Audiens tulisan ini ditujukan kepada mereka yang sudah berusia 40 tahun ke atas. Sebab pada rentang usia tersebut, jasmaninya sudah rentan terhadap penyakit. Akibatnya, psikologis orang-orang dengan rentang usia dimaksud, sangat sensitif dan memiliki perhatian tinggi dengan isu kesehatan dan penyakit. Bahkan, tidak jarang dari mereka, menanggung penyakit di tubuhnya, mulai dari yang lazim seperti darah tinggi (hipertensi), kolesterol, rematik, asam urat, serangan struk, jantung, hingga gula darah yang tidak seimbang (diabetes).
Semua karena sistem tubuh yang terdiri dari sub sistem yang terpadu dan seimbang sedemikian rupa, mulai tidak fit dan kedodoran akibat dimakan waktu. Tubuh manusia tetaplah tunduk pada hukum Allah bahwa tubuh hanyalah bagian dari alam yang tidak abadi, mengalami kerusakan dan kehancuran. Jangan pernah menganggap, tubuh akan tetap kuat dan prima sebagaimana pada saat usia di bawah 40 tahun.
Sekedar untuk diketahui, tubuh manusia memiliki 12 sistem organ utama yang bekerja sama dan saling menunjang dan saling tergantung.
(1) Sistem Rangka: Menopang tubuh, memberi bentuk, dan melindungi organ dalam.
(2) Sistem Otot: Membantu pergerakan dan menjaga postur tubuh.
(3) Sistem Saraf: Mengatur gerakan dan menerima sinyal dari panca indera.
(4) Sistem Peredaran Darah (Kardiovaskular): Mengalirkan darah, oksigen, dan nutrisi ke seluruh tubuh.
(5) Sistem Pencernaan: Mengolah makanan dan menyerap zat gizi. Sistem ini dimulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus, hingga pintu keluar kotoran.
(6) Sistem Pernapasan: Mengambil oksigen dan membuang karbon dioksida.
(7) Sistem Imun (Kekebalan Tubuh): Melawan kuman dan penyakit.
(8) Sistem Endokrin (Hormon): Mengatur pertumbuhan, metabolisme, dan kerja tubuh.
(9) Sistem Ekskresi & Urin (Kemih): Menyaring darah dan membuang racun atau sisa kencing.
(10) Sistem Reproduksi: Membuat keturunan atau bayi baru.
(11) Sistem Integumen (Kulit): Melindungi bagian luar tubuh dan mengatur suhu.
(12) Sistem Limfatik: Menjaga cairan tubuh dan membantu sistem kekebalan.
Hulu dari semua sistem itu, ternyata adalah makanan dan minuman atau asupan yang diserap oleh sistem tubuh tersebut agar tetap berfungsi. Betapa pentingnya asupan makanan ini, hingga Allah dengan detail menyuruh manusia untuk memperhatikannya.
Dengan demikian, marilah kita simak firman Allah berikut ini.
Allah berfirman sebagai berikut dalam Alquran Surah Abaaa 24 – 32:
فَلۡيَنۡظُرِ الۡاِنۡسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖۤۙ (٢٤) اَنَّا صَبَبۡنَا الۡمَآءَ صَبًّا ۙ (٢٥) ثُمَّ شَقَقۡنَا الۡاَرۡضَ شَقًّا ۙ (٢٦) فَاَنۡۢبَتۡنَا فِيۡهَا حَبًّا ۙ (٢٧) وَّ عِنَبًا وَّقَضۡبًا ۙ (٢٨) وَّزَيۡتُوۡنًا وَّنَخۡلًا ؕ (٢٩) وَحَدَآٮِٕقَ غُلۡبًا ۙ (٣٠) وَّفَاكِهَةً وَّاَبًّا ۙ (٣١) مَّتَاعًا لَّـكُمۡ وَلِاَنۡعَامِكُمۡؕ (٣٢)
Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, (24)
Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit),(25)
kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,(26)
lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian,(27)
dan anggur dan sayur-sayuran,(28)
dan zaitun dan pohon kurma,(29)
dan kebun-kebun (yang) rindang,(30)
dan buah-buahan serta rerumputan.(31)
untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.(32)
Dari keterangan ayat-ayat Allah tersebut, kita dapat menemukan unsur makanan alami bagi manusia: 1. Air mineral, 2. Biji-bijian, 3. Buah, 4. Sayur, 5. Bahan dari ternak, seperti daging dan susu. Apa artinya itu?
Sebenarnya manusia, cukup mengonsumsi kebutuhan tubuhnya dari yang disediakan oleh alam secara langsung. Biji-bijian, buah-buahan, sayur mayur hingga daging seperti misalnya ayam dan ikan, hanya memerlukan pengolahan sederhana, seperti direbus atau dibakar, jauh lebih cocok pada sistem pencernaan tubuh kita. Kandungan gizi dan vitaminnya, malah lebih baik jika dikonsumsi dalam keadaan segar.
Biji-bijian, seperti padi, gandum, jagung, kacang-kacangan, merupakan makanan yang sangat bermutu bagi kekuatan jasmani manusia. Apalagi dilengkapi dengan sayur mayur, buah-buahan segar, serta daging, membuat setiap sistem tubuh manusia dapat berfungsi dengan baik.
Tetapi manusia kadangkala melampaui batas. Alam menyediakan makanan yang cocok dan alami, tapi manusia malah memilih memakan makanan yang diproduksi oleh pabrik dengan pewarna dan perasa rekayasa kimiawi. Akibatnya lama kelamaan sistem tubuh pun menjadi terganggu dan rusak.
Pada peradaban manusia modern, makanan dan minuman olahan pabrik yang diproses serba massal dan telah kehilangan banyak unsur alaminya, menjadi hal yang sudah dinormalisasi sedemikian rupa. Akibatnya, penyakit yang dahulu jarang dikenal, menjadi peristiwa yang lumrah.
Di sinilah relevansinya untuk memperhatikan kembali makanan itu. Tidak hanya itu, berlaku proporsional dalam mengonsumsi makanan juga amat dipentingkan.
Alquran Surat Al-A’raf Ayat 31:
وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
Artinya: … makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Penjelasannya sesuai dengan hadist Nabi berikut ini:
Diriwayatkan oleh Al-Miqdām bin Ma’dī Karib disebutkan:
ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه
Artinya:
“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk yaitu perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”
[Sahih] – [HR. Ahmad, Tirmizi, Nasai dan Ibnu Majah] – [Al-Arba’ūn An-Nawawiyyah – 47]
Adapun atsar (petuah sahabat Nabi) berisi hal yang tidak jauh berbeda dengan Hadits Nabi di atas.
Dikutip dari al-Ju’ karya Ibnu Abid Dunya, Umar bin Khattab RA pernah berkata,
حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مِرْدَاسٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْمُعَلَّى الْجُعْفِيُّ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، قَالَ: قَالَ عُمَرُ: «أَيُّهَا النَّاسُ، إِيَّاكُمْ وَالْبِطْنَةَ مِنَ الطَّعَامِ، فَإِنَّهَا مَكْسَلَةٌ عَنِ الصَّلَاةِ، مُفْسِدَةٌ لِلِجَسَدِ، مُوَرِّثَةٌ لِلسَّقَمِ، وَأَنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الْحَبْرَ السَّمِينَ، وَلَكِنَ عَلَيْكُمْ بِالْقَصْدِ فِي قُوتِكُمْ، فَإِنَّهُ أَدْنَى مِنَ الْإِصْلَاحِ، وَأَبْعَدُ مِنَ السَّرَفِ، وَأَقْوَى عَلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَإِنَّهُ لَنْ يَهْلِكَ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْثَرَ شَهْوَتَهُ عَلَى دِينِهِ»
Artinya:
“Wahai manusia, waspadalah terhadap perut yang buncit karena terlalu banyak makan, sebab ia membuat malas dalam melaksanakan salat, merusak tubuh, mewariskan penyakit, dan Allah SWT membenci orang yang buncit perutnya. Namun hendaklah kalian bersikap sederhana dalam makan, karena hal itu lebih dekat kepada kebaikan, lebih jauh dari pemborosan, dan lebih kuat untuk beribadah kepada Allah. Tidak akan binasa seseorang sampai ia lebih mengutamakan syahwatnya daripada agamanya.”
Sementara itu, ulama yang sering dijadikan rujukan, yaitu Imam al Ghazali, berkata dalam Bidayatu al-Hidayah:
وَأَمَّا البَطْنُ فَاحْفَظْهَا عَنْ تَنَاوُلِ الحَرَامِ وَالشَّبْهَةِ، وَاحْرِصْ عَلَى طَلَبِ الحَلَالِ، فَإِذَا وَجَدْتَهُ فَاحْرِصْ عَلَى مَا دُونَ الشَّبَعِ، فَإِنَّ الشَّبَعَ يُقَسِّي القَلْبَ وَيُفْسِدُ الذَّهْنَ وَيُبْطِلُ الحِفْظَ وَيُثَقِّلُ الْأَعْضَاءَ عَنِ العِبَادَةِ وَالعِلْمِ، وَيُقَوِّي الشَّهَوَاتِ.
Artinya:
Adapun perut, maka jagalah dari makan yang haram maupun syubhat. Bersungguh-sungguhlah mencari yang halal. Bila engkau mendapatkannya, maka usahakan makan di bawah kadar kenyang. Sebab kenyang itu mengeraskan hati, merusak pikiran, melemahkan hafalan, memberatkan anggota tubuh dari beribadah dan menuntut ilmu, serta menguatkan syahwat.
Dari rujukan-rujukan berdimensi religius di atas, kiranya dapat kita ambil pelajaran bahwa kesehatan itu dimulai dari memperhatikan makanan: kualitas bahan bakunya hingga kadar yang pantas untuk kita konsumsi. Sebaliknya dapat disimpulkan juga, penyakit berawal dari makanan dengan mutu dan higienis yang rendah serta dikansumsi melampaui kadar yang alami tertampung dalam organ pencernaan kita.
Apalagi jika kita memperhatikan pula darimana makanan itu kita peroleh, apakah dari cara yang halal atau haram, maka hal itu pun amat mempengaruhi dampak makanan itu pada sistem tubuh kita.
Betapa afdalnya jika makanan yang kita kiri ke pencernaan kita itu halal, alami, dengan kadar yang seimbang.
Mungkin, salah satu langkah kecil bagi kita untuk tidak terterkam oleh sistem ekonomi, sosial dan kesehatan dewasa ini yang cenderung membangun ketergantungan dan kerentanan agar terus menerus diisap oleh perusahaan farmasi dan perusahaan kedokteran modern, yaitu dengan melazimkan konsumsi alami, halal dan seimbang.
Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis Buku






