Gen Penulis Itu Berkarya, Bukan Berkuasa: Catatan Kongres Satupena 2026

Oleh: Toto Izul Fatah*

Meski tak ikut hadir di Kongres Satupena, Kamis (13/8) kemarin, dan saya juga tidak masuk dalam struktur sebagai pengurus, tidak ada salahnya saya ikut sumbang pikir dari luar arena.

Bacaan Lainnya

Terutama, dalam konteks terjadinya dinamika organisasi sebelum kongres digelar yang, menurut saya, masih wajar. Ada kritik keras, “serangan” kepada sejumlah figur pengurus, dan ada juga protes terhadap pelaksanaan kongres itu sendiri.

Sekali lagi, itu wajar. Satu hal yang ingin saya sampaikan, sejauh yang saya ketahui dan ikuti, Satupena sejatinya bukan sekadar organisasi tempat berhimpunnya para penulis.

Satupena adalah rumah gagasan, rumah kebudayaan, sekaligus ruang perjumpaan bagi orang-orang yang memilih kata, pikiran, dan karya sebagai jalan pengabdian.

Karena itu, saya pernah mengingatkan bahwa “gen” seorang penulis itu adalah berkarya, bukan berkuasa. Apalagi berkudeta.

Penulis boleh berbeda pendapat, karena itu merupakan sesuatu yang sangat lumrah dalam dunia kepenulisan. Dua penulis dapat membaca realitas yang sama, tetapi melahirkan kesimpulan yang berbeda. Justru di situlah kekayaan dunia intelektual.

Namun, perbedaan pandangan seharusnya tidak menyeret organisasi penulis ke dalam logika perebutan kekuasaan.

Sebab, jika setiap perbedaan kemudian diselesaikan dengan jalan saling menjatuhkan, saling meniadakan, apalagi mengambil alih kepemimpinan melalui cara-cara yang tidak elegan, maka organisasi penulis telah kehilangan sebagian dari roh dasarnya.

Penulis itu pada dasarnya memiliki jiwa yang khas.
Ia peka terhadap penderitaan. Peka terhadap ketidakadilan. Peka terhadap kegelisahan masyarakat. Bahkan terhadap hal-hal kecil yang mungkin luput dari perhatian kebanyakan orang.

Karena kepekaan itulah seorang penulis kemudian menuangkannya melalui puisi, cerpen, novel, esai, artikel, kritik sosial, maupun karya-karya pemikiran lainnya.

Maka darah seorang penulis mestinya relatif halus, lembut, toleran, dan terbuka terhadap perbedaan.
Meskipun, jangan salah memahami kelembutan itu.

Penulis tetap harus kritis. Bahkan kritik merupakan salah satu napas utama dunia kepenulisan. Ketika terjadi penyimpangan, ketidakadilan, manipulasi kekuasaan atau pelanggaran etika, penulis tidak boleh kehilangan keberanian untuk bersuara.

Hanya saja, kritik berbeda dengan caci maki. Kritik bekerja menggunakan argumentasi. Caci maki bekerja menggunakan emosi.

Kritik mencoba meluruskan sesuatu yang dianggap salah. Caci maki justru sering kali bermaksud merendahkan orang lain. Dan penulis seharusnya berdiri di wilayah pertama.

Sejarah tidak terlalu lama mengingat siapa yang pernah menjadi ketua sebuah organisasi. Tetapi sejarah dapat mengingat karya seorang penulis selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Orang boleh lupa siapa yang menjadi pengurus organisasi sastra pada suatu masa. Tetapi masyarakat tetap membaca Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Buya Hamka, Mochtar Lubis, Rendra, dan sederet penulis lainnya karena karya mereka.

Di situlah sebenarnya kekuasaan seorang penulis.
Kekuasaannya adalah pengaruh gagasan. Senjatanya bukan jabatan, melainkan kata-kata. Panggungnya bukan kursi organisasi, melainkan ruang kesadaran pembacanya.

Karena itu, kalau seorang penulis ingin “mengalahkan” penulis lain, kalahkanlah dengan karya yang lebih bagus. Kalau berbeda gagasan, jawablah dengan gagasan yang lebih kuat. Kalau merasa ada sesuatu yang keliru, tulislah kritik yang lebih argumentatif.

Itulah pertarungan yang paling sesuai dengan martabat seorang penulis. Organisasi memang membutuhkan struktur. Ada ketua, sekretaris, pengurus, aturan organisasi dan mekanisme pergantian kepemimpinan.

Tetapi struktur hanyalah instrumen agar organisasi berjalan. Ia bukan tujuan. Persoalan mulai muncul ketika organisasi penulis mulai terlalu disibukkan dengan politik kekuasaan: siapa memimpin, siapa menguasai struktur, siapa menang dan siapa kalah.

Jika itu yang terjadi, energi besar para penulis justru terbuang untuk urusan internal. Padahal di luar sana terdapat begitu banyak persoalan bangsa yang membutuhkan suara kaum intelektual dan kebudayaan.

Literasi masyarakat masih menjadi pekerjaan besar. Minat baca harus terus diperkuat. Industri buku menghadapi berbagai tantangan. Kecerdasan buatan mengubah dunia kepenulisan. Generasi muda membutuhkan lebih banyak bacaan bermutu.

Bukankah persoalan-persoalan tersebut jauh lebih penting untuk dipikirkan bersama? Satupena akan jauh lebih bermakna apabila energinya diarahkan kepada lahirnya karya, diskusi intelektual, penerbitan buku, pembinaan penulis muda, penghargaan terhadap karya dan penguatan kebudayaan membaca.

Saya percaya orang-orang yang berhimpun di Satupena adalah mereka yang terbiasa membaca banyak perspektif. Karena itu, mestinya para penulis juga menjadi kelompok yang paling siap menerima perbedaan.

Hari ini kita berbeda pendapat mengenai organisasi. Besok mungkin kita berbeda pandangan mengenai politik, sastra, agama, kebudayaan atau persoalan sosial.

Sekali lagi, tidak ada masalah. Yang penting, perbedaan itu jangan menghapus persahabatan.
Berbeda tidak harus bermusuhan. Mengkritik tidak harus mencaci. Tidak sepakat tidak harus menjatuhkan.

Apalagi sampai membelah sesama penulis menjadi kubu-kubu yang saling menyerang. Kita boleh tidak menyukai keputusan seseorang. Kita boleh mengkritik kepemimpinan siapa pun, termasuk kepemimpinan Denny JA di Satupena. Karena memang tidak ada pemimpin yang harus steril dari kritik.

Namun kritik semestinya ditempuh melalui mekanisme organisasi yang sehat, argumentasi yang terbuka dan etika kaum intelektual.
Seorang penulis bukan hanya dinilai dari apa yang ditulisnya, tetapi juga dari kebudayaan berpikir yang ditunjukkannya.

Karena itu, bila hari-hari ini terdapat perbedaan pandangan di tubuh Satupena, saya berharap semua pihak kembali kepada “gen asli” seorang penulis.

Gen itu adalah menulis. Gen itu adalah berkarya. Gen itu adalah berpikir. Gen itu adalah berdialog. Gen itu adalah mengkritik dengan argumentasi. Dan gen itu pula yang membuat seorang penulis menghormati perbedaan.

Jangan sampai nafsu memenangkan pertarungan organisasi justru mengalahkan kejernihan intelektual.
Sebab kursi kepemimpinan pada akhirnya akan berganti.
Struktur organisasi juga akan berubah. Tetapi karya yang baik dapat hidup jauh lebih lama daripada umur sebuah kepengurusan.

Maka, kepada seluruh keluarga besar Satupena, mari kembali ke habitat kita. Kalau ada perbedaan, lawanlah dengan gagasan. Kalau ada kesalahan, luruskan dengan kritik. Kalau ada ketidakpuasan, selesaikan dengan mekanisme yang bermartabat.

Jangan dengan saling menjatuhkan. Dan terlebih lagi, jangan menjadikan kudeta sebagai tradisi organisasi kaum penulis.Sebab gen penulis adalah berkarya, bukan berkuasa dan kudeta.
Mahkota terbesar seorang penulis bukanlah jabatan,
melainkan karya.

Jakarta, Agustus 2026
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *