Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Kembalilah 5 Kali Sehari, Aku Rindu Mendengarmu
Jika engkau anggap shalat itu hanya sebagai kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya. Selesai, lalu lupa.
Tapi coba ubah cara pandangmu: Anggaplah shalat itu adalah pertemuan. Allah yang Maha Raja semesta, pemilik Arsy, memanggilmu secara pribadi.
Anggaplah shalat itu adalah cara terbaik bercerita. Bukan di status, bukan di story, tapi langsung kepada yang Maha Mendengar.
Anggaplah shalat itu adalah ruang aduan paling aman. Di saat manusia lelah mendengar keluhmu, Allah justru menunggu keluhmu.
Anggaplah shalat itu adalah ukuran keseriusanmu pada mimpimu. Bagaimana mungkin kau meminta surga tertinggi tapi pertemuan dengan Pemilik Surga pun kau sepelekan.
1. DALIL – Kenapa Allah Memanggil Kita 5 Kali Sehari?
Allah tidak butuh shalat kita. Kita lah yang butuh shalat.
a. Perintah Langsung dari Al-Qur’an:
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” QS. Al-Baqarah: 43
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain).” QS. Al-Ankabut: 45
Ayat ini kunci. Shalat bukan hanya gerakan. Shalat adalah rem. Kalau hidup masih mudah maksiat, cek rem shalat kita.
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.”
QS. An-Nisa: 103
Shalat itu kitaban mauquta, kewajiban yang waktunya telah ditentukan. Allah atur waktunya bukan untuk menyusahkan, tapi untuk menjaga detak jantung ruh kita agar tidak mati.
b. Hadits Shahih Tentang Kedekatan di Dalam Shalat:
Rasulullah SAW bersabda: “Jarak paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah doa (di dalamnya).”
HR. Muslim No. 482
“Sesungguhnya jika salah seorang di antara kalian berdiri untuk shalat, sesungguhnya ia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabb-nya.” HR. Bukhari No. 413
Bayangkan ini. Saat takbir, kita sedang berbisik dengan Allah. Saat sujud, kita berada di posisi paling rendah di bumi, tapi justru paling dekat dengan Arsy-Nya. Bisikan di bumi, terdengar jelas di langit ketujuh.
Dan hadits qudsi yang paling menggetarkan tentang Al-Fatihah: Allah berfirman: “Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Jika hamba berkata ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’, Allah menjawab: ‘Hamba-Ku memuji-Ku’. Jika hamba berkata ‘Arrahmanirrahim’, Allah menjawab: ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’…” HR. Muslim
Setiap ayat yang kau baca, Allah jawab. Itu bukan monolog, itu dialog cinta.
2. SEJARAH – Hadiah Termahal dari Perjalanan Isra Mi’raj
Shalat adalah satu-satunya ibadah yang perintahnya tidak turun lewat Jibril di bumi. Ia dijemput langsung.
Ketika Rasulullah SAW melakukan Isra Mi’raj, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu naik ke Sidratul Muntaha, Allah memberi hadiah 50 waktu shalat. Rasulullah turun, bertemu Nabi Musa AS, dan atas nasihat Musa karena umat tidak akan mampu, Rasulullah kembali memohon keringanan hingga menjadi 5 waktu, namun pahalanya tetap 50 waktu.
Lihat betapa berharganya. Zakat, puasa, haji perintahnya di bumi. Shalat perintahnya di langit. Artinya, kalau kau ingin naik level hidupmu, jalannya adalah shalat.
Dulu, di awal Islam, para sahabat shalat di sembunyi-sembunyi di lembah Mekkah karena takut Quraisy. Hari ini kita punya masjid ber-AC, sajadah empuk, adzan dari speaker, tapi hati kita yang sembunyi dari Allah.
3. KISAH – Yang Membuat Kita Malu
Kisah
1: Urwah bin Zubair
Urwah terkena penyakit di kakinya dan harus diamputasi. Tabib berkata, “Minumlah khamr agar tidak terasa sakit.” Ia menolak. “Potonglah saat aku sedang shalat.”
Dan benar, ketika ia shalat, kakinya dipotong, ia tidak berteriak, tidak pingsan. Karena ruhnya sedang bersama Allah, sakit jasadnya tidak terasa. Kita? Tersandung sedikit saja shalatnya bisa batal karena mengaduh.
Kisah 2: Hatim Al-Asham
Ditanya, “Bagaimana caramu shalat dengan khusyuk?”
Ia menjawab: “Ketika hendak shalat, aku anggap Ka’bah di depan mataku, Shirat di bawah telapak kakiku, surga di kanan dan neraka di kiriku, dan malaikat maut di belakangku. Dan aku anggap ini adalah shalat terakhirku.”
Itu shalat perpisahan. Kita sering shalat seperti tidak akan mati.
Kisah 3: Seorang Ibu di Palestina
Viral seorang ibu yang rumahnya hancur, anaknya syahid, ia tetap menggelar sajadah di atas puing dan shalat. Wartawan bertanya kenapa. Ia menjawab, “Rumahku hilang, tapi Pemilik rumah itu masih ada. Selama aku masih bisa sujud, aku masih punya segalanya.”
4. KEKINIAN – Shalat di Zaman Distraksi
Kita hidup di zaman paling berisik. Notifikasi tidak pernah berhenti. Anxiety, overthinking, burnout menjadi bahasa sehari-hari.
Kau tahu kenapa Allah menyuruh kita shalat 5 kali? Karena Allah tahu otak kita akan error kalau tidak di-restart.
Subuh: restart sebelum dunia dimulai. Agar hatimu lebih dulu terisi Allah sebelum terisi masalah.
Dzuhur: pause di tengah kesibukan kerja. Allah bilang, “Tinggalkan dulu duniamu, temui Aku.”
Ashar: di saat energi mulai habis dan emosi memuncak, shalat adalah charger.
Maghrib: transisi dari terang ke gelap, dari kerja ke keluarga. Bersyukur.
Isya: sebelum tidur, serahkan semua yang tidak bisa kau kontrol kepada Allah.
Penelitian modern membuktikan gerakan shalat melancarkan peredaran darah, posisi sujud adalah posisi terbaik untuk suplai oksigen ke otak, dan ketenangan dalam shalat menurunkan kortisol hormon stres.
Tapi jangan shalat karena ingin sehat. Sehat itu bonus. Shalatlah karena rindu.
Jika hari ini kau merasa jauh dari Allah, jangan tunggu merasa dekat untuk shalat. Shalatlah, maka kau akan merasa dekat. Karena shalat bukan hadiah untuk orang yang sudah baik, shalat adalah cara Allah memperbaiki orang yang merasa belum baik.
Penutup: Surat Cinta Terakhir
Shalat adalah cara Allah berkata lembut kepada kita:
“Kembalilah kepada-Ku lima kali sehari. Aku tahu dunia melelahkanmu. Aku tahu manusia mengecewakanmu. Kembalilah, Aku ingin mendengarmu, Aku ingin mengampunimu, dan Aku ingin menenangkan hatimu yang berisik itu.”
Maka jangan tunda. Kalau adzan sudah memanggil, itu bukan jam dinding yang berbunyi, itu panggilan cinta dari langit.
Dan di sepertiga malam terakhir, saat semua tertidur, bangunlah untuk Qiyamul Lail. Di saat itulah Allah turun ke langit dunia dan bertanya: “Siapa yang berdoa, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta ampun, akan Aku ampuni.”
Jangan biarkan Allah rindu sendirian.
Wallahu a’lam bishawab.






