Tausyiah Jumat Habib Aboe: Jalan yang Sunyi: Ketika Kebenaran Tak Selalu Ramai, Ujian Iman di Tengah Arus Mayoritas

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Dapil Kalimantan Selatan

“Peganglah jalan hidayah, tidak membahayakanmu sedikitnya orang yang melaluinya. Dan jauhi jalan kesesatan, dan jangan tertipu oleh banyaknya orang yang tersesat.”

— Imam Asy-Syathibi, Al-I’tisham

Sunyi yang Menyelamatkan

Ada saat dalam hidup ketika kita berdiri di persimpangan—di satu sisi jalan terasa sepi, lengang, nyaris tak berjejak. Di sisi lain, jalan begitu ramai, riuh, penuh tepuk tangan dan sorak sorai. Hati kita sering tergoda memilih yang ramai, karena manusia memang cenderung merasa aman dalam kerumunan.

Namun, kebenaran tidak selalu berjalan bersama mayoritas.

Di zaman ini, ukuran benar dan salah sering digeser oleh jumlah “like”, “view”, dan “share”. Seolah-olah yang paling banyak diikuti adalah yang paling benar. Padahal, dalam pandangan Allah, kebenaran tidak diukur dari banyaknya pengikut, melainkan dari kesesuaiannya dengan wahyu.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…”

(QS. Al-An’am: 116)

Ayat ini seperti tamparan halus bagi jiwa yang mulai goyah. Ia mengingatkan bahwa mayoritas bukanlah jaminan keselamatan.

Ketika Nabi Berjalan Sendiri

Sejarah para nabi adalah bukti bahwa jalan hidayah sering kali sunyi.

Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun. Hampir satu milenium ia memanggil kaumnya kepada kebenaran. Namun, berapa banyak yang mengikutinya? Sangat sedikit.

Allah mengabadikan kisah itu:

“Dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit.”

(QS. Hud: 40)

Bayangkan—950 tahun bukan waktu yang singkat. Tapi kebenaran tidak diukur dari hasil instan. Nuh tetap berdiri, tetap berseru, meski yang datang hanya segelintir.

Begitu pula Nabi Ibrahim. Ia berdiri seorang diri melawan satu peradaban yang menyembah berhala. Bahkan ayahnya sendiri menentangnya. Ia dibakar hidup-hidup karena mempertahankan tauhid.

Namun Allah menyebutnya:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (teladan), tunduk kepada Allah…”

(QS. An-Nahl: 120)

Satu orang, tapi bernilai satu umat.

Dan lihatlah Nabi Muhammad di awal dakwahnya di Makkah. Beliau dicaci, dilempari, bahkan diusir. Pengikutnya sedikit, tekanan begitu besar. Tapi beliau tidak pernah menukar kebenaran dengan popularitas.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”

(HR. Muslim)

Asing—bukan berarti salah. Justru bisa jadi itu tanda bahwa kita sedang menjaga kebenaran di tengah arus yang salah.

Tipuan Mayoritas di Zaman Digital

Hari ini, kesesatan tidak lagi selalu datang dalam bentuk yang kasar. Ia hadir halus, terbungkus estetika, dibalut kata-kata motivasi, dan disebarkan oleh jutaan akun.

Kita hidup di zaman di mana kebatilan bisa viral dalam hitungan detik.

Fakta menunjukkan:

1. Informasi palsu (hoaks) menyebar lebih cepat dibandingkan kebenaran.

2. Konten negatif sering kali lebih diminati karena memancing emosi.

3. Banyak orang mengikuti tren tanpa memahami nilai di baliknya.

4. Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai fitnah syubhat—kebingungan antara benar dan salah.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya…”

(HR. Ahmad)

Di masa itu, yang salah dianggap benar, dan yang benar dianggap salah.

Bukankah kita sedang menyaksikannya hari ini?

Jejak Sejarah: Ketika Kebenaran Ditolak

Sejarah Islam penuh dengan pelajaran tentang bagaimana mayoritas bisa keliru.

Pada masa Imam Ahmad bin Hanbal, terjadi fitnah besar tentang Al-Qur’an. Banyak ulama tunduk pada tekanan penguasa dan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.

Namun Imam Ahmad berdiri teguh sendirian. Ia dipenjara, disiksa, dipermalukan. Tapi ia tidak bergeser.

Hari ini, siapa yang dikenang sebagai penjaga kebenaran?

Bukan mayoritas yang tunduk, tetapi satu orang yang bertahan.

Sejarah membuktikan: kebenaran mungkin kalah suara, tapi tidak pernah kalah nilai.

Menggenggam Hidayah di Tengah Gelombang

Hidayah bukan sekadar mengetahui kebenaran, tapi keberanian untuk tetap di atasnya ketika semua orang berpaling.

Allah ﷻ berfirman:

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada apa yang telah diwahyukan kepadamu…”

(QS. Az-Zukhruf: 43)

Berpegang teguh berarti tidak mudah goyah. Tidak menjual prinsip demi diterima. Tidak menggadaikan iman demi pujian.

Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah banyaknya teman, tapi lurusnya jalan.

Penutup: Jalan yang Tidak Ramai, Tapi Pasti

Jangan takut jika langkahmu terasa sendiri.

Karena bisa jadi, itu tanda bahwa engkau sedang berjalan di jalan para nabi.

Jangan gentar jika kebenaranmu tidak populer.

Karena surga tidak diisi oleh mereka yang sekadar ikut arus, tapi oleh mereka yang berani melawan arus demi Allah.

Imam Asy-Syathibi telah mengingatkan kita—dan nasihat itu menembus zaman:

Jangan tertipu oleh banyaknya orang yang tersesat.

Karena kebenaran…

tidak pernah bergantung pada jumlah.

Ia berdiri sendiri.

Tegak.

Dan menunggu siapa yang cukup berani untuk mengikutinya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *