BEKASI | BELA RAKYAT — Malam di Meikarta seakan kehilangan sunyinya. Cahaya menari, musik mengguncang udara, lenggok seni tradisi menyusup di antara gemerlap kota modern, sementara ribuan pasang mata menyaksikan satu pesan yang sedang ditulis Kabupaten Bekasi dengan cara paling meriah: Bekasi bukan sekadar tanah industri. Bekasi punya jiwa, punya budaya, punya kreativitas, dan punya energi ekonomi yang belum selesai digali. Pesan itu menggelegar melalui GEBRAK Vol. 2 (Gebyar Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif) Kabupaten Bekasi 2026, yang resmi dibuka di District 1 Meikarta, Cibatu, Cikarang Selatan, Jumat (7/8/2026) malam. Event yang berlangsung 7–9 Agustus 2026 dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Bekasi ke-76 sekaligus menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, GEBRAK tampil bukan sebagai festival biasa, melainkan panggung besar yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, pelaku ekonomi kreatif, komunitas, seniman, budayawan, UMKM, dan masyarakat dalam satu denyut kolaborasi.
Di tengah riuh tepuk tangan pembukaan, Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, menegaskan bahwa, “Pariwisata dan ekonomi kreatif tidak boleh dipandang sebagai ornamen pembangunan. Keduanya harus ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pembangunan daerah. dr. Asep mengapresiasi seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam GEBRAK Vol. 2 serta menekankan bahwa Kabupaten Bekasi memiliki potensi besar yang harus dikemas, dipromosikan, dan dikembangkan secara kolektif. Sebab, menurutnya, pemerintah tidak mungkin berjalan sendirian. Potensi wisata, budaya, kreativitas, dan ekonomi masyarakat hanya akan menemukan daya ungkitnya apabila pemerintah, dunia usaha, komunitas, seniman, budayawan, dan masyarakat duduk dalam satu meja, menyatukan gagasan, lalu mengubah potensi menjadi peluang dan peluang menjadi kesejahteraan,” ujarnya, Jum’at (7/8/2026).
Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, H. Ade Sukron Hannas, S.H.I., M.Si., turut memberikan apresiasi terhadap GEBRAK Vol. 2. “Saya melihat festival tersebut sebagai momentum strategis untuk membawa potensi Kabupaten Bekasi ke ruang publik yang lebih luas. Selama ini, wajah Bekasi kerap berhenti pada citra kawasan industri—pabrik, investasi, manufaktur, dan kawasan ekonomi. Padahal, di balik itu terdapat kebudayaan, destinasi, UMKM, seni, kreativitas, dan potensi masyarakat yang tak kalah besar. Karena itu, pembangunan daerah menurut Ade harus bergerak lebih luas, dengan memperkuat pariwisata, kebudayaan, ekonomi kreatif, serta UMKM sebagai bagian dari mesin pertumbuhan ekonomi masyarakat. GEBRAK pun dinilai penting karena menciptakan ruang promosi sekaligus membuka pintu interaksi, jejaring, dan peluang ekonomi bagi masyarakat,” tutur Ade Sukron.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi, Drs. H. Endin Samsudin, M.Si., memberikan penghargaan terhadap seluruh pihak yang telah menghadirkan GEBRAK Vol. 2. “Dirinya memandang perhelatan tersebut sebagai contoh bagaimana kreativitas dan potensi lokal dapat dipertemukan dalam satu agenda bersama. Namun, pesan yang lebih jauh dari apresiasi tersebut adalah pentingnya kesinambungan. Pariwisata dan ekonomi kreatif tidak boleh berhenti pada kemeriahan ketika panggung menyala, lalu padam ketika acara berakhir. Ia harus tumbuh menjadi ekosistem yang melahirkan promosi, transaksi, jejaring usaha, ruang ekspresi, serta nilai tambah bagi masyarakat. Di titik inilah kolaborasi pemerintah, dunia usaha, komunitas, seniman, pelaku UMKM, dan masyarakat (pentahelix-red) menjadi bahan bakar yang menentukan apakah sebuah festival hanya menjadi kenangan atau menjelma menjadi gerakan ekonomi.
GEBRAK kemudian menemukan kekuatannya dalam perjumpaan yang tak biasa: tradisi bertemu modernitas. Panggung musik modern berdampingan dengan kesenian tradisional; kreativitas generasi baru bersisian dengan warisan budaya yang telah menyeberangi zaman. Kehadiran Plt. Bupati Bekasi beserta jajaran dengan mengenakan kostum kedaerahan menjadi simbol yang menyita perhatian. Di tengah lanskap Meikarta yang memancarkan wajah urban, modern, dan futuristik, identitas lokal justru tampil tanpa rasa rendah diri. Seolah GEBRAK Vol. 2 sedang mengatakan bahwa masa depan tidak harus dibangun dengan menghapus masa lalu. Sebaliknya, masa depan yang kuat justru lahir ketika modernitas memiliki akar, ketika kemajuan tetap mengenali tanah tempat ia berpijak. Imbuh H. Endin Samsudin.
Lebih jauh, Endin mengutarakan, “GEBRAK Vol. 2 memperlihatkan bahwa pariwisata bukan permainan satu daerah sendirian. Berdasarkan undangan resmi Pemerintah Kabupaten Bekasi, sejumlah unsur pariwisata dari Kabupaten Karawang, Kota Bekasi, Kota Surakarta, Kota Bandar Lampung, Provinsi Jawa Barat, dan Kabupaten Bogor, hingga perwakilan Kedutaan Korea dan Jepang turut dilibatkan dalam seni tradisionalnya. Jejaring tersebut diperluas melalui keterlibatan Dekranasda Kabupaten Bekasi, MUI, Baznas, Bank BJB Cabang Cikarang, Perumda Tirta Bhagasasi, PMI, Dewan Kebudayaan Daerah, Forum Pembauran Kebangsaan, hingga pelaku dan pengelola kawasan industri serta pusat komersial seperti Lippo Cikarang, Jababeka, Kota Deltamas, AEON Mall Deltamas, Meikarta, dan District 1. Peta kolaborasi itu menunjukkan bahwa pariwisata dan ekonomi kreatif sesungguhnya berada di persimpangan banyak kepentingan: budaya, industri, perdagangan, UMKM, investasi, promosi, komunitas, hingga pembangunan manusia.
Secara normatif, arah pembangunan tersebut memiliki fondasi dalam peraturan perundang-undangan. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, beserta perubahan yang berlaku, menempatkan pembangunan kepariwisataan sebagai bagian integral pembangunan yang harus dilaksanakan secara sistematis, terencana, terpadu, berkelanjutan, dan bertanggung jawab. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif memberikan landasan bagi pembangunan ekosistem ekonomi kreatif yang mampu menghasilkan nilai tambah dan meningkatkan daya saing. Sementara Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah memberikan kerangka penyelenggaraan otonomi daerah yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan, pemberdayaan, partisipasi masyarakat, dan daya saing daerah. Dengan pijakan tersebut, GEBRAK layak dilihat lebih dari sekadar agenda seremonial: ia merupakan salah satu ruang untuk menerjemahkan potensi daerah menjadi promosi, kreativitas menjadi nilai ekonomi, kebudayaan menjadi identitas, dan kolaborasi menjadi kekuatan pembangunan. Jelas H. Endin.
Dan ketika lampu panggung GEBRAK Vol. 2 suatu saat dipadamkan, pertanyaannya bukan lagi “seberapa meriah acaranya?”, melainkan “seberapa jauh energi itu mampu terus menyala setelah festival selesai?” Sebab sebuah daerah tidak dibesarkan oleh gemerlap satu malam, tetapi oleh konsistensi merawat potensi hingga menjadi kekuatan yang berkelanjutan. GEBRAK Vol. 2 telah membuka pintu itu di Meikarta: pintu menuju wajah Kabupaten Bekasi yang lebih berwarna, lebih percaya diri, dan lebih berani memperkenalkan dirinya kepada Indonesia. Dari tradisi yang diwariskan leluhur, kreativitas anak muda, denyut UMKM, kekuatan dunia usaha, hingga destinasi yang menunggu disentuh promosi, semuanya adalah serpihan energi yang apabila dirajut dengan visi dan kolaborasi dapat menjadi mesin ekonomi baru. Bekasi boleh tetap menjadi jantung industri nasional. Tetapi mulai hari ini, Bekasi juga sedang mengetuk pintu untuk menjadi jantung pariwisata dan ekonomi kreatif dimana tempat budaya menemukan panggungnya, kreativitas menemukan pasarnya, dan masyarakat menemukan masa depan yang lebih berdaya. Pungkas Sekda Kabupaten Bekasi, H. Endin Samsudin.
(CP/red)






