Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan
Diungkapkan oleh Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam kitab Khasaisul Ummah Al-Muhammadiyah : Bersholawat dan menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ merupakan salah satu dzikir yang bernilai ibadah bagi seorang hamba, baik secara lafadz maupun makna.
Kalimat ini bukan sekedar motivasi. Ini adalah kunci untuk memahami kenapa para ulama besar menghabiskan waktunya bukan hanya untuk bertasbih, tapi untuk bersholawat dengan bilangan ribuan setiap hari.
Banyak orang memisahkan antara sholawat dan dzikir. Padahal hakikatnya sama. Jika dzikir adalah mengingat Allah, maka sholawat adalah mengingat kekasih Allah, yang dengan mengingatnya, Allah pun mengingat kita.
Mari kita bedah lengkap.
1. DALIL AL-QUR’AN DAN HADITS: Kenapa Sholawat Itu Dzikir Tertinggi
A. Perintah Langsung dari Allah
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Para ulama tafsir menjelaskan, ini satu-satunya perintah ibadah dimana Allah menyebutkan bahwa Dia sendiri melakukannya terlebih dahulu. Ketika Allah memerintahkan sholat, Allah tidak sholat.
Ketika Allah memerintahkan puasa, Allah tidak puasa. Tapi ketika memerintahkan sholawat, Allah mengatakan “Aku dan Malaikat-Ku bersholawat, maka bersholawatlah kalian”. Ini menunjukkan betapa agungnya dzikir ini.
Imam Al-Qurthubi berkata: Sholawat dari Allah adalah rahmat, dari Malaikat adalah istighfar, dan dari manusia adalah doa.
B. Dalil Hadits
1. Hadits Ubay bin Ka’ab – Sholawat Mencukupi Semua Hajat
Ini dalil paling kuat bahwa sholawat = dzikir yang mencukupi segalanya.
Ubay bin Ka’ab bertanya: Ya Rasulullah, aku akan menjadikan seluruh dzikirku adalah sholawat kepadamu.
Rasulullah ﷺ menjawab:
إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ، وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ
“Kalau begitu, akan dicukupkan semua keinginanmu dan akan diampuni dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi No. 2457, hadits hasan shahih)
Bayangkan. Sahabat yang biasa berdzikir tahlil, tahmid, istighfar, ingin mengganti semua dzikirnya hanya dengan sholawat. Dan Nabi tidak melarang, justru menjanjikan dua hal besar: Hajat dunia dicukupi dan dosa akhirat diampuni.
2. Hadits Ibnu Mas’ud tentang Hari Jum’at
Seperti yang kamu tulis, riwayat dari Zaid bin Wahab:
Dari Abdullah bin Mas’ud R.A berkata: “Wahai Zaid bin Wahab, jika hari Jum’at jangan kamu tinggalkan sholawat atas Nabi Muhammad ﷺ seribu kali, ucapkan: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ”
Ini diamalkan para salaf. Kenapa 1000? Karena hari Jum’at adalah Sayyidul Ayyam. Rasulullah bersabda:
“Perbanyaklah sholawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at. Barangsiapa bersholawat kepadaku sekali, Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Baihaqi)
3. Satu Sholawat Dibalas Sepuluh
“Barangsiapa bersholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan sepuluh kesalahan, dan diangkat sepuluh derajat.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)
Inilah makna sholawat sebagai dzikir. Ketika kita berdzikir Subhanallah sekali, kita dapat pahala. Tapi ketika bersholawat sekali, Allah yang Maha Agung yang berdzikir untuk kita sebanyak sepuluh kali. Mana yang lebih mulia?
2. SEJARAH DAN PANDANGAN ULAMA: Kenapa Ulama Salaf Membilang Sholawat?
Orang awam bertanya: Kenapa harus dihitung? Bukankah dzikir itu yang ikhlas saja?
Jawabannya ada di sejarah.
A. Tradisi Bilangan Bukan Bid’ah
Membilang dzikir sudah ada sejak zaman sahabat. Abu Hurairah R.A memiliki kantong berisi biji-biji kurma untuk menghitung dzikirnya. Istrinya Shafiyyah menghitung tasbih dengan 4000 biji kurma.
Maka ketika Imam Sya’rani membiasakan 23.000 sholawat sehari, Imam Suyuthi 50.000 sholawat sehari, dan Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi 20.000 sholawat sehari – ini bukan karena mereka pamer bilangan, tapi karena mereka tahu sholawat adalah dzikir yang paling ringan di lisan tapi paling berat di timbangan.
Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki menjelaskan dalam kitabnya: Orang yang sibuk bersholawat diganjar sama dengan orang yang sibuk berdzikir tahlil, tasbih, tahmid yang diulang-ulang. Bedanya, sholawat itu pasti diterima. Imam Sahl At-Tustari berkata: “Semua dzikir butuh syarat khusyu’ agar diterima, kecuali sholawat. Orang riya’ pun jika bersholawat, tetap diterima karena memuliakan Rasulullah SAW.”
B. 180 Keutamaan Sholawat
Dr. Hisyam Kamil Al-Azhari merangkum dari kitab-kitab seperti Al-Qaulul Badi’ karya Imam As-Sakhawi dan Jala’ul Afham karya Ibnul Qayyim, bahwa keutamaan sholawat itu mencapai 180. Di antaranya yang paling penting:
1. Menaati perintah Allah
2. Sesuai dengan sholawatnya Allah dan Malaikat
3. Diangkat 10 derajat
4. Dicatat 10 kebaikan
5. Dihapus 10 keburukan
6. Menjadi sebab terkabulnya doa – karena doa yang diawali dan diakhiri sholawat tidak akan tertolak
7. Menjadi sebab syafaat di hari kiamat
8. Menjadi sebab Allah mencukupi kebutuhan hamba
9. Menjadi sebab dekatnya seorang hamba dengan Rasulullah di hari kiamat. Rasul bersabda: “Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah yang paling banyak bersholawat kepadaku.”
10. Sholawat adalah zakat dan pembersih diri
3. KISAH-KISAH NYATA: Kekuatan Sholawat Sebagai Dzikir
Kisah 1: Penjual Minyak dan Hutang Lunas
Dikisahkan oleh Imam Al-Hafidz, ada seorang pedagang di Baghdad yang terlilit hutang besar. Dia mengadu kepada seorang ulama. Ulama itu berkata: “Perbanyak sholawat. Jadikan sholawat sebagai dzikirmu yang utama.” Pedagang itu pulang dan selama 3 hari 3 malam hanya bersholawat 1000 kali setiap selesai sholat dengan sholawat pendek: Allahumma sholli ala Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi.
Pada malam ketiga, dia bermimpi bertemu Rasulullah, dan Rasulullah menunjukkan jalan keluar hutangnya. Keesokan harinya, datang orang yang dulu menghutanginya justru membawakan hadiah dan melunaskan hutangnya. Inilah makna “Tukfa hammak” – dicukupi kebingunganmu.
Kisah 2: Imam Asy-Syibli dan Ampunan Karena Sholawat
Imam Junaid Al-Baghdadi bermimpi bertemu Imam Asy-Syibli setelah wafatnya. Dia bertanya: “Apa yang Allah lakukan kepadamu?” Syibli menjawab: “Allah mengampuniku.” “Dengan amal apa?” tanya Junaid. “Aku pernah menulis dalam kitabku setiap kali menyebut nama Nabi, aku tulis Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan dengan satu sholawat itulah Allah mengampuniku.”
Kisah 3: Di Zaman Kita – Habib Umar bin Hafidz
Habib Umar bin Hafidz pernah ditanya santrinya, “Bib, dzikir apa yang paling cepat mendekatkan diri kepada Allah di zaman penuh fitnah ini?” Beliau menjawab: “Perbanyak sholawat. Karena di zaman ini hati keras, sulit khusyu’ berdzikir Laa Ilaaha Illallah. Sedangkan sholawat, sekalipun dengan hati lalai, tetap sampai kepada Rasulullah ﷺ dan Rasulullah akan membalas cintamu.”
4. TAMBAHAN YANG WAJAR: Cara Mengamalkan Agar Tidak Bosan
Ini yang menurut saya penting untuk ditambahkan agar tulisan ini tidak hanya jadi wawasan, tapi jadi amalan.
A. Sholawat adalah Dzikir yang Fleksibel
Tidak seperti dzikir lain yang butuh wudhu, menghadap kiblat, dan tempat suci. Sholawat bisa dibaca dalam keadaan hadas, sedang di kendaraan, sedang menunggu, bahkan wanita haid pun boleh bersholawat. Ini adalah dzikirnya orang yang sibuk. Kita yang kerja di jalan, di kantor, di pasar, tidak bisa selalu memegang tasbih “Subhanallah”. Tapi lisan bisa terus bersholawat.
B. Mulailah dari yang Pendek dan Istiqomah
Jangan langsung target 50.000 seperti Imam Suyuthi. Itu akan membuatmu futur.
Rasulullah mencintai amalan yang istiqomah meski sedikit. Mulailah dengan formula yang diajarkan Ibnu Mas’ud:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ
Allahumma sholli ‘ala Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi
• Hari biasa: 100x pagi, 100x sore. Total 200. • Hari Jum’at: Usahakan 1000x seperti wasiat Ibnu Mas’ud. Bagi 200x sehabis sholat 5 waktu. Jika sudah ringan, naikkan ke Sholawat Ibrahimiyah yang kita baca di tahiyat.
C. Rahasia Sholawat: Niatkan untuk Dzikir, Bukan Hanya Hajat
Banyak orang bersholawat karena punya hajat: ingin lunas hutang, ingin sembuh, ingin jodoh. Itu boleh. Tapi jadikan tingkatan tertinggi: aku bersholawat karena aku rindu kepada Rasulullah ﷺ dan aku ingin Allah mengingatku. Ketika niatnya cinta, hajat dunia akan ikut seperti yang dijanjikan dalam hadits Ubay bin Ka’ab.
Imam Ibn Atha’illah berkata dalam Al-Hikam: “Siapa yang sibuk berdzikir kepada Allah dengan cinta, maka Allah akan memberinya lebih dari apa yang Dia berikan kepada orang yang meminta.”
Penutup
Jadi benar apa yang dikatakan Abuya Al-Maliki. Bersholawat sama saja dengan berdzikir, bahkan lebih. Karena di dalam sholawat ada dzikir kepada Allah, ada doa, ada cinta kepada Rasul, ada pengakuan sebagai umatnya.
Jangan biarkan lisan kita kering. Di saat orang lain sibuk mengeluh di status, sibuk ghibah, sibuk berdebat, jadikan lisan kita sibuk bersholawat.
Semoga dengan tulisan ini, Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dikatakan Rasulullah:
“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di bumi, yang menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” (HR. Nasa’i)
Setiap sholawatmu hari ini, nama “Habibie Mahabbah” – akan disampaikan malaikat kepada Rasulullah SAW di Madinah: “Ya Rasulullah, umatmu si fulan bersholawat kepadamu.”
Betapa indahnya jika nama kita dikenal di langit karena lisan kita yang tidak pernah berhenti bersholawat.
اَللَّــهُمَّ صَلِّ عَـلـٰى سَـيِّـدِنَـا مُحَمَّد عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِى الْأُمِّـى وَعَــلـٰى أَلِـهِ وَصَحْبِهِ وَسِلِّـمْ تَسْلِيما
Wallahu A’lam. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Selamat mengamalkan, dan Jum’at penuh barokah.






