Satrio Piningit: Harapan dan Ilusi di Tengah Zaman Gaduh

Oleh: Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Dennya JA

Di saat keadaan negeri terasa makin gaduh, elite politik sibuk mengatur panggung, alam terus mengamuk, dan rakyat makin lelah menunggu janji, satu istilah lama kembali sering muncul ke permukaan: Satrio Piningit.

Dalam imajinasi kebudayaan Jawa, dan dalam gema keyakinan yang juga hidup di sebagian batin masyarakat Sunda, Satrio Piningit adalah sosok yang ditunggu pada masa kacau.

Ia sering dibayangkan sebagai ksatria tersembunyi, dan pemimpin yang diyakini akan datang untuk mengoreksi zaman yang bengkok. Dan tentu saja membawa harapan baru yang lebih baik.

Pertanyaannya, apakah benar kita sedang menunggu pemimpin sejati? Atau sekadar ilusi yang memproduksi mitos baru karena terlalu putus asa terhadap kenyataan?

Di sinilah Satrio Piningit menjadi menarik, sekaligus berbahaya. Menarik, karena ia lahir dari rahim kebudayaan yang sangat peka membaca tanda-tanda zaman.

Leluhur Jawa dan Sunda tidak memandang krisis semata-mata sebagai angka inflasi, indeks demokrasi, atau statistik kemiskinan.

Mereka membaca krisis dari penegak hukum yang kehilangan wibawa, rakyat kehilangan pegangan, dan alam kehilangan perlindungan.

Dalam keadaan seperti itu, lahirlah kerinduan akan figur pembaharu, sosok yang tidak sekadar kuat secara politik, tetapi juga jernih secara batin.

Namun Satrio Piningit juga berbahaya. Di tangan masyarakat yang lelah berpikir kritis, ia mudah berubah menjadi alat pemujaan buta. Setiap kali keadaan memburuk, publik kerap terdorong mencari “manusia penyelamat”.

Akibatnya, politik tak lagi ditimbang dengan nalar, rekam jejak, kapasitas, dan integritas, tetapi dengan aura, simbol, bahkan cocoklogi. Dalam suasana seperti ini, mitos bisa lebih laku daripada akal sehat.

Ini tentu persoalan serius. Sebab bangsa yang terlalu lama hidup dalam kebiasaan menunggu juru selamat, cepat atau lambat akan kehilangan energi untuk membangun sistem yang sehat.

Kita lalu menggantungkan masa depan pada satu figur, bukan pada pembenahan institusi. Kita menunggu orang hebat, tetapi lupa membangun tata kelola yang kuat.
Kita memuja kemungkinan datangnya “orang pilihan”, tetapi abai pada kenyataan bahwa negeri ini justru sering rusak karena budaya kekuasaan yang terlalu bertumpu pada figur.

Maka, ketika wacana Satrio Piningit kembali beredar hari ini, ia harus dibaca dengan kewaspadaan ganda. Di satu sisi, ia menandakan adanya kehausan publik pada pemimpin yang adil, bersih, dan berpihak. Itu sah. Bahkan itu sehat.

Tetapi di sisi lain, ia juga menunjukkan betapa dalamnya krisis kepercayaan masyarakat terhadap elite yang ada.

Inilah, salah satunya, yang membuat sebagian masyarakat seperti memiliki banyak alasan untuk melahirkan kerinduan semacam itu.

Dalam konteks global, suasananya bahkan lebih mengkhawatirkan. Dunia dipenuhi perang, ketimpangan, krisis ekologis, perebutan sumber daya, dan kepemimpinan global yang kehilangan sentuhan moral.

Banyak negara dipimpin dengan kalkulasi dingin, tetapi miskin kebijaksanaan. Banyak keputusan besar lahir dari kepentingan sempit, bukan dari visi kemanusiaan.

Dalam keadaan seperti itu, wajar jika masyarakat di banyak tempat mulai menoleh lagi pada figur-figur mesianik, entah dalam bentuk mitos budaya, nubuat keagamaan, maupun kerinduan akan pemimpin pembebas.

Dalam konteks inilah, pembicaraan tentang Satrio Piningit sering bersinggungan dengan keyakinan tentang Imam Mahdi dan Ratu Adil.
Keduanya sama-sama tumbuh dari tanah psikologis yang mirip, yaitu dunia yang rusak memanggil hadirnya pembawa keadilan.

Keduanya juga menjadi bahasa harapan di tengah rasa putus asa. Tetapi ada perbedaan mendasar yang tidak boleh dikaburkan.
Imam Mahdi adalah bagian dari horizon eskatologis keagamaan. Sementara Satrio Piningit lebih merupakan simbol kebudayaan, mitos sosial, dan ekspresi kerinduan politik lokal.

Karena itu, memperlakukan keduanya secara serampangan bukan hanya keliru secara intelektual, tetapi juga berisiko secara sosial. Kita tidak boleh seenaknya mencampuradukkan simbol budaya dengan doktrin agama demi kepentingan propaganda politik sesaat.

Terlalu sering masyarakat digiring untuk percaya bahwa tokoh tertentu adalah jawaban final sejarah. Terlalu sering simbol-simbol sakral dipakai untuk melindungi ambisi duniawi.

Padahal sejarah mengajarkan, tidak sedikit orang tampil seolah penyelamat, tetapi berakhir hanya menjadi pusat kekecewaan baru.
Yang lebih penting sebenarnya bukan sibuk bertanya, “Siapa Satrio Piningit itu?” Pertanyaan yang lebih mendesak adalah, mengapa bangsa ini terus-menerus membutuhkan figur penyelamat?

Mengapa dalam setiap musim krisis, kita selalu kembali pada logika penantian, bukan logika pembenahan?

Jawabannya tidak nyaman, tetapi perlu diucapkan. Karena kita masih hidup dalam budaya politik yang terlalu feodal, terlalu simbolik, dan terlalu permisif terhadap pengkultusan.

Kita lebih suka membesarkan tokoh daripada membesarkan nilai. Kita lebih cepat percaya pada citra daripada karakter. Kita lebih mudah mabuk oleh slogan perubahan daripada kerja perubahan yang sesungguhnya.

Dalam budaya seperti ini, istilah Satrio Piningit akan selalu laris, karena ia memberi jalan pintas psikologis bagi masyarakat yang letih. Tetapi jalan pintas psikologis bukan solusi sejarah.

Negeri ini tidak akan selamat hanya karena menemukan satu orang yang dianggap titisan harapan.
Negeri ini hanya akan membaik bila keadilan dibangun sebagai sistem, integritas dijadikan standar, dan kepemimpinan dipulihkan sebagai amanah.

Zaman hanya bisa diselamatkan oleh keberanian moral, kejernihan nurani, dan kesediaan membangun keadilan secara nyata.

Dan itu, sayangnya, jauh lebih sulit daripada sekadar menunggu seorang Satrio Piningit.

Jakarta, September 2026

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *