, tetap menegang, namun tidak satu pun yang kita saksikan mencapai hasilnya. Malahan meluntur dan berevolusi menjadi kehilangan tenaga dan orientasi. Kenapa hal ini terjadi? Ini memerlukan pemeriksaan yang mendalam. Moderatisasi atas nama strategi adaptasi, telah mengubah segalanya.

Untungnya sekarang, kita dihibur oleh peristiwa gerakan Islam di Asia Barat. Mulai dari Iran, Afghanistan dan sekarang Hauthi.

Memang Iran telah berkorban banyak sekali selama 40 tahun lebih demi menjaga kelangsungan gerakan revolusi Islam. Hak negara Islam itu untuk menikmati kemakmuran dan perkembangan yang wajar, telah diganjal dan dirongrong secara intensif oleh Amerika. Bahkan pemimpin spritual mereka, Imam Ali Khamenei, dibom dengan sangat memilukan.

Namun biarpun ditekan dan ditindas sedemikian rupa, Iran tetap survive. Sampai akhirnya, perang langsung dengan Amerika pun tak terelakkan lagi, dan Iran sudah tidak menahan diri lagi, dan mengubah perang ini bukan saja sebagai perang pertahanan diri, tapi juga perang untuk mengusir Amerika dari kawasan Asia Barat sekaligus menghancurkan ekonomi Amerika yang tergantung dengan migas. Selain itu juga, sistem ekonomi Amerika yang strukturnya berpilar pada oligarki, kini mulai kedodoran dan menghadapi kenyataan yang tidak menguntungkan.

Sekarang pertanyaannya, dapatkah gerakan Islam di Indonesia mengambil pelajaran dari dinamika ini, atau sudah puas dengan kenyataan yang ada. Kenyaaan yang ada maksudnya ialah konsesi-konsesi ekonomi dan politik yang dinikmati elit-elit gerakan Islam dengan kompensasi meninggalkan orientasi idealistik, alih-alih orientasi revolusioner. Tetapi jika demikian adanya, imbalannya adalah gerakan Islam tidak pernah lagi mencapai tujuannya. Tinggal hanya label dan kosmetiknya saja, dan itu pun sekedar dikapitalisasi sebagai ceruk suara dan kosmetik legitimasi semu, dan pada akhirnya digunakan untuk mengkorupsi Islam itu sendiri. Dan itulah saat ini yang terjadi.

Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis Buku

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *