JAKARTA – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo (Bamsoet) menekankan pentingnya kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang kian kompleks dan tidak menentu. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia, ia menegaskan dunia usaha memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Menurut Bamsoet, situasi dunia saat ini menunjukkan adanya pergeseran kekuatan yang signifikan, ditandai dengan meningkatnya konflik di berbagai kawasan seperti Timur Tengah, Eropa Timur, hingga Indo-Pasifik. Ia menyebut kondisi tersebut bukan sekadar konflik biasa, melainkan bagian dari kontestasi besar antar kekuatan dunia dalam memperebutkan pengaruh ekonomi dan geopolitik.
“Yang kita hadapi bukan hanya konflik terbuka, tetapi perubahan tatanan global yang akan menentukan arah ekonomi dunia ke depan. Indonesia harus bersiap dengan strategi yang matang,” ujar Bamsoet.
Ia menambahkan, posisi Indonesia yang berada di jalur strategis perdagangan internasional menjadikan negara ini memiliki peran penting, sekaligus menghadapi potensi kerentanan. Kawasan seperti Selat Malaka dan Laut Natuna dinilai menjadi titik krusial yang harus dijaga stabilitas dan keamanannya.
Dalam konteks tersebut, Bamsoet menekankan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah menjaga ketahanan ekonomi nasional, khususnya di sektor energi dan pangan. Ia mengingatkan bahwa fluktuasi harga minyak dunia sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik, terutama jika terjadi gangguan di jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz.
Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas pangan strategis juga menjadi perhatian serius. Gangguan rantai pasok global, menurutnya, dapat berdampak langsung pada stabilitas harga dalam negeri dan berpotensi memicu tekanan inflasi.
“Ketahanan pangan dan energi harus menjadi prioritas utama. Kita tidak boleh terlalu bergantung pada kondisi eksternal yang sangat dinamis,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bamsoet mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan di tengah tekanan global yang dapat memicu gejolak sosial. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil.
“Kita harus tetap solid sebagai bangsa. Jangan sampai situasi global dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menciptakan instabilitas di dalam negeri,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Bamsoet mendorong penguatan koordinasi lintas sektor melalui pembentukan mekanisme respons cepat yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga. Tujuannya adalah agar pemerintah dapat mengambil keputusan secara cepat dan tepat dalam merespons dinamika global yang terus berubah.
Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor strategis, termasuk aparat keamanan dan intelijen, agar lebih adaptif terhadap ancaman modern yang semakin kompleks dan multidimensional.
Dalam hubungan internasional, Bamsoet menegaskan bahwa Indonesia harus tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Menurutnya, pendekatan ini menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan global, sekaligus memperkuat kerja sama dengan negara-negara berkembang.
“Indonesia harus mampu menjadi penyeimbang di tengah rivalitas global. Prinsip bebas aktif harus diterjemahkan dalam langkah konkret yang mengedepankan kepentingan nasional,” pungkasnya.
Dengan berbagai tantangan yang ada, Bamsoet optimistis Indonesia memiliki peluang besar untuk tetap stabil dan bahkan memperkuat posisinya di tengah dinamika global, selama mampu menjaga ketahanan nasional dan memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha.






