SILATURRAHIM DAN SILATUL HASAD: Saat Ukhuwah Dikalahkan Ego

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin

Ada manusia yang tidak mampu melihat orang lain berkumpul dengan bahagia tanpa merasa gelisah dalam dadanya. Ada yang tidak tahan menyaksikan persaudaraan tumbuh, lalu diam-diam berusaha memecahnya dengan ego, prasangka, dan ambisi tersembunyi.

Bacaan Lainnya

Ada pula yang lebih sibuk membangun “pertemuan tandingan” daripada membangun ketulusan persaudaraan. Mereka hadir bukan untuk menyambung hati, tetapi untuk mengalihkan perhatian. Bukan untuk memperkuat ukhuwah, tetapi untuk melemahkan kebersamaan. Bukan untuk memuliakan silaturrahim, tetapi untuk memuaskan hasad yang lama dipendam.

Inilah yang hari ini perlahan tumbuh dalam sebagian realitas sosial kita, silaturrahim berubah menjadi arena persaingan gengsi, ego kelompok, dan pertarungan pengaruh. Padahal “silaturrahim” berasal dari kata rahim , akar kasih sayang, kelembutan, dan hubungan kemanusiaan yang lahir dari ketulusan hati. Sedangkan “Silatul Hasad” adalah hubungan yang dibangun bukan karena cinta dan kepedulian, tetapi karena iri hati, kecemburuan, persaingan, dan keinginan menjatuhkan pihak lain.

Silaturrahim menyatukan hati. Silatul Hasad menyatukan kebencian. Silaturrahim menghadirkan ketenangan. Silatul Hasad melahirkan kegelisahan. Silaturrahim memperpanjang keberkahan hidup.
Silatul Hasad memperpendek umur persaudaraan. Allah SWT. berfirman:
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturrahim.”(QS. An-Nisa: 1)

Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan antarmanusia bukan sekadar tradisi sosial, tetapi bagian dari ketakwaan. Namun hari ini, mengapa sebagian manusia justru lebih mudah membangun kelompok dibanding membangun hati?. Mengapa ada yang sengaja membuat kegiatan tandingan hanya karena tidak rela melihat orang lain berhasil menyatukan banyak pihak?. Mengapa ego kelompok lebih besar daripada kepentingan persaudaraan?. Mengapa ambisi tampil lebih dominan daripada ketulusan merangkul?

Bukankah ini tanda bahwa hati mulai dipenuhi penyakit hasad?.Rasulullah SAW. bersabda:
دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ
“Telah menjalar kepada kalian penyakit umat sebelum kalian: hasad dan kebencian.”(HR. Tirmidzi)

Hasad bukan sekadar tidak suka melihat orang lain bahagia. Hasad adalah kesedihan melihat orang lain memperoleh kebaikan. Karena itu, orang yang dipenuhi hasad akan sulit tulus. Ia mudah menyerang.
mudah menuduh, mudah berpolemik, mudah memprovokasi, mudah mempermalukan orang lain di ruang publik.

Bahkan terkadang ia membuka aib sendiri dan keluarganya hanya demi memenangkan pertarungan ego yang sesungguhnya tidak bernilai di hadapan Allah SWT. Ironisnya, semua itu sering dibungkus dengan narasi moral, perjuangan, bahkan agama. Padahal Allah SWT. berfirman:
وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
“Janganlah kalian saling mencela dan saling memanggil dengan gelar-gelar buruk.”(QS. Al- Hujurat: 11)

Ayat ini sangat relevan dengan kondisi hari ini, media sosial dipenuhi saling menyerang, majelis dipenuhi saling curiga, organisasi dipenuhi saling menjatuhkan, dan pendidikan sering kehilangan ruh keteladanan karena manusia lebih sibuk memenangkan ego daripada memperbaiki diri.

Padahal generasi muda sedang melihat semuanya, mereka menyaksikan orang dewasa mudah marah, mereka melihat tokoh lebih suka menyerang daripada merangkul, mereka melihat perdebatan lebih diprioritaskan daripada kebijaksanaan. Mereka (termasuk para santri) dipertontonkan adegan tercela dan perilaku yang tidak etis, bahkan terkadang mereak diseret untuk terlibat melakukan aksi kejahatan dan kekerasan atas nama kebenaran

Lalu kita bertanya: mengapa eksploitasi anak-anak dibawah usia atau usia pelajar untuk kekerasan semakin dimassifkan?, mengapa bullying meningkat?, mengapa kekerasan seksual tumbuh?, mengapa intoleransi merusak sekolah, mengapa peserta didik kehilangan adab?. Jawabannya sederhana namun menyakitkan, karena sebagian generasi kita, belajar bukan dari nasihat tetapi dari perilaku yang mereka saksikan bahkan tidak jarang didoktrinkan.
Ali bin Abi Thalib RA. berkata:
النَّاسُ بِأُمَرَائِهِمْ أَشْبَهُ مِنْهُمْ بِآبَائِهِمْ
“Manusia lebih banyak meniru pemimpinnya daripada meniru orang tuanya.”

Karena itu, pendidikan karakter hari ini sedang menghadapi tantangan besar. Teknologi berkembang cepat, tetapi kedewasaan moral tertinggal jauh. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan semakin langka. Manusia semakin terhubung secara digital, tetapi semakin jauh secara emosional dan spiritual.

Anak-anak kita hidup di tengah dunia yang sangat bising, tetapi miskin ketenangan jiwa, mereka dieksploitasi oleh konten, dijadikan target pasar, diarahkan oleh algoritma, dipengaruhi budaya viral, tetapi tidak cukup dipeluk oleh pendidikan nilai dan kasih sayang.

Itulah sebabnya pembentukan dan Pendidikan Nasional kita seharusnya tidak hanya menjadi seremoni dan himbauan semata, tetapi momentum evaluasi besar, apakah pendidikan kita benar-benar sedang membentuk manusia?, ataukah hanya sedang mencetak kompetitor tanpa empati?. Imam Malik berkata:
تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

Karena ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan, teknologi tanpa moral melahirkan kerusakan, kecerdasan tanpa spiritualitas melahirkan manusia dingin yang kehilangan nurani, pendidikan tanpa keteladanan melahirkan kehampaan . Maka negara, pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, keluarga, dan masyarakat harus hadir lebih serius menyelamatkan generasi.

Guru harus dimuliakan. Pendidikan karakter harus diperkuat, regulasi perlindungan moral generasi harus ditegakkan, sekolah tidak boleh hanya mengejar angka dan prestasi administratif. Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kualitas hati manusia yang menggunakannya. Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati kalian.”(HR. Muslim)

Karena itu, mari berhenti membangun “Silatul Hasad”. Berhenti menjadikan perbedaan sebagai alasan permusuhan, berhenti merasa besar dengan menjatuhkan orang lain, berhenti memelihara ego peribadi dan kelompok yang memecah persaudaraan, berhenti memelihara ambisi hanya karena kecewa kehilangan panggung , berhenti berusaha menunjukkan suprioritas dirinya atau kelompoknya karena ingin mendapat validaisi eksternal atau semacamnya.

Mari kembali membangun silaturrahim yang tulus, yang menghadirkan kasih sayang, yang merangkul tanpa kepentingan, yang menenangkan tanpa provokasi, yang memperbaiki tanpa mempermalukan. Sebab dunia hari ini tidak terlalu membutuhkan lebih banyak orang pintar. Dunia membutuhkan lebih banyak manusia yang lembut hatinya, manusia yang ketika berbeda tetap menghormati, ketika kecewa tetap menjaga adab, ketuka disakiti tetap memilih kedewasaan, dan ketika memiliki kesempatan membalas, justru memilih memaafkan.

Sebab sesungguhnya, kedamaian tidak lahir dari kemenangan ego, tetapi dari kelapangan hati. Dan persaudaraan tidak akan pernah tumbuh di atas hasad, tetapi tumbuh dari jiwa yang ikhlas menerima bahwa tidak semua cahaya harus bersinar dari dirinya sendiri.
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

“Dan Kami hilangkan segala rasa dengki dari dalam hati mereka, sehingga mereka menjadi bersaudara.”(QS. Al-Hijr: 47)

#Wallahu A’lam Bish-Shawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *