Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Ada tiga hal yang dibenci orang lain tetapi aku mencintainya: Aku mencintai kematian karena rindu kepada Tuhanku, aku mencintai sakit sebagai pelebur dosa-dosaku, dan aku mencintai kefaqiran sebagai bentuk ketundukan (tawadhu) kepada Tuhanku.
Kalimat pendek, namun menampar logika dunia modern yang kita hidupi hari ini. Di zaman di mana semua orang berlomba mengejar umur panjang, kesehatan prima, dan kekayaan melimpah, seorang sahabat utama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam justru berdiri berlawanan arah. Dialah Abu Darda’ Al-Anshari.
Untuk memahami ucapannya, kita tidak bisa hanya membaca terjemahannya. Kita harus masuk ke dalam hatinya, sejarahnya, dan konteks wahyu yang membentuknya.
1. Siapakah Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu?
Nama lengkapnya adalah Uwaimir bin Malik bin Qais Al-Khazraji Al-Anshari. Dia termasuk kalangan Anshar, dari Suku Khazraj. Kisah keislamannya unik. Di awal dakwah, ia adalah seorang pedagang yang sangat sibuk, bahkan di hari Perang Badar ia masih musyrik. Ia baru masuk Islam setelah Perang Badar, tepatnya setelah Perang Uhud.
Dahulu di rumahnya ada berhala yang ia sembah. Sahabatnya, Abdullah bin Rawahah, yang sudah lebih dulu masuk Islam, bersama seorang pemuda Anshar masuk ke rumahnya saat ia tidak ada dan menghancurkan berhalanya menjadi serpihan kayu. Ketika Abu Darda’ pulang, istrinya menceritakan kejadian itu. Ia marah, lalu kemudian terdiam dan berpikir. Ia sadar, jika Tuhannya saja tidak bisa menjaga dirinya dari dihancurkan, bagaimana bisa ia menjaga tuannya? Sejak saat itulah cahaya hidayah masuk, ia mendatangi Rasulullah dan mengucapkan syahadat.
Sejak masuk Islam, ia berubah menjadi sosok yang zuhudnya luar biasa. Rasulullah mempersaudarakan ia dengan Salman Al-Farisi. Salman pernah menegurnya karena Abu Darda’ terlalu ekstrem dalam ibadah sampai melalaikan hak istrinya dan tubuhnya sendiri. Kisah ini masyhur, sampai Rasulullah bersabda: “Sungguh Salman telah berkata benar.” [HR. Bukhari]
Ia adalah seorang hakim, seorang alim, ahli Quran. Rasulullah pernah bersabda: “Dialah orang alim di umat ini.” [HR. Ahmad]. Ia wafat pada tahun 32 H di masa kekhalifahan Utsman bin Affan, di Damaskus, di mana ia menjadi Qadhi di sana. Umar bin Khattab pernah menawarinya jabatan gubernur, ia menolak. Ia lebih memilih menjadi guru yang mengajarkan Al-Quran di Masjid Damaskus.
Dari hati seperti inilah lahir ucapan tentang tiga kecintaan yang aneh di mata manusia.
2. Cinta Pertama: “Aku Mencintai Kematian Karena Rindu Kepada Tuhanku”
Manusia secara fitrah takut mati. Kita membangun rumah sakit termewah, minum vitamin termahal, berolahraga setiap pagi, semua untuk menunda kematian. Itu fitrah yang wajar.
Namun Abu Darda’ melihat dari jendela yang berbeda. Baginya, kematian bukanlah akhir. Kematian adalah Liqo’, perjumpaan. Pintu gerbang.
Dalil dan Fondasinya: Allah SWT berfirman:
مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ
“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang.” [QS. Al-Ankabut: 5]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ
“Barangsiapa mencintai perjumpaan dengan Allah, maka Allah mencintai perjumpaan dengannya.” [HR. Bukhari & Muslim]
Mencintai kematian di sini bukan bunuh diri, bukan putus asa. Islam sangat keras melarang tamannil maut karena bosan hidup. Rasulullah bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya.” [HR. Bukhari].
Mencintai kematian ala Abu Darda’ adalah kerinduan tingkat tinggi. Seperti seorang perantau yang sudah puluhan tahun di negeri orang, ia rindu kampung halaman. Dunia adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi kafir, kata Rasulullah. Jadi kematian adalah hari pembebasan.
Kisah: Ketika Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu menjelang wafat, istrinya menangis berkata, “Aduh, alangkah sedihnya!” Bilal justru tersenyum dan berkata, “Aduh, alangkah senangnya! Besok kita berjumpa dengan kekasih, Muhammad dan para sahabatnya!”
Itulah rasa yang sama dengan Abu Darda’.
Konteks Kekinian:
Di zaman ini kita terkena penyakit Hubbud Dunya wa Karahiyatul Maut – cinta dunia dan benci mati. Karena benci mati, kita menunda taubat. “Nanti saja hijrahnya kalau sudah tua.” Karena cinta dunia, kita menipu, korupsi, sikut-sikutan.
Obatnya adalah mengingat mati. Bukan agar kita depresi, tapi agar kita prioritas. Jika kita tahu besok akan bertemu Allah, apakah kita masih berani menunda shalat? Masih berani menggibah? Masih berani memakan hak orang? Cinta pada kematian membuat hidup menjadi lebih hidup, lebih bermakna, lebih hati-hati.
3. Cinta Kedua: “Aku Mencintai Sakit Sebagai Pelebur Dosa-dosaku”
Siapa yang suka sakit? Semua orang ingin sehat. Namun Abu Darda’ mencintai sakit.
Dalil dan Fondasinya: Ini bukan masokisme. Ini adalah pemahaman tentang Kaffarah, penebusan dosa.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا
“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang Muslim melainkan Allah akan menghapus (dosanya) dengannya, bahkan duri yang menusuknya sekalipun.” [HR. Bukhari & Muslim]
مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Ujian akan senantiasa menimpa orang mukmin, baik pada dirinya, anaknya, maupun hartanya, sampai ia bertemu Allah tanpa membawa satu dosa pun.” [HR. Tirmidzi, Hasan Shahih]
Ketika sakit, dosa berguguran seperti daun yang gugur dari pohon di musim gugur.
Kisah: Suatu ketika seorang wanita Anshar datang kepada Rasulullah, ia menderita penyakit ayan (epilepsi). Ia berkata, “Ya Rasulullah, doakan aku agar sembuh.” Rasulullah menawarkan dua pilihan: “Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga. Jika engkau mau, aku doakan agar Allah menyembuhkanmu.” Wanita itu memilih bersabar, namun meminta didoakan agar ketika kambuh auratnya tidak tersingkap. Rasulullah pun mendoakannya. [HR. Bukhari & Muslim].
Lihat, ia memilih sakit yang disertai surga. Imam Ahmad bin Hanbal ketika sakit, ia merintih. Ada yang mengingatkannya tentang Thawus yang mengatakan malaikat mencatat bahkan rintihan sakit. Mendengar itu, Imam Ahmad langsung diam dan tidak merintih lagi sampai wafatnya. Mereka menjaga agar pahala sabarnya sempurna.
Konteks Kekinian:
Hari ini, ketika sakit sedikit, kita mengeluh di status WhatsApp, mengeluh di Instagram Story. Kita lupa bahwa sakit adalah cara Allah menyapa kita secara pribadi.
Bayangkan dosa kita setiap hari: mata melihat yang haram, telinga mendengar ghibah, lisan berdusta, hati hasad. Jika tidak dibersihkan di dunia dengan demam, flu, dan rasa nyeri, maka akan dibersihkan di akhirat dengan api yang jauh lebih pedih.
Mencintai sakit bukan berarti tidak berobat. Rasulullah menyuruh kita berobat. Tapi ketika sakit itu datang, hati kita berkata: “Ya Allah, aku rida. Jadikan ini penggugur dosa-dosaku. Aku belum suci, aku butuh pembersihan ini.” Maka sakit yang sama, yang bagi orang lain menjadi siksaan, bagi mukmin menjadi tangga menuju surga.
4. Cinta Ketiga: “Aku Mencintai Kefaqiran Sebagai Bentuk Tawadhu’ Kepada Tuhanku”
Ini yang paling menampar. Di era flexing, pamer kekayaan, semua orang ingin terlihat kaya, Abu Darda’ justru mencintai faqir.
Dalil dan Fondasinya: Allah berfirman:
وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ
“Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (faqir).” [QS. Muhammad: 38]
Hakikat kita memang faqir di hadapan Allah. Harta sering membuat kita lupa hakikat ini.
Rasulullah bersabda:
يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ
“Orang-orang faqir dari kalangan Muslimin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka dengan jarak setengah hari, yaitu 500 tahun.” [HR. Tirmidzi, Hasan Shahih]
Bukan karena kemiskinan itu mulia dengan sendirinya, tapi karena hisabnya lebih ringan, ujiannya lebih sedikit, dan lebih mudah melahirkan tawadhu’.
Rasulullah sendiri, pemimpin dunia dan akhirat, hidup faqir. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Sungguh, pernah lewat tiga hilal (dua bulan) dan tidak ada api yang menyala (memasak) di rumah Rasulullah.” Mereka hanya hidup dengan kurma dan air. [HR. Bukhari & Muslim].
Kisah:
Abdullah bin Mas’ud berkata seperti yang engkau kutip:
“Alangkah bagusnya dua perkara yang dibenci: kematian dan kefakiran. Demi Allah, aku tidak peduli dengan yang mana aku diuji. Jika kaya, maka kekayaan itu untuk menolong. Jika faqir, maka di dalamnya ada kesabaran.”
Lihatlah Umar bin Khattab ketika menjadi Khalifah, bajunya bertambal. Ketika ditanya, ia berkata, “Apakah kalian pikir aku tidak bisa memakai pakaian mewah? Tapi aku takut hisabnya.”
Abu Darda’ pernah ditawari harta yang banyak dari Muawiyah di Damaskus, ia menolak dan berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Di hadapan kalian ada tanjakan yang sulit, yang tidak bisa didaki kecuali oleh orang yang ringan bebannya.’ Maka aku ingin tetap ringan.”
Konteks Kekinian:
Hari ini kita mengukur kesuksesan dari saldo rekening, merek mobil, luas rumah. Kita jijik dengan kemiskinan. Padahal, justru kemiskinan yang dekat dengan kehidupan para Nabi.
Nabi Isa tidak punya rumah. Nabi Yahya pakaiannya dari kulit. Nabi Muhammad tidur di atas tikar sampai membekas di punggungnya.
Mencintai kefaqiran bukan berarti bermalas-malasan, tidak bekerja, dan menjadi beban. Rasulullah adalah pedagang yang ulung. Abu Darda’ juga pedagang. Tapi mereka meletakkan dunia di tangan, bukan di hati.
Makna mencintai kefaqiran hari ini adalah:
1. Tidak silau dengan harta. Kita bekerja keras, tapi jika Allah takdirkan hasilnya sedikit, kita tidak menghina diri sendiri dan tidak hasad pada orang lain. 2. Tawadhu’. Orang kaya mudah sombong. Orang faqir lebih mudah merasa butuh Allah. Setiap sujudnya lebih dalam, setiap doanya lebih tulus karena ia tahu tidak ada yang bisa menolong selain Allah. 3. Terbebas dari ketamakan. Ketika kita cinta faqir, kita tidak akan menghalalkan segala cara demi uang. Kita tidak akan korupsi, menipu, memakan riba.
Penutup: Paradoks Mukmin
Allah telah merangkum semua ini dalam satu ayat yang engkau tulis: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [QS. Al-Baqarah: 216]
Anak Adam membenci kematian, sedikit harta, dan sakit. Padahal kata Nabi: Dua perkara yang dibenci anak Adam: (pertama) kematian, padahal kematian itu lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah. (Kedua) dia membenci sedikit harta, padahal sedikit harta itu lebih menyedikitkan hisab. [HR. Ahmad, Shahih oleh Al-Albani no. 813]
Maka wahai saudaraku, Kalau kematian membuat kita mulia di sisi-Nya, kenapa harus takut? Persiapkan bekalnya.
Kalau sakit dapat menghapus dosa, kenapa kita menolak? Bukankah kita berlumuran dosa setiap hari dan butuh pembersihnya?
Kalau kemiskinan membuat kita tawadhu’ dan itu merupakan kehidupan kebanyakan para Nabi dan Rasul, kenapa kita jijik karenanya? Bukankah tawadhu’ itu mahkota kemuliaan?
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai apa yang dicintai oleh orang-orang shaleh, dan membenci apa yang seharusnya dibenci, bukan karena hawa nafsu, tapi karena ilmu dan iman.
Wallahu A’lam Bishshawab.
Semoga bermanfaat.






