Jangan Sampai Bangkrut di Akhirat karena 7 Kebiasaan Ini

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I

7 LARANGAN EMAS PENJAGA HATI DAN KEMULIAAN DIRI; Syarah dari Nasehat Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

Bacaan Lainnya

Hidup ini singkat. Ada kaidah yang jika kita pegang, hidup akan tenang, dicintai manusia dan dicintai Allah. Imam Al-Habib Umar bin Hafidz, ulama besar dari Tarim Hadhramaut, merangkumnya dalam 7 larangan. Bukan perintah yang berat, tapi larangan untuk meninggalkan keburukan.

Mari kita bedah satu per satu dengan dalil, sejarah, dan cerminan kekinian.

1. JANGAN MENCARI KESALAHAN ORANG LAIN

Kesalahan kita sendiri bertumpuk, mengapa sibuk mengorek kesalahan orang?

Dalilnya:

Allah SWT berfirman dengan sangat tegas: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus)…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian saling mencari kesalahan, saling memata-matai, saling membenci, saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari & Muslim)

Kisah Sejarah: Di zaman Khalifah Umar bin Khattab RA, ada seorang sahabat yang dilaporkan minum khamr di rumahnya. Umar ingin menggerebeknya. Seorang sahabat mengingatkan, “Bukankah Allah melarang tajassus? Engkau mencari kesalahannya.” Umar pun urung dan justru mendoakannya. Ternyata orang itu bertaubat.

Imam Syafi’i berkata: “Jika engkau ingin Allah menutupi aibmu, maka jangan pernah kau buka aib saudaramu.”

Potret Kekinian: Inilah penyakit zaman scroll. Budaya stalking, kepo, mencari jejak digital orang untuk dijatuhkan. Di kolom komentar, di grup WhatsApp, di Twitter. Kita jadi detektif untuk aib orang, tapi menjadi pengacara untuk aib sendiri. Padahal sibuk memperbaiki diri adalah kesibukan orang-orang sholeh. Mereka tidak punya waktu untuk mengurusi dosa orang lain.

2. JANGAN MENGHINA ORANG LAIN

Allah tidak pernah menghina kita, meski dosa kita menggunung setiap hari. Lantas siapa kita berani menghina hamba-Nya?

Dalilnya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)…” (QS. Al-Hujurat: 11)

Rasulullah bersabda: “Cukuplah seseorang berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)

Kisah Sejarah: Suatu ketika Abdullah bin Mas’ud, sahabat yang kurus kakinya, naik pohon dan para sahabat tertawa melihat betisnya yang kecil. Rasulullah SAW langsung menegur: “Apa yang kalian tertawakan? Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, kedua betisnya itu di timbangan hari kiamat lebih berat daripada Gunung Uhud.”

Jangan lihat fisiknya, lihat timbangan amalnya di sisi Allah.

Potret Kekinian: Menghina kini berbaju baru: body shaming, mom-shaming, merendahkan pekerjaan orang, menghina karena beda pilihan politik, beda mazhab. Di media sosial, jari kita begitu ringan menulis “Goblok”, “Miskin”, “Rendahan”. Padahal satu kata hinaan bisa menghancurkan hati seseorang bertahun-tahun dan menjadi pemberat hisab kita.

3. JANGAN SUKA MEMBUKA AIB ORANG LAIN

Allah saja Maha Penutup aib. Nama-Nya As-Sattar, Yang Maha Menutupi. Setiap malam kita bermaksiat, Allah tutup. Setiap pagi kita masih diberi wajah untuk bertemu orang lain tanpa mereka tahu dosa kita semalam.

Dalilnya:

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim)

Dan sebaliknya: “Barangsiapa mencari-cari aib saudaranya yang muslim, maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah cari aibnya, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun di dalam rumahnya sendiri.” (HR. Tirmidzi)

Kisah Sejarah: Nabi Musa AS pernah mengalami kemarau panjang. Ia berdoa bersama umatnya. Allah berfirman, “Di antara kalian ada yang bermaksiat 40 tahun, karena dia hujan tertahan.” Musa mengumumkan itu. Sang pendosa bertaubat dalam diam, tanpa mengaku. Tiba-tiba hujan turun. Musa bertanya, “Siapa dia?” Allah menjawab, “Dulu ketika ia bermaksiat Aku tutupi aibnya, sekarang setelah ia bertaubat, bagaimana mungkin Aku membukanya?”

Begitulah Allah menjaga aib. Potret Kekinian: Fenomena spill the tea, bongkar aib, viralkan selingkuhannya. Kita bangga menjadi yang pertama menyebar gosip. Padahal Rasulullah mengajarkan, jika engkau melihat aib, nasihati empat mata, bukan diumbar di status. Jangan jadikan aib orang lain sebagai konten.

4. JANGAN MEREMEHKAN ORANG LAIN

Allah menghargai sekecil apapun usaha hamba-Nya, bahkan senyum pun jadi sedekah. Mengapa kita meremehkan?

Dalilnya: “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)

Rasulullah bersabda: “Janganlah sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun hanya dengan menunjukkan wajah ceria kepada saudaramu.” (HR. Muslim)

Kisah Sejarah: Kisah tukang sepatu dan Imam Ahmad. Imam Ahmad bermimpi Allah mengampuni seorang tukang sepatu miskin karena keikhlasannya. Padahal amalnya sedikit, tapi ia tidak pernah meremehkan orang lain dan selalu ridha. Sementara ahli ibadah yang meremehkan orang lain justru terhalang.

Dalam Perang Badar, ada sahabat yang dipandang remeh karena miskin dan tidak punya kuda, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Tapi justru Allah menurunkan teguran kepada Rasulullah karena sempat bermuka masam kepadanya (QS. Abasa). Allah memuliakan yang diremehkan manusia.

Potret Kekinian: Meremehkan karena followers sedikit, karena kerjaannya ojek online, office boy, tukang sapu. Padahal bisa jadi tukang sapu yang kita remehkan itu, doa tahajjudnya menembus langit, sementara kita yang bergelar tinggi hatinya kosong. Di kantor, jangan remehkan ide staf junior. Di dakwah, jangan remehkan orang yang baru hijrah.

5. JANGAN SAKITI HATI ORANG LAIN

Ingat! Doa orang yang teraniaya itu makbul. Dalilnya: Rasulullah SAW berpesan kepada Mu’adz bin Jabal ketika diutus ke Yaman:

“Takutlah kamu akan doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Allah berfirman: “Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.” (QS. Ibrahim: 42)

Kisah Sejarah: Doa Sa’ad bin Abi Waqqash. Ketika menjadi Gubernur Kufah, ia difitnah. Ia berdoa, “Ya Allah jika hamba-Mu ini dusta, butakan matanya, panjangkan umurnya dalam kefakiran, dan timpakan fitnah padanya.” Semua terkabul. Orang yang memfitnahnya menjadi buta, miskin, dan di usia tua masih mengejar wanita.

Hati-hati dengan air mata yang jatuh karena lisan kita.

Potret Kekinian: Menyakiti hati kini tidak perlu pisau. Cukup dengan ghosting, dengan PHP, dengan kalimat sarkas di grup keluarga, dengan membandingkan anak, dengan tidak membalas chat orang tua, dengan merendahkan pasangan di depan umum. Luka fisik sembuh dalam seminggu, luka hati bisa dibawa sampai mati dan ditagih di akhirat. Apalagi menyakiti hati ibu, ayah, istri, dan orang-orang lemah di sekitar kita.

6. JANGAN BANGGA DENGAN AMAL IBADAH KITA

Hanya Allah yang tahu, apakah amal kita diterima atau ditolak.

Dalilnya: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Mereka beramal, tapi hati mereka takut amalnya tidak diterima. Itulah ciri orang mukmin sejati.

Rasulullah bersabda: “Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya.” Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Termasuk aku, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. Bukhari & Muslim)

Kisah Sejarah: Iblis dulunya adalah ahli ibadah, pemimpin para malaikat, sujudnya ribuan tahun. Tapi karena satu rasa bangga: “Aku lebih baik darinya (Adam)” (QS. Al-A’raf: 12), semua amalnya hangus dan ia dilaknat selamanya.

Seorang abid yang beribadah 500 tahun di puncak gunung, di hari kiamat Allah berkata, “Masukkan ia ke surga dengan rahmat-Ku.” Ia protes, “Tapi dengan amal ku.” Lalu Allah timbang, nikmat satu mata saja sudah lebih berat dari 500 tahun ibadahnya. Akhirnya ia mengaku butuh rahmat Allah.

Potret Kekinian: Penyakit ‘ujub: merasa paling rajin shalat, paling benar ngajinya, paling syar’i hijabnya, lalu memandang sinis yang belum hijrah. Rajin posting ibadah di story, “Alhamdulillah tahajjud lagi”, “khatam ke-5”. Hati-hati, yang kita butuhkan bukan pujian manusia, tapi penerimaan Allah. Amal yang kecil tapi ikhlas, lebih baik dari amal besar tapi untuk pamer.

7. JANGAN SOMBONG DENGAN APA YANG KITA MILIKI

Semua titipan. Kapanpun Allah bisa mengambilnya dalam sekejap mata.

Dalilnya: “Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37)

Rasulullah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim)

Kisah Sejarah: Qarun. Hartanya kunci-kuncinya saja harus dipikul oleh orang-orang kuat. Ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78) Ia lupa itu dari Allah. Akhirnya Allah benamkan ia beserta seluruh hartanya ke dalam bumi. Sampai sekarang masih terbenam.

Fir’aun sombong dengan kekuasaan, Namrud sombong dengan kerajaan, semua berakhir hina.

Potret Kekinian: Sombong versi 2026 adalah flexing. Pamer mobil, jam tangan, tas, saldo, liburan mewah, bukan untuk syukur tapi untuk merendahkan. Sombong ilmu: merasa paling pintar hingga tidak mau dinasihati. Sombong nasab: bangga keturunan orang besar. Padahal semua akan kita tinggalkan. Hari ini kita pakai, besok kita di kafani. Apa yang mau disombongkan dari sesuatu yang hanya pinjaman?

PENUTUP: INDAHNYA MENJADI HAMBA YANG RENDAH HATI

Tujuh larangan ini jika kita jaga, maka hati kita akan bersih, lisan kita selamat, dan hidup kita akan dicintai.

Al-Habib Umar bin Hafidz mengajarkan kita: Jadilah seperti bintang di langit, terlihat kecil di mata manusia, tapi tinggi kedudukannya di sisi Allah. Jangan jadi seperti asap, terlihat besar membumbung, tapi isinya kosong dan sebentar lagi hilang.

Mari kita mulai hari ini:
Cek hati sebelum berkomentar.
Tutup mulut dari aib orang lain.
Rendahkan sayap untuk sesama.
Allahumma… Jadikan kami hamba yang sibuk memperbaiki diri, bukan sibuk menilai orang lain. Tutupilah aib kami sebagaimana Engkau telah menutupinya di dunia, dan janganlah Engkau bongkar di hari dimana tidak ada penutup selain penutup-Mu.

Semoga bermanfaat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *