Buat Pasangan Bahagia: Ketika Cinta dalam Rumah Tangga Jadi Jalan Menuju Ridha Allah

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”

Bacaan Lainnya

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ada banyak orang yang ingin mendapatkan pasangan yang baik. Kita berharap memiliki suami yang penyayang, istri yang perhatian, pasangan yang setia, lembut, memahami dan selalu membuat kita bahagia.

Namun, Islam mengajarkan pertanyaan yang lebih dalam: Bukan hanya, “Apakah pasangan saya membahagiakan saya?” tetapi juga, “Sudahkah saya menjadi sumber kebahagiaan bagi pasangan saya?”

Inilah salah satu rahasia membangun rumah tangga yang sakinah. Rumah tangga bukan tempat dua manusia yang sempurna bertemu. Rumah tangga adalah tempat dua manusia yang memiliki kekurangan belajar saling menyempurnakan, saling menguatkan dan saling mengingatkan untuk mendekat kepada Allah SWT.

CINTA YANG DILANDASI IMAN

Allah SWT berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini memberikan gambaran luar biasa tentang tujuan pernikahan. Allah tidak mengatakan bahwa pasangan diciptakan agar manusia hanya mendapatkan kesenangan. Tetapi Allah menyebut sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Sakinah adalah ketenteraman. Mawaddah adalah cinta yang menghadirkan keinginan untuk memberikan kebaikan.

Rahmah adalah kasih sayang yang membuat seseorang tetap lembut ketika melihat kekurangan pasangannya.

Karena itu, cinta dalam Islam bukan sekadar perasaan. Cinta adalah tanggung jawab. Cinta adalah kesetiaan. Cinta adalah kesediaan berkorban.

Dan cinta yang paling tinggi adalah cinta yang membawa dua manusia semakin dekat kepada Allah.

RASULULLAH SAW: TELADAN TERBAIK DALAM RUMAH TANGGA

Rasulullah SAW adalah manusia paling mulia. Beliau adalah pemimpin umat, panglima, pendakwah, hakim dan kepala negara.

Namun kebesaran beliau di luar rumah tidak membuat beliau menjadi keras di dalam rumah.

Justru Rasulullah SAW menjadi teladan terbaik dalam memperlakukan keluarga.

Beliau bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.”

Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kebaikan seseorang bukan hanya bagaimana ia bersikap di hadapan masyarakat.

Seseorang bisa terlihat sangat santun di kantor, sangat ramah kepada teman, sangat sopan kepada orang lain.

Tetapi ukuran akhlak yang sesungguhnya sering terlihat ketika ia berada di rumah.

Bagaimana ia berbicara kepada istrinya Bagaimana ia memperlakukan anak-anaknya? Bagaimana ia bersikap ketika sedang marah? Bagaimana ia memperlakukan pasangan ketika tidak ada orang lain yang melihat?

Di situlah kualitas akhlak seseorang diuji. Dan kala itu, semua keampuan dibituhkan untuk menghadapi ujian.

RASULULLAH SAW DAN AISYAH RA: ROMANTIS, LEMBUT DAN PENUH PENGERTIAN

Kehidupan Rasulullah ﷺ bersama Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah RA memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana membangun hubungan yang penuh kasih.

Aisyah RA bukan hanya istri Rasulullah SAW, tetapi juga sahabat dekat, tempat berbagi cerita dan seseorang yang memahami kehidupan pribadi beliau.

Rasulullah tidak menganggap menunjukkan kasih sayang kepada istrinya sebagai sesuatu yang memalukan.

Beliau pernah minum dari tempat yang sama dengan Aisyah RA dan meletakkan mulut beliau pada tempat yang sama dengan bekas Aisyah minum.

Dalam riwayat lain, Aisyah RA menceritakan bagaimana Rasulullah ﷺ pernah berlomba dengannya.

Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak harus selalu serius.

Ada ruang untuk bercanda. Ada ruang untuk bermain. Ada ruang untuk tertawa. Ada ruang untuk memberikan perhatian kecil.

Karena terkadang yang membuat pasangan bahagia bukanlah sesuatu yang mahal, tetapi sesuatu yang tulus.

KISAH MALAM YANG MENGAJARKAN PENGORBANAN

Dalam berbagai kisah tentang kehidupan Rasulullah SAW dan Aisyah RA, kita menemukan gambaran bagaimana keduanya saling memahami dalam beribadah.

Rasulullah adalah manusia yang sangat mencintai qiyamul lail. Bahkan ketika beliau mendapatkan kesempatan untuk beristirahat, beliau tetap memilih berdiri di hadapan Allah.

Dalam salah satu hadis, Aisyah RA menceritakan bahwa Rasulullah  melakukan shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak.

Ketika ditanya mengapa beliau melakukan itu padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau, Rasulullah menjawab: “Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah teladan penting bagi keluarga. Pasangan yang baik bukan hanya pasangan yang mengajak menikmati dunia.

Pasangan terbaik adalah pasangan yang juga membantu pasangannya mendapatkan kebahagiaan akhirat.

Ada saatnya seorang suami mengingatkan istrinya untuk shalat. Ada saatnya seorang istri mengingatkan suaminya untuk membaca Al-Qur’an. Ada saatnya keduanya bangun malam bersama. Ada saatnya mereka saling mendoakan tanpa diketahui pasangannya.

Sebab rumah tangga yang indah bukan hanya ketika dua orang duduk bersama di dunia, tetapi ketika keduanya berusaha agar dapat kembali bersama di surga.

JANGAN HANYA MENUNTUT, BELAJARLAH MEMBERI

Salah satu masalah dalam rumah tangga modern adalah kebiasaan menghitung apa yang diberikan pasangan kepada kita.

“Suami saya tidak romantis.”

“Istri saya tidak perhatian.”

“Dia tidak pernah memahami saya.”

“Kenapa saya terus yang mengalah?”

Kalimat-kalimat seperti ini bisa muncul ketika masing-masing lebih sibuk menghitung hak daripada menunaikan kewajiban. Padahal pernikahan adalah tempat belajar memberi.

Suami bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan agar istri saya merasa dihargai?”

Istri bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan agar suami saya merasa didukung?”

Jika pertanyaan seperti ini hidup dalam sebuah rumah tangga, maka suasana rumah akan berubah.

Bukan lagi: “Apa yang saya dapat?”

Tetapi: “Apa yang bisa saya berikan?”

KEBAHAGIAAN TIDAK SELALU BERBENTUK UANG

Di zaman sekarang, banyak orang mengira kebahagiaan rumah tangga harus dibangun dengan kemewahan.

Rumah besar. Mobil bagus. Liburan mahal. Hadiah mahal.

Padahal banyak rumah tangga yang secara ekonomi sederhana justru penuh ketenangan.

Sebaliknya, ada rumah tangga yang secara materi berlimpah tetapi kehilangan komunikasi. Pasangan duduk bersebelahan, tetapi sibuk dengan telepon masing-masing.

Makan satu meja, tetapi tidak berbicara. Tidur satu kamar, tetapi hati terasa jauh. Di sinilah tantangan rumah tangga masa kini.

Teknologi mendekatkan manusia yang jauh, tetapi kadang menjauhkan orang-orang yang paling dekat.

Karena itu, jangan sampai pasangan kita mendapatkan perhatian dari seluruh dunia melalui media sosial, tetapi justru tidak mendapatkan perhatian dari orang yang tidur di sampingnya.

KEBAHAGIAAN DIMULAI DARI HAL-HAL KECIL

Membahagiakan pasangan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang luar biasa.

Terkadang cukup dengan: “Sudah makan?” “Bagaimana harimu?” “Terima kasih sudah berjuang hari ini.” “Maaf kalau tadi aku salah.” “Aku bangga padamu.” “Jangan terlalu lelah.” “Ayo kita shalat bersama.” “Semoga Allah selalu menjaga kita.”

Kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi sangat berarti. Rasulullah mengajarkan bahwa senyum pun merupakan sedekah.

Maka senyumlah kepada pasangan. Berbicaralah dengan lembut. Jangan pelit memberikan apresiasi. Jangan menunggu pasangan sempurna untuk menghargainya.

Karena pasangan kita juga manusia yang bisa lelah, kecewa, takut dan membutuhkan dukungan.

JANGAN MEMPERMALUKAN PASANGAN

Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan pasangan. Hari ini, masalah rumah tangga sering dibawa ke ruang publik.

Pertengkaran direkam. Kekurangan pasangan diceritakan. Aib rumah tangga diunggah ke media sosial.

Masalah pribadi menjadi konsumsi publik. Padahal Rasulullah bersabda tentang orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang membuka rahasia pasangannya. (HR. Muslim)

Pesannya sangat jelas: Rumah tangga memiliki ruang privat yang harus dijaga.

Tidak semua masalah harus diketahui orang lain. Tidak semua pertengkaran harus diumumkan. Tidak semua kekurangan pasangan harus menjadi bahan cerita.

Kalau ada persoalan, selesaikan dengan dialog. Jika membutuhkan bantuan, mintalah nasihat kepada orang yang amanah dan bijaksana.

Jangan jadikan media sosial sebagai ruang pengadilan rumah tangga.

KETIKA MARAH, INGATLAH KEBAIKANNYA

Tidak ada pasangan yang sempurna. Bahkan orang yang kita cintai pasti pernah membuat kita kecewa.

Karena itu Allah SWT berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, maka boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

Ayat ini memberikan pelajaran penting. Ketika kita sedang marah, jangan sampai satu kesalahan menghapus seribu kebaikan.

Jangan berkata: “Kamu tidak pernah baik kepadaku.”

Padahal pasangan sudah bertahun-tahun menemani kita. Kenapa demikian?

Jangan berkata: “Kamu tidak pernah melakukan apa pun untuk keluarga.”

Padahal dia telah berjuang dengan caranya sendiri. Dalam keadaan marah, manusia cenderung melihat kekurangan. Dalam keadaan tenang, kita bisa kembali melihat kebaikan.

Karena itu, ketika emosi sedang tinggi, diam sejenak sering kali lebih baik daripada berbicara dengan kata-kata yang akan disesali sepanjang hidup.

JANGAN MEMBANDINGKAN PASANGAN

Salah satu racun rumah tangga modern adalah perbandingan.

“Suaminya lebih romantis.” “Istrinya lebih cantik.” “Lihat tetangga kita, ekonominya lebih sukses.” “Lihat pasangan itu, mereka selalu bahagia.”

Kita lupa bahwa media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil kehidupan seseorang.

Kita melihat foto bahagia, tetapi tidak melihat perjuangannya. Kita melihat keberhasilan, tetapi tidak melihat air matanya. Kita melihat kemewahan, tetapi tidak melihat masalah yang mungkin mereka hadapi.

Maka jangan bandingkan rumah tangga kita dengan kehidupan orang lain. Rawatlah rumah tangga kita sendiri.

SUAMI BUKAN RAJA, ISTRI BUKAN PEMBANTU

Islam menempatkan suami sebagai pemimpin keluarga, tetapi kepemimpinan bukan berarti kesewenang-wenangan.

Kepemimpinan adalah amanah. Seorang suami harus melindungi, menafkahi, membimbing dan memperlakukan keluarganya dengan baik.

Begitu pula seorang istri memiliki peran besar dalam menjaga kehormatan, ketenangan dan kehidupan rumah tangga.

Keduanya bukan musuh. Keduanya bukan kompetitor. Keduanya adalah tim.

Ketika suami berhasil, keluarga ikut bahagia. Ketika istri berhasil, suami seharusnya ikut bangga. Ketika salah satu jatuh, yang lain menjadi tempat untuk bangkit.

RUMAH TANGGA DI ERA DIGITAL

Pada zaman dahulu, pasangan mungkin bertengkar karena masalah ekonomi, pekerjaan atau keluarga.

Hari ini muncul masalah baru: notifikasi. chat. media sosial. konten digital. kebiasaan membandingkan pasangan dengan orang lain.

Bahkan seseorang bisa lebih hafal kehidupan influencer yang tidak dikenalnya daripada cerita pasangan sendiri.

Maka keluarga masa kini membutuhkan sebuah kesepakatan sederhana:

Ketika bersama, hadir secara utuh. Letakkan telepon ketika pasangan sedang berbicara.

Dengarkan tanpa sibuk mengetik. Tatap matanya. Berikan perhatian. Karena perhatian adalah salah satu bentuk cinta.

PASANGAN ADALAH AMANAH ALLAH

Pernikahan bukan sekadar kontrak antara laki-laki dan perempuan.

Di dalamnya ada amanah. Ada janji. Ada tanggung jawab. Ada pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.”

Makna ini harus menjadi renungan bagi setiap pasangan. Seorang suami kelak akan ditanya tentang bagaimana ia memperlakukan keluarganya.

Seorang istri juga memiliki tanggung jawab atas amanah yang diberikan kepadanya.

Maka jangan hanya bertanya: “Apakah dia pasangan yang baik?”

Tanyakan juga: “Apakah aku sudah menjadi pasangan yang baik?”

KETIKA PASANGAN SALING MEMBAHAGIAKAN

Bayangkan sebuah rumah. Suami pulang dalam keadaan lelah.

Istri menyambut dengan senyum. Istri sedang lelah. Suami membantu tanpa harus diminta. Suami sedang menghadapi masalah. Istri menjadi tempat berbagi. Istri sedang sedih.

Suami mendengarkan tanpa menghakimi. Keduanya memiliki masalah.

Tetapi mereka menyelesaikannya bersama. Mereka mungkin tidak memiliki kehidupan yang sempurna.

Namun mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: rasa aman.

Ada tempat untuk pulang. Ada hati yang menerima. Ada tangan yang menggenggam. Ada doa yang dipanjatkan bersama. Dan ada Allah yang selalu menjadi tujuan.

CINTA YANG PALING INDAH ADALAH CINTA YANG MEMBAWA KE SURGA

Pada akhirnya, kehidupan dunia hanya sementara. Kecantikan akan berubah. Kekayaan dapat berkurang. Kekuatan akan melemah.

Usia akan bertambah. Tetapi amal dan ketakwaan akan menjadi bekal menuju kehidupan yang kekal.

Karena itu, tujuan tertinggi dalam pernikahan bukan sekadar: “Semoga kita bahagia di dunia.”

Tetapi: “Semoga Allah mempertemukan kita kembali di surga.”

Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan keturunan mereka dengan mereka…” (QS. At-Tur: 21)

Maka bangunlah rumah yang di dalamnya ada Al-Qur’an. Bangunlah rumah yang di dalamnya ada shalat.

Bangunlah rumah yang di dalamnya ada doa. Bangunlah rumah yang di dalamnya ada maaf. Bangunlah rumah yang di dalamnya ada rasa syukur.

Dan bangunlah rumah yang membuat setiap penghuninya semakin dekat kepada Allah.

PENUTUP: JADILAH PASANGAN YANG MEMBAHAGIAKAN

Kita semua ingin dicintai. Tetapi jangan berhenti pada keinginan untuk dicintai.

Belajarlah mencintai. Kita semua ingin dihargai.

Tetapi jangan hanya menuntut penghargaan. Belajarlah menghargai.

Kita semua ingin dimengerti. Tetapi jangan hanya meminta pengertian.

Belajarlah memahami. Kita semua ingin dibahagiakan.

Tetapi jangan hanya menunggu kebahagiaan. Jadilah orang yang lebih dahulu membahagiakan.

Sebab boleh jadi, ketika kita berusaha membuat pasangan bahagia karena Allah, sesungguhnya Allah sedang menuliskan pahala untuk setiap senyum yang kita hadirkan, setiap kesabaran yang kita tahan, setiap kata lembut yang kita ucapkan, setiap pengorbanan yang kita lakukan dan setiap doa yang kita panjatkan.

Rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga tanpa masalah. Rumah tangga yang kuat adalah rumah tangga yang setiap kali menghadapi masalah, keduanya memilih untuk kembali kepada Allah dan tetap memilih satu sama lain.

Semoga kita menjadi pasangan yang bukan hanya saling mencintai ketika mudah, tetapi tetap saling menggenggam ketika sulit.

Bukan hanya bersama ketika sehat, tetapi saling menjaga ketika sakit. Bukan hanya saling tersenyum ketika bahagia, tetapi saling menguatkan ketika air mata jatuh.

Dan bukan hanya berharap bertemu di dunia, tetapi berusaha agar dapat berkumpul kembali sebagai pasangan di Jannah-Nya.

DOA

Ya Allah…

Jadikanlah kami suami dan istri yang saling mencintai karena-Mu. Saling menyayangi karena-Mu. Saling menghargai karena-Mu. Saling menghormati karena-Mu. Saling memaafkan karena-Mu. Saling menguatkan dalam menghadapi ujian-Mu. Saling mengingatkan dalam ketaatan kepada-Mu.

Jauhkan rumah tangga kami dari pertengkaran yang merusak, kesombongan yang memisahkan, perselingkuhan yang menghancurkan, perkataan yang melukai, dan segala sesuatu yang menjauhkan kami dari-Mu.

Jadikan rumah kami tempat tumbuhnya iman, cinta, ketenangan dan keberkahan.

Jika kami sedang marah, lembutkan hati kami. Jika kami sedang jauh, dekatkan kembali hati kami. Jika kami sedang lelah, kuatkan kami. Jika kami sedang diuji, berikan kami kesabaran.

Dan jika suatu hari usia memisahkan kami di dunia, jangan Engkau pisahkan kami di akhirat.

Kumpulkanlah kami kembali sebagai pasangan di dalam Surga-Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *