INDRAMAYU – BELA RAKYAT – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., mendorong Pemerintah Kabupaten Indramayu untuk segera mengembangkan Sekolah Lansia sebagai program pemberdayaan lanjut usia.
Dorongan tersebut disampaikan Wihaji saat kegiatan Temu Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Gedung Dakwah Karangampel, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada Selasa (17/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kunjungan kerja Menteri di wilayah pantura Jawa Barat.
Dalam arahannya, Wihaji menekankan pentingnya ruang berkumpul yang produktif bagi lansia agar tidak merasa terasing di usia senja.
“Biar lansia tidak kesepian, sehingga perlu didirikan Sekolah Lansia yang menjadi program pemberdayaan lansia juga,” ujar Wihaji di hadapan ratusan kader.
Menurutnya, Kabupaten Indramayu memiliki potensi besar untuk pengembangan program tersebut. Data kependudukan mencatat lebih dari 200 ribu warga Indramayu masuk kategori lanjut usia yang membutuhkan ruang untuk tetap sehat, aktif, bersosialisasi, dan produktif.
Wihaji menjelaskan, Sekolah Lansia bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan pendidikan nonformal yang dirancang khusus untuk lansia dan pra-lansia agar tetap berdaya.
“Program pendidikan non-formal ini bertujuan menciptakan Lansia SMART, yakni Sehat, Mandiri, Aktif, dan Produktif,” kata Wihaji mengutip konsep nasional BKKBN.
Ia menambahkan, Sekolah Lansia diarahkan menjadi ruang pembelajaran sepanjang hayat atau long life learning melalui kegiatan yang mencakup kesehatan, spiritual, sosial, dan keterampilan praktis.
Secara konseptual, kurikulum Sekolah Lansia mengacu pada Tujuh Dimensi Lansia Tangguh, yaitu dimensi spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional, dan lingkungan, untuk mewujudkan Lansia Berdaya.
“Konsepnya menggunakan pendekatan andragogi, pendekatan belajar orang dewasa yang menyenangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan lansia. Jadi bukan menggurui, tapi membuat lansia bahagia,” jelasnya.
Dalam kunjungan yang sama di Karangampel, Wihaji didampingi istrinya, Uni Kuslanti, juga turun langsung mengunjungi keluarga penerima manfaat. Ia memberikan bantuan perbaikan rumah dan pendampingan kesehatan untuk mendukung percepatan penurunan stunting.
Selain menyapa warga, Menteri juga menyalurkan bantuan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) kepada keluarga berisiko stunting (KRS) yang memiliki anak di bawah dua tahun (baduta).
Wihaji menilai keberadaan kader TPK menjadi ujung tombak. Ia meminta kader tidak hanya fokus pada ibu hamil dan baduta, tetapi juga memperhatikan kelompok lansia yang rentan mengalami kesepian dan masalah kesehatan.
Kepala BKKBN Provinsi Jawa Barat yang turut hadir menyebutkan, Sekolah Lansia di Indramayu akan diintegrasikan dengan program Bina Keluarga Lansia (BKL) yang sudah berjalan di desa-desa. Model pembelajarannya dibagi dalam tiga standar, S1 mengenal diri sendiri, S2 bermanfaat untuk keluarga, dan S3 bermanfaat untuk komunitas.
Pemkab Indramayu melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan KB menyambut baik arahan tersebut. Pemkab berkomitmen menyiapkan pilot project Sekolah Lansia di Kecamatan Karangampel dan beberapa kecamatan dengan populasi lansia tertinggi pada tahun 2026 ini.
“Ini merupakan komitmen BKKBN untuk mewujudkan lansia Indonesia yang sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat, sebagai bentuk integrasi program bina keluarga lansia dan sekolah lansia,” ujar salah satu perwakilan BKKBN di lokasi.
Wihaji berharap, dengan adanya Sekolah Lansia, para lansia di Indramayu tidak lagi menjadi kelompok pasif, melainkan subjek pembangunan yang tetap bisa berkarya, berbagi pengalaman, dan menjadi inspirasi bagi generasi muda di lingkungannya.






