BEKASI | MEDIA BELA RAKYAT — Ada toga yang lahir dari jalan mulus. Ada pula toga yang ditempa dari peluh, kesabaran, dan keberanian melawan keterbatasan. Bagi Muhammad Bagus Pribadi, S.H., toga itu bukan sekadar pakaian wisuda. Ia adalah jejak panjang seorang mahasiswa yang belajar di kampus, berproses di organisasi, sekaligus bekerja untuk menopang kebutuhannya sendiri.
Pada Dies Natalis (Ubhara Jaya), 29 September 2026, perjalanan akademik Muhammad Bagus Pribadi mencapai satu titik penting. Ketua Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ubhara Jaya Bekasi itu resmi menyandang gelar Sarjana Hukum (S.H.). Namun, gelar tersebut bukan garis akhir; ia justru menjadi pintu menuju tanggung jawab yang lebih besar.
Di balik toga itu terdapat cerita tentang kemandirian. Ketika sebagian mahasiswa mungkin hanya bergulat dengan buku dan tugas kuliah, Bagus harus membagi waktu antara akademik, organisasi, dan pekerjaan. Ia bekerja di sebuah restoran dalam kawasan Ruko Grand Wisata, sementara penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi sekaligus mendukung aktivitas organisasinya.

Orang tua Bagus menjadi saksi perjalanan tersebut. Dengan nada penuh kebanggaan, mereka menggambarkan sang anak sebagai pribadi yang mandiri dan tidak mudah menyerah.
“Perjuangannya nyaris tanpa kemewahan dari orang tua. Beliau juga aktif berorganisasi sambil bekerja. Dari hasil bekerja itu, dia gunakan untuk kebutuhan organisasi dan keperluan tambahannya sendiri,” ungkap orang tua Bagus, Selasa (29/9/2026).
Ucapan selamat pun berdatangan dari berbagai tokoh dan elemen masyarakat. Karangan bunga antara lain datang dari Tri Adhianto, Wali Kota Bekasi; H. Syahrir, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Gerindra; Obon Tabroni, anggota DPR RI Komisi IX; serta PCNU Kabupaten Bekasi melalui H. Ajuk Junaedi alias Bang Ajuk. Apresiasi itu menjadi bagian dari catatan perjalanan seorang anak muda yang memilih bertumbuh bukan hanya melalui bangku kuliah, tetapi juga melalui ruang pengabdian organisasi.

Di titik inilah pendidikan menemukan wajahnya yang lebih utuh. Kampus mengajarkan ilmu, organisasi mengajarkan kepemimpinan, sementara kehidupan mengajarkan ketahanan. Ketiganya menjadi ruang belajar yang saling melengkapi. Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa intelektualitas tanpa karakter mudah kehilangan arah, sementara idealisme tanpa tanggung jawab mudah kehilangan pijakan.
Sebagai Ketua Komisariat PMII Ubhara Jaya Bekasi, Bagus kini membawa bekal yang lebih panjang daripada sekadar gelar akademik: ilmu hukum, pengalaman berorganisasi, pengalaman bekerja, dan pelajaran tentang kemandirian. Semua itu kelak akan diuji ketika ia memasuki ruang pengabdian yang sesungguhnya, ketika pengetahuan harus berhadapan dengan persoalan masyarakat dan idealisme harus dibuktikan melalui tindakan.
Sebab, toga hanyalah simbol. Gelar hanyalah nama di belakang nama. Tetapi nilai seseorang akan dikenang dari apa yang ia lakukan setelah semua seremoni selesai. Selamat kepada Muhammad Bagus Pribadi, S.H. Semoga ilmu menjadi cahaya, pengalaman menjadi kompas, dan perjuangan yang telah ditempuh menjadi bekal untuk mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
(CP/red)






