Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Ada satu bagian dari diri manusia yang tak bertulang, namun mampu meruntuhkan bangunan keimanan yang telah lama dibangun; ia kecil, tak terlihat berat, namun dampaknya bisa melampaui gunung yang menjulang, itulah lisan.
Di era ketika kata-kata tidak hanya terucap tetapi juga tersebar dalam hitungan detik melalui jemari dan layar, lisan tak lagi sekadar suara, melainkan juga tulisan, komentar, unggahan, dan segala bentuk ekspresi yang keluar dari dalam diri. Maka, menjaga lisan hari ini bukan hanya tentang apa yang kita ucapkan, tetapi juga tentang apa yang kita “bagikan”, karena setiap kata yang terlepas, baik terdengar maupun terbaca, akan tetap tercatat dan berdampak.
Rasulullah SAW. pernah dihadapkan pada dua potret manusia yang tampak bertolak belakang dalam nilai yang sesungguhnya. Disampaikan kepada beliau tentang seorang wanita yang begitu tekun beribadah, malamnya hidup dengan qiyam, siangnya dipenuhi puasa, sedekahnya mengalir, amalnya tampak begitu sempurna, namun di balik semua itu lisannya menjadi sumber luka bagi tetangganya. Maka Rasulullah SAW. bersabda:
قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فُلَانَةَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَّدَّقُ، وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟
فَقَالَ: لَا خَيْرَ فِيهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
“Dikatakan kepada Nabi: Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah rajin shalat malam, berpuasa di siang hari, banyak beramal dan bersedekah, namun ia menyakiti tetangganya dengan lisannya. Maka beliau bersabda: Tidak ada kebaikan padanya, ia termasuk ahli neraka.” (HR. Ahmad)
Betapa kalimat ini mengguncang, seakan seluruh standar kesalehan yang selama ini kita bangun tiba-tiba diuji ulang. Bahwa ibadah yang tinggi bisa menjadi tak bernilai ketika lisan dibiarkan melukai. Bahwa kedekatan dengan Allah tidak sah tanpa kebaikan kepada manusia.
Kemudian disebutkan pula sosok lain yang tampak sederhana, ibadahnya biasa saja, tidak banyak amal tambahan, sedekahnya pun sederhana, namun lisannya terjaga, tidak menyakiti siapa pun. Maka Rasulullah SAW. bersabda:
قِيلَ: وَفُلَانَةَ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ، وَتَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ، وَلَا تُؤْذِي أَحَدًا؟
فَقَالَ: هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Dikatakan: Si Fulanah hanya shalat wajib, bersedekah dengan sesuatu yang sederhana, dan tidak menyakiti siapa pun. Maka beliau bersabda: Ia termasuk ahli surga.”
Di sinilah kita mulai memahami bahwa dalam timbangan Ilahi, dampak kita terhadap orang lain jauh lebih menentukan daripada sekadar banyaknya amal yang tampak.
Allah SWT. mengingatkan dalam firman-Nya:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang mencatat.” (QS. Qāf: 18)
Ayat ini tidak memberi ruang bagi kelalaian. Setiap kata yang keluar, setiap kalimat yang diketik, setiap komentar yang dibagikan, semuanya terekam, tidak ada yang terlewat. Maka dalam dunia yang serba cepat ini, di mana jempol seringkali lebih cepat daripada hati dan pikiran, prinsip “saring sebelum sharing” menjadi bukan sekadar etika sosial, tetapi juga tuntutan keimanan.
Rasulullah SAW. menegaskan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun hari ini, “diam” bukan hanya berarti tidak berbicara, tetapi juga tidak menulis, tidak mengomentari, tidak menyebarkan sesuatu yang belum tentu benar atau bermanfaat. Karena setiap “share” tanpa saringan bisa menjadi dosa yang mengalir tanpa henti, bahkan setelah kita lupa pernah melakukannya.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
اللِّسَانُ سَبُعٌ إِنْ خُلِّيَ عَنْهُ عَقَرَ
“Lisan itu bagaikan binatang buas, jika dilepas ia akan menerkam.”
Dan di era digital, “binatang buas” itu tidak hanya keluar dari mulut, tetapi juga dari ujung jari. Ia bisa menjelma menjadi komentar kasar, hoaks yang menyebar, fitnah yang viral, dan opini yang melukai banyak hati dalam waktu singkat.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa sebagian besar dosa manusia bersumber dari lisan, karena darinyalah lahir ghibah, namimah, dusta, dan ucapan sia-sia. Maka menjaga lisan sejatinya adalah menjaga seluruh bangunan moral dalam diri manusia.
Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa sering kita berbicara atau seberapa banyak kita berbagi, tetapi tentang seberapa bijak kita menahan diri sebelum itu semua terjadi. Karena satu kalimat bisa mengangkat derajat kita di sisi Allah, namun satu kalimat pula bisa menjatuhkan kita ke dalam penyesalan yang panjang.
Maka sebelum berbicara, sebelum menulis, sebelum menekan tombol “kirim” atau “bagikan”, bertanyalah pada diri: apakah ini benar? apakah ini baik? apakah ini perlu? Jika tidak, maka diam adalah pilihan yang lebih mulia. Karena dalam diam yang terjaga, ada keselamatan; dan dalam lisan yang tersaring, ada jalan menuju cahaya.
Sebab pada akhirnya, bukan hanya amal besar yang akan ditimbang, tetapi juga kata-kata kecil yang pernah kita lepaskan ke dunia. Dan di sanalah lisan akan bersaksi, apakah ia menjadi jalan menuju surga, atau justru menjadi sebab kita terjatuh ke dalam neraka.
# Wallahu A’lam Bishawab🙏






