Hoaks, Deepfake, dan Ancaman terhadap Kedaulatan Pikiran di Era AI

MERDEKA DI DUNIA NYATA, TERJAJAH DI DUNIA DIGITAL?

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin,, Makassar

Bacaan Lainnya

Ada kebohongan yang dahulu mudah dikenali. Kini, di zaman Artificial Intelligence (AI), wajah dapat direkayasa, suara ditiru, video dipalsukan, bahkan seseorang dapat dibuat seolah-olah mengatakan sesuatu yang tidak pernah diucapkannya. Dusta tidak lagi selalu tampak sebagai dusta, ia dapat tampil begitu nyata hingga manusia sulit membedakannya dari kebenaran.

Masalahnya bukan hanya teknologi yang semakin canggih, tetapi manusia yang semakin mudah percaya dan terburu-buru menyebarkan. Konten yang memancing kemarahan sering lebih cepat viral daripada penjelasan yang membutuhkan ketelitian. Maka tanyakan kepada diri sendiri: untuk apa menjadi orang pertama yang membagikan sesuatu jika ternyata itu palsu?. Untuk apa mengejar viralitas jika yang menjadi korban adalah kehormatan seseorang dan ketenteraman masyarakat?

Jangan berkata, “Saya hanya share, bukan saya yang membuat.” Pembuat hoaks mungkin hanya satu orang, tetapi penyebarnya dapat menjadi ribuan. Satu orang menyalakan api, banyak tangan membuatnya menjadi kebakaran. Begitu pula prank dan konten provokatif. Ketika candaan dibangun di atas penghinaan, ketakutan, fitnah, atau penderitaan orang lain, ia bukan lagi hiburan, melainkan kekerasan yang dikemas sebagai tontonan.

Al-Qur’an telah memberikan prinsip yang sangat relevan dengan zaman digital:
إن جاءكم فاسق بنبأ فتبينوا
“Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini seakan mengajarkan etika sebelum share, jangan langsung percaya, jangan langsung marah, jangan langsung menghukum, dan jangan langsung menyebarkan. Periksa sumber, konteks, waktu, dan kebenarannya. Jika masih ragu, berhentilah. Sebab terkadang diam bukan berarti tidak peduli, melainkan bentuk tanggung jawab.

Allah juga mengingatkan :
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيد
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”(QS. Qaf: 18)

Jika ucapan saja dicatat, bagaimana dengan tulisan, komentar, gambar, video, dan share yang kita tinggalkan?. Jari pun memiliki pertanggungjawaban moral. Satu unggahan dapat menghancurkan nama baik, satu tuduhan dapat menyalakan kebencian, satu video palsu dapat memecah persaudaraan.

Momentum 81 tahun Indonesia merdeka semestinya mengajak kita bertanya: apakah kita benar-benar merdeka jika pikiran kita mudah dijajah oleh hoaks?. Penjajahan modern tidak selalu datang dengan senjata. Ia dapat masuk melalui layar, merasuki pikiran, menguasai emosi, lalu menggerakkan perilaku. Karena itu, perang informasi sesungguhnya adalah perang memperebutkan kesadaran manusia.

Bangsa yang mudah percaya hoaks adalah bangsa yang mudah digiring, bangsa yang mudah digiring adalah bangsa yang mudah dipecah. Maka kejujuran di era AI bukan sekadar akhlak pribadi, tetapi jihad peradaban.

Rasulullah SAW. bersabda:
> كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang disebut sebagai pendusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.”(HR. Muslim)

Pesan ini terasa begitu dekat dengan zaman forward, repost, dan viral, tidak semua yang kita dengar harus diceritakan, tidak semua yang kita lihat harus disebarkan, dan tidak semua yang viral harus dipercaya.

Karena itu, sebelum menekan tombol share, lakukan tiga hal: berhenti, periksa, pikirkan. Berhenti dari dorongan emosi. Periksa sumber dan kebenarannya. Pikirkan akibatnya. Jika belum jelas, jangan sebarkan. Jika salah, koreksi. Jika merugikan, luruskan.

Kita mungkin tidak mampu menghentikan seluruh hoaks atau mengendalikan semua algoritma. Tetapi kita mampu menghentikannya di tangan kita sendiri. Menahan satu share mungkin menyelamatkan sebuah keluarga. Menahan satu tuduhan mungkin menyelamatkan sebuah nama baik. Menahan satu video palsu mungkin mencegah sebuah pertikaian.

Maka, mari kita merdekakan ruang digital dari kebohongan. Jadikan media sosial tempat menanam kebenaran, bukan memanen kebencian. Jadikan AI alat memperkuat kemanusiaan, bukan memperdayanya. Sebab pertanyaan terbesar di zaman AI bukan hanya “Seberapa pintar teknologi yang kita miliki?”, tetapi “Seberapa jujur manusia yang menggunakannya?”

Di zaman ketika AI dapat membuat dusta nyaris sempurna, kejujuran adalah jihad. Dan ketika satu jari dapat menyebarkan kebohongan kepada jutaan manusia, menahan jari dari membagikan hoaks adalah ibadah.

Jangan biarkan Indonesia yang telah 81 tahun merdeka kehilangan kemerdekaan pikirannya hanya karena kita terlalu cepat menekan tombol share. Sebab terkadang, bentuk cinta kepada bangsa yang paling sederhana bukanlah membuat konten yang paling ramai, melainkan menahan satu jari agar tidak ikut menyebarkan kebohongan.

Karena di tengah dunia yang semakin pandai membuat dusta terlihat nyata, manusia yang tetap memilih jujur adalah manusia yang sedang menjaga masa depan peradaban.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *